Kebanyakan orang menganggap bahwa sebuah cerita yang terkesan tidak 
sanggup dia terima berdasarkan akal dia sendiri lalu menganggapnya 
sebagai mitos.  Saya sendiri dapat memahami sikap demikian. Tetapi 
kita harus mengerti dulu , bahwa tidak semua hal hal yang kelihatan 
aneh itu berarti hal itu tidak benar dan palsu.  Hingga jaman 
sekarang yang dipandang sebagai jaman kemajuan sains, masih banyak 
hal hal aneh yang kenyataan nya eksis tetapi tidak sanggup dicerna 
oleh sains itu sendiri. Seorang manusia picik menganggap hal aneh 
adalah mitos sedangkan seorang saintis sejati memperlakukan
��kasus 
aneh�� sebagai hal yang perlu dikaji lebih lanjut, tanpa secara 
langsung memberi vonis ��mati��. Anda ingin jadi manusia picik
atau 
saintis sejati?
Menurut saya, cara para kaum skeptis yang menolak cerita
��mitos�� 
kelahiran Buddha tidak jauh berbeda dengan para penganut Buddha yang 
dibilang menerima secara mentah mentah cerita tsb. Mereka 
menyimpulkannya tidak berdasarkan kajian yang ilmiah juga, tidak 
berdasarkan kebijaksanaannya juga, ya mereka hanya membacanya lalu 
melemparkannya begitu saja ke tong sampah. Jika demikian caranya, 
hal ini tidak akan dapat menggoyahkan mereka yang percaya. Percuma 
saja. 
Agama Buddha adalah agama yang terbuka, jika ada sebuah bukti kuat 
bahwa agama Buddha menyebarkan cerita bohong, saya sebagai seorang 
penganut Buddha rela menerimanya secara satria. Namun masalahnya. 
Orang2 yang skeptis tidak sanggup memberikan bukti konkrit tapi 
malah secara terbuka menyebarkan pendapat pendapat yang hanya 
memancing perdebatan. Bukankah ini adalah sikap yang picik?

Saya sendiri juga tidak sanggup memberikan bukti bahwa cerita itu 
adalah nyata. Tetapi mengapa saya sebagai penganut Buddha tidak 
menjadikan ini  sebagai sebuah masalah? Ada beberapa factor  yang 
menguatkan saya bahwa cerita itu meskipun sulit diterima akal 
��sehat�� saya, namun saya rela menerimanya sebagai sebuah
cerita 
nyata:
1.      Sila 
Sila adalah prinsip terpenting dalam agama Buddha. Sang Buddha 
sendiri mengatakan bahwa setelah kewafatannya, jadikan Sila sebagai 
guru. Jadi betapa penting sila itu dalam tubuh agama  Buddha. 
Seorang bhikkhu yang melanggar sila berbohong, akan diusir dari 
perkumpulan Sangha.
Jika kita kaji secara mendalam, agama Buddha menempatkan Sila dalam 
posisi yang sangat penting, maka dengan demikian adalah sangat aneh 
dan konyol jika mereka secara mentah mentah, gamblang, ceroboh jika 
membuat sebuah cerita bohong dalam kitab suci nya. Jika sebuah 
perkumpulan yang telah menjadikan Sila sebagai sebuah tata tertib, 
lalu kemudian terdapat cerita2 bohong dalam kitab sucinya, maka 
bagaimana lagi kita bisa memepercayai para penulis dari kalangan 
lain yang apalagi tidak ada peraturan disiplin dalam diri mereka ? 
2.      Kebijaksanaan
Tidak bisa dipungkiri lagi, pemikian pemikiran Sang Buddha telah 
menjadi bagian dari sekumpulan kata2 bijak yang menjadi warisan 
dunia. Tidak sedikit para tokoh terkenal di dunia ini mengutip 
ungkapan bijak dari sang Buddha sebagai sebuah inspirasi. Jika kita 
kaji lagi lebih lanjut, cerita tentang kisah ajaib kelahiran sang 
Buddha berasal dari mulut sang Buddha sendiri kepada para muridnya. 
Apakah seorang manusia bijak mau begitu saja secara ceroboh 
menceritakan sebuah kisah yang begitu ��tidak masuk akal��?
Tidak 
hanya itu saja, bahkan kisah kisah alam dewa, neraka, brahma, 
bukankah sangat asing di mata kita? Kisah Moggallana yang memiliki 
kekuatan batin, Aniruddha yang buta tapi sanggup melihat, dan masih 
banyak lagi, bukankah semua ini tampak aneh? 

3. Kemunculan kitab suci agama buddha
Ajaran Buddha yang terkumpul dalam kitab suci Tipitaka versi Pali 
maupun 
Tripitakan Sanskrit, perlu diketahui bukan berasal dari hasil 
penulisan secara invidual. Misalnya kisah tentang Yesus kristus 
terdapat beberapa versi yang ditulis oleh beberapa orang secara 
terpisah. Kisah tentang Laozi, kisah Confucius, juga demikian. 

