forward dari milis sebelah

----- Original Message ----- 
Sent: Thursday, January 04, 2007 6:26 AM
Subject: [DT] Negeri Bencana

NEGERI BENCANA

Maka masing-masing Kami siksa disebabkan dosanya, maka di antara mereka ada 
yang Kami timpakan kepadanya hujan
batu kerikil dan di antara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, 
dan di antara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan di antara mereka 
ada yang Kami tenggelamkan, dan Allah sekali-kali
tidak hendak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri 
mereka sendiri. QS. Al Ankabuut (29) : 40

Indonesia telah menjelma menjadi negeri bencana. Betapa tidak. Dalam kurun 
waktu yang relatif singkat, negeri ini dihajar oleh bencana bertubi-tubi dengan 
korban ratusan ribu jiwa dan harta benda yang tiada terkira. Mulai dari gempa 
dan tsunami Aceh di akhir tahun 2004, disusul ancaman gunung Merapi, disusul 
lagi gempa dan tsunami di Yogyakarta, diteruskan dengan banjir bandang di 
berbagai wilayah Indonesia, meluapnya Lumpur di Sidoarjo, dan sejumlah gempa 
lainnya di berbagai kawasan. Ada apa dengan Indonesia?

Sebagian kawan berpendapat bahwa Indonesia sedang diperingatkan oleh Allah agar 
segera menyadari berbagai kesalahan yang telah kita perbuat. Mulai dari 
korupsi, mafia peradilan, penyalahgunaan kekuasaan, pornografi, perjudian, 
narkoba, pelacuran dan berbagai penyimpangan seksualitas, serta segala jenis 
kemaksiatan lainnya.

Allah masih menyayangi kita, katanya. Karena itu DIA mengingatkan agar kita 
segera kembali. Perbaiki diri dan kehidupan kita secara keseluruhan agar 
menjadi masyarakat yang adil dan makmur dalam Ridha Allah. Sebagaimana 
dicantumkan oleh pendiri negara ini dalam pembukaan Undang Undang Dasar kita...

Sementara itu, sebagian kawan yang lain berpendapat bahwa bencana-bencana yang 
kita alami ini tak ada kaitannya dengan murka Allah. Ini semata-mata adalah 
konsekuensi logis dari wilayah Indonesia yang berada di pertemuan 
lempeng-lempeng Bumi, Eurasia, Australia, dan Pasific.

Karena berada di pertemuan tiga lempeng besar itu, maka wilayah Indonesia 
menjadi tidak stabil. Sehingga gampang terkena gempa tektonik. Dan juga banyak 
memiliki gunung-gunung berapi aktif.

Namun, kawan yang lain bertanya lagi, meski pun Indonesia berada di dalam 
kawasan aktif, kenapa bencana itu datang bertubi-tubi akhir-akhir ini. Kenapa 
dulu tidak segencar ini?

Jangan-jangan ini ada kaitannya dengan segala macam perbuatan kita yang semakin 
tidak tahu diri. Yang manakah yang harus kita ikuti sebagai kepahaman atas 
segala yang terjadi?

Sebenarnyalah Indonesia adalah negeri bencana. Setiap tahun Indonesia selalu 
ditimpa bencana sebanyak ratusan kali di seluruh wilayahnya. Hanya saja, karena 
tidak diinventarisasi, menjadi tidak ketahuan dan tidak kelihatan.

Menurut laporan WALHI, antara tahun 1998 sampai dengan 2003 saja, Indonesia 
diterpa bencana sebanyak 647 kali. Sebagian besarnya adalah banjir dan tanah 
longsor. Masing-masing sebanyak 302 kejadian banjir dan 245 tanah longsor. 
Tersebar di dalam wilayah yang sangat luas, mulai dari kota-kota di pulau Jawa, 
kalimantan, Sumatera, Nusa tenggara sampai Maluku.

Bencana pada urutan berikutnya adalah angin topan sebanyak 46 kali, gempa bumi 
38 kali, dan gunung berapi 16 kali. Seluruh bencana itu memakan korban jiwa 
sebanyak lebih dari 2.000 orang. Dan kerugian material ratusan miliar rupiah. 
Belum lagi sepanjang tahun 2003 dan 2004, ratusan bencana lagi yang menimpa 
negeri ini.

