Banyak orang lupa menanyakan kepada hati nuraninya sendiri, atas niat apa dia 
menaruh kepedulian pada sebuah urusan. Sementara mulut berbusa mengatakan bahwa 
semua demi ibadah kepadaNYA, demi kebersamaan, demi kejuangan, demi 
nasionalisme, dan demi rakyat. Intinya ada banyak alasan yang bersifat 
hiperbolisme (baca: melebih-lebihkan).
 
Terkadang kita harus tersenyum kecut, 
melihat seseorang baru mengatakan 'peduli untuk berjuang' manakala jabatan 
telah ada di pundaknya. Kemarin kemana...?
Banyak pula yang saat menjabat terlihat sangat peduli plus garang, tapi setelah 
pensiun, kepedulian yang selama ini dikobarkan serasa hilang terkubur bersama 
status pensiun itu. Sekarang sibuk apa ya.....?
Tidak sedikit propaganda atas nama rakyat, kemiskinan dan pengangguran menjadi 
jurus ampuh dalam 'tebar pesona'. Tapi lihatlah ketika ambisi jabatan tidak 
diraih. Kemana nich pidato dan iklannya di media massa? Begitu juga yang sudah 
mendapatkan jabatan yang diidamkan, kata-kata yang terlontar hanyalah sebuah 
pembelaan diri, seperti "nanti kita usulkan", "sedang kami pelajari", dst-nya.
 
Kepedulian memang banyak yang mengucapkan, tetapi banyak pula yang sebenarnya 
hanya metamorfosa ambisi pribadi pada ke-ter-jebakan materi (gaji, honor, 
tunjangan) dan jabatan (kehormatan). 
Sehingga jangan salahkan anak buah yang berlomba menjilat atasannya, karena 
sang atasan diyakini mampu merubah nasib anak buahnya. 
Jangan pula menyalahkan orang bermanis muka demi mendapatkan jabatan, karena 
memang uang tunjangan jabatan umumnya sangat menggiurkan.
 
Kepedulian yang 'saling lempar' kadang hanya bermuara pada kawulo alit yang 
sesungguhnya. Ibarat Raja ingin taman sari indah dan asri, maka Raja memerintah 
Patih. Patih memerintah Panglima. Terus..... terjun bebas... sampai perintah 
datang ke pundak Juru Taman. Si Juru Taman-lah yang berkeringat sak 
jagung-jagung demi target keindahan dan keasrian. Namun, boleh jadi yang 
mendapat pujian raja hanya berhenti pada Sang Patih dan Panglima saja.
Fenomena ini mungkin perlu gebrakan 'gila' agar si Raja mau menyamar sebagai 
Juru Taman. Atau minimal menyamar agar bisa berdialog langsung dengan Juru 
Taman. Sehingga sang Raja tahu persis, kemana hadiah tertuju.
 
Membangun kepedulian memang mudah, karena 'kepedulian' bisa bermuara kemana 
saja. Namun kepedulian yang 'atas nama hati nurani' sangat sulit diperankan 
dalam panggung dunia yang banyak pemain sandiwara ini.
Bagaimana pak RT atau mantan RT, tetap semangat menggerakkan masyarakat untuk 
kerjabakti pada kebersihan lingkungannya.
Bagaimana pak Dosen atau mantan dosen, tetap tergerak untuk mendidik mahasiswa, 
dimanapun, tanpa harus bertanya itu mahasiswanya atau bukan..
Bagaimana pak Pejabat atau mantan pejabat, tetap bersemangat membangun 
institusinya. Bukan sekedar hoby membuat sprint atau skep, kemudian dengan 
pasang wibawa, diam-diam sembunyi tangan.
Bagaimana negarawan yang menjabat atau sudah turun dari panggung politik, tetap 
peduli pada nasib wong cilik. Tanpa harus diliput media atau disaksikan sejuta 
ummat.
Dan seterusnya....
 
Kepedulian hati sering dicirikan pada mental diri yang tidak mau terpublikasi. 
Ada juga yang mengatakan "sepi ing pamrih, rame ing gawe".
Kepedulian hati bersumber pada kontrak dagang dengan Sang Pencipta,
sehingga apapun respon ummat, the show must go on....
 
Siapakah orang yang beruntung?
Merekalah yang sudah menemukan hati nurani dalam membangun kepedulian pada 
semesta.
Sudahkah melihat jatidiri saat kita bercermin?
 
Ki Asmoro Jiwo


      

Kirim email ke