Buat Rekan Milis termasuk Ko Huang, Sebagai perbandingan.
Saya kalau baca tulisan Ko Huang, merasa terhibur, menghilangkan stress. Jujur. Saya nilai itu sekedar ekspresi keakraban doang. Saling ledek, goda antar teman akrab. Baca tulisannya, ingat kesenian Lenong. Ha ha ha Saya pikir gaya bahasanya adalah satu budaya yang ada. Seperti kalau kita nonton lenong betawi. Ceplas ceplos penuh keakraban. Padahal kata2 yang dipakai sering nyelekit, menusuk, blak2an. Karena itu satu budaya, yah mestinya kita terima saja, sebagai salah satu seni budaya Indonesia, paling tidak kita maklumi, kalau gaya bahasa itu tidak kita cocoki. Kita boleh dan PATUT mengingatkan orang lain, TAPI JANGAN MEMINTA ATAU MENGHARAP APALAGI MENUNTUT ORANG LAIN BERUBAH, kalau diri sendiri tidak mau KECEWA, SAKIT HATI, JENGKEL, MARAH, DLSB. Lha, mau merubah sifat buruk sendiri aja susahnya setengah mampus... Jadi, ingatkan, KASIH ARGUMENTASI bahwa itu keliru, salah, jelek. Cukup. Jangan terpancing, kita ikutan mengeluarkan emosi, caci maki JUGA. Selanjutnya itu urusan si dia. Jangan kitanya yang malah jadi sewot, sakit hati, atau ngumpulin dan ngeluarin 'sampah busuk'. Saya jadi ingat, dengan komunitas saya di dunia nyata. Ada teman yg memang hebat pengabdiannya, pengorbanannya. Cuman banyak sudah rekan yang kabur dari kegiatan. Ia selalu berprinsip, kalau ada rekan yang aneh, malas, salah langsung di depan umum di pojokkan, dimarahin. Ia jagoan kungfu, memang sih. Dalam hati saya merenung, "Apakah vihara yang kita bangun ini diperuntukkan buat para ARAHAT, Umat Buddha yang sempurna-sempurna, baik-baik atau buat manusia brengsek, malas, amburadul, serakah, pendendam, stress, bodoh?" Demikian juga milis ini, apakah hanya buat mereka yang SUDAH BAIK-BAIK SAJA, ALIM2 AJA, Sotapana, Arahat, ahli meditator pokoknya yang baik2 saja. Atau buat yang masih belajar, yang serakah, yang pendendam, pencaci maki? Kalau memang lebih ditujukan buat yang belum baik, maka rekan Buddhis yang masih belum mampu menjadi baik itu, apakah ia kita golongkan sebagai MUSUH, LAWAN yang mesti kita tendang, usir agar kita nyaman di milis ini? Atau kita anggap sebagai teman seperjuangan dalam belajar menjadi baik? Kalau kita anggap sebagai teman seperjuangan, bagaimanakah sikap yang sepatutnya? Kita mau meneladani caranya sang Buddha atau mau neladani caranya siapa? Saya reply kasetnya: Kita boleh dan PATUT mengingatkan orang lain disertai ARGUMENTASI, TAPI JANGAN MEMINTA ATAU MENGHARAP APALAGI MENUNTUT ORANG LAIN BERUBAH, kalau diri sendiri tidak mau KECEWA, SAKIT HATI, JENGKEL, MARAH, DLSB. Buat Ko Huang, Kita menulis kan TUJUANNYA buat dibaca banyak orang. Dan yang membaca menangkap sesuai dengan apa yang kita maksud. Kalau tulisan kita tidak dibaca, atau diterima secara salah oleh pembaca, kan kita yang rugi sendiri. Intinya, pertunjukan Lenong Anda, kurang disenangi oleh miliser sini. Mungkin kesenian lain, bisa Anda tampilkan. Ha ha ha NB. Soal tempat2 'XXX', Anda ngga takut ditahu istri, anak Anda nantinya? Arsip milis ini bisa bertahan lama, lho. Semoga bisa membuat kita tenang, memaklumi siapapun. Selanjutnya, terserah Anda semua...... Salam metta, Wijaya NB. Buat Rekan Widiawati, tulisan di atas saya buat bukan khusus buat Anda. harap maklum, agar tidak salah paham. ### Please luangkan waktu Anda, membuang bagian email yang tidak perlu dikirim balik. Save our band width ### ----- Original Message ----- From: "widiawati padmatjandra" <[EMAIL PROTECTED]> To: <[email protected]> Sent: Sunday, May 01, 2005 12:40 AM Subject: Re: [Dharmajala] Re: Kelahiran Buddha - mitos atau manipulasi? > Kalau kita berdebat daripada ini mending itu,daripada itu mending > ini,selamanya kita akan membenarkan gaya bahasa kita dalam penyampaian > pandangan. > ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Has someone you know been affected by illness or disease? Network for Good is THE place to support health awareness efforts! http://us.click.yahoo.com/UwRTUD/UOnJAA/i1hLAA/UlWolB/TM --------------------------------------------------------------------~-> Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya. Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh. Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian. Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari, membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami. Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
