Dear sdr Sumita,
 
Pertama-tama, terima kasih atas tanggapan anda terhadap email sy.
 
Sy rasa anda salah paham terhadap intention sy dalam menggunakan istilah "juru selamat" dalam Buddhisme. Sy tentu paham betul konsep juru selamat dalam agama kristen serta mitos kejatuhan manusia ke dalam dosa, menurut versi kristen, sehingga memerlukan suatu tindakan penyelamatan.
 
Sy hanya ingin pembaca membuang semua konsep juru selamat yang selama ini diyakini oleh umat Kristiani. Bila seorang juru selamat hanya berkemampuan "so-so" saja, tentu Buddha Gautama yang berkualitas "superior" lebih berhak menyandang gelar tersebut. Anda mungkin telah miss point yang ini. Seperti yang telah sy tulis, pengertian juru selamat juga rancu, harus disepakati dulu apa arti dari "Juru Selamat" tersebut.
 
Memang pengertian Juru Selamat yang ada dalam kekristenan, dlm pengertian yang kaku dan sempit, tidak ada dalam buddhisme. Tetapi pengertian juru selamat yang lebih "mundane" bisa kita temukan dalam kehidupan sehari-hari. Dan bila pengertian juru selamat yang lebih mundane itu kita gunakan, maka Buddha boleh dikatakan sebagai "juru selamat" tertinggi (perhatikan tanda kutip).
 
Sy rasa anda harus menanggapi email saya dalam konteks menggunakan konsep kristiani itu sendiri untuk menunjukkan kekurangannya. Jadi penggunaan istilah juru selamat dalam buddhisme hanya terbatas dalam pembahasan kita dalam menanggapi konsep juru selamat ala Kristen. Sebagai contoh, bila seseorang yang usahanya lagi macet karena kekurangan dana, dan bila disuntik dana segar akan bangkit lagi usahanya, maka orang yang memberi bantuan dana segar boleh dikatakan telah menyelamatkan usaha orang yang kekurangan dana, kendati penerima dana masih harus bekerja keras dalam MEMANFAATKAN dana segar tersebut. Nah, dalam konteks inilah, sy katakan bahwa pemberi bantuan boleh dikatakan menjadi penyelamat. Apakah tidak boleh dikatakan demikian?
 
Tentu pada akhirnya, keselamatan terletak pada kita sendiri. Tapi, tolong jangan terlalu kaku dalam menanggapi istilah atau konsep apa pun.
 
Semoga tanggapan sy tak menyinggung perasaan anda.
 
Thks
KM

Sumita <[EMAIL PROTECTED]> wrote:


Namaste,

Maaf, saya kurang sependapat jika kita harus menyamakan konsep Juru
Selamat dalam Kristiani dengan ajaran keselamatan dalam Buddhism. Kita
tidak bisa ikut-ikutan umat Kristiani hanya karena mereka berkesan
"berani" mengklaim Yesus sebagai  Juru selamat. Kita harus meneliti
apakah sikap umat Kristiani tersebut adalah sebuah keberanian atau
justru kebodohan karena kepercayaan yang membuta. Mari kita bahas.

Pertama. Dalam Kristiani , iman (percaya tanpa bukti) adalah yang
diutamakan. Semua orang yang masuk Kristiani harus diawali dengan iman
(percaya tanpa bukti) bahwa Allah adalah Tuhan dan Yesus adalah Allah
yang Hidup. Dan lagi mereka mengimani (percaya tanpa bukti) Yesus
telah menebus dan menanggung  dosa (kesalahan) manusia dengan
kematiannya, dengan hanya mengimani Yesus maka seseorang akan
diselamatkan. Alasan yang terakhir inilah maka Yesus diklaim sebagai
juru selamat. Pertanyaannya apakah benar Yesus dapat  menebus dan
menanggung dosa manusia ? jawabannya ada dalam perumpamaan ini :

Kita merasa lapar dan di hadapan kita ada sepiring penuh nasi, tetapi
kemudian seseorang datang dan  berkata kepada kita, " kau lapar, saya
akan menolongmu dengan memakan nasi dihadapanmu agar kamu tidak lapar
lagi dan tidak juga kekenyangan." Bagaimana orang itu bisa
menghilangkan rasa lapar kita dengan cara demikian ? Satu-satunya cara
adalah kita sendiri yang memakan nasi tersebut dan kita sendiri yang
menimbang apakah perut kita sudah kenyang atau belum. Begitu juga
perbuatan buruk yang telah kita lakukan tidak bisa dilimpahkan kepada
orang lain atau ditanggung orang lain.

