Memang ironis ya bro... kuncinya 'keperdulian', apakah
memang karena ada
yang salah dalam agama buddha?
***Bukan ajaran agamanya, tapi yang membawa / memimpin.
 
Contoh:
Orang Chinese awam tidak memiliki kebiasaan mendengarkan dan berargumentasi dengan logis dan sistematis. Kebanyakan teriak-2, dengan ucapan kasar dalam berargumentasi.  Ini kontras dengan masyarakat Chinese terpelajar jaman dahulu di kerajaan, yang tutur bahasanya halus dan mampu menjelaskan.
Pemerintah China menyadari bahwa kemajuan ekonomi tidak cukup, tapi juga pendidikan, terutama dalam menghadapi masyrakat Barat yang jenjang pendidikannya lebih maju. Karena itu, sejak kecil, anak2 Chinese mainland sekarang diajarkan tata cara berargumentasi: dengarkan orang lain sampai selesai ngomong, tangkap makna dan konteksnya, hormatilah individu, argue the what not the who, jelaskan secara deskritif dan sistematis, bukan dengan emosi, bertanyalah jika tidak jelas, dst dst....
Jadi bukan Chinese itu ngomongannya kurang ajar, tapi karena leadershipnya BELUM merealisasikan visi untuk mewujudkan masyarakat Chinese yang terpelajar dan tutur bahasa dengan baik dalam beradu pendapat. Jika program komunikasi ini sukses, bisa-2 kita lihat masyarakat barat lebih "kampungan" dalam berargumentasi dengan generasi muda Chinese kelak.
 
Buddha sendiri tidak pernah berhenti "peduli", selama 45 tahun mempedulikan nasib orang lain.  Tidur sedikit, pagi-2 sudah melakukan riset siapa yang nasibnya bisa ditolong, dibabarin dhamma. Ajarannya pun begitu. Bahwa perkembangannya di belahan bumi ini khususnya, jadi begini cuek, itu .... ya karena orang cuek dominan atas orang yang peduli. Jika satu per satu orang berhasil meningkatkan kepedulian, maka si pemimpin akan lebih mudah untuk mewujudkan visinya (seperti kelahiran Kristen atas ortodoksi Katholik pada jaman itu). Makin banyak umat yang cuek, makin besar pengorbanan dan usaha si pemimpin, jika bukan gagal / dianggap gila.
=====
 
Apakah karena kurangnya keperdulian disebabakan oleh :
Doktrin Sanghanussati
Doktrin Vinaya sebagai kedok
Doktrin Kesucian
Doktrin Ehipasiko
Doktrin kalamasutta
Dan doktrin lain.....

 
*** Saya sendiri tidak tahu apa itu diatas. tapi: 
Doktrin gereja Katholik, pastor tidak kawin. Banyak orang gereja yang pada waktu itu merasa wah ini kok ngga uptodate lagi, dst dst... (jaman Martin Luther King) jadilah lahir Kristen, pendeta boleh kawin, biar tahu realita rumah tangga / masyasrakat agar mampu membabarkan injil secara lebih efektif, dst dst. Karena masyarakatnya sudah bisa berpikir, maka Kristen pun berkembang pesat. Doktrin apapun, tergantung pola pikir umatnya. Doktrin jangan disalahkan, salahkan (pikiran) manusianya yang mau dikungkung oleh doktrin. Kristen tidak mau dikungkung, jadilah dia Kristen.
 
Komunis itu doktrinnya, ya jelas anti kapitalis. Deng Xiao Ping, bilang tak penting tikus putih apa hitam, yang penting bisa tangkap tikus. Becoming rich is glorius ! Jadilah China, negara "komunis" sekarang dengan banyak atribut kapitalis disana sini, sampai China bisa jadi besar.
 
===== 

Saya setuju, jika teman Teru berkata kebanyakan umat
buddha mengucapkan
slogan "semoga semua makhluk berbahagia" hanyalah lips
service...  atau
mungkin saya yang salah seperti bro palm, karena umat2
yg hadir di vihara
rata2 bodhisatva dan arahat yg tidak perlu lagi
basa-basi.
 
**** Yang begitu itu kebanyakan umat awam yang kulturnya didominasi oleh Tionghoa totok, yang pola pikirnya masih eksklusif (tidak peduli), bahkan dengan sesama Tionghoa sendiri, apalagi dengan umat dari golongan lain. Ini bukan karena ajaran. Saya pernah bawa seorang teman (new member, sayang tidak ada program "member get member" kaya memenangkan jiwanya domba yang hilang gitu) ke suatu seminar Buddhist, saya kenalkan ke teman-2 Buddhist lain. Ya begitulah, teman-2 Buddhist lain biarkan teman saya itu sendiri, maunya hallo-2 sama saya aja. Padahal maksud saya supaya teman saya itu tidak sendiri/kesepian. Bagaimana caranya supaya umat-2 awam ini jadi ramah / peduli ? Saya sendiri bisa "peduli" setelah belajar dari lingkungan gereja, juga baksos.  Kalau saya ke gereja, orang2 itu menyambut, sedemikian hingga psikologi saya mengatakan bahwa saya diterima di lingkungan itu. (Kalau perlu, umat Buddhist bisa ajak sesama teman Buddhist ke gereja untuk RASAKAN bedanya dipedulikan / diterima oleh sesama manusia. Ini sudah saya lontarkan ke teman dekat yang susah menangkap omongan saya, tinggal prakteknya). Jangan kaget kalau mayoritas akan kekeuh atas kecuekan ini, sebab selama 32 tahun cuekisme sudah mendominasi lingkungan dan dirinya.
 
Ini bukan ajaran Buddhist, tapi penyakit tidak peduli masyarakat yang sikap mentalnya dikebiri selama 32 tahun.
===== 
 
*** Saya memilih Buddhism karena keindahan ajarannya, bukan karena program agama (kontribusi sosial) / pola pikir teman-2 di lingkungan Buddhist.  

=====


Jika memang lembaga buddhistm mau punah? Biarlah....
lebih cepet lebih baik,
buat apa mempertahankan lembaga yang tidak solid yang
isinya orang2 egoist
yang mementingkan pecapaian kesucian untuk dirinya.

Ibarat baju yang sudah usang ... tambal sulam saja,
lebih baik buat yang
baru ... yang penting isinya.

*** Concern yang sama juga melanda sekte-2 Kristen, masing-2 punya selera sendiri-2.
Toh "pasar" akan menilai sendiri, yang boring, yang memble, yang tidak mampu menularkan kebajikan, yang tidak mampu merangsang pengembangan batin, akan sepi dengan sendirinya. Dan sebaliknya.
 
PS
 
 
 
 
 
 


Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya.

Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan;
tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan;
serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh.
Kami mengikuti jalur perhatian penuh,
latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam
agar mampu melihat hakikat segala sesuatu,
sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian.
Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami.




Yahoo! Groups Links

Kirim email ke