Dear Dani yang baik,

Maaf yah, saya sendiri kurang tahu mengenai budaya dan tradisi Tiong 
Hua, tapi saya memiliki sedikit pengertian dalam Buddhism.

Menurut pendapat saya tidak ada yang perlu diubah dalam sembahyang 
tradisi Tiong Hua, karena dengan menambahkan dengan pembacaan 
karaniya metta sutta itu akan mengubah kebiasaan.

Lagi pula mahluk yang disembahyangi dengan pembacaan Karaniya metta 
sutta belum tentu mengerti bahasanya, ingat jika mahluk tersebut 
melekat dengan satu tradisi tertentu, ada mahluk-mahluk yang tidak 
mengerti tentang bahasa pali, jadi percuma. 

Karaniya metta sutta itu bukanlah suatu alat untuk menenangkan 
mahluk, tetapi ajaran yang harus dipraktekan. Daripada kita 
membacakan dengan tujuan untuk orang mati, lebih baik kita gunakan 
dalam praktek sehari-hari.

Saya pikir lebih baik kalau orang-orang yang melekat terhadap tradisi 
diberi pengertian tentang ajaran Buddha walau tanpa embel-embel 
bahasa Pali ataupun Sanskrit, setuju nggak?

Maaf yah bukan maksud saya menentang.....

Be wise okey...
with regard


Dananjaya..

