============================================
Mailinglist debritto : [EMAIL PROTECTED]
============================================

MALAM  EKSPRESI  DE BRITTO  DI  SIANG  HARI
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Saya menebak --- semoga tebakan ini meleset --- bahwa (semakin ?) sepinya
pengunjung acara kumpul-kumpul dalam skala Iluni terletak pada 2 (dua) hal
berikut ini :

Pertama, di pihak burung-burung De Britto Jabotabek yang absen (kecuali yang
sungguh-sungguh karena ada acara lain yang lebih penting), terdapat
KEBOSANAN mengenai menu acara yang begitu-begitu saja (misa, pidato-pidato,
bantingan, makan, diskusi, pulang). Grup penghibur yang kemarin (26 Agustus)
dilibatkan pun kerjanya cuma sedikit dan sebentar. Menu acara terlalu padat
tetapi kepadatan itu sedemikian rupa sehingga kurang memunculkan MANFAAT
BAGI PENGUNJUNG. Mungkin ada kesan, semangat 'Man for Others' yang
dikembangkan oleh Pengurus Iluni Jabotabek adalah bahwa 'Others'nya itu
selalu 'yang bukan orang Iluni Jabotabek'. Padahal, di Jabotabek sendiri
tentunya banyak alumnus-alumnus yang ingin diperlakukan sebagai 'Others'.
Rasan-rasan (komplin) seperti ini beberapa kali saya dengar langsung dari
beberapa teman, baik di dalam maupun di luar event resmi Iluni Jabotabek.
Sementara itu, mereka juga punya perkumpulan-perkumpulan lain (di lingkungan
tempat tinggal, di tempat kerja, di gereja, di organisasi-organisasi) yang
ACARA-acaranya dan MANFAAT-manfaatnya dirasa lebih menarik bagi mereka.
Lebih MENGHIBUR dan lebih MEMBUKA PELUANG bagi pencapaian kehidupan yang
lebih baik. Jadi --- pikir mereka --- ngapain datang ke acaranya Iluni De
Britto Jabotabek, kalau di tempat lain ada acara yang lebih yesss ?

Kedua, menurut pengamatan saya, memang terdapat KESULITAN untuk menciptakan
acara yang ideal, sehubungan dengan HETEROGENITAS alumni De Britto di
Jabotabek. Tidak semua suka mancing, tidak semua suka sengsu, tidak semua
punya waktu 6 jam (9 am - 3 pm) untuk ngumpul, tidak semua mau datang (cuek)
kalau jamnya sudah terlambat, tidak semua suka ndangdut, tidak semua suka
keroncong, tidak semua suka rock. Ada yang tua, ada yang muda, ada yang
setengah mateng, masing-masing seleranya lain-lain. Yang tua, ngakunya masih
berjiwa muda, tapi nyatanya dalam setiap event ngumpulnya cuma di kelompok
manula doang (kecuali Lik Kompor). Yang muda, ngakunya demokrat dan
pemberani, tapi nyatanya masih sungkan untuk nyelonong nimbrung di grup
manula (termasuk saya). Yang setengah mateng (kayak Mas Bardhono itu) paling
penak, bisa menyusup kesana-kemari. Yang ekonominya atau posisinya sudah
mapan dan sangat mapan, ngumpul sendiri, dan kurang inisiatif untuk bertanya
kepada yang ekonominya atau posisinya masih setengah mapan dan belum mapan :
'Nak, kamu butuh bantuan apa dari saya ?'. Mereka terkesan terlalu asyik
dengan nostalgia. Yang ekonominya atau posisinya masih setengah mapan dan
belum mapan, ngumpul sendiri, dan kurang inisiatif (sungkan ?) untuk meminta
bantuan dari yang ekonominya atau posisinya sudah mapan dan sangat mapan.
Dalam setiap event, Panitia Penyelenggara tidak pernah mengadakan session
diskusi atau sharing khusus mengenai hal ini. Panitia juga tidak pernah
menciptakan acara atau sistem yang 'memaksa' agar burung-burung tua ngumpul
dan terlibat pembicaraan intens dengan burung-burung muda. Semua burung
memang [T]erkumpul di satu gedung, tetapi mereka tidak [B]erkumpul dalam
arti yang sesungguhnya. Panitia agaknya belum pernah 'MEMANFAATKAN'
kesulitan (heterogenitas) ini untuk memancing terciptanya kondisi yang lebih
baik bagi burung-burung Jabotabek sendiri. Saya melihat, yang dilakukan oleh
Panitia barulah sebatas 'MENGANTISIPASI' kesulitan (heterogenitas) ini
dengan menu acara yang 'netral' dan 'aman', meskipun buntutnya (entah
disadari atau tidak) event demi event menjadi 'membosankan'.

