Hidup Bersama secara Harmonis

Y.A. Maha Biksu Thich Nhat Hanh

Diterjemahkan oleh: Kurniawati dan diedit oleh: Jimmy Lominto

 

(bag 7)

 Manusia terdiri dari tubuh dan pikiran. Jika hanya ada komunikasi antartubuh 
tapi tidak antarbatin, itu sungguh sangat bahaya. Ketika kita saling mencintai, 
kita ingin saling berdekatan, tapi apakah kedekatan ini adalah kedekatan batin, 
yang ada komunikasi, yang ada pengertian, di mana kita bisa saling berbagi 
nilai-nilai spiritual? Jika memang demikianlah adanya, maka bersatunya dua 
tubuh akan bermakna dan membawa kebahagiaan. Tetapi, jika bersatunya dua tubuh 
tidak disertai penyatuan batin, maka akan muncul penderitaan dan kita tidak 
akan dapat menyampaikan cinta yang sejati pada anak-anak kita. Kita bisa sebut 
bersatunya dua tubuh itu sebagai �seks yang hampa.�

Ketika anak-anak berusia dua belas atau tiga belas tahun, tiga belas atau empat 
belas tahun bertemu lalu tidur bareng, apa yang akan terjadi? Terjadilah 
penyatuan tubuh yang didorong oleh nafsu birahi, tapi kedua anak itu tidak 
saling mengerti, tidak tahu apa-apa tentang yang lain, mereka tidak tahu cinta 
adalah apa. Inilah yang kami sebut seks yang hampa dan ini sungguh sangat 
bahaya, karena kedua anak muda itu akan terperosok jauh ke dalam jalur nafsu 
birahi, di mana tiada hal lain selain seks, tiada pengertian. Ini diajarkan 
secara jelas sekali dalam tradisi Asia dan saya pikir hal ini juga pernah ada 
dalam tradisi Barat dulu.

 Dalam tradisi Asia, tubuh kami juga sakral seperti halnya batin kita dan kami 
tidak bisa berbagi tubuh kami dengan sembarang orang. Dalam tubuh kami, ada 
wilayah-wilayah yang sangat sakral, bagian atas kepala kami misalnya. Biasanya 
ayah dan ibu di Vietnam akan menanyakan anak mereka, saat anak berusia tiga 
atau empat tahun berdiri di hadapan mereka: �Nak, kamu sayang papa mama tidak?� 
Anak itu akan berkata, �Saya sayang Mama, saya juga sayang Papa.� Orang tua 
lalu bertanya, �Kamu taruh di mana cinta kamu untuk kami ini?� anak itu 
menjawab, �Di atas kepala saya.� Bagian atas kepala, bagi orang Asia, khususnya 
orang Vietnam, merupakan altar: dan di atas altar itu kami taruh hal yang 
paling sakral. Misalnya, jika kita masuk ke sebuah rumah di Vietnam, kita bisa 
lihat walaupun rumah itu sangat miskin, tapi selalu ada altar leluhur. Altar 
leluhur itu sangat sakral. Mungkin kami hanya taruh satu piring buah-buahan 
atau sebuah vas bunga, atau beberapa batang dupa di atas meja itu. Kami
 tidak pergi ke pasar dan menaruh tas belanja ke atas altar leluhur saat kami 
pulang. Itu sungguh sangat tidak sopan dan tidak ada seorang pun yang akan 
melakukannya.

Sejauh menyangkut tubuh kami, altar tubuh kami adalah bagian atas kepala kami 
dan kami memuja Buddha, kami memuja leluhur yang ada di atas kepala kami. Dan 
sejauh menyangkut orang Vietnam, jika ada orang yang menaruh tangan dia ke atas 
kepalanya, itu sungguh sangat tidak sopan. Ada orang Barat yang belum paham hal 
ini dan mereka mungkin taruh tangan mereka ke atas kepala kami, tapi kami 
merasa ingin mengatakan pada mereka : �Tolong taruhlah tanganmu di pundakku, 
jangan taruh di atas kepalaku. Kalau tidak aku akan sangat tersinggung, aku 
rasa itu menyinggung sekali.�

 Jika para biksu dan biksuni di Plum Village sedang memegang sesuatu yang 
berharga, yang berhubungan dengan Dharma, seperti Sutra atau jubah Sanghati 
mereka dan seseorang datang untuk memberi salam atau surat pada mereka, mereka 
harus meletakkan jubah Sanghati mereka di atas kepala, di atas altar tubuh 
mereka. Di situlah tempat yang paling pantas untuk menaruh jubah mereka. Mereka 
tidak bisa taruh di lantai. Anda jangan taruh Sutra Menyadari Pernafasan 
Sepenuhnya atau Sutra Amitabha di atas lantai. Kami merasa hormat pada Sutra, 
Sutra adalah permata Dharma dan kami harus menaruhnya di tempat yang sangat 
bersih. Demikian pula dengan jubah Sanghati kami; jubah Sanghati kami diberikan 
kepada kami oleh Buddha, oleh Guru kami, sehingga kami dapat mengadakan 
berbagai upacara. Tidak bisa kami menaruhnya di lantai. Jika tidak ada meja di 
sekitar kami, kami taruh jubah itu ke atas kepala, terima surat, simpan ke 
dalam saku, lalu kami ambil jubah dari kepala kami dan memegangnya. (bersambung)

 

==============================================================

Bagi saudara-saudari seDharma yang tertarik untuk Belajar, Berlatih, dan 
Berbagi Hidup Berkesadaran serta mengembangkan Socially Engaged Buddhism* (SEB) 
di Indonesia silahkan bergabung dengan kami di Milis Dharmajala. 

*Agama Buddha yang terjun aktif ke dalam segala aspek kehidupan manusia  
seperti urusan sosial kemasyarakatan, budaya, ekonomi, politik,  perlindungan 
lingkungan hidup�dsbnya tapi yang dilakukan secara PENUH KESADARAN atau dengan 
PERHATIAN PENUH.

Silahkan kunjungi:        
http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/
  

Untuk bergabung, kirimkan email ke:
[EMAIL PROTECTED]
  

 

Dharmajala bertujuan untuk:

Menyingkap Tabir Ketidaktahuan
Membongkar Sekat Ketidakpedulian
Menganyam Tali Persahabatan 
Merajut Jaring Persaudaraan
Saling Asah, Asih, dan Asuh dalam Semangat Sanggha 
Aktif Mengupayakan Transformasi Diri Transformasi Sosial
Melalui Hidup Berkesadaran

=========================================================


                
---------------------------------
Do you Yahoo!?
 Yahoo! Sports -  Sign up for Fantasy Baseball.

[Non-text portions of this message have been removed]






------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Would you Help a Child in need?
It is easier than you think.
Click Here to meet a Child you can help.
http://us.click.yahoo.com/0Z9NuA/I_qJAA/i1hLAA/UlWolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya 
maupun di luar diri saya. 

Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan;
tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan;
serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh.
Kami mengikuti jalur perhatian penuh, 
latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam
agar mampu melihat hakikat segala sesuatu,
sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian.
Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, 
menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  membawa 
akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan 
tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta 
sahabat-sahabat kami.
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke