Secara sederhana, watak manusia terbagi menjadi 2, yaitu pendiam dan periang.
Pendiam lebih enjoy jika bekerja sendiri. Periang lebih suka kerja di tengah
kerumunan. Sifat dasar ini akan bervariasi berdasar pengaruh jenis kelamin,
umur, silsilah kelahiran dan lingkungan masa kecilnya. Ramuan watak dasar ini
sering disebut 'gawan bayi' (bawaan orok). Watak dasar ini akan sangat sulit
hilang, tapi bisa 90% berhasil dengan satu cara : Cuci Otak.
Cuci otak bukan dikonotasikan istilah biologis, tapi lebih tepat pada istilah
psikologis. Terapi kejut (shock teraphy) yang sering diberikan mampu
menggoncangkan keyakinan peserta (baca: korban cuci otak). Orang yang penakut
bisa jadi pemberani, atau sebaliknya. Orang yang jujur bisa berubah menjadi
jahatpenuh tipu muslihat, atau sebaliknya. Intinya, cuci otak akan dilakukan
dengan target hasil sesuai harapan 'si sutradara'.
Bagi ladang penempaan prajurit, target akhirnya adalah membentuk prajurit yang
punya jiwa nasionalisme di atas segala urusan, bahkan rela mengorbankan nyawa
demi membela negara. Sehingga ada istilah "kontrak mati", artinya siap bekerja
apa saja sesuai komando dengan taruhan nyawa. Mereka tercetak untuk bagaimana
menang perang, termasuk mampu membunuh musuh tanpa belas kasihan. Namun begitu,
manusia tetap punya rasa, sehingga dalam tugas sering disiasati agar seminimal
mungkin menimbulkan stress tinggi. Misalnya pasukan penembak hukuman mati,
konon tidak semua senjata ada pelurunya, dan itu dirahasiakan. Jadi petugas
tidak merasa bersalah berkepanjangn. dll.
Jika diingat, banyak karakter sebelum masukpenempaan, tapi saat lulus, hampir
semua berkarakter sama, yaitu disiplin dan semangat juang tinggi.
Bagi seorang marketing, sangat penting menguasai teknik mempengaruhi orang lain
untuk membeli produk yang dia tawarkan. Tahap mempengaruhi ini mirip dengan
upaya cuci otak. Maksudnya, apapun minat si calon pembeli, akan segera tercuci
bersih dan berubah menjadi berminat pada penawaran si marketing. Tahap yang
ganas adalah model hipnotis atau gendam. Tahap yang halus adalah hipnoselling.
Jualan yang wagu adalah langsung menawaran produk. Jualan yang cerdik adalah
'berangkat' dari topik pembicaraan yang diomongkan calon pembeli, kemudian
dengan cerdik (argumentatif-persuasif) dibelokkan ke menariknya produk si
marketing.
Bagi pelaku bom bunuh diri, bukan terbayang rasa sakit dan kematian atau dosa
apabila dia melakukannya. Pelaku bom bunuh diri sudah dicetak paham sebuah
kebanggaan berkorban nyawa atas pekerjaan mengajak mati banyak orang yang
dianggap mulia oleh dirinya. Bahkan pelaku bom bunuh diri meyakini bahwa
setelah mati dia akan masuk syurga.
Biasanya doktrin yang bersifat keyakinan sangatlah ditanamkan, seperti yakin
pada agamanya, yakin pada negaranya, atau yakin pada pemahaman tertentu.
Bagi pegawai instansi yang suntuk dengan keseharian, mereka suka mengadakan
meeting di puncak atau tempat-tempat wisata. Katanya sekedar mendinginkan otak
dari kesibukan harian yang membikin stress. Jadi tahap meeting dipuncak ini
juga bagian dari tahapan cuci otak atau me-refresh daya pikirnya.
Banyak sekali model cuci otak yang ada di sekitar kita. Bahkan kegiatan jurit
malam juga mirip ke arah cuci otak. Betapa malam-malam ketika terlelap,
dibangunkan secara mendadak. Kaget. Ketakutan. Tertekan. Dipermalukan. dll.
Dengan cara dibentak, dimarahi, disalahkan, dst-nya. Kemudian dimasukkan
doktrin sesuai ramuan 'si sutradara'. Celakany bila paham yang dimasukkan
menyimpang. Kondisi 'otak tercuci' ini bisa lupa benar-salah. Semua doktrin
bisa dianggap benar. Maka jangan sampe kita "ngunduh wohing pakerti"(memetik
buah yang kita tanam) dengan paham yang keliru. Bisa-bisa akan terjadi paham
menyesatkan secara turun temurun. Makanya sangat penting memastikan bahwa
proses dan instruktur yang melaksanakan sudah terjamin kualitasnya.
Bahkan dengan proses cinta pun kita bisa masuk jebakan cuci otak ini. Kita
tanpa sadar seperti kerbau yang dicocok hidungnya manakala orang yang kita
cintai menyuruh kita berbuat sesuatu. Demi pacar, orangtua pun dilawan. Demi
pacar, tantangan demi tantangan dilalui dengan semangat berapi-api. Bahkan
banyak juga yang tanpa sadar mau melakukan tindakan bodoh yang tidak perlu,
seperti mengorbankan harga diri, dll.
Begitu juga proses pendidikan di pondok, training keorganisasian, training
masuk kerja, dll. Kesemua proses cuci otak ini sangat diperlukan agar si
peserta mampu tercetak sesuai lingkungan baru yang diharapkan.
Sangatlah penting mencermati apabila kita sebagai peserta atau panitia atau
instrukturnya. Jangan sampai di kemudian hari kita menyesal, bahwa langkah
hidup kita pernah terlibat mencetak kader-kader yang paham-paham yang ketika
ditanyakan pada hati nurani, kitapun mengakui kalo paham itu tidak pantas dan
membahayakan iman dan akhlaq orang lain; serta jauh dari insan yang bermartabat
baik secara vertikal (habluminallah) maupun horizontal (habluminannash).
Padepokan Ki Asmoro Jiwo, 2 November 2009