Alhamdulillah, saya termasuk salah seorang yang pernah mendapat kesempatan berhaji. Terus terang saya masih tergolong amatiran tapi saya ingin sekali dapat sesuatu dari perjalanan ibadah ini dengan segala keterbatasan ilmu yang saya miliki. Semoga apa yang saya alami, sekecil apapun itu, tetep membekas di sisa hidup saya, amin.
Tulisan di bawah ini hanya sekedar apa yang sempat terfikir oleh saya dari pengalaman pribadi selama lagi ada di tanah suci. Maaf sekali kalau tulisan ini tidak sesuai dengan pendapat orang lain yang juga kebetulan pernah kesana dengan tujuan yang sama: umroh & haji. Terus terang, setelah beberapa hari saya berada di Mekkah dan Madinah, hadir di Masjid Haram dan Masjid Nabawi, saya membagi pengunjung tempat-tempat suci itu jadi 3 kategori: 1. Ahli ibadah. Di sini orang-orangnya bisa terlihat begitu larut dengan ke-khusyuannya sendiri. Orang-orang ini sangat total, sepertinya mereka asyik menikmati aktivitas yang sifatnya sangat pribadi dan personal sekali. Ada yang sholat berkali-kali dan lama sekali, ada yang lidahnya dzikir melulu, ada yang asyik mengaji berjuz-juz, ada juga yang nangis sujud bertobat mengangkat tangan tinggi-tinggi. Ciri-ciri fisik lainnya macam-macam, seperti keningnya hitam, ada juga yang mata kakinya menebal kapalan, atau ada yang kemana-mana selalu bawa tasbih. 2. Orang yang lupa kalau seharusnya dia ibadah. Orang-orang ini bisa dibagi 3 : A) Orang yang tidak perduli sama orang yang lagi ibadah (sangat menyebalkan! mendzhalimi, mengganggu dan merusak konsentrasi orang lain, misalnya: ada yang bergerombol tidak perduli dorong-dorong dan nabrak orang lain yang sedang thawaf, ada pimpinan gerombolan thawaf yang ber-doa keras-keras sekali, ada yang tidak perduli tanpa perasaan bersalah mondar-mandir didepan orang sholat, malah ada yang melangkahi orang sujud). B) Orang yang tidak perduli kalau dia ada di tempat ibadah (sama-sama menyebalkan juga! Misalnya yang tidak perduli bawa sendal-sepatu tidak diplastik ke dalam masjid trus digeletakin begitu saja, atau yang buang gelas-gelas zamzam sembarangan, jorok dan tidak menyiram "sampah" nya sendiri di wc-wc masjid). C) Gabungan 2 golongan tadi, alias tidak peduli orang ibadah dan tidak peduli lagi di tempat ibadah (sudah tidak ada rasa hormat sama orang lain juga sama rumah Allah, yang ini rata-rata orangnya emosian, nafsu, dan brutal untuk mendapatkan tempat-tempat mustajab di masjid tidak perduli mendzhalimi, menyakiti orang lain. Misalnya orang-orang yang kasar maksa mau cium Hajar Aswad, rebutan, tarik-tarikan baju untuk menempel di dinding Multazam, Pintu ka'bah, Hijir Ismail, kalau di Masjid Nabawi: lari-lari dan dorong-dorongan di Raudhah, maksa menyelip sholat di depan Pintu Makam dan Mihrab Rasulullah saw padahal sudah tidak mungkin lagi) 3. Orang yang ingin sekali bisa ibadah. Orang golongan ini menyimpan rasa cemburu berat untuk bisa jadi kategori ke-1. Sepertinya yang ini saya banget! Memang susah kalau termasuk di kategori ke-3, padahal kalau mau di kategori ke-2 gampang sekali! Syaratnya hanya 1 saja: cuek bebek gak peduli sama ibadah. Tapi buat yang ke-3, minta ampun ingin sekali ibadah tapi kok susah! Saya, sama seperti pendatang lain, ingin sekali bisa ikut-ikutan mencium Hajar Aswad (Intermezzo: Syaidina Umar bin Khattab juga nyium Hajar Aswad bukan karena kehendak dia kok, beliau