============================================ Mailinglist debritto : [EMAIL PROTECTED] ============================================ Cerita bagus..... bisa untuk direnungkan Kacang ojo lali karo lanjarane.... =================== > Teman-teman: > Walaupun mungkin ini hanya cerita saja, namun banyak > hal yg dapat kita > pelajari. Bahwa dalam kehidupan ini, kita begitu > sering melupakan atau > bahkan berlaku kasar kepada orang tua yang telah > melahirkan, membesarkan > dan memberikan kasih sayang-nya kepada kita. > Bacalah cerita ini sampai > akhir. Forward tulisan ini mengingatkan kita utk > senantiasa mengingat, > mengucap syukur terutama kepada Allah, kemudian > kepada orang tua, saudara, > guru, teman atau siapa saja yang telah berperan > dalam membentuk siapa kita, > sampai hari ini. > > Terlebih, demikian sering dalam kehidupan ini, kita > "meninggalkan" Allah yg > justru telah memberikan kehidupan itu sendiri. Kita > tidak melihat itu > sebagai anugerah, malahan kita "mentuhankan" sesuatu > yang lain, seperti > uang, sekolah, GPA, kareer, jabatan, materi serta > hal lainnya yg ditawarkan > oleh "dunia". Atau kita menggugat Allah, mengapa > Dia tidak mengabulkan > permohonan doa yang mungkin sdh dipanjatkan dalam > selang waktu yg lama. > > Kira-nya tulisan ini akan menjadi berkat. Kirimlah > sebuah post card, > surat, email-lah atau tilpon-lah org yg sudah lama > anda lupakan, namun dia > pernah menggores tinta emas dalam kehidupan anda, > seberapa-pun kecil-nya > tulisan tersebut. Mohon maaf, bagi mereka yg sdh > pernah membaca tulisan > ini sebelumnya. > > Shaloom-HD > > > LOS FELIDAS > > Los Felidas adalah nama sebuah jalan di ibu kota > sebuah negara di America > Selatan, yang terletak di kawasan terkumuh di > seluruh kota. Ada sebuah > kisah Natal yang menyebabkan jalan itu begitu > dikenang orang, dan itu > dimulai dari kisah seorang pengemis wanita yang juga > ibu seorang gadis > kecil.Tidak seorangpun yang tahu nama aslinya, tapi > beberapa orang tahu > sedikit masa lalunya, yaitu bahwa ia bukan penduduk > asli disitu, melainkan > dibawa oleh bekas suaminya dari kampung halamannya. > > Seperti kebanyakan kota besar di dunia ini, > kehidupan masyarakat kota > terlalu berat untuk mereka, dan belum setahun mereka > di kota itu, mereka > kehabisan seluruh uangnya, dan pada suatu pagi > mereka sadar bahwa mereka > tidak tahu dimana mereka tidur malam nanti dan tidak > sepeserpun uang ada di > kantong. Padahal mereka sedang menggendong bayi > mereka yang berumur 1 > tahun.Dalam keadaan panik dan putus asa, mereka > berjalan dari satu jalan ke > jalan lainnya, dan akhirnya tiba di sebuah jalan > sepi dimana puing-puing > sebuah toko seperti memberi mereka sedikit tempat > untuk berteduh. > > Saat itu angin Desember bertiup kencang, membawa > titik-titik air yang > dingin. Ketika mereka beristirahat dibawah atap toko > itu, sang suami > berkata: Saya harus meninggalkan kalian sekarang. > Saya harus mendapatkan > pekerjaan, apapun, kalau tidak malam nanti kita akan > tidur disini.? Setelah > mencium bayinya ia pergi. Dan ia tidak pernah > kembali. Tak seorangpun yang > tahu pasti kemana pria itu pergi, tapi beberapa > orang seperti melihatnya > menumpang kapal yang menuju ke Afrika. > > Selama beberapa hari berikutnya sang ibu yang malang > terus menunggu > kedatangan suaminya, dan bila malam tidur diemperan > toko itu. Pada hari > ketiga, ketika