Tulisan sdr. Sumita cukup bagus dalam menyikapi polemik tentang kelahiran Siddhattha. Sy sebenarnya malas menambah komentar atas hal ini, tetapi melihat perdebatan atas hal tersebut tak kunjung selesai, mungkin ada baiknya sy memberikan sedikit tambahan info dari pengalaman sy dan teman-teman sy yang telah ketemu dengan "orang aneh", baik di negara cina maupun di myanmar.
 
Sy mulai dengan kisah yang di Cina: Kebanyakan diplomat asing yang bertugas di Beijing biasanya akan disuguhi atraksi "magic show" oleh beberapa orang hebat yang telah dijadikan sebagai "pusaka negara" oleh pemerintah cina. Salah satunya bernama Zhang Bao Sheng (bisa anda clik di internet).
 
Zhang Bao Sheng telah memperagakan hal-hal kepada banyak orang, termasuk teman dan saudara sy sendiri. Yang dia peragakan beraneka ragam, seperti
 
1. telapak tangan mengeluarkan api yang membakar jas mahal teman sy, lalu abu pakaian itu disimpan dalam plastik, dan dalam hitungan detik, jas teman sy kembali seperti sediakala.
 
2. dua hp ditukar sim-cardnya bolak balik hanya dengan cara menyentuh kedua hp tersebut.
 
3. Zhang Bao Sheng juga mengambil sebotol obat cina milik temanku yang masih terbungkus rapi dalam plastik, lalu setiap kali dia menghentakkan secara halus ke meja, satu butir keluar dari botol, seakan-akan dasar botol tersebut "bolong". Setelah mengeluarkan 9 butir dengan sembilan kali hentakkan halus, temanku membuka botol obat dan menghitung seluruh butir yang tersisa. Ternyata memang jumlah butir obat telah "terambil" atau 'tersedot keluar" sebanyak 9 butir.
 
4. Sy diberitahukan oleh seorang staf kedubes RI yang bertugas di Beijing bahwa pernah seorang Athan Jerman (kalau tidak salah ingat) skeptsi terhadap permainan magic shownya Zhang Bao Sheng. Lalu Zhang dengan kekuatan pikirannya memasukkan koin mata uang Cina ke dalam lambungnya. Setelah di X-ray, ternyata memang ada di dalam lambungnya. Akhirnya, orang Athan minta tolong dikeluarkan kembali.
 
5. "Pusaka negara" Cina lainnya adalah seorang wanita (namanya sy udah lupa). Ia terkenal dengan banyak kemampuan, seperti kemampuan pikiran memindahkan pemandangan yang kita lihat ke dalam digital kamera. Telah banyak diplomat asing, pengusaha besar (termasuk dua dari Indonesia) telah disuguhi atraksi memasukkan pemandangan yang kita lihat dengan mata dan memindahkan pemandangan tersebut ke dalam digital camera.
 
Pengalamanku di Myanmar: Sy pernah ketemu dengan seorang mistik di Gunung Bopa (kota Bagan) yang di depan mataku, menghancurkan kacamataku hingga berkeping-keping. Lalu dimasukkan ke dalam kantong plastik, dan dalam hitungan detik, utuh seperti semula. Di samping itu, batu kerikil terbelah di depan mataku tanpa menggunakan apa pun selain kekuatan pikiran. Dia suruh sy menulis apa saja di kertas, dan sy sengaja menulis nama chinese-ku. Lalu sim salabin, batu kerikil pun terukir dengan nama Chinese ku .
 
Sy tidak memandang fenomena di atas sebagai dongeng atau miracle, karena sy menyaksikan beberapa hal-hal yang aneh. Dimensi ruang dan waktu itu tidak statis. Alam semesta itu sendiri bersifat hologram, tidak padat seperti yang dibayangkan, sehingga memungkinkan orang menembus dinding, atau butir obat menembus dinding botol, dan fenomena lainnya yang dianggap sebagai dongeng atau mitos belaka.
 
Ada seorang pejabat tinggi di republik ini yang kebetulan teman baik sy, pernah menyaksikan seorang mistik yang di Yogya menembus dinding di depan matanya, isterinya, dan dua kerabatnya. Fenomana menembus dinding itu sebenarnya tercatat di banyak literatur kuno India dan Cina. Cuma selama ini, mereka dianggap sebagai dongeng.
 
Fenomena zat padat menembus zat padat lainnya memberikan implikasi bahwa zat padat sebenarnya bersifat sangat porous, tidak rapat. Di botol obat itu tidak ada orifice (opening), tapi toh butir obat bisa keluar. Demikian juga, pangeran Siddhattha bisa saja keluar waktu lahir tanpa melalui orifice (opening).
 
Mungkin Bhikkhu Mettanando harus terlebih dahulu ketemu dgn orang Myanmar atau Zhang Bao Sheng sebelum lancang berkomentar bahwa kelahiran Siddhattha melalui sisi tubuh Ratu Maya adalah tidak mungkin. Sy sarankan bahwa bhikkhu mettanando mungkin harus lebih fokus bermeditasi daripada sibuk berkhotbah ke sana ke mari.
 