hanya ikut-ikut Rasulullah saw saja, padahal Hajar Aswad itu hanya kepingan batu-batu), ingin sekali bisa menempel di Multazam, pintu Ka'bah, Sholat di Hijir Ismail dan doa habis-habisan dalam keadaan khusyu total! Tapi gimana mungkin kalau untuk kesananya saja kita harus mati-matian secara fisik, sudah begitu ingin total secara hati??? Atau saya ingin sekali bisa sholat dan berdoa di Raudhah (sepetak tempat di Masjid Nabawi yg dulunya diantara mimbar dan kamar Rasulullah saw [sekarang makam beliau], kata hadits shahih Bukhori sepetak bagian masjid itu dibilang "Taman dari taman-taman surga"menurut Rasulullah saw) gimana saya bisa total khusyu di sana, untuk mendapat tempat duduk di karpet Raudhah sendiri mesti lari-lari tidak menghormati masjid. Walaupun sebenarnya semua tempat-tempat di atas alhamdulillah sempat saya rasakan, tapi hari-hari di sana saya sempat berfikir, merenung, bertanya ke diri sendiri "Sebenernya layak tidak sih saya merasa itu semua??? berjuang mati-matian ke tempat-tempat yang mustajab, tempat-tempat suci yang terhormat padahal hati saya tidak ada di sana, fisik sih komplit ada tapi hati saya tidak hadir... atau mungkin masih banyak orang lain yang jauh lebih layak dari saya untuk merasa itu semua .. so better saya mengalah???... Sedih sekali saat-saat itu. Hati tidak bisa dibohongi. Rasanya malu kalau kita sudah ziarah makam Rasulullah saw, pakai baju rapih-rapih, pakai parfum wangi-wangi, lalu memohon ke Allah supaya nanti di hari kemudian saya dimohonkan syafa'at oleh Rasulullah saw, tapi do'anya sendiri tidak ada hatinya... Rasanya membohongi Nabi saw, kekasihnya Allah... Kalau mau jujur rasanya saya mending berada di luar lingkaran yang mulia itu tapi Allah dan Rasulullah saw ridho sama saya. Bodoh kedengarannya, tapi masih make sense! Ini memang contoh kasus frustasinya orang yang masuk kategori ke-3 tadi. Saat itu saya mulai cari-cari apa yang salah, sempat saya menyalahkan kalau hati saya tidak hadir gara-gara orang-orang dari kategori ke-2 yang merusak konsentrasi, tapi aneh kalau dilihat-lihat disana, di tempat yang sama, dengan tingkat gangguan yang sama, masih banyak orang-orang dari kategori ke-1. "Sialan sekali deh!".sampai mungkin akhirnya di titik yang cukup memalukan: Saya menyalahkan flu saya!!!.. gara-gara flu ini saya jadi tidak konsentrasi!! benarrr!!! Hahahahaa...benar! semua gara-gara cuaca dingin tidak cocok sama badan yang membuat saya flu jadi membuat saya tidak konsentrasi! Hmmm... Lagi asyik-asyiknya saya menyalahi flu lho kok saya teringat kata Pak Ustad hari-hari sebelumnya bahwa salah seorang sahabat Rasulullah yang dulu ikut perang, meminta dicabut anak panah yang menancap dalam-dalam di lengannya hanya pada saat DIA LAGI SHOLAT!!! Karena pada saat itu dia bisa melupakan keduniawian dan melupakan sakitnya otot lengan di-urek-urek untuk mencabut mata panah yang sudah tertanam. Naif sekali deh saya dan flu-nya! Mungkin berat sekali bagi kita-kita untuk bisa masuk ke kategori ke-1. Minimal banyak unsur-unsur duniawi kita yang mesti dikorbanin, atau kalau mau benar-benar total mungkin seperti hidup di pesantren. Tidak semuanya mau begitu kan?. Termasuk saya mungkin yang belum siap. Di sana saya pernah mengaji 1 halaman terbata-bata terus tiba-tiba di sebelah saya datang seorang anak 7thn-an ke gurunya dan mengaji dengan sangat lancar