Dan puncaknya terjadi di akhir tahun 2004 sampai 2006. Indonesia dihantam oleh 
berbagai bencana beruntun dengan skala yang jauh lebih besar dari sebelumnya 
berupa tsunami, gempa bumi, gunung berapi, banjir bandang, luapan Lumpur, dan 
tanah longsor. Korbannya melonjak menjadi ratusan ribu orang, dengan kerugian 
material triliunan rupiah.

Sebenarnya, kita paham bahwa bencana alam adalah bagian dari kehidupan manusia 
di muka bumi. Sebagaimana telah kita bahas di bagian sebelumnya, bahwa bumi 
kita ini setiap harinya diincar oleh bencana dari segenap penjuru. Dari 
angkasa, dari perut Bumi, dari lingkungan sekitar, dan lain sebagainya.

Akan tetapi, kita menjadi bertanya-tanya kepada diri sendiri, kenapa ini tidak 
henti-hentinya menghantam kita. Dan, semakin lama semakin besar skalanya. 
Apakah tidak ada yang salah dengan kita? Bukankah Allah memotivasi kita untuk 
selalu mengambil pelajaran dari berbagai kejadian yang menimpa kita?

QS. Az Zukhruf (43) : 55-56
Maka tatkala mereka membuat Kami marah, Kami menghukum mereka lalu Kami 
tenggelamkan mereka semuanya,

dan Kami jadikan mereka sebagai pelajaran dan contoh bagi orang-orang yang 
kemudian.

Sebagian kita mengatakan bahwa bencana itu ada yang bisa di-manage dan 
dikendalikan. Sedangkan sebagian yang lain lagi tidak bisa kita kontrol. Di 
antara yang bisa kita kontrol itu adalah banjir, tanah longsor, kebakaran 
hutan, kekeringan, dan kekacauan musim. Sedangkan yang tidak bisa kita kontrol 
adalah gunung meletus, gempa bumi, tsunami, dan angin topan.

Nah, ternyata berbagai bencana yang menimpa negeri ini sebagian besarnya adalah 
bencana-bencana yang seharusnya bisa kita kontrol dan dimanajemeni. Ya, 85% 
bencana di Indonesia adalah disebabkan oleh salah urus, korupsi, keserakahan, 
dan perusakan lingkungan. Hanya 15% yang di luar kontrol manusia. Itu pun 
sebenarnya, tidak sama sekali terlepas dari perilaku manusia dalam memanajemeni 
planet Bumi ini.

Kalau kita mau, Indonesia bisa mengontrol dan menekan sebagian besar bencana 
yang akan terjadi di tahun depan. Atau pun di tahun-tahun mendatang dengan 
menerapkan manajemen pengelolaan bencana secara maksimum. Sayangnya, banyak di 
antara kita yang tidak mau. Terutama mereka yang berada di lingkaran strategis 
pembuat keputusan.

Kalau rakyat sih pasti mau. Karena kitalah yang selama ini menjadi korban atas 
keserakahan beberapa gelintir orang itu. Kuncinya, hanya ada pada beberapa 
orang raja. Maka merekalah sesungguhnya yang paling bertanggungjawab atas 
bencana-bencana itu.

Jika tidak segera diatasi, bencana-bencana ini akan semakin membesar skalanya. 
Baik tingkat kerusakan, maupun luas wilayahnya. Dan tentu, korbannya akan 
semakin besar. Jiwa maupun kerugian material. Sungguh Allah tidak suka kepada 
orang-orang yang berbuat kerusakan.

QS. Asy Syu'araa' (26) : 183
Dan janganlah kamu merugikan manusia pada hak-haknya dan janganlah kamu 
merajalela di muka bumi dengan membuat kerusakan;

Kita harus segera menghentikan rentetan bencana di negeri ini. Allah telah 
menunjukkan caranya yaitu segera hentikan berbuat kerusakan. Saya kira di abad 
modern ini kita sudah tahu bahwa kerusakan lingkungan hidup bakal menjerumuskan 
kita semua kepada bencana.

Yang paling parah adalah perusakan hutan habis-habisan. Yang ke dua adalah 
penambangan liar dan lepas kontrol. Yang ke tiga, polusi alias pencemaran 
gila-gilaan, baik di perairan, daratan maupun udara. Ke empat, adalah tataguna 
dan tata kelola ruang perkotaan atau pedesaan. Dan yang terakhir, perbaiki 
akhlak bangsa ini agar menyembah dan mentaati petunjuk-petunjuk Allah.