--- In [email protected], dani predy <[EMAIL PROTECTED]> 
wrote:
> 
> Salah satu contoh yang mudah adalah pada saat peryaan
> Cing Ming (Ceng Beng) kita dapat memanfakatkannya
> untuk merangkul budaya Tionghoa.
> 
> Pada saat Cimg Ming (ceng Beng) intinya adalah
> mengingat budi orangtua dengan cara mengunjungi makam
> dan membersihkannya.Kita bisa mengadakan acara
> pattidana untuk menyambut Cing Ming.
> 
> Bisa juga dengan edukasi untuk membaca paritta pada
> saat sembahyang di makam, sembahyang ce it - cap go
> dan sembayang upacara besar lainnya (imlek, bulan
> tujuh, cing ming).
> 
> Waktu kecil, waktu sembahyang diajarin untuk menyebut
> nama sanak saudara yang sudah minggal dan meminta
> mereka untuk pulang, makan dan minum teh.
> Kita harus edukasi bahwa sebaiknya kita juga
> membacakan paritta (karaniya, dll) pada saat
> sembahyang tersebut. Dengan tujuan untuk pelimpahan
> jasa dan mengajak sanak saudara lainnya mengulagn
> dhamma (dengan baca paritta)
> 
> Hal ini saya terapkan pada keluarga saya. Jadi kita
> tetap menjalankan tradisi tionghoa dengan tetap
> bernafaskan Buddhism, tidak sekedar cung cung cep
> 
> Predy.
> 
> --- Huangdi_98 <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> 
> > 
> > --- In [EMAIL PROTECTED], Andrew Huang
> > <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> > 
> > > 1.Jangan tiru cara Kristen dengan menggunakan
> > metode
> > > pembodohan. 
> > > Seperti misalnya dengan cara memanfaatkan huruf2
> > > Mandarin, Perjalanan 
> > > Ke Barat dan lain sebagainya. Sayapun juga bisa
> > > menulis buku bahwa 
> > > huruf Mandarin berasal dari Dhammapada. Ini
> > tidaklah
> > > sulit karena 
> > > huruf Mandarin ada ribuan jumlahnya, kita cari
> > > beberapa saja yang 
> > > cocok dan jadilah sebuah buku yang menyatakan
> > bahwa
> > > huruf Mandarin 
> > > berasal dari Dhammapada. Namun metode ini sungguh
> > > memalukan dan 
> > > justru bertentangan dengan Buddhadhamma.
> > > 
> > Hehehehehehehehe.
> > Cerita XiYou Ji itu ada 2 versi mas Tan.
> > Yang satu itu tidak ada kisah Sun WuKong mengacak2
> > langit. Kisah revisi itu ada tambahan mengacak2
> > langit. Penambahan revisi itupun karena adanya
> > pembajakan :P
> > 
> > > 2.Jangan sampai mengorbankan semangat asli
> > Buddhisme
> > > dalam artian 
> > > kita harus tegas, mana-mana yang tidak dapat
> > > dikompromikan dengan 
> > > nilai Dhamma harus kita tolak dengan tegas
> > >
> > sebenarnya banyak kesamaan filsafat maupun pandangan
> > berpikir antara Chinese dan Buddhism.
> > Itulah yang harus disinkronisasi bukan malah
> > ditentangkan.
> > Contohnya pemahaman bhaktinya Confucius dengan
> > Buddhism. Selarasnya alam dengan manusia Taoism ,
> > dualismenya YinYang Jia dengan Buddhism juga.
> >  
> > > 3.Tafsirkan tradisi Chinese dengan kerangka
> > > Buddhadhamma. Misalnya 
> > > sembahyang untuk nenek moyang, berikan pengertian
> > > dalam kerangka 
> > > Ajaran Sang Buddha yang terdapat dalam Kitab
> > > PETTHAVATHU (bagian dari 
> > > KHUDDHAKA NIKAYA). Dengan kata lain kita
> > memberikan
> > > makna yang benar 
> > > bagi berbagai tradisi tersebut sesuai dengan
> > > semangat Buddhadhamma.
> > > Kita ambil contoh masalah bakar membakar uang
> > > kertas. Mungkin 
> > > konfrontasi langsung tidak berguna. kita jelaskan
> > > bahwa hal itu hanya 
> > > simbolisme, dan bagi orang yang sudah mengerti,
> > maka
> > > kita bisa 
> > > melaksanakan makna di balik simbolisme tersebut
> > > tanpa harus bakar 
> > > membakar uang kertas lagi.
> > > 
> > Silahkan membakar uang2an kertas (note:jgn tulis
> > uang
> > kertas , ntar salah persepsi lho. Bisa2 uang kertas
> > US$100 yg dibakar :P).
> > Setiap pembakaran satu lembar uang2an kertas itu
> > sebenarnya diselip satu lembar kertas WANG SHENG
> > ZHOU
> > yang isinya adalah mantra AMITABHA.
> > Jadi setiap membakar satu lembar itu dianjurkan agar
> > membaca nama NAMO OMITOFO. Lebih afdol lagi kalau
> > baca
> > mantra AMITABHA/Wang Sheng Zhou.
> > Jadi bukan membakar 1 truk uang2an kertas tanpa
> > membaca apapun karena ada jurus praktis yaitu
> > digabung
> > dengan membakar kertas WANG SHENG ZHOU.
> > Baca NAMO OMITOFO setiap membakar 1 lembar.
> > Rasanya gak bakalan sanggup org membakar 1 truk
> > uang2an kertas sambil membaca OMITOFO /lembar.
> > 
> > Juga masalah sembayang chit gwe/bulan
> > setan/sembayang
> > rebutan itu kembalikan lagi ke asalnya. Yaitu kisah
> > MULIAN menolong ibunya. Yang merupakan kisah bakti
> > seorg anak dan tindakan menolong mereka yang
> > kesusahan. Jgn salah kaprah lagi.
> > 
> > 
> > > 4.Banyak jelaskan mengenai konsep yang benar dari
> > > hukum karma. 
> > > Sebagai contoh banyak orang memuja nenek moyang
> > atau
> > > sembahyang pada 
> > > dewa dengan tujuan agar memperoleh hokkie. Kita
> > > jelaskan bahwa hanya 
> > > hukum karmalah yang berperanan. Hokkie ataupun
> > bukan
> > > hokkie semuanya 
> > > terpulang dalam diri kita sendiri.
> > >
> > Kembalikan lagi konsep sembayang kepada leluhur dan
> > dewa (mayoritas dewa org Chinese adalah tokoh yang
> > pernah hidup dan berjasa) kepada koridor Confuciusm
> > yang sejalan dengan Buddhism.
> > Bisa lihat di LunYu masalah ini.
> >  
> > > 5.Giatkan banyak Dharmaduta untuk memberikan
> > > pengertian benar semacam 
> > > itu. 
> > >
> > ini nyang susah.
> >  
> > > 6.Merangkul budaya Chinese bisa dengan memberikan
> > > les atau pengajaran 
> > > bahasa Mandarin gratis. Bisa juga dengan
> > mengadakan
> > > pameran seni 
> > > budaya Tiongkok, pada acara tersebut selipkan
> > > buku-buku Dhamma.
> > > 
> > > Demikianlah point2 yang harus diingat apabila kita
> > > ingin merangkul 
> > > budaya Chinese yang efektif. 
> > > 
> > > Sebaliknya hal2 berikut ini harus dihindari:
> > > 
> > > 1.Memajang patung2 dewa non-Buddhis, seperti Kuan
> > > Kong, Hok Tek Tjin 
> > > Sien, Thian Shang Sheng Bo, dan lain-lain. Ini
> > > adalah suatu kompromi 
> > > yang tidak dapat ditoleransi. 
> > 
> > ini juga yang salah lho. Kwan Kong itu dianggap
> > sebagai QiaLan Pusa bagi Buddhism , SanXi FuZi bagi
> > Confuciusm dan XueTian DaDi bagi Taoism.
> > Coba anda baca SanGuoYuanYi karangan Luo GuanZhong
> > sono. Baca kisah bhiksu PuJing mentisarana Guan
> > YunZhang.
> > HokTek CengSin/Zhang FuDe juga tokoh pada masa
> > Warring
> > State lho.
> > Kalau Tian Shang Shen Mu itu memang rancu
> > hehehehehehe
> > Karena Katolik Chinese juga menganggap Thian Shang
> > SHeng Mu itu adalah Bunda Maria. Yang mana
> > sesungguhnya adalah Lin MoNiang yang berbakti pada
> > ayahnya.
> > 
> > >Merangkul budaya
> > > Tionghoa bukanlah 
> > > berarti pengorbanan terhadap nilai Buddhis. Saya
> > > yakin Orang Kristen 
> > > sekalipun tidak akan memasang patung2 dewa semacam
> > > itu, betapapun 
> > > gigihnya usaha mereka merangkul budaya Chinese.
> > > Di vihara Buddhayana jalan Putat Gedhe mereka
> > > memasang gambar dewa2 
> > > non Buddhis di altar, hal inilah yang saya tentang
> > > keras. Merangkul 
> > > budaya Chinese bukanlah dengan menciptakan agama
> > > gado-gado baru.
> > > Maaf, bukan saya anti dewa2 tersebut (meskipun
> > saya
> > > tetap tidak 
> > > mempercayai mereka, tetapi kalau ada orang yang
> > mau
> > > sembahyang tetap 
> > > saya hormati, asalkan diluar "teritorial"
> > Buddhis). 
> > 
> > Berarti anda harus memulai dengan menghancurkan
> > patung
> > QIA LAN PUSA yang notabene adalah GUAN YUNZHANG dong
> > ?
> > Juga Zhang Fude/Hok Tek CengSin yang juga adalah
> > dewa
> > tanah ?
> > Mungkin yang boleh anda tentang adalah pemasangan
> > patung2 para TianZun. Itu saya setuju karena memang
> > TianZun itu bukan dewa2 Buddhism tapi dewa2 Taoism.
> > Contohnya FUSHENG WULIANG TIANZUN , Tai Yi JiuKu
> > TianZun , LuZhu , Ba Xian , LeiSheng PuHua TianZun ,
> > San Qing Tian Zun , QingQue TianZun,Wang LingGuan ,
> > Sa
> > ZhenRen, Heng Ha ErlJiang , BaDa YuanSuai dll.
> > 
> > Juga dewa2 YinShen(cabul/sesat) , misalnya Hu Xian ,
> > 18 WangGong ,Zhu BaJie yang mana juga ditentang oleh
> > Confuciusm.
> > 
> > Jika patung2 para leluhur yang notabene berjasa bagi
> > masyarakat itu rasanya tidak bertentangan dengan
> > Buddhism kok.
> > Masak para sesepuh Buddhism Tiongkok yang nota bene
> > 
> === message truncated ===
> 
> 
> 
>               
> __________________________________ 
> Do you Yahoo!? 
> Yahoo! Small Business - Try our new resources site!
> http://smallbusiness.yahoo.com/resources/








------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Has someone you know been affected by illness or disease?
Network for Good is THE place to support health awareness efforts!
http://us.click.yahoo.com/UwRTUD/UOnJAA/i1hLAA/UlWolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke