Tanpa sadar, kita akan mudah menjustifikasi kehidupan ini. Jika ayahnya maling, pasti anaknya maling. Jika ayahnya kyai, pasti anaknya alim. Jika suami korupsi, pasti istrinya sama saja. Benarkah? Walau secara logika kita akan mudah setuju pada suatu fenomena, namun dalamnya hati siapa tahu. Ada hal yang bisa kita nilai secara kasat mata. Namun banyak hal yang penilaiannya harus melongok ke hati yang bersangkutan. Siapa yang bisa? Hakim? Pengacara? Penyidik? atau itu sudah bukan wilayah manusia lagi untuk men-justifikasi. Memang gak enak bila kita merangkak dari status yang buruk menurut penilaian orang. Betapa tersiksanya jadi keturunan orang yang dicap sebagai tokoh G30S/PKI pada jaman ordebaru lalu. Betapa terbatasinya ruang gerak, apabila ternyata kita anak dari warga keturunan, dimana masyarakat pribumi sekitar rumah tidak bisa menerima warga keturunan apa adanya. Betapa gak enak apabila kita lahir dari orangtua yang punya raport merah di masyarakat. Hukum sosial membuat kita kena imbasnya juga. Salahkah aku menjadi anaknya? Salahkah aku ditempatkanNYA pada keluarga ini? Salahkah ibu mengandung? kemudian menurun kesalahan itu pada anaknya? Walaupun penjahat itu sudah dipenjara akibat kesalahannya, tapi di masyarakat akan sangat sulit menerima apabila mantan penjahat itu ingin menjadi kyai. Pasti tim seleksi akan menggunakan segala cara untuk menggagalkannya. Begitu juga anak muda yang ingin melamar pasangannya, hukum sosial punya dalil bibit-bebet-bobot yang harus dipenuhi secara mutlak. Sebagai manusia, kadang kita tidak sadar berani memainkan profesi sebagai malaikat, atau bahkan profesi sebagai Pemilik Manusia. Manusia hanyalah diberi hak menilai baik dan buruk sebatas perilaku yang sesuai dengan fakta. Adapun urusan hati itu menyimpang atau tidak, sebatas belum ber-visual dalam perilaku, masih belum menjadi kapling manusia. Ki Asmoro Jiwo

