----- Original Message ----- 
From: <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>; <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Wednesday, September 17, 2003 1:43 PM
Subject: [al-its] Kasus STPDN


Saya forwardkan dari milis tetangga.

Sekolah preman.....:-(

******************

Bagai Dalam Neraka

SAYA adalah salah satu dari sekian banyak korban kekerasan di
Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri (STPDN). Saya masuk pada
1996 atau angkatan 08. Saya memutuskan untuk mundur dan kemudian masuk
ke Fakultas Ilmu Komunikasi Unpad pada tahun 1997.

Salah satu faktor yang melatarbelakangi saya menulis mengenai
hal-ihwal kekerasan yang dilakukan praja STPDN adalah saat ini lembaga
STPDN telah menjadi sorotan publik dan telah menjadi isu nasional,
berkaitan dengan meninggalnya Madya Praja Wahyu Hidayat yang
ditengarai sebagai korban kekeraan yang dilakukan seniornya. Oleh karena
itu, saya sebagai orang yang pernah merasakan bagaimana pahitnya hidup
penuh penyiksaan di Ksatriaan STPDN, mencoba membuka mata dan telinga
masyarakat mengenai perilaku dan mental para praja senior dalam
menjatuhkan hukuman.

Waktu itu setelah masuk di STPDN saya berstatus capra (calon praja) masih
di bawah bimbingan tentara. Akan tetapi, justru di bawah bimbingan
tentara tidak ada kekerasan sama sekali. Kemudian setelah itu kami
dikukuhkan dan masuk sebagai praja, otomatis sejak itu kami langsung di
bawah senior.

Di bawah bimbingan senior inilah kekerasan-kekerasan mulai timbul. Karena
sistem pendidikan di sana menganut sistem muda praja (tingkat I) di
bawah bimbingan madya oraja (tingkat II), madya praja di bawah bimbingan
nindya praja (tingkat III), dan nindya praja di bawah bimbingan
wasana praja (tingkat IV). Kekerasan itu berlangsung tidak h! anya
semasa orientasi, tetapi selama kita masih menjadi junior akan selalu
mendapat siksaan dari seniornya. Apabila kita telah menjadi yang paling
senior atau wasana praja, kita bisa menikmati kehidupan di sana.

Saya waktu itu tinggal di barak DKI Bawah, petak C semasa Ketua STPDN masih
dipegang oleh IGK Manila. Kabid Pengasuhan dipegang oleh Drs.Indrarto.
Pada waktu itu, kami yang berada di barak DKI Bawah dikumpulkan oleh para
madya praja yang memegang kendali barak tersebut. Kami dikumpulkan
setelah mengikuti apel malam yang kemudian dilanjutkan dengan apel
barak. Kami dikumpulkan di lorong barak atau lebih tepatnya di
depan lemari yang berjejer. Kemudian para madya mengoreksi kami, dengan
dalih bahwa kami melakukan kesalahan-kesalahan. Atas dasar itulah pada
madya itu dengan kesombongannya melakukan penyiksaan antara lain
pemukulan, tendangan tamparan, dll.

Pada waktu itu saya sudah bilang kepada penanggung jawab barak bahwa saya
sedang sakit mag, tetapi mereka seakan-akan tidak mau peduli dan menganggap
saya manja. Berbarengan dengan itu, perut saya dihantam beberapa kali,
ditendang, dan ditampar. Posisi waktu itu, kami disuruh buka baju dan
menggantung di lemari menghadap mereka. Setelah beberapa kali dihantam,
sayamerasakan perut saya nyeri dan langsung jatuh pingsan. Akan tetapi,
lagi-lagi para praja senior itu seakan-akan tidak percaya bahwa saya
pingsan, kemudian mereka menginjak dan menampar saya (itu pun menurut
rekan-rekan satu barak).

Setelah kejadian itulah saya langsung dibawa ke KSA (poliklinik), untuk
dirawat. Selama perawatan di sana, saya tidak mendapatkan perawatan medis
yang sesuai dengan harapan. Oleh karena itu, orang tua saya membawa saya
ke RS Advent Bandung. Kemudian para dokter di sana menyimpulkan bahwa
saya mengalami pendarahan di selaput perut akibat traumaont>
benda tumpul (pemukulan). Kemudian saya ditangani dokter ahli bedah
digestif untuk mengobati pendarahan tersebut.

Setelah badan saya agak fit, saya kembali ke Ksatrian. Baru beberapa hari
disana, saya disiksa lagi di sana dengan alasan bahwa praja tidak boleh
cengeng. Otomatis setelah kejadian tersebut saya kembali lagi RS
Advent. Hampir empat rumah sakit yang pernah merawat saya yakni RS
Advent, RSU Sumedang, RS Sariningsih, dan RS Dustira Cimahi.

