Anumodana dan terima kasih, Sdr. Morpheus
Tentulah, semua orang mau mencapai taraf "walking the path".
Saya sendiri, untuk mencapai taraf "Knowing the path", saja
merasa masih belum memadai.
Katak yang di dalam tempurung, sangat yakin dunia,
kebenaran hanyalah seluas tempurung kelapa yang mengungkungnya. Hanya
orang yang ada di luar, mampu menyadarkan.
Menurut Anda, apasih sesungguhnya yang membuat kami enggan, malas, nggak
semangat, belum mampu Walking the path?
Apakah kami mencari Dhamma terlalu jauh, terlalu berpikir? Padahal konon
Dhamma berada sangat dekat. Tapi kenapa kami MERASA belum menemukanNya?
Walau kami bukan orang yang merasa suci, tapi rasa-rasanya, kami toh
tidak membunuh--kecuali nyamuk dan kecoak--, mencuri, berzina, bohong--kecuali
kecil2an--, mabok2an. Berbuat baik rasanya sudah lah. Kami MERASA sudah
nyaman-nyaman saja. Tapi kalau dikatakan sudah bahagia, rasanya masih
jauuuuuh.
Date: Mon, 2 May 2005 23:09:15 +0800
From: Morpheus
<
[EMAIL PROTECTED]>
Subject:
Dhamma dan "Dhamma"
Konon di jaman Tiongkok kuno dulu, pernah hidup
seorang pakar kuda.
Dia sangat mahir mengenali dan memilih kuda unggulan.
Kemasyurannya
semakin bertambah setelah dia menulis sebuah buku panduan
tentang
bagaimana memilih kuda yang unggul. Menurutnya salah satu
cirinya
adalah mata yang besar, dahi yang simetris dan kaki belakang
yang
kuat.
Alkisah, sang pakar kuda memiliki anak yang tidak begitu
cerdas, namun
dia ingin sekali mengajarkan ilmunya memilih kuda yang
tangguh itu
kepada anaknya. Dalam rangka memberikan latihan, maka dia
pun
memberikan buku panduan memilih kuda tersebut kepada sang anak
dan
menugaskannya berkelana untuk mencari seekor kuda yang tangguh
dan
membawanya pulang ke rumah. Ternyata, tak sampai beberapa jam,
sang
anak sudah kembali ke rumah berteriak-teriak memanggil ayahnya
bahwa
dia sudah menemukan kuda unggul. Begitu sang ayah keluar, ternyata
si
anak membawakan dia seekor� kodok. Menurut sang anak, "si kuda
unggul"
tersebut memiliki mata yang besar, dahi yang simetris dan
kaki
belakang yang kuat.
Sudah sering kita dengar dalam percakapan
buddhis di milis-milis
ataupun forum obrolan istilah-istilah "bertentangan
dengan dhamma",
"sesuai dengan dhamma", "buku-buku dhamma", "adhammik",
"sesat",
"kebenaran", dan sebagainya. Dalam definisi mereka, dhamma itu
adalah
sesuatu yang memiliki merk "Buddhis". Jadi kalau suatu ajaran itu
berasal
dari vihara atau buku-buku buddhis atau pemuka-pemuka agama
Buddha,
maka berarti ajaran itu adalah "dhamma". Anak-anak sekolahan pun
tahu
bahwa definisi dhamma itu adalah "ajaran Sang Buddha".
Salah
satu ciri utama Buddhisme adalah ajaran kebebasan berpikirnya.
Buddha
menyarankan sendiri agar setiap pengikutnya untuk menguji,
mencerna dan
mengalami sendiri ajarannya, bukan menerimanya
bulat-bulat dengan sebuah
stempel sertifikasi "dhamma(R)". Khotbah indah
Buddha kepada suku Kalama
merupakan bukti bahwa Buddha adalah seorang
yang mendukung kebebasan
berpikir yang seluas-luasnya. Beliau ingin
agar pengikutnya berpikir dan
mengalami sendiri suatu paham ataupun
konsep, bukan menerimanya sebagai
dogma.
Seperti halnya cerita si pakar kuda tadi, dhamma bukanlah
sesuatu yang
bisa ditransfer dengan membaca sebuah buku panduan, juga bukan
sesuatu
yang bisa ditransfer hanya dengan membicarakannya. Adakah pemain
bola
professional yang lihai karena kursus tertulis? Adakah pemain
piano
yang mahir dengan membaca buku? Demikian jugalah dhamma, sesuatu
bisa
dikatakan sebagai dhamma apabila anda mengalaminya
sendiri.
Bagaimanakah cara yang terbaik untuk mengalami rasa jeruk?
Apakah kita
perlu memperdebatkan kandungan vitamin C-nya? Apakah kita
perlu
mengetahui rangkaian DNA jeruk, nama latin pohon jeruk? Tidak
perlu,
cara terbaik untuk mengalami sendiri rasa jeruk adalah dengan
membuka
kulitnya dan memakannya. Demikian pula cara terbaik untuk
mengalami
sendiri dhamma tersebut adalah dengan membuka kulitnya
dan
mempraktekkannya sampai anda merasakan manfaatnya.
Ada sebuah
kutipan menarik dari Morpheus di sebuah film, "Neo, sooner
or later you're
going to realize just as I did that there's a
difference between knowing
the path and walking the path.".
Demikianlah tingkat-tingkat pemahaman
dhamma. "Dhamma" pada level
knowing the path, tidaklah sama dengan Dhamma
pada level walking the
path.
"Mengerti" pada level knowing the path,
tidaklah sama dengan
"mengerti" pada level walking the path. Pada level
knowing the path,
sesuatu diterima sebatas pada intelek dan logika.
Sedangkan pada level
walking the path, sesuatu sudah dipahami dan diresapi
sampai
mendarah-daging.
Sebagai buddhis, semua tentu sudah tahu
membunuh, mencuri dan
berbohong itu jelek, gak baik, karma jelek, dan
sebangsanya. Tapi
"tahu" disitu adalah "tahu" pada level knowing the path,
bukan pada
level walking the path. Dan yang sering terjadi di milis-milis
buddhis
ini, sebagai buddhis, tentu semua mengerti bahwa ego gede, mau
menang
sendiri, memaki-maki itu adalah jelek. Tapi sekali lagi, "mengerti"
di
sana hanyalah sebatas intelek, sebatas knowing the path. Apa
artinya
hapal luar kepala teori bermain bulutangkis, tapi gak pernah
mencoba
main bulutangkis? Apa artinya hapal luar kepala teori "dhamma",
tapi
gak pernah mencoba mengalami sendiri dhamma itu?
Lalu
bagaimanakah kita tahu kalau kita sudah beralih dari mode
"knowing the
path" menjadi "walking the path"? Saat anda merasakan
manfaat dari memahami
dan mempraktekkan dhamma dan bahkan
membagikannya manfaatnya kepada dunia
sekitar anda, berarti anda sudah
walking the path.
Sudahkah anda
memberi manfaat bagi orang lain hari ini?
--
morpheus
* I'm
trying to free your mind, Neo. But I can only show you the door.
You're the
one that has to walk through it
* What is "real"? How do you define
"real"?
* You have to let it all go, Neo. Fear, doubt, and disbelief. Free
your mind