Kompas, Jumat, 01 April 2005 


Mereka Terempas dan Tertindas 



"JALAN hidup saya sudah begini. Namun saya selalu berdoa (kepada Tuhan), 
ringankan beban saya dari kemiskinan, dan berilah saya rezeki yang cukup agar 
anak-anak saya bisa sekolah," ucap Suinah (42) dengan mata berkaca-kaca sembari 
mendekap erat mukena dan sajadah dengan kedua tangannya.

PERMINTAAN janda empat anak itu agaknya amat sederhana, menyuratkan kepasrahan 
kepada Sang Khalik, sekaligus wujud pancaran kasih ibunda sejati kepada sang 
anak. Namun hanya mukjizat yang akan membawanya menjadi orang kaya, sebab untuk 
makan-minum saja dia sudah susah. Tempat tinggalnya di bawah tenda plastik 
berlantai tanah, ngemper di dalam Kompleks Stasiun Gambir, di pagar pembatas 
Kompleks Monumen Nasional dengan stasiun kereta api itu.

Bila hujan, Suinah mengungsi tidur ke kompleks stasiun, sementara pada 
hari-hari biasa dia tidur malam bersama dua anaknya dengan menggelar tikar dan 
karton di bawah tenda atau di halaman parkir stasiun itu. Di "rumahnya" 
tergeletak hartanya berupa rak buku dari kayu reyot yang biliknya diisi deretan 
buku, sepatu, dan sandal milik anaknya, Agus Susanto, siswa kelas II Iftidayah, 
dan Hendra Susanto yang belum sekolah. Sebuah gerobak besar untuk menyimpan 
pakaian dan alat memasak difungsikan sebagai tempat tidur.

Sebagai tukang cuci tetap pada keluarga pemilik warung, perempuan asal Desa 
Cileumus, Kuningan, Jawa Barat, itu diupah Rp 20.000 sekali mencuci. Selain 
itu, dia juga masih mencucikan pakaian seragam petugas stasiun maupun polisi 
setempat dengan upah antara Rp 5.000-Rp 10.000 per setel.

Dia juga dipercaya pedagang kaki lima mengasong minuman dalam kemasan. Satu dos 
air dalam kemasan berisi 24 botol, dijualnya Rp 2.000 per botol sehingga dia 
bisa meraih Rp 24.000 dari total penjualan Rp 48.000. "Kalau hari Minggu dan 
hari libur, habis dua dos," ucapnya. Minuman itu dijual di seputar Taman Monas, 
meski harus "sembunyi-sembunyi" dari pemantauan petugas Tramtib (Ketentraman 
dan Ketertiban) DKI Jakarta yang dinilainya amat bengis.

Agus, sang anak, ikut membantu mencari uang dengan berdagang kantong plastik 
yang dijual Rp 500 kepada para jemaah Masjid Istiqlal yang melaksanakan salat 
jumat. Dari total pembelian Rp 3.500 per bungkus tas keresek, Agus mengumpulkan 
Rp 6.000. "Sekarang enggak boleh nyemir lagi, dilarang petugas," tutur Agus 
yang sebelumnya mengisi waktu pulang sekolah menjadi tukang semir sepatu. 
Padahal dari nyemir Agus bisa dapat uang Rp 10.000-Rp 15.000.

Suinah semula berdagang kerudung, sementara suaminya, Susanto, adalah sopir 
truk lintas Sumatera-Jawa. Sepeninggal suaminya tahun 1998, hidupnya berubah 
drastis, rumah kontrakan di Pondok Aren, Bintaro, tak terbayar, dan dia 
terpaksa ngemper seperti di dekat Masjid Istiqlal maupun Pasar Tanah Abang.

Penghasilan Suinah belum cukup menghidupi keluarganya. Bahkan kini, selain 
harus dikejar-kejar petugas Tramtib, dia juga harus membayar tunggakan uang 
sekolah Agus dari Desember hingga Maret yang Rp 20.000 sebulan. "Kalau uang 
jajan dan ongkos transpor (Rp 5.000 sehari) saya bisa sisihkan dari hasil 
jualan, tapi uang sekolahnya," kata Suinah tidak mampu melanjutkan ucapannya.

JAKARTA memang menjanjikan kehidupan lebih baik. Dengan sarana, prasarana, dan 
fasilitas fisik, ditambah dunia investasi dan 90 persen peredaran uang yang 
menumpuk, Jakarta nyaris sempurna sebagai Ibu Kota Negara. Namun keberadaan 
infrastruktur dan uang yang beredar itu agaknya sedikit sekali bisa dinikmati 
rakyat kecil, sisanya mungkin lebih banyak "milik" kalangan tertentu yang 
didapat dengan berbagai cara, misalnya lewat korupsi.

Begitu pun institusi yang berpihak kepada kalangan tidak mampu, dalam tingkat 
implikasinya tidak berjalan maksimal. Sebutlah lembaga swadaya masyarakat yang 
membantu pengobatan bagi mereka yang sakit jantung. Ketika disodorkan penderita 
yang mengalami penyakit beberapa tahun terakhir, LSM bersangkutan ngeles bahwa 
yang ditanganinya adalah penyakit jantung bawaan.

Cara seperti itu membuat kepercayaan rakyat kian surut. Apalagi kebijakan 
pemerintah yang cenderung berpihak kepada kalangan tertentu, seperti kegiatan 
penggusuran yang menjadi momok bagi para PKL dan pedagang kecil, membuat lahan 
tambang mereka kandas di Ibu Kota.

Celakanya lagi, mereka yang mengadu nasib ke Jakarta cuma berbekal tekad, tidak 
punya keterampilan khusus. Agus (35 tahun) misalnya, berjualan pakaian dalam 
pria-wanita dan menggelar dagangan di Pasar Tanah Abang. Tergusur dari Tanah 
Abang sejak Lebaran tahun lalu, dia berdagang keliling dan numpang di rumah 
kontrakan rekannya di bilangan Keluharan Petamburan.

Masa kontrak rumah itu berakhir 30 Maret, kini Agus sudah mengambil 
ancang-ancang mencari rumah tumpangan. Penghasilan dari berjualan celana dalam 
dan BH rata-rata Rp 15.000-Rp 20.000 sehari, turun drastis ketika berjualan di 
Pasar Tanah Abang. Karena penghasilannya merosot, Agus mengirim istri dan dua 
anaknya pulang kampung ke Padang, Sumatera Barat, meski dari hasil berdagang 
yang tidak tentu itu, dia masih bisa mengirim uang buat keluarganya Rp 
50.000-Rp 60.000 sebulan.

Sri Mardiasih pun demikian. Dia tinggal ngemper dan bekerja membantu pemilik 
warung kaki lima di Kompleks Stasiun Kereta Api Gambir, dengan gaji Rp 10.000 
sehari. Mencuci pakaian dan menjadi tukang pijit dengan upah Rp 10.000-Rp 
15.000 adalah sumber nafkahnya yang lain. Tiga tahun lalu, perempuan asal Gang 
Bakung RT 02/05 Kebumen, Jawa Tengah, itu berdagang buah durian dengan 
Hasanuddin, asal Banjarmasin, suaminya yang kedua. Sri kemudian ditinggal 
minggat dan hasil berjualan durian selama empat bulan ikut dibawa kabur. Ia pun 
terempas hidup di Jakarta. Padahal di kampung ada tujuh anak, hasil 
pernikahannya dengan suami pertama, yang menanti kirimannya tiap bulan.

"WAJAH-wajah buram" Jakarta itu masih ditambah lagi dengan kesadaran warganya 
untuk mengendalikan jumlah anak di dalam satu keluarga. Sebutlah Wanti Mujiah, 
anak pertama dari tujuh bersaudara. Wanti tinggal di rumah panggung yang 
sebagian dindingnya dari bambu. Bagian bawah dijadikan dapur dan tempat mencuci 
pakaian, dan peralatan rumah tangga lainnya. Naik ke ruang atas rumah itu 
melalui tangga sempit yang cukup memuat satu orang dewasa.

Di dinding rumahnya terlihat deretan jemuran pakaian luar dan dalam, seolah 
bersaing dengan jemuran pakaian yang menyembul dari kiri-kanan jalan rumah 
penduduk. Saluran got yang relatif dangkal, di seputar tempat tinggalnya 
memungkinkan melahirkan genangan dan banjir. Suasana itu bagai mengukuhkan 
benda koleksi bernama warga Jakarta terpajang dalam lemari etalase kemiskinan.

Mujitaba, sang ayah, warga Jalan Petamburan III, RT 04/05, bekerja sebagai 
tukang ojek sepeda motor, dengan pendapatan kotor Rp 30.000-Rp 50.000 sehari, 
kemudian dibagi fifty-fifty dengan pemilik kendaraan. Dengan penghasilan 
ayahnya yang terbatas itu, Wanti yang mestinya tahun 2005 sudah kelas III, 
terpaksa beristirahat sekolah setahun karena tidak mampu melunasi uang 
sekolahnya selama dua semester. Kini dia mengulang di kelas II SMA Josua 
Jakarta. Keperluan buku pelajaran yang tidak mampu dibelinya, didapat dari 
pinjaman kawan sekelasnya.

Kemiskinan yang berdampak pada rendahnya mutu pendidikan sumber daya manusia, 
pengangguran, rendahnya tingkat kesehatan dan lainnya, tidak cukup direspons 
dengan rasa iba atau sebatas di mulut saja, namun diperlukan kepedulian semua 
kalangan untuk memerangi kemiskinan, termasuk melalui kebijakan pemerintah yang 
cenderung kurang berpihak terhadap mereka yang kurang beruntung.

Warga Jakarta khususnya, pun perlu menyadari dan memahami bahwa pemerintah DKI 
Jakarta tidak mungkin memborong dan menyelesaikan beragam akumulasi persoalan 
sendirian.

Yang terbaik, mungkin legislatif dan eksekutif tidak bertengkar dan terpaku 
mempersoalkan kenaikan bahan bakar minyak, yang akhirnya menghambat pembahasan 
RAPBN Perubahan, lalu mengimbas pada kepentingan rakyat. Suinah beserta anaknya 
dan Mujitaba sekeluarga telah membuktikan, mereka terhempas dan tertindas di 
tengah kehidupan Jakarta yang serba kompetitif. (Khaerul anwar)


                
---------------------------------
Do you Yahoo!?
 Better first dates. More second dates. Yahoo! Personals 

[Non-text portions of this message have been removed]






------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Would you Help a Child in need?
It is easier than you think.
Click Here to meet a Child you can help.
http://us.click.yahoo.com/0Z9NuA/I_qJAA/i1hLAA/UlWolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya 
maupun di luar diri saya. 

Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan;
tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan;
serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh.
Kami mengikuti jalur perhatian penuh, 
latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam
agar mampu melihat hakikat segala sesuatu,
sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian.
Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, 
menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  membawa 
akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan 
tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta 
sahabat-sahabat kami.
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke