============================================
Mailinglist debritto : [EMAIL PROTECTED]
============================================
Kalau saya kok kehadirannya sangat tidak dibutuhkan
lagi, apalagi setelah dihapuskan.
Tidak perlu departemen untuk memberikan hiburan ke
masyarakat di desa terpencil. Karena sebenarnya yang
dilakukan Deppen selama ini lebih menjejalkan paham
orba.
Coba bayangkan setiap tanggal 17 Agustus pasti muter
film perang-perangan melawan Belanda dan tiap 30
September dengan kisah lubang buaya. Golkar memiliki
peranan dan kepentingan besar dalam hal ini.
Soal sekarang tidak ada lawak ke daerah terpencil,
nampaknya lebih karena kondisi ekonomi yang ambruk,
ini juga gara-gara utang orba. Para petinggi tidak
merasakan mahalnya harga beras, bahkan Bob Hasan yang
dikandangin di Nusakambangan saja saya yakin tak
sesusah yang kita bayangkan.
Soal pembredelan, peranan Deppen cukup besar dan
cenderung dilakukan terhadap mereka yang menentang
kekuasaan pemerintah. Ini ketidakadilan dan selama
masih ada undang-undang yang memungkinkan hal ini
(kata orang pinter), perwujudan apapun dari Deppen
akan sama saja kelakuannya.
Apalagi sekarang ini zamannya otonomisasi daerah, saya
kira dinas informasi daerah bisa menjadi lebih
berperan. Terutama informasi menyangkut daerahnya
kepada orang luar dan memberikan informasi kepada
masyarakatnya.
Mengapa kita tidak berpikir ke depan, bukan malah
menangisi kaki tangan biang kerok orde baru itu untuk
bisa hidup kembali. Masih banyak cara lebih baik untuk
memajukan masyarakat kecil, dan lembaga seperti Deppen
malah akan menjadi pintu gerbang korupsi. Biarkan
masyarakat ini berpikir bebas dan mandiri, bukan
dijejali doktrin orde baru
Saya mencintai de Britto karena berani memberikan
kebebasan berpikir yang sangat luas kepada siswanya.
Awe
--- [EMAIL PROTECTED] wrote:
> ============================================
> Mailinglist debritto : [EMAIL PROTECTED]
> ============================================
>
>
> Sebab apa yang menjadikan Deppen dibenci
> kehadirannya kembali coba kita
> renungkan kembali;
> 1.Apakah Deppen adalah menjadi alat pembungkam
> kebebasan berpendapat,dan
> berbicara?
> 2.Apakah Deppen menjadi tukang bungkam Penerbitan
> Surat Khabar/Koran
> 3.Apakah jadi tukang sensor di media Electronic ?
> seperti Radio.
> 4.Apakah jadi tukang sensor TV media dan lain
> sebagainya.
> 5.Apakah mempersulit masuknya berita dari luar baik
> melalui
> TV,Majalah,Koran,dan Film.
> 6. Apakah memang enggak ada gunanya sehubungan
> dengan kemajuan Teknologie.
> 7. Atau ada sebab lain sehingga tidak disenangi
> kehadirannya.
>
>
>
>
> "Hardjono. Rayner"
>
> <[EMAIL PROTECTED]
> To: <[EMAIL PROTECTED]>
> ic.edu.au>
> cc:
> Sent by:
> Subject: [debritto] Apakah Kementerian
> [EMAIL PROTECTED]
> Penerangan masih diperlukan?
>
>
>
>
> 08/01/01 11:41 AM
>
> Please respond to debritto
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
===========================================Mailinglist
> debritto :
> [EMAIL PROTECTED]
> ===========================================
> AB:
> Ini sama dengan penolakan terhadap Deppen, tidak
> berdasar logika ada
> atau
> tidak adakah manfaat dan pekerjaan yang harus
> diemban oleh insitusi itu.
> Saya melihat penolakan itu atas dasar dendam juga.
> Adakah yang melihat
> Deppennya Pak Yunus Yosfiah, yang melepas hampir
> semua kendali thd pers?
> Hari Minggu jam 02.00 saya memonitor radio Elshinta
> yang sedang menerima
> pendapat2 per telepon soal Deppen. Beberapa yang
> saya dengan, bapak2
> yang
> sedang dan pernah tinggal didaerah yang jauh dari
> keramaian, minta agar
> soal Deppen itu dilihat secara jernih. Mereka
> mengalami keadaan
> terisolasi
> akan berita, koran bisa mereka terima
> seminggu-sebulan sesudah tanggal
> terbitnya. Basi, kan. Apalagi koran Jakarta. Mereka
> perlu ada media
> penyampai informasi yang cukup update dari siapa
> saja. Apakah koran mau
> dengan rugi mengunjungi pelosok? Saya ingat tahun
> 60-an rombongan Gudeg
> Yogya milik Deppen DIY rajin mengunjungi desa kami,
> memutar filem
> cerita,
> penerangan dlsb. Dan mereka selalu kami tunggu
> kehadirannya, karena
> kadang
> mereka membawa Basiyo, Tembong, Togen dkk.
