Sekuntum teratai buat para calon Buddha,
 
 
Maaf sebelumnya kalau ini cukup sensitif, saya cuma mohon Anda berkenan membantu menjelaskan makna "Cung Cung Cep".
 
Setahu saya,"Itu istilah yang di buat oleh oknum umat Theravada, buat menyindir cara sembahyang di kelenteng, yang sekedar mengacungkan dupa, lalu menacapkan di tempat dupa, TANPA ADA KOTBAH Dhamma". Karena ini sindiran, saya sarankan sebaiknya kami jangan mengulang istilah tersebut lagi, agar jangan ada yang tersinggung. Namun, kami di sini beberapa hari yang lalu berbeda pendapat.
 
Menurut pendapat teman saya Z,"Bahwa Cung Cung Cep adalah istilah untuk cara sembahyang yang sekedar mengacung-acungkan dupa lalu menancapkan di tempat dupa, TANPA diisi dengan doa, tanpa pemusatan pikiran pada obyek dewa ini atau itu. Saya sendiri sembahyang di kelenteng selalu ada obyek dewa ini atau itu, sehingga saya tidak merasa disindir dengan istilah Cung Cung Cep itu. Jadi itilah itu bukan ditujukan kepada Umat yang ke kelenteng, tapi buat mereka yang sembayang tanpa obyek atau tujuan kepada dewa ini atau itu. Jadi tidak masalah menyatakan istilah tersebut, karena itu memang bukan untuk menyindir mereka yang ke kelenteng."
 
Z teman satu vihara, kami memang ke vihara dan juga ke kelenteng. Dengan 'doa' masing-masing, yang mungkin beda. Karena ngucapkannya dalam hati saja.
 
Kami bersikeras dengan pendapat kami masing2. Saya katakan, istilah itu bukan istilah baru, yang boleh kita maknai sendiri dalam berinteraksi dengan orang lain. Kecuali kita maknai buat diri sendiri, kelompok sendiri, yah silahkan saja. Tapi dalam interaksi dengan orang lain, pihak lain, kita mesti memakai makna yang sudah menjadi kesepakatan sebelumnya.
 
Demikian, mohon tanggapan rekan2 di sini. Terima kasih.
 
Salam metta,
Wijaya
 
 


Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya.

Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan;
tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan;
serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh.
Kami mengikuti jalur perhatian penuh,
latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam
agar mampu melihat hakikat segala sesuatu,
sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian.
Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami.




Yahoo! Groups Links

Kirim email ke