dan kecepatan berkali-kali lebih cepat dari saya, komplit dengan langgam dan tajwid, semua dalam 1 paket! Dan menyebalkannya si anak ini mengaji mungkin 2 halaman lebih dengan tutup buku!!! Itu satu momen juga yang bikin saya ciut (ciri lain kategori ke-3). Tidak hanya orang tua berjang-gut lebat, bergamis dan bertasbih saja, ternyata anak kecil pun sudah berlomba-lomba ingin masuk surga!!! Akhirnya semua frustasi saya, semua pertanyaan2 dalam diri saya sampai ke ujung pertanyaan dari semua rangkaian ibadah yang lagi saya kerjakan: "Layak tidak sih saya ini naik haji????" Sedih sekali pertanyaan itu kok bisa keluar dari pikiran saya selagi saya lagi ada di tanah suci ..!!! Atau kalau mau lebih ekstrim lagi, terutama setelah melihat beliau-beliau dari kategori ke-1, saya akan bertanya: "Layak tidak sih saya masuk surga??????????????????" "Pantas tidak sih saya mengharapkan surga???" "Mana yang lebih baik: saya maksa masuk surga tapi Allah tidak ridho, atau justru lebih baik kalau saya masuk neraka tapi Allah ridho??????" Aneh sekali pertanyaan-pertanyaan bodoh itu kok menghantui saya justru di saat saya "diundang" Allah ke rumah-rumahnya, di saat saya "dijamu" oleh Nabiyallah saw di kotanya. Mungkin waktu itu saya sudah putus asa, jadi selain saya minta obat ke dokter buat masalah jasmani, saya juga minta obat buat masalah rohani, untuk yang ini saya datang ke Bapak-bapak Ustad. Alhamdulillah dari Pak Ustad saya dapat beberapa pencerahan. Dia bilang jangan "ngambek" tidak ke tempat-tempat itu lagi, karena beliau juga merasa tingkat kesulitannya memang tinggi, dan jangan pernah putus asa kalau belum bisa khusyu total dalam sholat misalnya, karena Rasulullah saw dulu pernah menguji satu-satunya sahabat dekatnya yang berani bilang kalau dia mampu khusyu total bersholat, dan ternyata setelah diuji dengan iming-iming hadiah, sahabat itu buyar juga konsentrasinya justru pada salam terakhir karena sempat terfikir akan dapat hadiah apa nanti. Cerita yang menarik! Lumayan buat meningkatkan rasa optimis. Akhirnya dengan bekal pencerahan itu setiap ada kesempatan saya selalu mencoba dan mencoba lagi ke tempat-tempat itu. Biar deh kalau nantinya ternyata tidak khusyu total, yang penting semuanya harus di-USAHAKAN sesempurnanya dan dikerjain dengan tau diri, kasi kesempatan orang lain jangan egois dan jangan sampai menyakiti orang lain. Saya yakin masih banyak orang yang nasibnya sama seperti saya, dan saya yakin semua orang dari kategori ke-3 minimal punya keinginan mulia walau sekecil apapun itu. Mungkin kita bisa berharap mudah-mudahan Allah memberi nilai yang tinggi buat siapa saja yang beribadah walau baru berupa niat agar ibadahnya sempurna. Balik lagi ke pertanyaan "Layak tidak sih saya ini naik haji??" Pak Ustad bilang kalau itu balik lagi ke Rukun Islam yang 5. Kalau misalnya pondasi 2 kalimah syahadat sudah ditanam, tiang-tiang sholat 5 waktu sudah dipasang, dinding-dinding puasa sudah membentengi, jendela ventilasi zakat sudah dibuat, siapapun yang memang punya kemampuan (harta yang halal dan tidak jadi jatuh melarat sepulang haji baik dirinya maupun keluarganya yang jatuhnya malah jadi menganiaya) wajib hukumnya menuntaskan pembangunan dengan bikin atap haji. Namanya bikin rumah, siapapun pasti ingin punya rumah idaman, pastinya yang komplit sampai ke atap-atapnya. Mungkin analoginya