Kompas, Kamis, 07 April 2005

Empat Tahun Perut Ramadhan Membucit Bak Ibu Hamil

MELIHAT Ramadhan (4), yang tinggal di Kampung Cikunir RT 06 RW 01, Jakamulya, Bekasi Selatan, ingatan bisa terbang ke di Etiopia atau negara Afrika lainnya yang menderita kelaparan beberapa belasan tahun lalu. Perut buncit dengan tubuh hanya berbalut tulang, hampir menyerupai kondisi anak penderita busung lapar.

Meskipun juga berasal dari keluarga miskin, penderitaan yang harus ditanggung Ramadhan bukanlah karena tidak cukup makan, melainkan karena ia justru dibatasi makannya. Sebab, lubang anusnya hanya seukuran lidi.

Menurut Sainah (24), ibunya, Ramadhan harus dioperasi lagi untuk membuat lubang anus. Tetapi, ia tak punya cukup biaya. Parman (26), suaminya, adalah kuli bangunan. "Pendapatannya tak tentu. Kadang sebulan tidak ada pekerjaan. Untuk makan dan bayar kontrak rumah saja sudah sulit. Pusing juga memikirkan biaya berobat anak saya. Saya kasihan, tetapi bingung mau bagaimana," kata Parman lirih.

Akibat tidak lancarnya buang air besar, perut Ramadhan terus membuncit. Sekarang bahkan seukuran perut ibu hamil sembilan bulan. Lubang anus yang dibuat saat bocah ini berusia dua tahun hanya tinggal seukuran lidi.

Wajah bocah lelaki ini tampak tirus karena tubuhnya yang kurus, tidak sebanding dengan perutnya yang terus membesar. Ramadhan pun lebih banyak duduk karena susah untuk bergerak.

Sebenarnya, Ramadhan masih bisa buang air besar lewat lubang anusnya yang kecil. Tetapi, pembuangan itu tak terkontrol, bisa setiap saat. Karena itu, Sainah selalu memasang tiga lapis celana pendek kepada Ramadhan.

SUDAH dua minggu belakangan ini, Sainah hanya mengizinkan anak satu-satunya itu makan nasi lembek dua kali sehari. Itu pun tidak boleh dalam jumlah banyak. Makanan kecil lainnya juga tidak boleh lagi secara bebas dikonsumsi Ramadhan.

"Dia kemarin masuk rumah sakit lama karena perutnya semakin membesar. Lalu, dokter bilang saya harus menjaga makanan Ramadhan. Kasihan juga melihat dia tidak boleh makan banyak," katanya.

Menurut Sainah, waktu lahir Ramadhan tidak punya lubang anus. Begitu pulang dari rumah bidan, perut Ramadhan membesar. Sainah dan suaminya membawanya ke puskesmas. Pada saat itulah mereka baru tahu bayinya tidak punya lubang anus dan harus segera dioperasi.

Berbekal surat keluarga miskin dan uang seadanya, pada umur dua hari Ramadhan dibuatkan lubang anus di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta. Biaya sekitar Rp 3 juta didapat dari hasil pinjaman sana-sini.

Mulai umur dua bulan, lubang anus buatan itu semakin mengecil. Ramadhan pun jadi sering sakit-sakitan. Untuk mengurangi penderitaan anaknya, Sainah biasa membawa anak ini ke tukang urut.

"Saya tidak sanggup kalau dibawa ke dokter terus. Sekali periksa bisa habis Rp 40.000. Saya sering bawa Ramadhan urut saja setelah itu memang agak mendingan. Dia juga tak saya kasih makan pisang," ujarnya.

Sainah mengatakan, saat kondisi Ramadhan terus memburuk, sebenarnya mereka pernah membawa anak ini ke RSCM lagi. Tetapi, setiap kali ke sana, dokter yang memeriksa berbeda-beda. Mereka pun pesimistis jika Ramadhan bisa dioperasi lagi. Pasalnya, mereka tidak punya apa-apa lagi.

"Biaya hidup sekarang kan tambah sulit. Kami tidak tahu lagi bagaimana bisa menolong Ramadhan," ujar Sainah sedih.

Ramadhan yang tampak lemah itu pun tidak kelihatan ceria seperti bocah pada umumnya. Bocah lelaki ini sering terduduk lemah seolah menahan sakit.

Sampai kapan Ramadhan harus kehilangan keriaan seorang bocah? (ELN)


Do you Yahoo!?
Yahoo! Mail - Find what you need with new enhanced search. Learn more.

Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya.

Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan;
tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan;
serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh.
Kami mengikuti jalur perhatian penuh,
latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam
agar mampu melihat hakikat segala sesuatu,
sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian.
Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami.



Yahoo! Groups Sponsor
ADVERTISEMENT
Children International
Would you give Hope to a Child in need?
 
Click Here to meet a Girl
And Give Her Hope
Click Here to meet a Boy
And Change His Life
Learn More


Yahoo! Groups Links

Kirim email ke