mereka sudah kehabisan susu, > orang-orang yang lewat mulai > memberi mereka uang kecil, dan jadilah mereka > pengemis disana selama 6 > bulan berikutnya. > > Pada suatu hari, tergerak oleh semangat untuk > mendapatkan kehidupan yang > lebih baik, ibu itu bangkit dan memutuskan untuk > bekerja. Masalahnya adalah > dimana ia harus menitipkan anaknya, yang kini sudah > hampir 2 tahun, dan > tampak amat cantik jelita.Tampaknya tidak ada jalan > lain kecuali > meninggalkan anak itu disitu dan berharap agar nasib > tidak memperburuk > keadaan mereka. Suatu pagi ia berpesan pada anak > gadisnya, agar ia tidak > kemana-mana, tidak ikut siapapun yang mengajaknya > pergi atau menawarkan > gula-gula. > > Pendek kata, gadis kecil itu tidak boleh berhubungan > dengan siapapun selama > ibunya tidak ditempat. Dalam beberapa hari mama > akan mendapatkan cukup > uang untuk menyewa kamar kecil yang berpintu, dan > kita tidak lagi tidur > dengan angin dirambut kita.? Gadis itu mematuhi > pesan ibunya dengan penuh > kesungguhan. Maka sang ibu mengatur kotak kardus > dimana mereka tinggal > selama 7 bulan agar tampak kosong, dan membaringkan > anaknya dengan > hati-hati, didalamnya, disebelahnya ia meletakkan > sepotong roti, kemudian, > dengan mata basah ibu menuju ke pabrik sepatu, > dimana ia bekerja sebagai > pemotong kulit. > > Begitulah kehidupan mereka selama beberapa hari, > hingga dikantong sang ibu > kini terdapat cukup uang untuk menyewa sebuah kamar > berpintu didaerah > kumuh. Dengan suka cita ia menuju kepenginapan > orang-orang miskin itu, dan > membayar uang muka sewa kamarnya..Tapi siang itu > juga sepasang suami istri > pengemis yang moralnya amat rendah menculik gadis > cilik itu dengan paksa, > dan membawanya sejauh 300 kilometer kepusat kota. > Disitu mereka mendandani > gadis cilik itu dengan baju baru, membedaki > wajahnya, menyisir rambutnya > dan membawanya kesebuah rumah mewah di pusat kota. > Disitu gadis cilik itu > dijual. > > Pembelinya adalah pasangan suami istri dokter yang > kaya, yang tidak pernah > bisa punya anak sendiri walaupun mereka telah > menikah selama 18 tahun. > Mereka memberi nama anak gadis itu Serrafona, dan > mereka memanjakannya > dengan amat sangat. Ditengah-tengah kemewahan istana > itulah gadis kecil itu > tumbuh dewasa. Ia belajar kebiasaan-kebiasaan orang > terpelajar seperti > merangkai bunga, menulis puisi dan bermain piano. Ia > bergabung dengan > kalangan-kalangan kelas atas, dan mengendarai > Mercedes Benz kemanapun ia > pergi. > > Satu hal yang baru terjadi menyusul hal lainnya, dan > bumi terus berputar > tanpa kenal istirahat. Pada umurnya yang ke-24, > Serrafona dikenal sebagai > anak gadis Gubernur yang amat jelita, yang pandai > bermain piano, yang aktif > di gereja, dan yang sedang menyelesaikan gelar > dokternya. Ia adalah figur > gadis yang menjadi impian tiap pemuda, tapi cintanya > direbut oleh seorang > dokter muda yang welas asih,yang bernama Geraldo. > > Setahun setelah perkawinan mereka, ayahnya wafat, > dan Serrafona beserta > suaminya mewarisi beberapa perusahaan dan sebuah > real-estate sebesar 14 > hektar yang diisi dengan taman bunga dan istana yang > paling megah di kota > itu. Menjelang hari ulang tahunnya yang ke-27, > sesuatu terjadi yang merubah > kehidupan wanita itu. Pagi itu Serrafona sedang > membersihkan kamar mendiang > ayahnya yang sudah tidak pernah dipakai lagi, dan > dilaci meja kerja ayahnya > ia melihat selembar foto seorang anak bayi yang > digendong sepasang suami > istri. > > Selimut yang dipakai untuk menggendong bayi itu > lusuh, dan bayi itu sendiri > tampak tidak terurus, karena walaupun wajahnya > dilapisi bedak tetapi > rambutnya tetap kusam. Sesuatu ditelinga kiri bayi > itu membuat jantungnya > berdegup kencang. Ia mengambil kaca pembesar dan > mengkonsentrasikan > pandangannya pada telinga kiri itu. Kemudian ia > membuka lemarinya sendiri, > dan mengeluarkan sebuah kotak kayu mahoni. Didalam > kotak yang berukiran > indah itu dia menyimpan seluruh barang-barang > pribadinya, dari kalung-kalung > berlian hingga surat-surat pribadi. > > Tapi diantara benda-benda mewah itu sesuatu > terbungkus kapas kecil, > sebentuk anting-anting melingkar yang amat > sederhana, ringan dan bukan emas > murni. Ibunya almarhum memberinya benda itu sambil > berpesan untuk tidak > kehilangan benda itu. Ia sempat bertanya, kalau itu > anting-anting, dimana > satunya.Ibunya menjawab bahwa hanya itu yang ia > punya. Serrafona menaruh > anting-anting itu didekat foto. Sekali lagi ia > mengerahkan seluruh kemampuan > melihatnya dan perlahan-lahan air matanya berlinang. > Kini tak ada > keragu-raguan lagi bahwa bayi itu adalah dirinya > sendiri. Tapi kedua pria > wanita yang menggendongnya, yang tersenyum > dibuat-buat, belum pernah > dilihatnya sama sekali. > > Foto itu seolah membuka pintu lebar-lebar pada > ruangan yang selama ini > mengungkungi pertanyaan-pertanyaannya, misalnya: > kenapa jenis wajahnya dan > wajah kedua orang tuanya berbeda, kenapa ia tidak > menuruni golongan darah > ayahnya. Saat itulah, sepotong ingatan yang sudah > seperempat abad > terpendam, berkilat dibenaknya, bayangan seorang > wanita membelai kepalanya > dan mendekapnya didada. Diruangan itu mendadak > Serrafona merasakan betapa > dinginnya sekelilingnya tetapi ia juga merasa betapa > hangatnya kasih sayang > dan rasa aman yang dipancarkan dari dada wanita itu. > > Ia seolah merasakan mendengar lewat dekapan itu > bahwa daripada berpisah > lebih baik mereka mati bersama. Matanya basah ketika > ia keluar dari kamar > dan menghampiri suaminya yang sedang membaca koran: > Geraldo, saya adalah > anak seorang pengemis, dan mungkin ibu saya masih > ada dijalan sekarang > setelah 25 tahun.?Itu adalah awal dari kegiatan baru > mereka mencari masa > lalu Serrafonna. Foto hitam-putih yang kabur itu > diperbanyak puluhan ribu > lembar dan disebar keseluruh jaringan kepolisian > diseluruh negeri. > > Sebagai anak satu-satunya dari bekas pejabat yang > cukup berpengaruh di kota > itu, Serrafonna mendapatkan dukungan dari seluruh > kantor kearsipan, kantor > surat kabar dan kantor catatan sipil. Ia membentuk > yayasan-yayasan untuk > mendapatkan data dari seluruh panti-panti orang > jompo dan badan-badan > sosial diseluruh negeri dan mencari data tentang > seorang wanita. > > Bulan demi bulan lewat, tapi tak ada perkembangan > apapun dari usahanya. > Mencari seorang wanita yang mengemis 25 tahun yang > lalu dinegeri dengan > populasi 90 juta bukan sesuatu yang mudah. Tapi > Serrafona tidak punya > pikiran untuk menyerah. Dibantu suaminya yang begitu > penuh pengertian, > mereka terus menerus meningkatkan pencaharian > mereka. Kini, tiap kali > bermobil, mereka sengaja memilih daerah-daerah > kumuh, sekedar untuk lebih > akrab dengan nasib