farah izadi <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Assalamualaikum wr wb

  Nama baik USA –negara pelindung Israel yang paling getol- di mata masyarakat 
dunia kian hari semakin terpuruk, terkhusus di negara-negara yang mayoritas 
penduduknya muslim. Atas dasar itu, USA ingin menjalankan politik buruknya 
dengan harapan opini dunia  –terkhusus dunia Islam- terhadap USA berbalik 
memberi simpati kepadanya. Untuk itu, isu-isu pertikaian antar mazhab kembali 
dilontarkan. Bermula dari Irak, Negara yang sudah ratusan tahun antara 
Sunni-Syiah dapat hidup berdampingan rukun dan damai, tiba-tiba, setelah 
kedatangan colonial USA + Inggris kini menjadi kacau balau akibat isu-isu 
tersebut. Republik Islam Iran yang mayoritas penduduknya memeluk Islam Syiah 
sebagai Negara tetangga Irak (yang juga Negara mayoritas Syiah) dituduh sebagai 
dalang pertikaian mazhab. Tiap hari kaum muslimin (dari Sunni maupun Syiah) 
syahid akibat terror yang pelakunya tidak diketahui secara pasti. Pertanyaan 
yang dapat dimunculkan adalah; kenapa sebelum kedatangan USA + Ingris ke
 Negara itu peristwa semacam itu tidak pernah terjadi? Ada apa dibalik 
kedatangan para kolonialis dan imperialis USA + Inggris ke wilayah tersebut?

  Ternyata isu Sunni-Syiah tidak cukup di situ. Setelah Irak, dilanjutkan ke 
wilayah-wilayah sekitar Irak, termasuk Negara-negara teluk dan Lebanon. Kini 
apa yang terjadi di Lebanon utara adalah cikal bakal kemunculan  gerakan anti 
Syiah di Negara itu. Syiah Lebanon yang diwakili oleh gerakan Hizbullah (yang 
kini telah bergabung dengan kelompok Amal Syiah) akan menjadi target utama dari 
gerakan yang mengatasnamakan dirinya sebagai gerakan ‘Fathul Islam’, sebuah 
gerakan milisi garis keras  yang berideologi Salafy yang jelas-jelas anti 
Syiah. Hizbullah akan berhadapan dengan dua musuh; musuh dari saudara sendiri 
(sesama muslim) yang beraliansi Salafy, dan Zionis Israel yang diperkirakan 
dalam waktu dekat juga akan mengajar Hizbullah. Sayangnya, justru para penguasa 
Arab (yang bernotabene Islam) banyak yang termakan dengan isu murahan tersebut 
sehingga merekapun terjerumus ke dalam jerat yang dipasang oleh Zionis beserta 
sekutu-sekutunya.

  Kini isu itu merebak ke segenap penjuiru dunia Islam, termasuk Indonesia. 
Dalam penyebaran isu tersebut, USA tidak sendirian. Ia menggunakan banyak cara, 
termasuk meakukan perekrutan agen yang membawa ‘misi jahannam’ USA di 
Negara-negara Islam. Dalam merekrut agen pembawa misi tersebut ada tiga cara 
perekrutan;

  1-     Ada beberapa individu yang sengaja diterjunkan ke Negara-negara 
tertentu untuk melaksanakan misi khusus dari USA itu. Mereka adalah agen-agen 
sejati USA yang sengaja di utus untuk melaksanakan berbagai tugas, termasuk 
tugas perekrutan yang akan membantu mereka dalam melakukan misinya.
  2-     Ada pribadi-pribadi yang sengaja direkrut oleh USA (melalui agen-agen 
tadi), sedang pihak yang direkrut pun juga paham kalau dia sedang direkrut 
dengan iming-iming imbalan duniawi. Tentu, merekrut orang semacam ini tidak 
erlu jumlah yang sangat banyak. Sedikit tapi berkualitas, sesuai dengan 
kebijakan agen resmi USA yang telah disebutkan dalam bagian pertama tadi.
  3-     Ada pribadi-pribadi yang sengaja  direkrut oleh USA (melalui agen 
resmi tadi atau asistennya (no 2)), sedang di sisi lain,  pihak yang direkrut 
tidak sadar bahwa ia telah direkrut. Hanya karena bekal ‘semangat 
memperjuangkan akidah’ yang diyakininya dan berbasis kepolosan yang berakibat 
sembrono dan ngawur (mutahawwir), akhirnya tanpa disadari ia telah masuk ke 
dalam jaringan mereka dalam mewujudkan misi pemecahbelahan antara Sunni-Syiah 
di negaranya.

  Berdasarkan info yang ada, walaupun poin 1 dan 2 telah ada di Indonesia, 
namun karena bersifat ‘Sangat Rahasia’, maka untuk mengenali semua anggotanya 
sangat  sulit sekali. Sudah menjadi rahasia umum bahwa setiap kelompok, 
organisasi, gerakan dan komunitas apapun di Indonesia ini mesti terdapat agen 
yang disusupkan di situ. Entah itu agen Indonesia untuk keperluan Indonesia 
seperti menjaga stabilitas nasional bangsa dan Negara, ataupun mungkin juga itu 
adalah agen luar, atau agen dalam yang dipakai luar. Bagaimana dengan yang 
ketiga? Ini yang harus masing-masing dari kita waspadai. Jangan sampai kita 
tergolong dari orang nomer tiga ini, ‘agen USA bawah sadar’. Agen Indonesia 
juga tahu, siapa pelaku bom Bali yang sesungguhnya (otak peristiwa)? Apa  
hubungan antara Imam Samudera dengan sang Otak tadi? Agen Indonesia tidak 
bodoh. Mereka tahu siapa dibalik peristiwa Bali, Ambon hingga Aceh dan Papua. 
Hanya keroco-keroco (pion-pion)nya saja yang dipublikasikan ke masyarakat.
 Sedang otaknya, itulah ‘Big Boss’ yang berada di balik layar. Ibarat gerakan 
‘Taleban’, hanya deedengkot Taleban saja yang tahu, samai dimana hubungan 
mereka dengan USA. Namun keroco-keroconya, siapa yang tahu?

  Kesimpulan dari apa yang ada, jangan sampai kita (baik yang Sunni maupun yang 
Syiah)  hanya berlandaskan semangat bela akidah saja akhirnya kita (tanpa kita 
sadari) telah menjadi orang yang terekrut untuk turut mewujudkan misi USA dan 
sekutu-sekutunya yang anti Islam dalam memporak-porandakan barisan Islam, 
terkhusus dengan cara menyebarluaskan isu-isu ikhtilaf Sunni-Syiah. Kalau perlu 
mereka (Sunni-Syiah) saling bunuh membunuh, dan nanti, USA akan datang berkedok 
mendamaikan antar dua kelompok muslim yang bertikai. Dari politik semacam itu, 
akhirnya USA akan mendapatkan citra baiknya dan ingin kembali mendapat gelar 
Polisi Dunia, plus akan merebut (merampok) kekayaan Negara-negara Islam yang 
akan diboyong ke negaranya. Dengan begitu, Negara-negara Islam akan selalu 
tergantung dengan USA dalam berbagai hal. Jika sudah ada ketergantungan maka 
USA akan dengan mudah melakukan inervensi ke dalam tubuh Islam, termasuk 
merubah ajaran Islam yang tidak sesuai dengan visi dan misi
 mereka. Jikalau Islam suatu Negara sudah menjadi Islam Amerika maka mustahil 
akan mampu bangkit melawan ‘Thoghut’ yang sekarang ini terjelama dalam tubuh 
USA. Islam made in USA (Islam Amerikai) tidak akan bisa jaya. Hanya Islam 
Muhamadi yang akan jaya. Islam yang didasari oleh persatuan dan kesatuan umat 
Muhammad (dari lintas mazhab) yang akan mampu berdiri menghadapi Thoghut (USA). 
Atas dasar itu, tahun ini diberinama oleh pemimpin spiritual Iran, Ayatullah 
al-Udzma Sayyid Ali al-Husaini al-Khamene’i sebagai tahun “Persatuan bangsa dan 
kesatuan (persesuaian) Islami” (ittihad milli wa insijaam islami), agar agar 
kaum muslimin bersatu padu menyongsong era kebangkitan dan kejayaan Islam 
dengan menghindari isu-isu murahan yang dihembuskan oleh musuh-musuh Islam.

  Kebangkitan dan kejayaan Islam adalah janji Allah swt. Dan janji Allah adalah 
benar adanya (Inna Wa’dallahi al-Haq), yang tiada akan mungkin meleset.
  Allah swt telah berjanji:
  “Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan- 
ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahayanya, 
walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukai. Dialah yang Telah mengutus 
RasulNya (dengan membawa) petunjuk (Al-Quran) dan agama yang benar untuk 
dimenangkanNya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrikin tidak 
menyukai”.
  (QS at-Taubah: 32-33)


  Berlomba-lombalah dalam mewujudkan persatuan antar kaum muslimin demi 
kejayaan Islam.

  Wassalam

      F.I



Kirim email ke