Dikejar Dosa

Di kejar dosa
Siapakah hidupnya yang lebih sengsara dari pada orang yang di maki- maki
oleh hati nuraninya sendiri. Segala kenikmatan dan kemuliaan hidup duniawi
terasa hanya sebagai fatamorgana yang nantinya tiada berbekas di hatinya.
Itu semua karena hatinya telah pasti merasa diburu dan mengeras sehingga
tidak bisa melihat sebuah rasa yaitu bahagia. Dan sebenarnya kebahagiaan
orang yang dikejar dosa  adalah tentang hilangnya pengejaran dan pemakian
atas dirinya sendiri itu.
Kekerasan itu akan bertambah jika tingkah polahnya dalam mengukir sandiwara
dan cerita yang pasti akan diliputi kebohongan disana- sini semakin
menjadi. Apalagi kalau tujuannya pembenaran di hadapan manusia. Perhatikan
pula bahwa dia akan semakin jauh dari kedamaian saat semakin sering dia
membolak- balikkan fakta dan cerita demi yang bernama menghindari
penghakiman massa dan kritikan sesama, yang jika saja dia sadari, justru
seharusnya semua itu bisa menjadikan dia lebih dari baik, dari pada
keadaannya sekarang ini.
bahkan betapapun dia melarikan diri dan atau hidup sendiri dihutan, namun
tetap akan dirasa bahwa tetap tiada jalan keluar bagi semua kekacauan
hatinya. Dan memang begitulah memang nasib para manusia yang dikejar dosa.
Kesempitan hatinya akan terasa semakin sempit sebelum dia menyerah,
mengakui dosa diri dan atau meminta maaf atas siapapun yang telah dia
sakiti. Keluasan hatinya tak akan ada muncul sebelum dia rela bersujud
kepada Allah, dan mematahkan kesombongannya atas tetap benarnya semua yang
telah dia lakukan.
Bahkan betapapun dia mengelak dan mencoba melarikan diri, namun dunia ini
tak akan cukup menampung penderitaan orang yang dikejar dosanya sendiri.
Betapapun dia mencoba untuk merubah keadaan dengan seribu karangan
rangkaian kata- kata untuk memantapkan dan menetapkan dirinya agar tetap
bisa berdiri dengan tegak, tapi makian hati nuraninya sendiri yang protes
dan tidak setuju dengannya, lambat laun akan menumbangkan pertahanannya
sendiri. Benar- benar, ini adalah tentang dirinya sendiri, sama sekali
tidak ada kaitannya dengan orang lain. Maka sudah selayaknya orang yang
dikejar dosa, bersibuk diri untuk memperbaiki dirinya yang telah kacau dan
menenangkan dirinya untuk tidak bersandiwara, agar semua tidak akan menjadi
semakin kacau. Dan semua itu, hanya bisa mudah untuk dilakukan, jika semua
diniatkan hanya untuk Allah, sebagai sebuah permohonan tobat dan penyesalan
yang dalam, dari diri yang berdosa.


Siapakah hidupnya yang lebih sengsara dari pada orang yang di maki- maki
oleh hati nuraninya sendiri. Segala kenikmatan dan kemuliaan hidup duniawi
terasa hanya sebagai fatamorgana yang nantinya tiada berbekas di hatinya.
Itu semua karena hatinya telah pasti merasa diburu dan lelah karena terus
menerus di ajak untuk berdosa.  Lama kelamaan, sang hati akan mengeras
sehingga tidak bisa melihat lagi sebuah rasa yaitu bahagia. Karena
sebenarnya kebahagiaan orang yang dikejar dosa  adalah tentang hilangnya
pengejaran dan pemakian atas dirinya sendiri itu.

Kekerasan batinnya itu akan bertambah jika tingkah polahnya dalam mengukir
sandiwara dan cerita yang diliputi kebohongan disana- sini ,semakin
menjadi. Apalagi kalau tujuannya pembenaran di hadapan manusia. Perhatikan
pula bahwa dia akan semakin jauh dari kedamaian saat semakin sering dia
membolak- balikkan fakta dan cerita demi yang bernama menghindari
penghakiman massa dan kritikan sesama. Padahal jika saja dia sadar, justru
seharusnya semua itu bisa menjadikan dia lebih dari baik, dari pada
keadaannya sekarang ini.

Bahkan betapapun dia melarikan diri dan atau hidup terasing dihutan
sendiri, namun tetap akan dirasa bahwa tiada jalan keluar bagi semua
kekacauan hatinya. Dan memang begitulah memang nasib para manusia yang
dikejar dosa. Kesempitan hatinya akan terasa semakin sempit sebelum dia
menyerah, mengakui dosa diri dan atau meminta maaf atas siapapun yang telah
dia sakiti. Keluasan hatinya tak akan ada muncul sebelum dia rela bersujud
kepada Allah, dan mematahkan kesombongannya atas anggapan tetap benarnya
semua yang telah dia lakukan.

Bahkan betapapun dia mengelak dan mencoba melarikan diri, namun dunia ini
tak akan cukup menampung penderitaan orang yang dikejar dosanya sendiri.
Betapapun dia mencoba untuk merubah keadaan dengan seribu karangan
rangkaian kata- kata untuk memantapkan diri agar tetap bisa berdiri dengan
tegak, tapi makian hati nuraninya sendiri yang protes dan tidak setuju
dengannya, lambat laun akan menumbangkan pertahanannya sendiri.

Benar- benar, ini adalah tentang dirinya sendiri, sama sekali tidak ada
kaitannya dengan orang lain. Maka sudah selayaknya orang yang dikejar dosa,
bersibuk diri untuk memperbaiki dirinya yang telah kacau dan menenangkan
dirinya untuk tidak bersandiwara, agar semua tidak akan menjadi semakin
kacau. Dan semua itu, hanya bisa mudah untuk dilakukan, jika semua
diniatkan hanya untuk Allah, sebagai sebuah permohonan tobat dan penyesalan
yang dalam, dari diri yang berdosa.

(Syahidah/voa-islam.com)


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke