Sejauh pengamatan yang subyektif selama sepuluh tahun terakhir ini, didukung 
oleh keluhan beberapa user yang mengatakan bahwa kualitas lulusan sarjana 
semakin menurun, saya jadi tergelitik untuk mencari sebab musababnya. Siapa 
tahu kupasan artikel ini bisa menjadi pijakan baru dalam memperbaiki kualitas 
lulusan sarjana.
 
Entah ada kesepakatan darimana, ataukah karena tuntutan persyarakat akreditasi, 
maka waktu tempuh para sarjana dalam sepuluh tahun terakhir ini relatif cepat, 
rata-rata 4-5 tahun. Bahkan ada yang lebih cepat dari itu. Sementara itu 
lulusan jaman sebelumnya sekitar 6-7 tahun.
Sistem saat ini lebih mendorong mahasiswa hanya fokus pada perkuliahan dan 
praktikum saja. Kegiatan ekstrakurikuler semacam di HMJ, BEM, UKM dan kegiatan 
keorganisasian di luar kampus mengalami penurunan tajam dalam jumlah peminat. 
Padahal dalam kegiatan inilah pengalaman, mental dan jiwa kepemimpinan diraih. 
Akhirnya ketika lulus hanya bermodalkan ijazah dan transkrip nilai, tetapi 
sangat minim pengalaman kerja, bermental kurang bagus dalam tekanan lingkungan 
yang kurang kondusif, dan kurang mempunyai jiwa kepemimpinan.
 
Berikutnya, ada kecenderungan pemberian nilai dari dosen semakin murah. Jarang 
sekali ditemukan dosen memberikan nilai D dan E, yang dulu sudah biasa diterima 
oleh para mahasiswa. Sehingga dulu mempunyai IPK > 3 itu sudah sangat luar 
biasa dan mungkin perlu beberapa tahun untuk mengulang beberapa matakuliah yang 
jeblok nilainya. Beda dengan sekarang dimana IPK > 3,5 sangat mudah ditemukan. 
Bahkan banyak yang mendapat predikat cumlaude.
Bermodal IPK tinggi tidaklah cukup untuk penempatan di daerah pedalaman yang 
jauh dari keramaian kota. Tak jarang para sarjana baru ini sering bertanya ke 
HRD yang mewawancarai mereka, "di sana ada sinyal hand phone, gak?". Sungguh 
pertanyaan yang mengarah ketidaksiapan dalam suasana lingkungan yang jauh dari 
keramaian.
 
Berikutnya lagi, kegiatan mahasiswa, khususnya BEM dan HMJ telah bergeser dari 
kajian ilmiah sesuai bidang ilmunya ke arah kegiatan politik praktis. Tak 
jarang program kerjanya hanya seputar pemilu raya (pemilihan ketua baru), OSPEK 
(orientasi kampus untuk mahasiswa baru) dan makrab (malam keakraban, tapi 
sering dijadikan ajang doktrin senior pada yunior, yang kadang menyimpang dari 
pakem akademik). Sangat jarang mereka mengadakan kegiatan ilmiah, seperti 
ceramah ilmiah, kelompok ilmiah mahasiswa, karya tulis ilmiah, penelitian 
ilmiah, dan sumbangan ilmu yang ditekuni kepada masyarakat.
Karena terbiasa berpolitik, maka wajar jika akhirnya melahirkan pada politikus 
baru, dimana mereka banyak yang terjun ke dunia politik kepartaian, dan sering 
kehilangan ilmu sesuai jurusan masing-masing.
Latihan berpolitik terjun ke dunia politik itu pas. Tapi ketika terjun ke dunia 
kerja perkantoran atau perkebunan, akan mengalami masalah karena iklimnya jauh 
berbeda. Jangan sampai malah memicu gerakan politik di dunia kerja. Dan 
politikus terbiasa bermain diantara orang-orang, jadi jelas tidak siap untuk 
terjun di kesunyian (baca : perkebunan, lokasi terpencil, dll.)
 
Argumen terakhir, para mahasiswa sekarang sangat termanjakan oleh fasilitas 
teknologi dalam kehidupannya. Sering saya berseloroh ke mereka "anda boleh 
betah pisah seminggu dengan pacar, tapi gak akan betah pisah satu hari dengan 
hand phone anda!".
Yah, fasilitas teknologi seperti hand phone, laptop, internet (facebook, email, 
dll), dugem (dunia gemerlap : mall, diskotik, cafe, dll), TV, dan motor; yang 
didukung oleh suasana kota yang serba ada untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Belum lagi kiriman bulanan dari orangtua cenderung bisa jajan dimana-mana. 
Beberapa mahasiswa yang aku tanya memberikan info bahwa kiriman bulanan 
berkisar 1-2 juta per bulan (kebayang gak sich, ortu yg punya 4 anak kuliah 
semua, per bulan harus setor 4-8 jt, tentu mereka bukan level PNS umumnya atau 
petani hehe). Para mahasiswa dulu sudah biasa makan dengan memasak sendiri 
berlauk mie instan. Sekarang untuk makan 3x sehari bisa berada di warung yang 
berbeda, bak wisatawan kuliner.
 
Sekali lagi, argumen di atas sifatnya subyektif, karena tidak didukung oleh 
survey kuisioner, maka bisa saja salah. Tetapi saya berani berpendapat bahwa 
tulisan ini mengandung kebenaran 80%. Artinya, ada juga lulusan saat ini yang 
ber-IPK bagus, mental bagus, tahan banting dan mempunyai jiwa leadership 
tinggi, tetapi jumlahnya tidak lebih dari 20% lulusan.
 
Semoga tulisan ini menginspirasi para pendidik, anak didik dan orangtua.
Jaman memang berubah, tapi jangan sampai perubahan itu malah menurunkan 
kualitas generasi penerus dalam menyongsong tantangan ke masa depan.
 
Tulisan ini terbuka untuk didiskusikan.
Mohon koreksi dan saran.
 
 
Ki Asmoro Jiwo


      

Kirim email ke