Dari semua paragraf di atas, saya ingin merumuskan kesimpulan / ringkasan
bahwa di samping faktor nama suci DE BRITTO dan nostalgia SMA De Britto, ada
faktor lain yang bisa membuat burung-burung De Britto Jabotabek SUKA datang
dalam event-event Iluni, yaitu : (1) Menu acara yang lebih banyak bersifat
MENGHIBUR dan TIDAK MEMBOSANKAN; tetapi sekaligus (2) Menu acara yang mampu
memancing timbulnya MANFAAT berupa penerapan prinsip 'Man for Others' di
mana 'si Others' itu kadang-kadang adalah burung-burung De Britto Jabotabek
sendiri yang (dalam hatinya) sesungguhnya membutuhkan bantuan.

Bagaimana caranya supaya event yang diadakan bisa lebih banyak bersifat
MENGHIBUR dan TIDAK MEMBOSANKAN ?
Saya mengusulkan agar format HIBURANnya dibuat seperti MALAM EKSPRESI yang
dulu pernah kita lakukan di SMA De Britto setiap bulan Februari. Penontonnya
Iluni, pemainnya juga Iluni. Penonton sekaligus pemain. Pemain sekaligus
penonton. Gantian, gitu. Grup-grup pemain sebaiknya jangan didasarkan pada
tahun kelulusan, tetapi didasarkan pada kedekatan tempat-tinggal atau
tempat-kerja, supaya terjadi 'akulturasi' antar angkatan. Kita tantang
burung-burung tua untuk pethakilan, biar mereka buktikan bahwa 'semangat
muda' mereka bukan cuma omongnya doang, tapi juga ide teatrikalnya dan
pethakilannya :). Burung-burung yang sudah sering ngumpul di luar event
resmi Iluni, misalnya grup Pemilis DBnet atau grup De Britto Fishermen,
dapat pula diandalkan sebagai penampil hiburan. Lantas, kapan latihannya ?
Karena Iluni Jabotabek sudah punya jadwal event yang pasti, yaitu 2 kali
setahun (Februari dan Agustus), maka publikasi sudah harus dilakukan oleh
Pengurus Iluni sejak jauh-hari sebelumnya, supaya burung-burung De Britto
punya waktu untuk membentuk grup-grup dan sempat melakukan latihan-latihan.
Dua bulan sebelum bulan H, yaitu bulan Desember dan Juni, harus sudah ada
kepastian mengenai grup mana saja yang siap tampil menghibur, supaya Panitia
dapat mengatur susunan acara secara lebih pas. Kalau dulu waktu kita masih
SMA bisa bikin penampilan-hiburan yang ger-ger-an di Malam Ekspresi hanya
dengan 3 (tiga) kali latihan, mosok sih sekarang kita nggak bisa ? Mosok sih
selama 2 bulan kita nggak punya waktu ngumpul untuk latihan barang 3 kali ?
Dengan format seperti Malam Ekspresi, kita nggak perlu lagi keluar biaya
untuk membayar grup penghibur dari luar. Nah, karena eventnya dilaksanakan
siang hari, maka namanya menjadi : MALAM EKSPRESI DE BRITTO DI SIANG HARI.
Hal-hal teknis lainnya dapat kita diskusikan lebih lanjut.