Dalam agama Buddha kitab suci Tipitaka itu berasal dari penuturan 
para bhikkhu secara bersamaan. Di mana 500 orang Arahat kumpul 
bersama , Ananda menuturkan Sutta, dan para Arahat lain menjadi 
saksi pendengar. 
Dengan demikian, maka tingkat kebohongan yang berasal dari para 
murid Buddha dalam membuat kisah kelahiran Buddha  menjadi 
terminimalisasi dengan cara pengumpulan kitab suci seperti itu. 
Apalagi Arahat adalah makhluk suci yang telah bebas dari 
keserakahan, kebencian dan kegelapan batin. Maka seharusnya kita 
menganggap mereka menuturkan sebuah kisah secara apa adanya. Atau 
apakah ajaran bijak dari sang Buddha telah gagal mencerahkan para 
muridnya sehingga mereka menjadi kekanak kanakan dengan membuat 
cerita cerita konyol??  Kemungkinannya sangat kecil.


 Mengenai keanehan dari kisah tersebut, tentu itu menjadi masalah 
tersendiri setiap individu karena tingkat pemahaman setiap orang 
berbeda. Contohnya, orang suku pedalaman mendengar bahwa ada benda 
seberat ribuan kilogram dapat terbang di angkasa adalah sebuah 
mitos. Saya sendiri tidak sanggup mencerna logika pesawat terbang, 
walaupun ada bukti ilmiahnya dan saya lihat dengan kepala sendiri 
bahkan duduk di dalamnya. Karena ketidak sanggupan saya mencerna 
logika ini, saya akui sebagai kebodohan saya. Jadi, penolakan akan 
kisah kelahiran Sang Buddha oleh para kaum skeptis, menurut saya 
bukan kepintaran mereka, atau kecendikiaan mereka, mereka hanya
ya�K
menolak begitu saja yang hanya karena aneh dimata mereka  malah akan 
menghalangi keyakinan mereka masuk dalam manfaat besar kebenaran 
dhamma yang akan membawa berkah bagi mereka dan semua makhluk 
hidup.  Sungguh sayang sekali.

Namun sejauh orang dapat memiliki keyakinan dalam dhamma, walaupun 
menolak kisah ini, tidak lagi menjadi sebuah permasalahan. Inilah 
cara fleksibelisitas dalam ajaran Buddha. Dengan cara bijaksana sang 
Buddha mengajarkan dhamma. Pada saat tertentu beliau menonjolkan 
fenomena gaib, saat lain fenomena logika yang beliau tonjolkan untuk 
membimbing mereka sesuai dengan kecenderungan mereka.  

Bhikkhu Mettanando begitu saja mengatakan bahwa sang Buddha lahir 
secara normal. Sepintas lalu, orang yang bingung tentang kisah ini 
menjadi lega. ��oh�Kberkat perkataan bhante, saya menjadi tidak 
bingung lagi..saya akan bisa lebih maju lagi dalam latihan dhamma, 
tidak terhalang lagi dengan kisah yang membuat saya bingung�� 
Menurut anda, kata sang bhikkhu lebih bisa diterima atau kata dalam 
Sutta? 
Sesungguhnya, sang Bhikkhu sangat bijaksana. Beliau lebih menaruh 
peduli atas kebingungan batin para umat. Coba bayangkan, beliau 
adalah bhikkhu, mana mungkin beliau memalingkan mukanya dari kitab 
suci yang beliau yakini sendiri? Jadi sesungguhnya kita diajari 
menjadi bijaksana, jangan berpaku mati pada satu ungkapan atau satu 
kisah. Intinya adalah demi manfaat kemajuan batin kita. Seorang 
bhikkhu yang bijak dapat memutarkan roda dhamma demi manfaat orang, 
bukan diputarkan roda dhamma. Sesungguhnya jawaban bhikkhu 
Mettanando sudah cukup. JIka anda yakin maka carilah manfaat dhmma 
demi kemajuan anda, jika tidak silahkan mencarinya dengan cara lain. 
Jika jawaban ini bukan berasal dari sang Bhikkhu, tentu 
interpretasinya menjadi lain.
Mungkin ada yang bingung, mengapa saya yang menerima kisah yang 
dianggap mitos malah bisa menerima kesimpulan dari bhikkhu 
Mettanando?  Tanyakan saja pada beliau.




Amitabha�K 






------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Would you Help a Child in need?
It is easier than you think.
Click Here to meet a Child you can help.
http://us.click.yahoo.com/0Z9NuA/I_qJAA/i1hLAA/UlWolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya 
maupun di luar diri saya. 

Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan;
tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan;
serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh.
Kami mengikuti jalur perhatian penuh, 
latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam
agar mampu melihat hakikat segala sesuatu,
sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian.
Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, 
menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  membawa 
akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan 
tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta 
sahabat-sahabat kami.
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke