============================================
Mailinglist debritto : [EMAIL PROTECTED]
============================================
Saya juga setuju dengan komentar Pak Bar.
Sebetulnya yang menjadi inti bukan masalah spektakular atau tidak, namun
dalam pengamatan saya yang terpenting adalah bagaimana sebuah pengalaman
(apapun "bentuk"-nya) mampu menggugah seseorang untuk selalu berucap syukur
kepada Pencipta semesta alam.
Dan dalam konteks kasus Mr Thomas, saya mencoba mengembalikan semuanya
kepada tujuan awal mengikuti ziarah, yaitu : Devosi thd Bunda Mariyah.
Jadi peduli amit dengan solah tingkahnya, yang penting pengakuan iman saya
akan Ia yang mau / rela menjadi Bunda Penyelamat Manusia.
by the way, percaya tanpa reserve itu memang konyol, dan sudah banyak
contohnya.
Salam buat Keluarga.
Sastro / 83.
----- Original Message -----
From: "Antonius Bardhono" <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Monday, August 20, 2001 4:52 PM
Subject: Re: [debritto] kabar dari jogja
> ============================================
> Mailinglist debritto : [EMAIL PROTECTED]
> ============================================
>
>
> Ndroro Sastro:
> Saya kira tidak ada salahnya orang pernah merasa tersentuh dengan
> pengalaman
> "mistis" yang pernah dialaminya, namun ada baiknya kita tidak "mematikan"
> penalaran kita.
>
> AB: Setuju kata "mistis" diberi tanda quotes. Artinya bisa bener bisa
> bohong.
> Saya juga setuju dengan kalimat Mas Sastro di atas, bila kata "mistis"
> berasal dari kata misteri. Maka kisah penampakan bisa berarti misteri
ilahi
> dari para suci kesayangan Tuhan, misalnya Dewi Mariyah. Tuhan melalui para
> sucinya tentu bisa berbuat lain dan jauh dari jangkauan rasio manusia.
> Namun apakah 'yang jauh dari jangkauan rasio' dan 'mistis' adalah selalu
> perbuatan Tuhan melalui para sucinya? Apakah Tuhan masih senang melakukan
> hal-hal 'spektakuler bagi manusia' secara ombyokan? Mungkin masih, tapi
> mungkin juga tidak lagi. Tapi siapa sih yang bisa mengaturNya?
> Saya lebih mempercayaiNya untuk melakukan hal-hal spektakuler secara unik
> untuk setiap manusia. Dan itu terjadi setiap saat hidup manusia. Apakah
> kita masih memerlukan hal-hal spektakuler untuk memperkuat iman kita
> kepadaNya? Saya kira tidak. Siapa bisa bilang bukan tindakan spektakuler
> dari Tuhan bila 32 pemancing yang lebih dari separonya adalah pemula,
dapat
> kembali ke darat tanpa suatu apa. Apakah inisiatif Gandung sendiri ketika
> dia jam 12 malam kedarang-darang berangkat dari Bogor menuju Anyer hanya
> untuk memenuhi 'janji'nya (siapa pun tahu kalau tidak datang paling cuma
> diasu-asukan). Siapa bilang bukan karya Tuhan bila tadi pagi Inggil dengan
> ceria menyalami saya 'gimana mancingnya', padahal dua hari yang lalu
> bersuara malas di handphonenya dari RS.
> Orang yang percaya tanpa reserve memang potensial jadi pecundang.
> (ini tidak berlaku bagi para pemancing terhadap Kormannya)
>
> AB/71
>