baik. Terkadang ia berharap agar > ibunya sudah almarhum > sehingga ia tidak terlalu menanggung dosa > mengabaikannya selama seperempat > abad. > > Tetapi ia tahu, entah bagaimana, bahwa ibunya masih > ada, dan sedang > menantinya sekarang. Ia memberitahu suaminya > keyakinan itu berkali-kali, > dan suaminya mengangguk-angguk penuh pengertian.Saat > itu waktu sudah > memasuki masa Natal. Seluruh negeri bersiap untuk > menyambut hari kelahiran > Kristus, dan bahkan untuk kasus Serrafona-pun orang > tidak lagi menaruh > perhatian utama. Melihat pohon-pohon terang mulai > menyala disana-sini, > mendengar lagu-lagu Natal mulai dimainkan > ditempat-tempat umum, Serrafona > menjadi amat sedih.Pagi siang dan sore ia mengambil > rosarionya dan berdoa: > Tuhan, saya bukannya tidak berniat merayakan hari > lahirmu, tapi ijinkan > saya untuk satu permintaan terbesar dalam hidup > saya: temukan saya dengan > ibu saya.? > > Tuhan mendengarkan doa itu. Suatu sore mereka > menerima kabar bahwa ada > seorang wanita yang mungkin bisa membantu mereka > menemukan ibunya. Tanpa > membuang waktu, mereka terbang ketempat itu, sebuah > rumah kumuh di daerah > lampu merah, 600 km dari kota mereka. Sekali > melihat, mereka tahu bahwa > wanita yang separoh buta itu, yang kini terbaring > sekarat, adalah wanita di > dalam foto.Dengan suara putus-putus, wanita itu > mengakui bahwa ia memang > pernah mencuri seorang gadis kecil ditepi jalan, > sekitar 25 tahun yang > lalu. Tidak banyak yang diingatnya, tapi diluar > dugaan ia masih ingat kota > dan bahkan potongan jalan dimana ia mengincar gadis > kecil itu dan kemudian > menculiknya.Serrafona memberi anak perempuan yang > menjaga wanita itu > sejumlah uang, dan malam itu juga mereka mengunjungi > kota dimana Serrafonna > diculik. > > Mereka tinggal disebuah hotel mewah dan mengerahkan > orang-orang mereka > untuk mencari nama jalan itu. Semalaman Serrafona > tidak bisa tidur. Untuk > kesekian kalinya ia bertanya-tanya kenapa ia begitu > yakin bahwa ibunya > masih hidup sekarang, dan sedang menunggunya, dan ia > tetap tidak tahu > jawabannya. Dua hari lewat tanpa kabar. Pada hari > ketiga, pukul 18:00 > senja, mereka menerima telepon dari salah seorang > staff mereka. "Tuhan maha > kasih, Nyonya, kalau memang Tuhan mengijinkan, kami > mungkin telah menemukan > ibu Nyonya. Hanya cepat sedikit, waktunya mungkin > tidak banyak lagi."Mobil > mereka memasuki sebuah jalanan yang sepi, > dipinggiran kota yang kumuh dan > banyak angin. Rumah-rumah disepanjang jalan itu > tua-tua dan kusam.Satu dua > anak kecil tanpa baju bermain-main ditepi jalan. > Dari jalanan pertama, > mobil berbelok lagi kejalanan yang lebih kecil, > kemudian masih belok lagi > kejalanan berikutnya yang lebih kecil lagi. Semakin > lama mereka masuk ke > dalam, tubuh Serrrafona gemetar, ia seolah bisa > mendengar panggilan itu. > Lekas, Serrafonna, mama menunggumu, sayang. Ia mulai > berdoa: Tuhan beri > saya setahun untuk melayani mama. Saya akan > melakukan apa saja.Ketika mobil > berbelok memasuki jalan yang lebih kecil, dan ia > bisa membaui kemiskinan > yang amat sangat, ia berdoa: Tuhan beri saya sebulan > saja. Mobil belok lagi > kejalanan yang lebih kecil, dan angin yang penuh > derita bertiup, berebut > masuk melewati celah jendela mobil yang terbuka. Ia > mendengar lagi > panggilan mamanya, dan ia mulai menangis: Tuhan, > kalau sebulan terlalu > banyak, cukup