Rekan Morpheus,
 
Hm... rasanya ada yang terlupakan dalam email yang saya baru kirim.
About meditation, pada diri saya. Pada Rekan lain saya nggak tahu.
 
Rasanya sudah berusaha pontang panting, sampai ikut  vipassana.
Kalau di penyepian, bisa semangat meditasi. Relatif mudah. Walau MERASA tidak dapat kemajuan.
Tapi di rumah, sulitnya minta ampuuun. Sangat malas, duduk baru 2 menit, rasanya mau bangkit terus. Akhirnya lebih sering TIDAK MEMULAI meditasi. Alias MENUNDA.
 
Saya pernah baca--kurang lebih, maaf kalau keliru ingat--, Jk pernah nulis,"Hidup sudah penuh masalah, jangan menambah masalah karena tidak mampu bermeditasi."
 
Memang, ketidak mampuan bermeditasi, justru jadi problem, menambah masalah. Mungkin Anda bisa membantu bagaimana agar bisa tekun dan bersemangat dalam meditasi. Dan apa maksud JK sebenarnya. (Ketika kita terjatuh, lalu berusaha meraih akar-akar pohon yang dapat kita raih, apakah perlu lagi kita meneliti, memilih-milih yang mana akar bermerk Buddha, yang mana akar ber merk apapun? Atau mana akar terdekat, yang mampu kita raih, itulah yang lebih dulu diraih.)
 
Terima kasih atas 'palu' Anda.
 
Salam metta,
Wijaya
 
----- Original Message -----
From: Wijaya
Sent: Friday, May 06, 2005 2:49 PM
Subject: Re:Dhamma dan "Dhamma"

Anumodana dan terima kasih, Sdr. Morpheus
 
Tentulah, semua orang mau mencapai taraf "walking the path".
Saya sendiri, untuk mencapai taraf "Knowing the path", saja merasa masih belum memadai.
 
Katak yang di dalam tempurung, sangat yakin dunia, kebenaran hanyalah seluas tempurung kelapa yang mengungkungnya. Hanya orang yang ada di luar, mampu menyadarkan.
 
Menurut Anda, apasih sesungguhnya yang membuat kami enggan, malas, nggak semangat, belum mampu Walking the path?
Apakah kami mencari Dhamma terlalu jauh, terlalu berpikir? Padahal konon Dhamma berada sangat dekat. Tapi kenapa kami MERASA belum menemukanNya?
 
Apa yang salah--kaprah-- menurut Anda?
 
Walau kami bukan orang yang merasa suci, tapi rasa-rasanya, kami toh tidak membunuh--kecuali nyamuk dan kecoak--, mencuri, berzina, bohong--kecuali kecil2an--, mabok2an. Berbuat baik rasanya sudah lah. Kami MERASA sudah nyaman-nyaman saja. Tapi kalau dikatakan sudah bahagia, rasanya masih jauuuuuh.
 
 
 
Salam
Wijaya
 
=================
Date: Mon, 2 May 2005 23:09:15 +0800
   From: Morpheus <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: Dhamma dan "Dhamma"

Konon di jaman Tiongkok kuno dulu, pernah hidup seorang pakar kuda.
Dia sangat mahir mengenali dan memilih kuda unggulan. Kemasyurannya
semakin bertambah setelah dia menulis sebuah buku panduan tentang
bagaimana memilih kuda yang unggul. Menurutnya salah satu cirinya
adalah mata yang besar, dahi yang simetris dan kaki belakang yang
kuat.

Alkisah, sang pakar kuda memiliki anak yang tidak begitu cerdas, namun
dia ingin sekali mengajarkan ilmunya memilih kuda yang tangguh itu
kepada anaknya. Dalam rangka memberikan latihan, maka dia pun
memberikan buku panduan memilih kuda tersebut kepada sang anak dan
menugaskannya berkelana untuk mencari seekor kuda yang tangguh dan
membawanya pulang ke rumah. Ternyata, tak sampai beberapa jam, sang
anak sudah kembali ke rumah berteriak-teriak memanggil ayahnya bahwa
dia sudah menemukan kuda unggul. Begitu sang ayah keluar, ternyata si
anak membawakan dia seekor� kodok. Menurut sang anak, "si kuda unggul"
tersebut memiliki mata yang besar, dahi yang simetris dan kaki
belakang yang kuat.