Bagaimana caranya supaya event yang diadakan bisa memancing timbulnya
MANFAAT berupa penerapan prinsip 'Man for Others' di mana 'si Others' itu
adalah burung-burung De Britto Jabotabek sendiri ?
Panitia harus mengadakan session SHARING barang � (setengah) jam. Kalau dulu
waktu kita masih SMA bisa melakukan sharing dengan baik, mosok sih sekarang
nggak bisa ? Dalam sharing itu, burung-burung yang nasibnya masih kurang
beruntung diberi kesempatan untuk bicara dan minta bantuan dari
burung-burung yang nasibnya sudah lebih beruntung, misalnya tentang lowongan
kerja, peluang pindah-kerja, peluang kerjasama bisnis, peluang kredit lunak,
dan sebagainya. Jangan salah paham dulu, peran organisasi dan pengurus Iluni
serta panitia event hanya sebatas membuat session sharing, sedangkan
ikatan-ikatan bisnis yang terjadi akibat sharing itu sepenuhnya menjadi
urusan antar individu burung. Jadi session ini 'sekedar' menjembatani gap
antara 'nostalgiais' dengan 'sungkanis'. Selama ini, yang diberi kesempatan
berbicara oleh Panitia hanyalah burung-burung yang sudah mapan (i.e.
nostalgiais). Paradigma ini agaknya perlu direformasi.

Berikut ini saya kasih contoh susunan acara event 'reuni' yang lebih ideal :
09:00 - 10:00 = Registrasi dan Kangen-kangenan.
10:00 - 11:30 = Misa.
11:30 - 12:00 = Mars De Britto, Pidato Ketua Iluni Jabotabek dan Snack Time.
12:00 - 12:20 = Hiburan dari Grup Jakarta Pusat dan Utara.
12:20 - 12:40 = Hiburan dari Grup Jakarta Timur dan mBekasi.
12:40 - 13:25 = Makan Siang, Kangen-kangenan dan Bantingan.
13:25 - 13:40 = Pidato Tamu-tamu Penting (maksimum 2 orang).
13:40 - 14:00 = Hiburan dari Grup Jakarta Selatan, nDepok dan mBogor.
14:00 - 14:30 = Sharing khusus mengenai nasib burung-burung Jabotabek.
14:30 - 14:50 = Hiburan dari Grup Jakarta Barat, Tangerang dan mBanten.
14:50 - 15:00 = Penutup dan Mars De Britto (lagi).
Keterangan :
1. Ketua Panitia nggak usah pidato.
2. Tamu Penting yang akan pidato, sebelumnya dikasih tahu batas waktunya
(maksimum 5 menit).
3. MC harus tegas soal waktu, nggak boleh ada burung yang nyelonong pegang
mikrofon, setua apapun dia, seterhormat apapun dia, seberapapun besar
bantingannya.
4. Setiap grup penghibur dikasih waktu maksimum 20 menit : 15 menit untuk
hiburan-pokok, 5 menit untuk persiapan naik-turun panggung.
5. Tindak-lanjut terhadap materi sharing dapat dilakukan antar
individu-individu setelah acara resmi ditutup.
6. Pertanyaan : Apakah sebelum Misa dimulai, kita boleh (etis ?) memberitahu
Romo mengenai batas maksimum waktu untuk Homili ? :)
7. Diskusi, seminar, dialog interaktif dengan topik-topik 'berat' seperti
kemarin itu (Kiat Menghadapi Usia Lanjut), sebaiknya tidak disusupkan dalam
event-event Februari dan Agustus, malah lebih baik diadakan pada waktu
tersendiri (seperti seminar Doing Business 2001 yang lalu), sekalian untuk
cari dana dari 'luar' organisasi Iluni.

Meskipun tulisan ini terlalu panjang bagi ukuran sebuah email, saya tidak
merasa perlu untuk minta maaf kepada teman-teman Pemilis DBnet, sebab saya
yakin bahwa memang demikianlah yang seharusnya saya tulis, agar bisa
menggugah semangat teman-teman pemilis yang berdomisili di Jabotabek, untuk
ikut aktif berjuang supaya Iluni kita tidak menjadi 'iluni-ilunian' :)

Semoga bermanfaat dan Salam De Britto !,
mBilung/83

Kirim email ke