============================================
Mailinglist debritto : [EMAIL PROTECTED]
============================================
Waktu ke Yogya saya ketemu salah seorang anggota DBNet, yang salah satu
anaknya lagi menuntut ilmu di De Britto.
Dia punya pertanyaan: Mas Johanes itu kerja dimana? Asahimas. Hiyha, itu
dodol apa? Pabrik kimia. Dodol apa lagi, kok punya Sheraton barang.
Hua..ha..aa kowe kapusan. Lha wong c*ngkeme cah Debritto lagi do gojegan
we kok dipercaya. Ben gagah, kita sebut Sheraton. Utawa sakkarepmu le
nyebut. Sakjane ming 'cakruke' Johanes nek lagi nge-ronda-ni randa. BTW, it
is much comfortable especially with his hospitalities.(he..he...yang ini
mancing 'guru bahasa Inggris' DBNet...)
Lalu saya juga mengajukan pertanyaan atas anaknya: apakah dengan kenyataan
yang kita saksikan bahwa De Britto secara NEM/peringkat, tidak bunyi
apa-apa, sampeyan masih berani mempercayakan anaknya dididik di De Britto?
Masih, Mas, saya masih percaya pendidikan De Britto yang selain mengajar
ilmu juga mendidik murid2 menjadi manusia.
Lalu dia cerita, bahwa dia deg-degan menunggu hasil kenaikan kelas anaknya.
Engko gek ora munggah. Saya merasa agak lucu, kok jaman sekarang masih ada
kekawatiran ora munggah. Anak2 saya pernah saya yang sekolah di sekolahan
katulik juga, pernah saya tanya kalau nggak naik gimana, mereka merasa
lucu. Aneh, masak sekolah kok nggak naik. Lha ini ada orang tua deg-degan
benar anaknya nggak naik kelas. Apa anaknya begitu bodoh ta? Ora, Mas, ning
pancen sengsara tenan sekolahe.
Saya juga bertemu dengan Romo Mardisantosa, bertanya juga tentang hal ini.
Yang saya tangkap komentarnya: dia kok nggak yakin dengan peringkat/NEM
sekolah lain yang tinggi2 itu. Ada kemungkinan di'goreng' kaya lukisannya
Tony Pongoh. Anak2 De Britto sendiri mendapatkan NEMnya apa anane. Bisa
jadi itu hanya 'pembelaan' dari yang punya dagangan. Tapi kalau mendengar
kepercayaan teman tadi, juga Gumulya yang anaknya juga disana, saya juga
masih percaya bahwa pendidikan di JB masih dalam jalur komitmennya.
Valens arep kawin.
Salam,
Antonius Bardhono