Kemiskinan Itu Nyaris Memisahkan Sumiati dan Bayinya
SUMIATI tidak lagi kuasa membendung air matanya ketika anak sulungnya, Gusniawati Sahada, kembali lagi ke pelukannya. Meskipun tubuhnya didera rasa lelah dan wajahnya basah oleh air mata, Sumiati tidak mampu menyembunyikan kebahagiannya. Putri sulungnya, buah perkawinannya dengan Khoirul Huda telah kembali ke dekapannya. "Saya bahagia, saya bahagia," tutur Sumiati lirih.
SUMIATI mengaku hanya sempat berkumpul dengan Gusniawati selama lima hari setelah anak itu dilahirkannya 17 Februari lalu. Ia terpaksa berpisah dengan anaknya karena ia harus kembali bekerja di Singapura. Oleh karena itu Sumiati menitipkan anaknya kepada pengelola tempat penampungan selama ia tinggal.
"Rencananya setelah kontrak saya selesai saya akan mengambilnya kembali," kata Sumiati. Namun sayang, harapannya untuk kembali bekerja di Singapura kandas. Selain itu, ia tidak lagi tahu di mana putri sulungnya itu berada.
Ia khawatir akan nasib Gusniawati, sebab sebelumnya ada seseorang yang menginginkan anak itu dengan imbalan sebesar Rp 10 juta. Apalagi ia sempat dipaksa untuk menandatangani penyerahan Gusniawati untuk diasuh.
"Apalagi ibu sempat mengatakan, meskipun gaji saya selama dua tahun bekerja di Singapura dikumpulkan tetap tidak akan cukup untuk menebus Gusniawati," ungkap Sumiati yang asal Tuban, Jawa Timur, itu.
Tak hanya itu, ia dibayang-bayangi utang yang dibebankan di pundaknya. Biaya pengirimannya ke Singapura ditambah dengan biaya perawatan dan persalinannya harus ia lunasi. Padahal, sisa tabungan yang dimilikinya tinggal Rp 500.000.
AWAL tahun lalu Sumiati sebenarnya telah bekerja di Singapura. Namun, belum beberapa lama ia bekerja di negara itu, Sumiati dikirim pulang oleh majikannya karena diketahui telah hamil dua bulan. Suaminya, Khoirul Huda, saat itu telah bekerja di Malaysia.
Sumiati kemudian kembali lagi ke tempat ia dulu ditampung. Tempat penampungan yang dikelola oleh Sherleysa Manadi itu berada di bilangan Batu Delapan yang terletak di belakang gedung pembakaran jenazah. Di tempat penampungan itulah Sumiati memelihara kandungannya hingga akhirnya pada tanggal 17 Februari lalu ia melahirkan putri sulungnya yang kemudian diberi nama Gusniawati Suhada.
Namun, belum tuntas gadis kecil itu menikmati hangatnya kasih sayang ibunya, ia harus dipisahkan dari perempuan yang melahirkan dan menyusuinya itu. Kemiskinan fisik terpaksa memisahkan mereka. Bahkan kemiskinan batin dari orang-orang yang melihat itu sebagai keuntungan nyaris membuat ibu-anak itu tak lagi saling bertemu.
Bahkan, Gusniawati nyaris menjadi korban. Entah apa pun istilahnya, Gusniawati nyaris kehilangan belai lembut perempuan yang telah bertaruh nyawa melahirkannya, karena sang ibu tak mampu menebusnya.
"Saya tak pernah menyerahkan anak ini untuk diambil apalagi untuk dijual. Saya hanya menitipkan anak ini untuk diasuh dan setelah kontrak saya selesai saya akan mengambilnya kembali," tuturnya.
Perjanjian penyerahan anak yang ditandatanganinya, tutur Sumiati, dilakukan dalam keadaan terpaksa. Ia lakukan itu karena berharap dapat kembali bekerja di Singapura dan memperoleh uang untuk dapat menghidupi anaknya.
Sumiati mengaku terpaksa menandatangani perjanjian penyerahan itu. Itu tentu dapat dipahami karena seorang ibu tak akan pernah mau dipisahkan dengan anaknya. Sekali lagi, kemiskinan fisik dan juga kemiskinan batin nyaris memisahkan dan memaksa memutuskan ikatan itu.
Tak hanya itu, nasib Sumiati terkatung-katung. Hingga pertengahan April kabar pengirimannya ke Singapura tak kunjung tiba. Gejolak batin dan kabar keberangkatan yang tidak menentu membuat Sumiati akhirnya memutuskan untuk melarikan diri.
Bersama dengan 12 temannya yang lain mereka kemudian melarikan diri dari tempat penampungan itu dan bersembunyi di hutan di kawasan Batu Sepuluh. Hingga pada akhirnya, Minggu (17/4) malam, dengan bantuan seorang sopir angkutan kota mereka diantar ke Polres Tanjung Pinang, Kepulauan Riau. Di tengah pemeriksaan yang dilakukan polisi itulah Sumiati menceritakan kisahnya.
Polisi kemudian mencari keberadaan Gusniawati Suhada. Senin siang polisi menemukan Gusniawati Suhada, namun tidak hanya Gusniawati yang ditemukan tetapi juga Sekar (6,5 bulan).
Namun sayang, hingga sekarang orangtua Sekar belum ditemukan. Sedangkan Sherleysa Manadi segera diperiksa pihak kepolisian. Ia harus memberi keterangan tentang apa yang sebenarnya terjadi.
Pada saat yang bersamaan, para calon tenaga kerja wanita yang pernah ditampungnya dan kemudian melarikan diri itu di sudut kantor polisi berdoa. Mereka bersimpuh, larut dalam keheningan, menyembah, mereka berdoa memohon rahmat Allah agar mereka diberi kekuatan batin dan ketabahan. (B Josie Susilo Hardianto)
__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com
Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya.
Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan;
tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan;
serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh.
Kami mengikuti jalur perhatian penuh,
latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam
agar mampu melihat hakikat segala sesuatu,
sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian.
Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari, membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami.
Yahoo! Groups Links
http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/
[EMAIL PROTECTED]