Dari perumpamaan di atas jelas bahwa klaim umat Kristiani terhadap
Yesus sebagai juru selamat didasarkan pemikiran yang tidak masuk akal
dimana perbuatan buruk (sin) seseorang dapat ditebus dan ditanggung
oleh pihak lain. Selain itu bagaimana mungkin seseorang mengimani
sesuatu jika pribadi orang tersebut menolak untuk mengimani ? Jadi
mengimani pun memerlukan keputusan dalam pikiran seseorang, dan ini
hanya bisa dilakukan oleh pribadi orang itu. Bahkan seseorang yang
terkena bujuk rayu sekalipun tidak lain adalah keputusan pribadinya
sendiri untuk mengikuti bujuk rayu tersebut.

Dari perumpamaan di atas juga jelas bahwa hanya diri kita sendirilah
yang bisa menyelamatkan diri kita. Kita bisa mendengarkan Dhamma
karena keputusan kita sendiri untuk mendengarkannya. Kita menghormati
Guru Buddha karena keputusan kita sendiri untuk menghormatinya. Oleh
karena semuanya diputuskan oleh pikiran kita sendiri maka Guru Buddha
bersabda : "Engkau sendirilah yang harus berusaha, para Tathagata
hanya menunjukkan Jalan. Mereka yang tekun bersamadhi dan memasuki
Jalan ini akan terbebas dari belenggu Mara." (Dhammapada 276).

Menurut KBBI, egois berarti orang yang selalu mementingkan diri
sendiri. Pernyataan bahwa diri kitalah yang dapat menyelamatkan diri
kita sendiri bukanlah pernyataan yang egois tetapi sebuah realita,
karena tidak ada unsur mementingkan diri sendiri. Akan menjadi sebuah
keegoisan jika ditambahkan dengan pikiran "..semuanya demi diriku",
dan akan menjadi suatu kesombongan jika ditambahkan dengan pikiran
"�aku tidak memerlukan orang lain". Jadi perlu kita bedakan antara
pernyataan realita, egois, dan sombong.

Dari penjelasan di atas, saya pikir, kita tidak perlu meniru konsep
keselamatan agama lain dan memaksakan gelar "Juru Selamat" kepada Guru
Buddha yang justru akan merendahkan dan tidak menghiraukan apa yang
Guru Buddha ajarkan yaitu diri pribadi sebagai penyelamat. Dan
bukankah dengan tidak menghiraukan nasihat Guru Buddha berarti kita
telah merendahkan Guru Buddha sendiri ? Dan saya pikir, gelar-gelar
untuk memberikan penghargaan tertinggi kepada Guru Buddha sudah banyak
disebutkan, seperti Bhagava (Yang Patut Dimuliakan), Devamanussanam
(Guru dewa dan manusia), Sammasambuddha, Vijjacaranasampanno (Sempurna
Pengetahuannya serta Tindak tandukNya), Sugato Lokavidu (Pengenal
Segenap Alam),  Anuttaro Purisadammasarathi (Pembimbing manusia yang
tiada taranya),(CMIIW) ... seperti yang ada dalam Buddhanussati.
Gelar-gelar ini justru jauh lebih tinggi dari gelar "Juru Selamat"
karena seorang Juru Selamat belum tentu sempurna pengetahuan serta
tindak tanduknya.


Demikian pendapat saya.









Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya.

Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan;
tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan;
serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh.
Kami mengikuti jalur perhatian penuh,
latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam
agar mampu melihat hakikat segala sesuatu,
sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian.
Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami.



Do you Yahoo!?
Yahoo! Small Business - Try our new resources site!

Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya.

Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan;
tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan;
serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh.
Kami mengikuti jalur perhatian penuh,
latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam
agar mampu melihat hakikat segala sesuatu,
sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian.
Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami.




Yahoo! Groups Links

Kirim email ke