Kenapa bisa sampai dengan empat rumah sakit? Setiap saya baru kembali
dari rumah sakit selalu saja saya disiksa dan dipukuli dengan berbagai
macam alasan. Bahkan, di KSA sendiri saya pernah dihantam dengan
alasan saya tidak melakukan PPM (hormat militer). Berdasarkan hal
itu, kedua orang tua saya menghadap Ketua STPDN IGK Manila. Kedua orang
tua saya meminta jaminan keselamatan akan kehidupan saya. Ketuapun
menyetujuinya, tetapi berbeda dengan kenyataan di lapangan, malahan
saya semakin disiksa karena berani melaporkan pemukulan terhadap
ketua. Maka, dengan pemikiran yang masak, saya bersama dengan orang tua
memutuskan untuk mengundurkan diri dari STPDN. O! rang tua saya takut
akan kejadian yang lebih parah menimpa anaknya.

Bertolak dari kematian Wahyu Hidayat, sebenarnya yang paling
bertanggung jawab adalah pihak Lembaga STPDN karena pada acara Duduk
Perkara di TV7 yang ditayangkan pada tanggal 11 September 2003,
Prof. Ryaas Rasyid mengatakan telah mengingatkan kepada IGK Manila
agar segera menghentikan kekerasan yang ditimbulkan ol! eh para praja
seniornya. Jadi, dalam konteks inilah bahwa sebenarnya pihak kembaga
STPDN mengetahui kekerasan tersebut. Akan tetapi, hal itu ditutupinya
karena akan menghancurkan citra dari STPDN itu sendiri.

Maka, tidaklah heran setiap tahunnya banyak praja yang melarikan
diri maupun yang mengundurkan diri. Hal itu mereka lakukan karena
tidak kuat menghadapi siksaan dari para seniornya. Bahkan, saya
menganggap bahwa kehidupan di STPDN itu sama halnya dengan di neraka,
artinya tiada hari tanpa penyiksaan. Bahkan,! ada wanita praja yang
harus diangkat rahimnya, ada gendang telinganya yang hancur, dan
bahkan ada teman saya yang di dadanya ada bekas telapak sepatu PDL.

Kebanyakan para praja mengeluhkan kondisi perutnya karena banyak
pukulan yang diarahkan pada perut. Saya membaca di media massa bahwa
kematian Muda Praja Erri Rahman pun karena ada pendarahan di perut.
Patah tulang rusuk, berak darah, muntah darah adalah fenomena yang sering
saya jumpai di STPDN. Menurut para praja senior, fenomena tersebut
merupakan hal yang biasa kerap1 terjadi di STPDN. Bahkan, teman saya
pernah mengalami hukuman jungkir dan guling di aspal panas dengan baju
dibuka.

Dengan bercermin terhadap kematian Wahyu Hidayat serta korban-korban
lainnya, sebaiknya para praja itu punya jiwa kemanusiaan dan hati
nurani. Mereka menganggap bahwa hal itu merupakan aspek pembinaan,
padahal dari kacamata orang biasa aspek pembinaan itu sama saja dengan
"penyiksaan".

Sebaiknya para praja juga konsekuen akan perbuatan mereka. Jangan
hanya mencari-cari kesalahan praja juniornya dan saya meminta kepada
Ketua STPD turut bertanggung jawab atas semua kekerasan yang
ditimbulkan oleh prajanya. Saya pun meminta kepada Depdagri agar
Komnas HAM dan Kontras diizinkan masuk dan menyelidiki &nbs!
p;kekerasan-kekerasan yang dilakukan oleh para praja STPDN.

Fenomena kekerasan banyak sekali terjadi di lingkungan STPDN.
Sebaiknya pihak Depdagri untuk sementara membekukan dulu STPDN karena
kekerasan di sana itu sudah membudaya dan tradisi. Oleh karena itu,
sangat sulit menghilangkan budaya kekerasan di STPDN, tanpa usaha yang
signifikan.

Tulisan ini sengaja saya buat karena keprihatinan saya terhadap STPDN
atas meninggalnya Wahyu Hidayat. Hal ini dibuat bukan untuk
mendiskreditkan STPDN, tetapi di alam reformasi ini, masyarakat berhak
tahu apa yang sedang terjadi. Selama ini pihak STPDN seakan-akan
menutupi mengenai kehidupan prajanya. Semoga kejadian yang menimpa
Wahyu ! Hidayat benar-benar yang
terakhir kalinya. (Arie Adhitiya)**








      Yahoo! Groups Sponsor 
            ADVERTISEMENT
           
     
     

To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]



Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service. 



[Non-text portions of this message have been removed]


------------------------ Yahoo! Groups Sponsor ---------------------~-->
Upgrade to 128-Bit SSL Security!
http://us.click.yahoo.com/p7cEmB/s7qGAA/yigFAA/i7folB/TM
---------------------------------------------------------------------~->

Berlangganan: [EMAIL PROTECTED]
Stop Berlangganan: [EMAIL PROTECTED]
Keluhan Milis(Unbouncing,spam,dll): [EMAIL PROTECTED] 

Your use of Yahoo! Groups is subject to http://docs.yahoo.com/info/terms/ 


Kirim email ke