Sudah sering kita dengar dalam percakapan buddhis di milis-milis
ataupun forum obrolan istilah-istilah "bertentangan dengan dhamma",
"sesuai dengan dhamma", "buku-buku dhamma", "adhammik", "sesat",
"kebenaran", dan sebagainya. Dalam definisi mereka, dhamma itu adalah
sesuatu yang memiliki merk "Buddhis". Jadi kalau suatu ajaran itu berasal
dari vihara atau buku-buku buddhis atau pemuka-pemuka agama Buddha,
maka berarti ajaran itu adalah "dhamma". Anak-anak sekolahan pun tahu
bahwa definisi dhamma itu adalah "ajaran Sang Buddha".

Salah satu ciri utama Buddhisme adalah ajaran kebebasan berpikirnya.
Buddha menyarankan sendiri agar setiap pengikutnya untuk menguji,
mencerna dan mengalami sendiri ajarannya, bukan menerimanya
bulat-bulat dengan sebuah stempel sertifikasi "dhamma(R)". Khotbah indah
Buddha kepada suku Kalama merupakan bukti bahwa Buddha adalah seorang
yang mendukung kebebasan berpikir yang seluas-luasnya. Beliau ingin
agar pengikutnya berpikir dan mengalami sendiri suatu paham ataupun
konsep, bukan menerimanya sebagai dogma.

Seperti halnya cerita si pakar kuda tadi, dhamma bukanlah sesuatu yang
bisa ditransfer dengan membaca sebuah buku panduan, juga bukan sesuatu
yang bisa ditransfer hanya dengan membicarakannya. Adakah pemain bola
professional yang lihai karena kursus tertulis? Adakah pemain piano
yang mahir dengan membaca buku? Demikian jugalah dhamma, sesuatu bisa
dikatakan sebagai dhamma apabila anda mengalaminya sendiri.

Bagaimanakah cara yang terbaik untuk mengalami rasa jeruk? Apakah kita
perlu memperdebatkan kandungan vitamin C-nya? Apakah kita perlu
mengetahui rangkaian DNA jeruk, nama latin pohon jeruk? Tidak perlu,
cara terbaik untuk mengalami sendiri rasa jeruk adalah dengan membuka
kulitnya dan memakannya. Demikian pula cara terbaik untuk mengalami
sendiri dhamma tersebut adalah dengan membuka kulitnya dan
mempraktekkannya sampai anda merasakan manfaatnya.

Ada sebuah kutipan menarik dari Morpheus di sebuah film, "Neo, sooner
or later you're going to realize just as I did that there's a
difference between knowing the path and walking the path.".
Demikianlah tingkat-tingkat pemahaman dhamma. "Dhamma" pada level
knowing the path, tidaklah sama dengan Dhamma pada level walking the
path.

"Mengerti" pada level knowing the path, tidaklah sama dengan
"mengerti" pada level walking the path. Pada level knowing the path,
sesuatu diterima sebatas pada intelek dan logika. Sedangkan pada level
walking the path, sesuatu sudah dipahami dan diresapi sampai
mendarah-daging.

Sebagai buddhis, semua tentu sudah tahu membunuh, mencuri dan
berbohong itu jelek, gak baik, karma jelek, dan sebangsanya. Tapi
"tahu" disitu adalah "tahu" pada level knowing the path, bukan pada
level walking the path. Dan yang sering terjadi di milis-milis buddhis
ini, sebagai buddhis, tentu semua mengerti bahwa ego gede, mau menang
sendiri, memaki-maki itu adalah jelek. Tapi sekali lagi, "mengerti" di
sana hanyalah sebatas intelek, sebatas knowing the path. Apa artinya
hapal luar kepala teori bermain bulutangkis, tapi gak pernah mencoba
main bulutangkis? Apa artinya hapal luar kepala teori "dhamma", tapi
gak pernah mencoba mengalami sendiri dhamma itu?

Lalu bagaimanakah kita tahu kalau kita sudah beralih dari mode
"knowing the path" menjadi "walking the path"? Saat anda merasakan
manfaat dari memahami dan mempraktekkan dhamma dan bahkan
membagikannya manfaatnya kepada dunia sekitar anda, berarti anda sudah
walking the path.

Sudahkah anda memberi manfaat bagi orang lain hari ini?


--
morpheus
* I'm trying to free your mind, Neo. But I can only show you the door.
You're the one that has to walk through it
* What is "real"? How do you define "real"?
* You have to let it all go, Neo. Fear, doubt, and disbelief. Free your mind


Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya.

Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan;
tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan;
serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh.
Kami mengikuti jalur perhatian penuh,
latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam
agar mampu melihat hakikat segala sesuatu,
sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian.
Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami.




Yahoo! Groups Links

Kirim email ke