beri kami seminggu untuk saling > memanjakan. > > Ketika mereka masuk belokan terakhir, tubuhnya > menggigil begitu hebat > sehingga Geraldo memeluknya erat-erat. Jalan itu > bernama Los Felidas. > Panjangnya sekitar 180 meter dan hanya kekumuhan > yang tampak dari sisi ke > sisi, dari ujung keujung. Ditengah-tengah jalan itu, > didepan puing-puing > sebuah toko, tampak onggokan sampah dan > kantong-kantong plastik, dan > ditengah-tengahnya, terbaring seorang wanita tua > dengan pakaian sehitam > jelaga, tidak bergerak-gerak.Mobil mereka berhenti > diantara 4 mobil mewah > lainnya dan 3 mobil polisi. Dibelakang mereka sebuah > ambulans berhenti, > diikuti empat mobil rumah sakit lain. Dari kanan > kiri muncul > pengemis-pengemis yang segera memenuhi tempat itu. > > "Belum bergerak dari tadi." Lapor salah seorang. > Pandangan Serrafona gelap > tapi ia menguatkan dirinya untuk meraih kesadarannya > dan turun. Suaminya > dengan sigap sudah meloncat keluar, memburu ibu > mertuanya. "Serrafona, > kemari cepat! Ibumu masih hidup, tapi kau harus > menguatkan hatimu. > "Serrafona memandang tembok dihadapannya, dan ingat > saat ia menyandarkan > kepalanya kesitu. Ia memandang lantai dikakinya dan > ingat ketika ia belajar > > berjalan. Ia membaui bau jalanan yang busuk, tapi > mengingatkannya pada masa > kecilnya.Air matanya mengalir keluar ketika ia > melihat suaminya > menyuntikkan sesuatu ketangan wanita yang terbaring > itu dan memberinya > isyarat untuk mendekat. > > Tuhan, ia meminta dengan seluruh jiwa raganya, beri > kami sehari, Tuhan, > biarlah saya membiarkan mama mendekap saya dan > memberinya tahu bahwa selama > 25 tahun ini hidup saya amat bahagia. Jadi mama > tidak menyia-nyiakan saya. > Ia berlutut dan meraih kepala wanita itu ke dadanya. > Wanita tua itu > perlahan membuka matanya dan memandang keliling, ke > arah kerumunan > orang-orang berbaju mewah dan perlente, kearah > mobil-mobil yang mengkilat > dan kearah wajah penuh air mata yang tampak seperti > wajahnya sendiri ketika > ia masih muda. > > Mama.... ia mendengar suara itu, dan ia tahu bahwa > apa yang ditunggunya > tiap malam - antara waras dan tidak - dan tiap hari > - antara sadar dan > tidak? kini menjadi kenyataan. Ia > tersenyum, dan dengan seluruh kekuatannya menarik > lagi jiwanya yang akan > lepas. Perlahan ia membuka genggaman tangannya, > tampak sebentuk > anting-anting yang sudah menghitam. Serrafona > mengangguk, dan tanpa perduli > sekelilingnya ia berbaring di atas jalanan itu dan > merebahkan kepalanya > didada mamanya. > > "Mama. Saya tinggal di istana dan makan enak tiap > hari. Mama jangan pergi > dulu. Apapun yang mama mau bisa kita lakukan > bersama-sama. Mama ingin > makan, ingin tidur, ingin bertamasya, apapun bisa > kita bicarakan. Mama > jangan pergi dulu... Mama..." Ketika telinganya > menangkap detak jantung > yang melemah, ia berdoa lagi kepada Tuhan: Tuhan > maha pengasih dan pemberi, > Tuhan..... satu jam saja.....satu jam saja.....Tapi > dada yang didengarnya > kini sunyi, > sesunyi senja dan puluhan orang yang membisu. Hanya > senyum itu, yang > menandakan bahwa penantiannya selama seperempat abad > tidak berakhir sia-sia. > > Ditulis oleh: Jonathan Goeij > Untuk: T-net > Tgl: 3 Juni 2001 > > __________________________________________________ Do You Yahoo!? Get personalized email addresses from Yahoo! Mail http://personal.mail.yahoo.com/