Semoga bermanfaat
KM
 
Sumita <[EMAIL PROTECTED]> wrote:


Namaste,
Rekan-rekan se-Dhamma,

Membahas mengenai kelahiran Pangeran Siddhattha memang sangat
menarik. Tetapi janganlah menjadi suatu permasalahan yang besar.
Apakah kelahiran Pangeran Siddhattha adalah mitos atau sejarah,
tergantung dari mana seseorang memandang dan juga tergantung
kemampuan seseorang melihat kebenaran.

Jika kita bukanlah seseorang yang memiliki kemampuan untuk melihat
masa lampau, maka kita tidak akan bisa melihat kebenaran yang terjadi
pada masa itu dengan mata kepala sendiri. Sehingga kita tidak bisa
mengatakan secara pasti, secara benar apa yang terjadi. Di antara
kita mungkin akan mengajukan beberapa teks sutta. Hal ini pun tidak
bisa dijadikan suatu kepastian karena teks sutta tersebut juga perlu
kita pastikan terlebih dulu kebenarannya.  Dan sekali lagi kita juga
tidak tahu pasti bagaimana teks sutta itu ditulis, disusun, bahkan
ketika Y.A Ananda menguraikannya, serta apa yang teradi pada teks
tersebut selama 2500 tahun.

Kita mengatakan kelahiran Pangeran Siddhattha diselubungi dengan
mitos jika kita memandang dan membandingkan beberapa peristiwa pada
kelahiran Pangeran Siddhattha dengan peristiwa yang tidak pernah kita
lihat pada masa sekarang. Tidak pernah dilihat oleh kita pada masa
sekarang, bukan berarti tidak pernah ada. Kita tidak pernah lihat
dinosaurus di jalan, bukan berarti dinosaurus tidak pernah ada.
Keberadaan dinosaurus pada masa lampau dapat dipastikan melalui
penemuan dan penelitian yang menggunakan peralatan-peralatan modern.
Jika kita ingin memastikan kelahiran Pangeran Siddhattha kita harus
memiliki peralatan. Ada 2 peralatan yang bisa memastikan, yaitu mesin
waktu dan batin yang tercerahkan.

Jika ada mesin waktu kita bisa memastikan apakah ketika Pangeran
Siddhattha lahir disertai gempa atau tidak, apakah bunga bermekaran,
hujan panas dingin, dan lain-lain seperti yang dikisahkan dalam
Sutta. Tapi alat ini memiliki kekurangan, yaitu tidak bisa membuktikan
keberadaan dewa yang menyambut Pangeran Siddhattha. Pada masa ini
adakah alat ini ?

Alat kedua adalah batin yang tercerahkan, batin yang terlepas dari
belenggu ketidaktahuan. Dengan alat ini kita dapat mengungkap semua
pertanyaan dan membuktikannya.Pertanyaannya adakah alat ini ? Jika
ada bagaimana menjalankannya ? Dalam setiap diri manusia memiliki alat
ini, dan Jalan Mulia Berunsur Delapan cara menemukannya. Bagaimana
membuktikan Jalan ini bisa membuat alat tersebut ? Kita tidak akan
bisa membuat dan membuktikannya jika kita tidak mencoba menjalankan
Jalan Mulia Berunsur Delapan.

Singkatnya kita tidak tahu pasti, sehingga kita tidak bisa mengatakan
dengan pasti pula "ya itu mitos" atau "ya itu
sejarah.". Untuk itu kita harus mendapatkan alat-alat di atas terlebih
dulu untuk memastikannya.

Satu Sutta yang seharusnya dipegang erat oleh umat Buddha yaitu
Kalama Sutta yang mengajarkan untuk tidak pecaya begitu saja sebelum
dibuktikan kebenarannya. Sedangkan kebenaran yang terkandung dalam
Kalama Sutta sendiri sudah terbukti ampuh untuk menghilangkan
keyakinan membabibuta dan menjadikan diri kita memiliki pandangan
yang terbuka dan luas serta menghilangkan ketahayulan. Dan sikap yang
diajarkan dalam Kalama Sutta juga dilakukan oleh para scientist
modern untuk menemukan kebenaran dalam fenomena alam.

Lalu bagaimana sikap kita seharusnya terhadap kisah kelahiran
Pangeran Siddhattha ? Jika kita menganggap apa yang terjadi dalam
kelahiran Pangeran Siddhattha sebagai mitos, maka percayalah demikian,
tetapi jangan meYAKINinya sebagai mitos, karena percaya bukan berarti
meyakini. Jika kita menganggap apa yang terjadi dalam kelahiran
Pangeran Siddhattha sebagai sejarah, maka percayalah demikian, tetapi
jangan meYAKINinya sebagai sejarah, karena percaya berbeda dengan
YAKIN. Sikap lainnya adalah mengesampingkan kisah kelahiran Pangeran
Siddhattha, karena benar atau tidak, mitos atau sejarah, kisah
kelahiran Pangeran Siddhattha tidak ada pengaruhnya sama sekali
terhadap Ajaran Inti Guru Buddha.

Demikian pandangan saya.









Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya.

Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan;
tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan;
serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh.
Kami mengikuti jalur perhatian penuh,
latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam
agar mampu melihat hakikat segala sesuatu,
sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian.
Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami.



Do you Yahoo!?
Yahoo! Small Business - Try our new resources site!

Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya.

Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan;
tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan;
serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh.
Kami mengikuti jalur perhatian penuh,
latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam
agar mampu melihat hakikat segala sesuatu,
sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian.
Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami.




Yahoo! Groups Links

Kirim email ke