jadi begini: kalau kita sering dengar orang bilang "Saya belum siap naik haji" ini sayang sekali lho! siapapun ingin punya rumah idaman secepatnya kan? Kalau perlu saat kita masih muda, jangan sampai kalau kita sudah tua sekali baru bikin rumah idaman, selain capek mengangkat-ngangkat genteng dan kayu kaso (maklum sudah rapuh tulang kita) lalu menikmatinya juga hanya sejenak kalau dibanding dengan yang selagi muda sudah punya rumah idaman. Tambahan dari Pak Ustad juga, sempat disinggung kalau kerjakan yang 5 sebelum yang 5: sehat sebelum sakit, muda sebelum tua, kaya sebelum miskin, luang sebelum sibuk, hidup sebelum mati. Yang sayang sekali kalau misalnya kita sudah menuhin syarat-syarat itu tapi kita selalu takut kalau kita belum siap berhaji, masalahnya sampai kapan kita bisa hidup dengan "rasa takut" itu. Atau justru mengerikannya semakin sering kita pelihara rasa takut, jatuhnya kita malah jadi ngehindar apa yang diwajibkan atas diri kita, masya Allah mudah-mudahan kita tidak termasuk yang ini...karena saya pernah denger hadits (lupa siapa yg me-riwayatkan) kalau Rasulullah pernah bersabda "Siapa yang mampu berhaji tapi tidak melaksanakannya silakan pilih mati sebagai nasrani atau sebagai yahudi" (..mungkin ada yang bertanya "kok bawa-bawa umat lain" sejujurnya saya tidak ambil pusing, tapi di Al-Quran sendiri banyak sekali ayat yang menggambarkan betapa bencinya Allah thd kaum itu, terutama yahudi salah satunya karena kaum tersebut punya segudang kasus munafik terhadap nabi-nabinya). Dari pengalaman saya (yang baru pertama kali ini juga) rasanya kalau melihat jumlah jama'ah haji, yang paling banyak adalah dari Indonesia, dan kata teman jama'ah, mereka justru paling banyak datang dari pelosok-pelosok daerah. Boleh dibayangkan sendiri kira-kira apa sih usaha sehari-harinya mereka, kok mereka bisa berhaji yang minimal pengeluarannya di atas 20 juta, bahkan tidak hanya sendiri, banyak juga yang pasangan suami-istri. Artinya lebih dari 40 juta berdua!! Tidak murah!! Mereka kaya-kaya? Saya tidak yakin sama itu. Tapi saya yakin satu hal, kalau mereka punya passion, mereka berusaha keras untuk bisa menutupi rumahnya dengan atap, mereka bercita-cita punya rumah idaman, mereka punya cita-cita jadi haji sebelum mereka mati. Terlepas dari tujuannya berhaji buat ibadah atau buat kebanggaan semata wallahualam, nafsi-nafsi, tidak saya pikirkan. Mungkin balik lagi ke "kesiapan" berhaji seperti pertanyaan yang sempat terfikir sama saya sebelumnya tentang layak apa tidaknya berhaji, rasanya semua yang mengaku umat muslim layak berhaji. Baik itu orang yang susah khusyu yang paling penting pertama ada niat dan usaha sesempurna-sempurnanya, baik itu punya dosa segunung, se-dunia, atau se-alam semesta selama masih menganggap Allah swt jauh lebih luas, lebih besar, lebih agung dari alam semesta dan ada niat untuk tobat dan memperbaiki diri. Setelah melalui semua proses rangkaian ibadah di tanah suci, antara lain: ibadah sehari-hari, ziarah, I'tikaf, dengar ceramah-ceramah, umroh, dan haji, dan berdasarkan masukan-masukkan Pak Ustad dan teman-teman jama'ah lain, sepertinya saya menarik kesimpulan: 1. haji itu terjadi kalau kita usaha ke arah sana yang diawali dari keikhlasan niat dan cara yang halal. 