> Come on! Berpikir dengan jernih. Juga jangan lupa
> angka 77.
>
> RH:
> Saya suka sekali diajak berpikir jernih oleh AB!
> Ijinkanlah saya
> mencoba...
> Menolak dilahirkannya lagi Deppen tidak mesti harus
> atas dasar dendam
> (juga). Dalam berpikir mengenai perlu atau tidaknya
> Deppen, tentu saja
> ada beberapa alasan yang dapat dikemukakan, dan
> asalan-alasan itu harus
> cukup masuk akal, bukan asal dendam thok. [Tolong
> ditunjukkan apakah ada
> pokok pikiran saya di bawah ini yang tidak masuk
> akal]:
> 1 Kalau saya dibesarkan (misalnya, orang tua bekerja
> di Deppen) dan
> diberi manfaat oleh lingkungan kebudayaan Deppen,
> maka sulit bagi saya
> untuk menerima hilangnya pelayanan Deppen, habis
> hidup dan kenikmatan
> kenangan saya bersumber dari situ. Tetapi kalau
> dinas/pelayanan ini
> sungguh dapat dibuktikan sebagai tidak perlu, maka
> penghapusan pelayanan
> ini tidak dapat dielakkan; memang beberapa hal di
> dunia ini bisa
> dibuang, terutama kalau hal itu merugikan sebagian
> besar masyarakat,
> atau terutama kalau ada masalah yang tidak 'fair'
> (melanggar HAM).
> 2 Alasan saya untuk mendukung bahwa Kementerian
> Penerangan sebaiknya
> ditiadakan, berdasarkan atas pertimbangan, bahwa
> pemerintah yang
> bercokol, seperti yang telah terbukti di masa yang
> sudah-sudah, dapat
> memanipulasikan apa yang ingin dinyatakannya melalui
> organ resmi atau
> penyalur yang dikuasainya. Pemberangusan hanya bisa
> terjadi karena
> adanya Kempen! Para penerbit di masa lalu selalu
> gentar mendengar
> peringatan atau perintah dari atas (Pemerintah),
> bahwa suatu pernayataan
> atau pemberitaannya dianggap tidak fair (fair
> menurut siapa, hayo!)
> 3 Apakah masalah koran sampai ke desa-desa yang
> terisolasi berupa
> satu-satunya sumber untuk orang biasa dapat
> memperoleh informasi? Saya
> sangsi akan hal ini. Beraneka ragamnya pemberitaan
> dalam pers swasta
> yang tak disensor oleh Pemerintah justru dapat
> membuat orang lebih
> bersikap kritis, tidak semua yang dicetak di koran
> mesti benar. Ini
> adalah pendidikan yang bagus sekali. Para juru
> penerangan di jaman
> lampau boleh jadi hanya akan merupakan
> benalu/parasit yang tidak
> dibutuhkan lagi di jaman ini. Fungsi radio dan
> televisi tidak dimasukkan
> dalam pertimbangan ini, padahal peranan mereka besar
> sekali. Bukankah
> media ini telah masuk ke desa-desa pula?
> 4 Semakin bebas pers dan media, semakin baik pula
> seharusnya sikap
> toleransi semua sektor masyarakat. Ini dapat terjadi
> kalau Pemerintah
> membiarkan orang menyampaikan berita (dengan segi
> pandangan yang
> berbeda, atau penafsiran berbeda-beda) tanpa
> diharu-biru oleh Deppen.
> Ada gejala represif dalam cara Pemerintah di masa
> lalu mengendalikan apa
> yang dapat diberitakan. Di banyak bagian dunia lain
> pengendalian media
> masa makin longgar, sensur (pemeriksaan isi)
> diserahkan kepada kontrol
> terbuka (self-regulating). Saya kira tidak banyak
> lagi negara di dunia
> ini yang menggunakan Kementerian Penerangan.
>
> Mudah-mudahan pikiran saya ini tidak langsung dicap
> pro ini atau kontra
> itu, sebagaimana lazim di dalam hidup perpolitikan
> di Indonesia
> akhir-akhir ini!
>
> Salam!
>
>
>
>
>
>
>
>
>
__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Make international calls for as low as $.04/minute with Yahoo! Messenger
http://phonecard.yahoo.com/