Benar bro daniel, Saya mau menambahkan sedikit lagi.
Dalam hal menumbuhkan cinta kasih, jangan kemudian menjadi bodoh. Jika kita tahu org ini, walaupun kita sudah mencurahkan kasih kita, tetapi ia masih tidak mengerti dan tetap mau memanfaatkan kita. Maka hentikanlah. Hentikan dalam arti jangan memberikan kesempatan kepada dia untuk melakukan karma buruk lagi dengan memanfaatkan kita. Beberapa yang lain mungkin perlu cara yang lebih keras, namun tetap dalam alur dhamma, untuk kita ingatkan. Dalam kisah Hyang Buddha, kita akan mendapatkan Hyang Buddha tidak selalu menggunakan hanya persis satu cara untuk menyelesaikan berbagai masalah. Ada yang dengan mengorbankan dirinya, ada yang dengan menegur, ada yang dengan kharisma, ada dengan kekuatan sakti /iddhi, ada yang dengan cinta kasih. Contoh yang paling gampang dapat kita baca pada Jaya Manggala Sutta. (eh, Sutta atau Paritta, tolong koreksi ya teman2). Terdapat 8 cara setidak-tidaknya Saya paling seide dengan motto orang Shorinji Kempo (ini saya sudah agak lupa, mungkin tidak sama persis kata-katanya, tetapi intinya adalah sama). Kebetulan dulu sekret mereka dekat dengan sekret saya di Unit Kegiatan Mahasiswa dulunya: "Kekuatan tanpa Kebijaksanaan adalah orang zalim" "Kebijaksanaan tanpa Kekuatan sama saja dengan orang lemah" Makanya org Shaolin mengucapkan salam dengan satu tangan dikepal dan satu tangan terbuka yang membungkus tangan yang dikepal tersebut. Tangan yang dikepal, tangan kanan, melambangkan harimau: kekuatan Tangan yang kiri, melambangkan naga: kebijaksanaan. Salam kasih, Khai [EMAIL PROTECTED] wrote: >Halo Bro Phien dan Bro Khaidi, >menurut saya, untuk menyadari hakikat ketanpa-akuan itu adalah >sebuah proses yang panjang. Untuk menjadi seseorang yang telah mampu >melenyapkan keterikatan pada 'aku' adalah sebuah perjuangan, dan >semua itu perlu kita lakukan dengan alamiah dan jujur pada diri >sendiri. >Dengan kata lain, kita tidak perlu berpura-pura atau merasa diri >sudah 'tanpa aku' padahal sebenarnya hanyalah pengalihan ego utk >merasa diri menjadi lebih baik (sok suci). Ataupun kita memaksakan >diri kita untuk menghilangkan aku , dimana pada akhirnya sebenarnya >sang aku itu tidak hilang, namun hanya beralih rupa. Akibat dari >semua keinginan2 itu (keinginan utk menghilangkan aku) hanyalah >menyebabkan kita semakin melekat pada 'aku'. > >Akuilah bahwa pada saat kini, saya masih melekat pada aku. Dan >dengan demikian maka kita akan lebih jujur pada diri sendiri untuk >kemudian menyadari dan mencari cara untuk bagaimana menyalurkan >keakuan itu secara lebih positif. >Dengan bersikap demikian, maka upaya kita akan lebih difokuskan pada >suatu upaya kausalya dan bukan pada suatu pemaksaan diri. Dengan >demikian maka kebijaksanaan kita akan terus bertumbuh untuk semakin >mendekati pada jalur utk menyadari hakikat 'sang aku'. > >Jadi seandainya anda perlu menasihati orang lain dan merasa anda >masih melekat pada 'aku', maka hendaknyalah sadari hal itu saja >seperti apa adanya. Sadarilah apa keinginan2 dan pamrih 'aku' anda >dalam melakukan penasihatan itu. > >Sebuah cara lain yang menurut saya bisa dicoba adalah mencoba untuk >menggunakan gambaran Boddhisatva / Buddha sebagai cerminan 'sang >aku'. Dengan memproyeksikan bahwa 'sang aku' adalah Boddhisattva / >Yidam, maka kita tidak kehilangan 'sang aku' tetapi >mentransformasikan 'sang aku' itu pada suatu ideal yang luhur. >Dengan adanya tujuan itu, maka kita dapat memberi arahan pada 'aku' >kita untuk berjalan pada rel yang benar. Hal itu terjadi karena kita >akan merujuk pada sifat-sifat luhur dan keteladanan dari para >Boddhisattva itu. >Dengan melakukan hal itu sembari terus melakukan peningkatan >pengertian, maka setahap-demi setahap anda akan berjalan secara >alamiah hingga suatu saat nanti mendapatkan glimpse of insight >tentang 'ketanpa-akuan' dalam ideal Boddhisattva itu. > >Demikianlah sedikit komentar saya, semoga dapat bermanfaat. > >Metta, >Daniel > > > >--- In [email protected], khaidi wong <[EMAIL PROTECTED]> >wrote: > > >>Pertanyaan ini muncul karena kita masih punya 'aku' >>Kalau kita sudah tidak punya 'aku', segala sesuatu yang >> >> >berhubungan > > >>sebagaimana pertanyaan tersebut juga tidak akan muncul. >> >>Praktek terbaiknya menurut saya secara subjektif adalah : >>menasehati orang supaya mereka berubah menjadi lebih baik, bukan >> >> >supaya > > >>di kemudian hari kita tidak kesal oleh kelakuannya. >>menyadarkan seseorang akan hak seorang manusia termasuk hak kita >> >> >untuk > > >>menumbuhkan kasih dalam diri mereka. >>Terus terang, ini tidak gampang! Kita boleh ngomong besar dalam >> >> >hal ini, > > >>namun praktek di lapangan kadang nol besar akibat ego/aku nya kita >> >>Semoga bermanfaat, >>Salam kasih, >>Khai >> >> >> >>sophian data wrote: >> >> >> >>>Namo Budhaya >>>Allo Semua mo minta saran nih >>>Menurut Bro And Sist kalau kita mempertahan kan AKU >>>dalam diri kita hanya karena kita ingin menyadarkan >>>seseorang atau harga diri kita tidak di pandang rendah >>>oleh orang ,apakah dalam diri kita masih terdapat >>>kualitas mental yg lemah??? >>>Mengingat we as ordinary people Gitu Lohhhhhhh >>>memang sih kita seharusnya tdk mempertahan kan AKU >>>untuk menyadarkan seseorang atau hak kita agar di >>>hormati orang tapi bagaimana caranya ? >>>mungkin Bro And sist punya best way untuk incase ini?? >>> >>>Sukhi Hotu >>> >>>Phien >>> >>> >>> >>> >>> > > > > > > > >Yahoo! Groups Links > > > > > > > > > > ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Would you Help a Child in need? It is easier than you think. Click Here to meet a Child you can help. http://us.click.yahoo.com/0Z9NuA/I_qJAA/i1hLAA/UlWolB/TM --------------------------------------------------------------------~-> Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya. Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh. Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian. Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari, membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami. Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