2. haji itu menuntaskan pembangunan rumah idaman kita (kita memenuhi janji kita ke Allah sebelum kita dilahirkan ke dunia bahwa salah satu rukun yang akan kita kerjakan di dunia adalah berhaji, makna talbiyah "Labbaik Allohumma labbaik..dst (salah satunya itu) 3. haji itu mengumpulnya umat islam dari penjuru dunia. Di sana kita bisa melihat dan mengukur diri kita sendiri dibanding yang lain (jadi sama sekali tidak salah kalau kita cemburu sama kategori ke-1, malah itu cemburu yang bagus dan harus terus dipupuk selama di sana dan dipertahankan sepulang dari sana, dari sana kita bisa ngeliat seberapa kerdil dan culunnya kita dibanding yang lain, moga-moga jadi ada motivasi untuk berbenah diri sepulang dari berhaji karena ada juga yang bilang kalau haji mabrur itu justru terlihat sepulangnya dari tanah suci, kualitasnya makin baik) Jadi haji adalah (bismillahirrahmaanirrahiim): JIHAD + RUKUN + PERUBAHAN Biaya berhaji memang tidaklah murah, tapi insya Allah berhaji itu sangat nikmat sekali, apalagi mulai haji tahun ini fasilitas-fasilitas diperbaiki, resiko kecelakaan diperkecil, misalnya di tempat lempar jumroh yang diperluas, pelataran thawaf dibuat lebih lega, atau jadwal berziarah ke Raudhah buat kaum wanita yang dibagi-bagi perbangsa biar bangsa asia yg mungil-mungil tidak bentrok dengan afrika yang besar-besar, dsb. Begitu kira-kira yang bisa saya ceritakan di sini, moga-moga ada gunanya buat teman-teman atau siapa saja. Kalau misalnya memang ada gunanya, alhamdulillah sekali, tolong teruskan juga ke teman / kerabat lain, jadinya kita bisa saling membagi ilmu buat kebaikan bersama, dan semoga kita semua dimudahkan berhaji dan bisa menjawab panggilan ke tanah suci, amin. (khusus untuk yang satu ini, saya pikir suka ada salah kaprah, karena sering saya dengar orang belum mau berhaji beralasan "belum dapat panggilan nih!!", kenyataannya kita semua sudah pernah berjanji untuk berhaji sewaktu di alam ruh, lalu setelah kita dilahirkan ke dunia panggilan itu sudah berlaku dan selalu ada sampai kontrak hidup kita abis, tinggal kita mampu dan mau apa tidaknya menjawab panggilan itu) Selebihnya saya minta maaf kalau misalnya dalam tulisan di atas ada kesalahan-kesalahan atau penyampaiannya yang tidak enak, sama sekali tidak ada niat menggurui. Pasti yang benar-benar itu dari Allah, dan kalau ada yang salah-salah pastinya karena kebodohan saya sendiri. Dan buat saya, semoga dari sini saya pribadi bisa introspeksi diri, amin. Assalamualaikum warrahmatullahi wabarrakatuh :: avissena Info tambahan: Teman, kalau kita pernah menonton acara tv FEAR FACTOR yang beberapa kontestan adu nyali, adu tenaga, sampai ada yang nekat makan makanan yang menjijikkan buat memperebutkan US$ 50.000, nah perlu diketahui kalau itu semua hanya bisa dinikmati di dunia sementara saja..hehehehe, tapi kalau ke tanah suci dan beribadah di sana (ziarah, ibadah sehari-hari, umrah, haji dll) diantaranya ini yang bisa kita dapatin (Dan tenang dari jutaan kontestan, semuanya bisa saja kebagian, tidak hanya 1 orang saja!!! Karena Allah Maha Kaya): 1. Haji Mabrur: Surga. 2. Wukuf di Arafah: Diampuni dosanya (kira-kira berbunyi: "Berdosa orang yang sudah menjalankan wukuf di Arafah apabila masih merasa punya dosa"- berdasarkan hadits qudsi [hadits qudsi = firman Allah yang disampaikan oleh Rasulullah saw tapi bukan Al-Qur'an] kebayang tidak kalau mau tidak mau kita yang pulang wukuf di Arafah mesti merasa tak berdosa lagi.. nikmat sekali kan!!!, saya saja mendengarnya merinding dan bikin salah tingkah, riwayat lain kira-kira berbunyi: "Tidak ada hari yang paling banyak Allah membebaskan hambanya dari neraka kecuali hari Arafah". 3. Sholat di Masjidil Haram Mekkah: nilainya sama dengan 100.000 x sholat di masjid lain (bayangkan kalau sholat berjama'ah! Bayangkan kalau kita saja jarang ke masjid!) 4. Sholat di Masjid Nabawi Madinah: nilainya sama dengan 1000 x sholat di masjid lain (bayangkan juga kalau sholat berjama'ah) bahkan ada yang bilang juga 200.000 x sholat di masjid lain karena Rasulullah pernah berdoa agar sholat di masjid nabawi 2 x lipat dari Masjidil Haram, dan kita semua tau beliau adalah kekasih Allah di alam semesta, kalau sang kekasih yang minta bukannya tidak mungkin akan dikabulkan kan? Wallahualam. 5. Thawaf di sekeliling ka'bah: dapat 60 rahmat. 6. Sholat di Masjidil haram: juga dapat 40 rahmat. 7. Memandang ka'bah saja: dapat 20 rahmat. 8. Bisa berdoa di tempat-tempat mustajab: tempat Thawaf, Multazam, di bawah Pancuran Emas, Bukit Safa, Bukit Marwah, tempat Sa'i, belakang Maqam Ibrahim, Hijir Ismail, Padang Arafah, Raudhah, Muzdalifah, Mina, Jumratul Aqabah, Jumratul Wusta, Jumratul Ula. 9. Arba'in (Sholat 5 waktu berjama'ah tanpa ketinggalan takbir pertama dalam 8 hari berturut-turut di Masjid Nabawi Madinah): terlepas dari siksa neraka, lepas dari azab, dan bersih dari kemunafikan (HR. Ahmad). 10. Ziarah ke Masjid Quba (masjid pertama dalam sejarah Islam): Kalau dalam keadaan berwudhu dari tempat tinggal (hotel/asrama) ke Masjid Quba untuk sholat, sama nilainya dengan 1 x berumroh. 11. Antara umroh satu dan yg berikutnya tidak ada dosa diantaranya. 12. Setelah memenuhi umroh buat diri sendiri, berumroh buat orang lain nilainya 7 x umroh biasa 13. Minum zam-zam sepuasnya, dipercaya penuh berkah karena dulu Rasulullah saw senang mencelupkan tangannya yang penuh berkah ke sumur zam-zam, air yang dipakai Malaikat Jibril untuk mencuci kalbu Rasulullah saw, obat penyakit jiwa atau jasmani. Pastinya masih banyak point rewards yang insya Allah bisa kita dapatkan selagi di tanah suci. Tapi pada akhirnya kita tidak perlu sampai hitung-hitungan kalau ibadah di sana, bagaimana pun kita tidak layak berhtung-hitung, Allah saja kan tidak pelit bagi-bagi rizki, pokoknya yang penting sih jalankan saja sebaik-baiknya...nikmati lezatnya beribadah di tanah suci. Bacaan menarik: Kalau akhirnya ada kesempatan ibadah ke tanah suci, selain buku-buku dari Departemen Agama, mungkin buku-buku ini bisa sangat membantu: - "CARA MABRUR NAIK HAJI & UMROH" A. Luqman & Cahyo Baskoro (buku ini menarik sekali buat kita-kita yang masih amatir.., bentuknya komik, plus ceritanya lucu-lucu) - "BUKU PINTAR HAJI & UMRAH" H.M. Iwan Gayo (warna item, isinya banyak sekali pengetahuan-pengetahuan dan bagus banget seperti ensiklopedi begitulah) - "DO'A" Dr. Miftah Faridl (buku saku berisi do'a, ada juga do'a umrah + haji, praktis sekali, masuk saku, dan buat yg sulit membaca huruf arab di sini ada latinnya) [border-top-width: 0px;border-right-width: 0px;border-bottom-width: 0px;border-left-width: 0px;border-style: initial;border-color: initial;] [border-top-width: 0px;border-right-width: 0px;border-bottom-width: 0px;border-left-width: 0px;border-style: initial;border-color: initial;] [Non-text portions of this message have been removed]

