Perang Retorika Turki-Israel Pasca Pembatalan Latihan Militer Bersama


Pasca dibatalkannya rencana latihan militer bersama dengan sandi "Langit 
Anatolia" antara Turki dan Israel, sebuah babak baru berupa "perang retorika" 
antara kedua negara kuat di Timur Tengah itu kini mengemuka.
Sebagaimana dilansir media-media internasional, secara mengejutkan Turki 
membatalkan latihan militer bersama dengan Israel yang sejatinya akan digelar 
di atas area Turki beberapa hari yang lalu.
Turki membatalkan proyek besar ini dengan alasan kemanusiaan, yaitu karena 
memandang "Israel telah melakukan kejahatan terhadap Gaza dan Palestina, dan 
langit Turki tidak akan rela untuk dilewati oleh pesawat-pesawat Israel yang 
telah merobohkan rumah-rumah warga Gaza".
Beberapa sumber pejabat Israel menuduh Turki mulai menelikung dan meninggalkan 
Israel sebagai sekutu terdekat dan mitra strategis di kawasan sejak negara 
Israel "didirikan" pada 1948.
Sumber pejabat Israel lainnya menyinggung, dengan keputusannya itu (membatalkan 
latihan militer bersama), Turki mulai berbelok arah menuju blok "pemusuh 
Israel" dan blok Arab.
Atas keputusan yang membelakakan mata internasional ini, beberapa pejabat 
Israel juga mengusulkan opsi untuk memutuskan aktivitas penjualan senjata ke 
Turki.
Sementara itu, pejabat senior kenegaraan Israel, semisal Menteri Pertahanan 
Israel Ehud Barak, justru tampak berhati-hati dalam mengomentari peristiwa ini.
Dengan diplomatis, Barak menegaskan bahwa dibatalkannya latihan bersama antara 
militer Turki dan Israel itu sama sekali tidak mempengaruhi hubungan antara 
kedua negara.
"Turki tetap mitra strategis Israel," terang Barak.
Lebih jauh, Barak juga menghimbau kepada pihak dalam negerinya untuk tidak 
terpancing mengeluarkan statemen yang kontroversial dan provokatif terkait 
peristiwa ini.
Sementara itu, di satu sisi yang lain, Menteri Luar Negeri Turki Ahmet 
Davutoglu menanggapi statemen pihak Israel dengan menyatakan bahwa keputusan 
ini tidak diambil secara sepihak, melainkan hasil musyawarah anatra pihak 
pemerintahan dengan militer Turki.
"Sama sekali pembatalan ini bukan karena alasan politis," terang Oglu.
Dalam wawancaranya dengan kanal berita CNN, Oglu juga mengatakan, Turki 
menginginkan Israel memperbaiki dahulu "hubungannya" dengan Gaza jika ingin 
melakukan latihan militer bersama dengan Turki.
Dalam hal ini, tampak Oglu hendak memainkan kartu mati yang menegaskan jika 
Israel hendak menjalin hubungan yang lebih baik dengan Turki, maka Israel harus 
terlebih dahulu menjalin hubungan yang baik dengan Israel.
Kartu plus lainnya yang dimiliki oleh Turki adalah statusnya sebagai anggota 
pakta NATO, yang juga menjadikan Turki sebagai satu-satunya negara Muslim yang 
menjadi anggota pakta pertahanan negara-negara kuat tersebut.
Lebih jauh lagi, Turki menggunakan retorika "kemanusiaan" terkait kasus 
Israel-Palestina ini, dan tidak membawa-bawa emosi atau retorika keislaman atau 
kearaban, hal yang juga menjadi kartu plus Turki di hadapan negara-negara 
Barat. Dalam hal ini pula, Turki diuntungkan oleh proposal Uni Eropa yang 
mendorong Turki untuk lebih meningkatkan standar HAM-nya sebagai prasyarat 
menjadi anggota Uni Eropa.
Langkah taktis, cerdas, dan tegas Turki ini sungguh menggugah dan 
menginspirasi. Turki telah membuktikan pihaknya memiliki posisi tawar yang 
tinggi dan kuat di hadapan Israel, bahkan di hadapan dunia Islam dan dunia 
internasional.
Jelas, hal ini kian membedakan Turki dengan negara-negara Arab, yang karena 
sikapnya yang mlempem dan tak cerdas, pada akhirnya menjadikan Arab terus 
menerus dicemooh dan dikadali. (L2/db)


      __________________________________________________________
Coba Yahoo! Messenger 10 Beta yang baru. Kini dengan update real-time, 
panggilan video, dan banyak lagi! Kunjungi http://id.messenger.yahoo.com/

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke