Seorang sahabat perempuan telah menjadi seorang Ibu yang mempunyai anak 
menginjak usia remaja. Dia merasa kewalahan menghadapi anaknya yang sering 
bertingkah polah tidak sesuai dengan kemauan Ibunya, bahkan cenderung melawan. 
Sahabatku ini mengeluh dan minta nasehat kepada diriku. Akunya binun juga, lha 
wong belum pernah dapat amanah punya anak. Kalo mendidik anak orang sih 
kadang-kadang hehe. Namun untuk memperkuat argumen, aku berkonsultasi kepada 
Nyi Asmoro Jiwo, paling tidak untuk melihat dari sisi seorang perempuan.
"Jadikan dia teman", wejangan Nyi Asmoro Jiwo singkat dan padat, namun sudah 
cukup membuka cakrawala luas membentang tentang metode pendidikan anak.

Banyak orang tua saat berhadapan dengan anaknya, memposisikan bahwa dia adalah 
orang TUA dan anaknya masih MUDA. Sehingga timbul 2 kutub posisi yang jauh 
berbeda. Yang tua merasa banyak pengalaman, banyak mengerti/tahu, dan selalu 
benar. Yang muda selalu dinilai oleh yang tua, sebagai orang muda yang kurang 
pengalaman, tidak banyak tau dan sering membuat kesalahan. Sehingga yang muda 
selalu merasa terhakimi manakala berada di hadapan yang tua. Yang muda 
berpikir, orangtuanya tidak bisa mengerti apa yang dipikirkannya, apa yang 
di-mau-i, apa mimpinya; yang boleh jadi kesemuanya itu sangat tidak menarik 
dari pandangan yang tua.

Tulisan ini sangat terkait dengan tulisan sebelumnya yang mendorong orang untuk 
mengerti orang lain. Mengerti bahwa orang lain bukan diri kita, walau dia ada 
hubungan darah atau berada pada satu tempat pendidikan. Argumen ini juga 
berlaku bagi pendidikan anak. Coba lihatlah psikologi anak secara umum, mulai 
bayi yang sangat tergantung pada orangtuanya, bahkan hanya sekedar untuk makan 
dan minum. Kemudian usia balita tergantung pada arahan orangtua untuk mengenali 
benda-benda dan perbuatan pokok dari kehidupan ini. 
Menginjak remaja, dia akan mulai suka berteman dan tentu saja menjadikan teman 
adalah tempat bercurhat, tempat bermain dan saling memberi. 
Usia baligh (puber) mendorong si anak mulai ingin pasangan lain jenis. Dia 
mulai menghias diri untuk menarik pasangannya. 
Usia awal pernikahan penuh dengan kenikmatan sekaligus ujian besar. Rasa 
kenikmatan sering jadi tujuan utama, sampai lupa bahwa pernikahan jauh berbeda 
dengan pacaran atau sekedar persahabatan. Ternyata paket kenikmatan diikuti 
dengan permasalahan dalam menyatukan dua watak yang berbeda, dari dua sejoli, 
keluarga besar dan sahabatnya.
Usia awal punya anak, terkadang siap mbuat anak, tapi gak siap memelihara 
anaknya. Sehingga ada yang anaknya dibuang, dipasrahkan 100% pada pembantu dan 
si sapi (baca: minum susu sapi), dipasrahkan pada orangtua/mertua, atau total 
100% menikmati kesibukan baru ini.

Mari kembali fokus pada pendidikan anak sampai remaja,

PERTAMA, perlunya pemahaman bahwa sangat mungkin karakter anak akan berbeda 
dengan orangtuanya, walaupun di beberapa sisi si anak mewarisi sifat ayah 
ibunya. Warisan sifat ini umumnya untuk mengarah pada kejahatan atau kebaikan, 
tergantung didikan yang diberikan. Dengan memahami bahwa anak berbeda dari 
orangtuanya, maka si orangtua tidak serta merta menuntut agar si anak sama 
persis dengan tingkah laku dan jalan hidupnya.

KEDUA, kehidupan si anak saat ini sangat berbeda dengan kehidupan orangtuanya 
20-40 tahun yang lalu. Makin ke sini, bumbu kemajuan iptek sangat terasa. Lihat 
saja anak-anak sekarang sudah sangat familiar dengan HP, internet (fesbuka, 
email, dll), TV dan kemajuan teknologi lainnya. Lihat juga dengan era 30 tahun 
lalu, mungkin listrik belum ada, TV masih "satu RT satu TV", komunikasi jarak 
jauh dengan secarik kertas atau pos surat, dll. Tentunya, pola kehidupan 
sekarang jelas sangat berbeda dengan pola dulu. Contohnya, dulu kalo anak 
sering di rumah dan di kamarnya, dianggap sebagai anak penurut dan orangtuanya 
tenang. Tapi saat ini, badan boleh di kamar, tapi dengan HP dan internet, dia 
sudah menjelajah kemana-mana. dst-nya.

KETIGA, berkomunikasilah sesuai dengan pola pemikirannya. Dari usia kecil 
sampai dewasa, selaras dari pola pikir sederhana sampai kompleks. Apabila 
berhadapan dengan usia balita, posisikan tingkat komunikasi kita juga seperti 
balita, misalnya tentang makanan yang "enak" dengan cara kita memberi contoh 
memasukkan makanan ke mulut kita agar si balita menirunya. Apabila berhadapan 
dengan usia remaja, maka posisikan kita sebagai remaja pula, misalnya menjadi 
teman bercanda, teman bercerita, dan menghindari ungkapan larangan (baca: gak 
boleh ini-itu). Mungkin kalimat "kamu gak boleh malas, nanti jadi anak yang 
bodoh", perlu diganti dengan "Adik ingin jadi dokter? dokter itu harus pandai 
lho, karena harus tahu obat dari penyakit. makanya dokter itu banyak membaca". 
Intinya kalimat perintah dibuat secara tersirat.

KEEMPAT, mengenal karakter orang dari jenis kelaminnya. Anak laki-laki suka 
pada tantangan dan mudah bosan pada hal-hal yang dia sudah menguasainya. Maka 
pandailah kita memberikan tantangan yang mendidik sekaligus inovatif. Anak 
perempuan suka pada keindahan dan kemewahan, namun sifat malunya besar. Maka, 
janganlah dia dipermalukan di depan publik. Maka, berikan dia cara untuk meraih 
keindahan dan kemewahan itu.

Empat tips ini mungkin bisa melengkapi khasanah metode pendidikan tiap orang 
tua yang mungkin punya ciri khas masing-masing.
Kata orang bijak "tidak semua ilmu bisa diwariskan, tetapi semua ilmu bisa 
dipelajari".
Jadi, utamanya kita mendorong si anak untuk bersemangat tinggi dalam belajar 
untuk dirinya sendiri, bukan dengan mencekoki (menyuapi) anak kita dengan 
doktrin-doktrin yang kita anggap benar tetapi bisa jadi si anak akan tersiksa 
karena belum merasakan kebenaran itu.

Tegal, Rabu, 23 Sept 2009 pukul 08.05 WIB

Ki Asmoro Jiwo


      

Kirim email ke