Bro. Wijaya dan Bro. Chingik, Diskusi yg menarik. Anda berdua sama-sama hebat. Tetapi saya tetap tidak melekat dgn pandangan salah satu dari anda, terpengaruh sih pasti. Saya juga tidak melekat pada pandangan Bhante Mettanando, terpengaruh sih pasti.
Saya cuma ingin berbagi sedikit, memberi kesan terhadap ceramah Bhante Mettanando di Ekayana Sabtu yg lalu. 1. Beliau menekankan Mangala Sutta sebagai khotbah orisinil Buddha. 2. Beliau melihat Mangala Sutta mempersatukan pandangan Theravada dan Mahayana. 3. Beliau walau dulunya juga tidak setuju (semangat membela status quo!), belakangan menilai riset tentang penyimpangan praktik Theravada terhadap semangat murni ajaran Buddha itu ternyata ada benarnya. Penyimpangan itu ada 2 (di samping Theravada yang "klenik dan perdukunan") : 1. Oleh kelompok yg kalau ada masalah sosial, lalu memilih hanya merenungkan anicca, dukkha, dan anatta. Masalah lalu dianggap selesai. 2. Oleh kelompok yg hanya berpikir bahwa setiap orang membawa kamma-nya sendiri-sendiri. Masalah juga kemudian dianggap selesai. Pantas saja umat Buddha cuek! Mungkin ada yg mau menambahkan/mengoreksi? Jangan-jangan saya yg salah tangkap isi ceramah tersebut. Salam, Wulandari ----- Original Message ----- From: "Wijaya" <[EMAIL PROTECTED]> To: <[email protected]> Sent: Sunday, May 01, 2005 2:13 PM Subject: Re: [Dharmajala] Re: Bagaimana Buddha Wafat (Habis) > Sekuntum teratai buat Anda, para calon Buddha. (Artinya, Anda adalah calon > Buddha, bukan calon cacing. So.... berusahalah, bersikaplah, berpikirlah > untuk bisa menjadi Buddha) > > Tulisan dan semangat yang bagus sekali. > Saya sekedar memberi satu sudut pandang, karena saya hanya baca sepintas > topik ini. > > > Kita menjadi Buddhis untuk menjadi BEBAS. Bebas dari APAPUN! > > Ingat kisah Hui Neng? Devadatta? Apakah mereka--yang menjadi antagonis-- > bukan bhikkhu atau bhiksu? > > Kenapa gurunya Hui Neng nyuruh Hui Neng sembunyi? Sejahat itukah murid > utama > gurunya? Padahal itu adalah murid utama dalam perguruan tersebut! Kalau > murid pemula yang diduga akan membunuh Hui Neng, yah masih logis. Lha, ini > murid utamanya. (Maaf, buat rekan Mahayana. kebetulan kisah ini yang > terlintas. Semoga tidak ada yang menarik ke arah lain, topik ini. Maaf.) > > Devadatta, adalah biku yang diasuh Sang Buddha langsung, toh mau membunuh > Sang Buddha sendiri. Bandingkan dengan merekayasa Kitab Suci. Walaupun > mungkin ada rekayasa, saya pikir itu mungkin untuk memperkuat saddha. > Istilahnya DIBUMBUI agar Umat lebih semangat menjalankan ajarNya. Lebih > mengagumi Sang Buddha. > > Saingan Hui Neng, Devadatta Itu fakta, apakah itu mencoreng Gurunya Hui > Neng > dan Sang Buddha? Saya rasa TIDAK. Apa itu harus disembunyikan? Juga tidak. > > Kalau merasa takut, melemahkan keyakinan Umat Buddha, --maaf, hanya > sebagai > perbandingan--memangnya di Kitab suci lain, murid agama lain semua mulus > tanpa cacat? > > > Rekan chingik2003, nulis: > Namun seandainya saat memberi > interpretasi pada peristiwa dalam kitab suci terdapat cara > interpretasi yang bernada discredit, skeptis, atau sejenisnya maka > seluruh rangkaian peristiwa, background bahkan ungkapan2 bijaknya > menjadi luluh lantak. Orang tidak lagi memandangnya sebagai sebuah > kitab yang inspiratif. Sekali ada nada miring dalam interpretasi, > maka semua ungkapan dalam kitab itu tidak lagi dipandang secara > istimewa. Ibarat seorang suci yang kita kultuskan, sekali terdengar > ada nada miring dalam dirinya, segala ungkapan bijaknya tidak kita > pandang lagi. > ---------------- > Wijaya: > Tidak demikian. > Tulisan Bhante Mettanando, ataupun tulisan yang bisa menunjukkan dengan > telak > kekeliruan atau kontradiksi dalam Tipitaka, bisa membuka dan mendorong > kita > menjadi tersadar, ingat pada nasehat di Kalama Sutta, agar kita JANGAN > ASAL > GLEK, KARENA ITU TERTULIS DI TIPITAKA, atau DIKATAKAN OLEH BHIKKHU. Lebih > jauh, ini mendorong kita untuk EHIPASSIKO, membuktikan SENDIRI bagian mana > yang benar dan bagian mana yang keliru. kata lainnya adalah PRAKTEK. Kalau > semua isi Tipitaka adalah sempurna, tanpa cacat sedikitpun, itu membuat > kita > malas membuktikan lagi. > > > Rekan chingik2003, nulis: > Jika seorang praktisi sejati seperti sang Buddha > tidak sanggup menahan rasa sakit, tidak tahu ada makanan yang > beliau makan akan membuatnya kesakitan, dll maka tentu sia sia saja > ajaran yang beliau berikan selama 40 tahun lebih dan terkesan > mubazir. Lebih relevan jika mengatakan beliau terserang sakit namun > dengan pikiran sadar beliau menerimanya dengan perhatian penuh, > dimana beliau sanggup menghadapi rasa sakit secara berbeda > dibandingkan dengan orang awam yang tidak pernah berlatih. Tetapi > sepanjang tulisan bhante Mettanando, malah memberi kesan sang Buddha > bagaikan orang tua yang sudah tidak mampu lagi menahan rasa sakit. > Dengan deskripsi seperti itu maka timbul gambaran lain bahwa beliau > sudah tidak mampu memfokuskan pikirannya pada perhatian penuh > seperti yang dilakukan para meditator. Bukankah sangat bertolak > belakang dengan ajaran Nya sendiri dimana perhatian penuh adalah > sarana berlatih yang sangat penting bagi seorang praktisi? Bagaimana > seseorang dengan pikiran kacau dapat memasuki Nibbana? Bahkan > pembuat kebajikan yang menjelang kematian saja sangat dianjurkan > untuk mengembangkan pikiran positif agar tidak jatuh dalam alam > rendah. > ---------------- > Wijaya: > Saya sendiri belum sempat baca tulisan tersebut. > Ajahn Brahm aja sanggup bebas dari sakit gigi yang begitu menyakitkan, > jadi > logikanya, sang Buddha tentu mestinya lebih-lebih dari mampu. > > Cuma, apa2 yang baik, logis bagi kita BELUM TENTU BAIK DAN LOGIS bagi > seorang Buddha. > > Coba, Sanggupkah Sang Buddha mengetahui ajaranNya nantinya bakal membuat > rekan Rekan chingik2003 sewot gara2 tulisan Bhante Mettanando? Kata > lainnya, > sanggupkah Sang Buddha TAHU, Tipitaka bakal punya tandingan Tripitaka, > akan > ada Mahayana, Theravada? Kalau TAHU, kenapa beliau tidak melakukan > ANTISIPASI? > Merekam pada metal yang anti aus semua ajaranNya, misalnya. Mengapa Sang > Buddha tidak mengANTISIPASI hal ini? Bila diantisipasi, tentu kita sesama > Buddhis tak bakal ribut karena sekte atau soal penyebab kematianNya, dan > waktu kita bisa dipakai untuk fokus membincangkan GIMANA CARA MELATIH > MENGURANGI LOBHA DOSA MOHA? > > > POINT saya yang awam, jadi silahkan kritisi: > Jangan melekat pada apapun. Termasuk Tipitaka. > Nibbana dicapai lewat meditasi. Bukan OLAH PIKIRAN ARGUMENTASI. > jadi setelah mencapai Nibbana, pengalaman itu DITERJEMAHKAN secara > rasional > agar bisa kita mengerti. Jadi sebaiknya kita jangan terlalu kaku memegang > 'TERJEMAHAN' tersebut. Karena itu cuman 'TELUNJUK', bukan 'REMBULAN'. > > Jangan terlalu mengagungkan logika, rasionalitas. Itu bisa menyesatkan. > Membawa kita KEASYIKAN BERARGUMENTASI, lupa meditasi, sulit meditasi > karena > ingat terus dengan topik panas ini. > Vipassana justru MENGHENTIKAN PIKIRAN! Ketika pikiran berhentilah, NYANA > ITU > MUNCUL SENDIRI. Katanya... sih..... he he he > > Sebagian isi Tipitaka yang terbukti keliru atau hasil rekayasa, tidak bisa > dipakai untuk menyimpulkan bahwa SEMUA ISI Tipitaka juga keliru atau > rekayasa. Apalagi itu sekedar SEJARAH bukan pada bagian AJARAN-Nya. > > Buat rekan Chingik, Ajahn Chah bilang,--kurang lebih--"Dhamma Sang Buddha > bukan ada di buku, tapi amati saja pikiranmu, maka Anda akan melihat > Dhamma > sejati." > > Segala sesuatu ada hikmahnya, ambil yang baik, buang atau abaikan yang > kita > nilai jelek. Semoga Anda tidak terlalu bingung lagi dengan tulisan beliau. > > Salam metta, > Wijaya > > ----- Original Message ----- > From: "chingik2003" <[EMAIL PROTECTED]> > To: <[email protected]> > Sent: Saturday, April 30, 2005 5:24 PM > Subject: [Dharmajala] Re: Bagaimana Buddha Wafat (Habis) > > > > Bagi mereka yang setuju dengan tulisan bhante Mettanando, maka > syukurlah mereka tetap yakin dengan dhamma dan akan terus maju lagi. > Bagi mereka yang menjadi ragu dan bingung, maka semoga tulisan ini > dapat menguatkan mereka lagi. > [delete] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> What would our lives be like without music, dance, and theater? Donate or volunteer in the arts today at Network for Good! http://us.click.yahoo.com/WwRTUD/SOnJAA/i1hLAA/UlWolB/TM --------------------------------------------------------------------~-> Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya. Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh. Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian. Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari, membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami. Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