Jika tidak, bangsa Indonesia akan semakin sulit untuk lepas dari terpaan 
bencana bertubi-tubi. Dulu dililit bencana penjajahan. Lantas berganti dengan 
bencana politik. Dilanjutkan dengan bencana ekonomi. Dan kini dihajar dengan 
bencana alam.

QS. Al A'raaf (7) : 56
Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) 
memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap. 
Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.

Ayat di atas mengajarkan kepada kita agar kita segera menahan diri untuk terus 
berbuat kerusakan. Karena sebenarnya, Allah sedang mengembalikan lingkungan 
hidup kita dalam keseimbangannya kembali. Berdoalah kepada Allah dengan penuh 
harap. Maka Allah akan segera melepaskan kita dari bencana bertubi-tubi ini, 
asalkan kita memperbanyak berbuat kebajikan. Yaitu memperbaiki akhlak bangsa 
ini dan bekerja keras untuk memanajemeni lingkungan yang sudah amburadul...


BENCANA DI BELAHAN BUMI 

Maka masing-masing Kami siksa disebabkan dosanya, maka di antara mereka ada 
yang Kami timpakan kepadanya hujan
batu kerikil dan di antara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, 
dan di antara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan di antara mereka 
ada yang Kami tenggelamkan, dan Allah sekali-kali tidak hendak menganiaya 
mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri. QS. Al 
Ankabuut (29) : 40

Planet Bumi ini, sebenarnya tiap hari dihajar oleh bencana. Mulai dari gempa, 
angin kencang, banjir, hawa panas-dingin, tanah longsor, sampai pada gelombang 
pasang atau mungkin menjadi tsunami yang menakutkan. Karena begitulah memang 
kondisi planet ini. Akan tetapi, semua itu bukan terjadi dengan sendirinya. 
Selalu ada penyebabnya...

Allah membuat sistem tertutup yang saling mempengaruhi antarkomponen struktur 
Bumi ini. Tidak ada yang terpisah. Semuanya saling terkait membentuk 
keseimbangan. Sekecil apa pun perubahan yang terjadi, akan menyebabkan 
pergeseran pada komponen yang lain.

Kesaling terkaitan itu bagaikan sebuah jala ikan yang dibentangkan kencang. 
Jika anda memotong salah satu benang pada jala itu, maka akan terjadi perubahan 
bentuk secara keseluruhan. Begitulah kondisi Bumi. Perubahan sekecil apa pun 
pada kondisi Bumi kita akan menyebabkan perubahan pada keseluruhan.

Ini terjadi pada planet secara global. Perubahan di suatu wilayah, bakal 
menyebabkan perubahan di wilayah lain. Sebagai contoh konkret adalah gempa. 
Terjadinya gempa di Aceh, telah nnenimbulkan ketidakstabilan pada wilayah 
berikutnya. Maka, beberapa waktu kemudian, gempa itu merembet ke sepanjang 
pantai selatan pulau Jawa, terus bergerak sampai ke Indonesia Timur.

Atau, ketika muncul tsunami, maka gelombangnya bukan hanya berhenti di sekitar 
Aceh, melainkan menghantam wilayah yang luas, pantai-pantai di sekitar lautan 
Hindia dan kemudian merambat sampai ke pantai Afrika.

Bahkan, sentakan gempa yang mencapai angka 9 skala Richter ini sempat 
menggoyahkan Bumi dan menggeser sumbu putarnya. Setelah peristiwa itu, Bumi 
kita berputar pada sumbu yang lebih miring sekitar 2,5 cm. Hal ini dikemukakan 
oleh Richard Gross dan kawan-kawannya, para peneliti NASA.

Lebih jauh, para ahli geofisika memprediksi getaran gempa yang mengakibatkan 
tsunami di Aceh itu telah mempercepat putaran planet Bumi sebesar 3 mikrodetik. 
Hal ini disebabkan oleh gelombang kejut yang terjadi. Mereka mengumpamakan 
seperti seorang pemain papan seluncur yang bergerak mengibaskan tangannya untuk 
memberikan efek tambahan kecepatan.

Perubahan periode rotasi Bumi ini juga disebabkan oleh bergesernya massa di 
pusat Bumi saat lempeng tektonik samudera Hindia melaju menabrak lempeng 
Eurasia. Demikian penjelasan para peneliti di Laboratorium Propulsi Jet NASA.

Jadi sangat jelas, bahwa perubahan sedikit apa pun yang terjadi pada suatu 
wilayah Bumi bakal mempengaruhi wilayah yang lain. Meskipun itu terjadi di 
material padatan seperti kerak Bumi. Apalagi pada material gas alias atmosfer 
yang melingkungi Bumi. Pergerakan jauh lebih liquid.

Polusi di suatu wilayah akan sangat berpengaruh pada kualitas atmosfer Bumi 
secara keseluruhan. Ketika hutan kalimantan terbakar, asapnya menyengsarakan 
bukan hanya orang kalimantan. Melainkan semua negara tetangga.
Ketika gunung Krakatau meletus di tahun 1883, selain memunculkan gelombang 
tsunami yang memakan korban 36.500 jiwa di pantai ujung barat pulau Jawa, asap 
letusannya membubung tinggi sampai terlihat dari daratan Eropa dan Amerika.

Atau, ketika banyak penduduk Bumi menggunakan gas freon dan pengisi tabung 
semprot dengan gas perusak Ozon, maka lapisan Ozon di bagian atas atmosfer 
mengalami kerusakan. Dan menurut pengamatan dari luar angkasa, lapisan ozon di 
atas kutub selatan mengalami lubang sangat besar. Hal ini, kacau tidak segera 
diatasi, bakal mengancam kelangsungan hidup di muka Bumi.

Planet ini akan mengalami pemanasan global. Permukaan laut akan mengalami 
kenaikan ketinggian, dan menenggelamkan sebagian daratan karena es di kutub 
mencair. Pemanasan global semakin mengkhawatirkan karena tingkat polusi gas-gas 
rumah kaca juga semakin besar.

Efek selanjutnya dari pemanasan global itu adalah pergeseran mekanisme iklim di 
Bumi. Pergerakan angin menjadi lebih `liar' dari biasanya. Hawa panas dan 
dingin lebih sering muncul di wilayah-wilayah empat musim sehingga memakan 
korban lebih banyak. Mekanisme hujan pun menjadi kacau, menimbulkan berbagai 
banjir bandang dalam skala luas. Dan, secara keseluruhan kondisi Bumi semakin 
sulit diprediksi. Inilah yang terjadi dewasa

Bagaimana dengan gempa dan Tsunami? lni juga agak aneh. Selama ini, dalam 
sejarah bencana tsunami dunia, kawasan lautan Hindia tidak termasuk kawasan 
yang rawan tsunami. Yang paling sering adalah kawasan lautan Pasifik. Dan 
kemudian Atlantik. Karena itu sistem deteksi tsunami di kawasan ini tertata 
dengan baik. Negara-negara di kawasan lautan Hindia merasa tidak perlu memasang 
alat berharga jutaan dolar itu, karena dianggap tidak efektif. Akan tetapi, 
ternyata di kawasan inilah justru muncul gelombang tsunami terbesar dalam 
sejarah manusia yang paling mengerikan, dan meminta korban lebih dari 150 ribu 
jiwa.

Bencana Tsunami lainnya dalam sejarah manusia tidak sebesar ini. Kebanyakan 
terjadi di wilayah Pasifik. Tahun 1782 terjadi gelombang tsunami di Laut China 
Selatan, memakan korban jiwa 40.000 orang, dan ribuan rumah hancur disapu 
gelombang. Tahun 1883, muncul tsunami akibat letusan gunung Krakatau, korbannya 
lebih dari 36.500 jiwa. Tahun 1868 bencana yang sama menyapu Chilie dan 
menewaskan sekitar 25.000 orang.

Namun demikian, pantai di wilayah Atlantik juga pernah dihancurkan oleh 
tsunami. Tahun 1775 terjadi gempa Bumi di Lisbon yang menyebabkan tsunami 
menghajar pantai Portugal, Spanyol dan Afrika Utara. Korbannya tak kurang dari 
60.000 orang. Gelombangnya mencapai ketinggian 7 meter di laut Karibia.

Daerah ini beberapa kali dilanda tsunami, tapi dalam skala yang lebih kecil. 
Sejak tahun 1498 terjadi 37 kali tsunami yang memakan korban total sekitar 
9.500 orang. Tsunami besar lainnya muncul dengan gelombang raksasa pada tahun 
1999 di laut Marmara, dekat Turki setelah gempa Izmit..._,_._,___ 

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke