From: Morpheus <[EMAIL PROTECTED]>:
waduh, cara bertanya anda mengerikan. please anggep artikel saya
sebagai obrolan di warung kopi. gak ada maksud untuk menggurui ataupun
menganggap saya udah bener2 tau dhamma...

 
Wijaya:
Tenang aja. Ini milis Buddhis, rekan Morpheus.
Kami, anggota milis punya pelindung diri. 'Ehipassiko' dan nasehat Sang Buddha di Kalama Sutta. Dimana Sang Buddha menasehati kami, bahkan kata2 Sang Buddha yang di dengar langsungpun, mestinya kami kritisi dulu. Apalagi informasi, pendapat yang bukan kami dengar langsung dari Sang Buddha, tentulah akan kami LEBIH kritisi lagi. Maaf, dan semoga dimaklumi.
 
Bukannya meremehkan, pendapat yang bukan dari Sang Buddha. Karena di Tipitaka juga diceritakan, bagaimana Petapa Gotama TERSADAR, karena PETUAH seorang pemain kecapi pada anaknya(?), sehingga mengubah cara bertapaNya. Mengganti jalan ekstrem yang saat itu Beliau jalani dengan jalan tengah. Apakah Pemain kecapi itu KEBETULAN aja lewat, atau memang sengaja datang MENGGURUI Petapa Gotama? Tapi, apakah ini perlu diperdebatkan, ditelusuri? Bisa diverifikasi? Ada manfaatnya?
 
Saya pikir, apakah pemberi informasi itu bermaksud: menggurui kah, sok pinter kah, sekedar bicara seperti obrolan di warkop kah, itu adalah urusannya sendiri. Haknya. Tapi saya pribadi, berusaha agar selalu bisa ber-POSITIVE THINKING. SIAPAPUN, yang berkenan merespon pertanyaan saya yang masih belajar ini, saya patut berterima kasih sekali. Cuma, si penjawab semoga bisa maklum, kalau itu dilempar ke komunitas Buddhis. Dikritisi. Yeah... dengan pikiran terkondisi saya.
=======================
 
Morpheus:
gak tau juga ya, orang laen2...
mungkin seperti halnya berolahraga, semua orang tau manfaatnya, semua
orang tau kita perlu olahraga. namun apabila tidak biasa berolahraga,
memulainya terasa sangat sulit. malas, enggan, lagi capek, sedang
sibuk, pengen istirahat, pengen santai dan memanjakan diri. mencobanya
pertama kali, badan sakit2 selama 3 hari, pegal... kapok. seperti yg
saya lihat di artikel ajahn brahm, mikir itu lebih berat daripada
melakukannya. just do it :)

mungkin demikian juga dengan beralih ke walking the path...
-----------------------
Wijaya:
Rasanya jawaban Anda sangat tepat sekali, buat kondisi saya.
1. Belum terbiasa.
2. Terlalu banyak mikir.
 
Soal 'Just do it', jangan terlalu banyak mikir, duluuu sekali sudah pernah baca di Doa Sang Katak. Tentang jam rusak yang merasa keberatan untuk diperbaiki, karena berpikir, ngeri dan merasa berat nanti disuruh berdetak sepanjang waktu. Saya sudah baca tulisan Ajahn Bram yang Anda maksud. Tapi semua itu belum menyadarkan saya. Kenapa saya macet melatih meditasi.
 
Nah, ketika baca penjelasan Anda ini, sejujurnya, jawaban Anda tepat pada sasaran. Terima kasih dan Anumodana, rekan Morpheus.
==================
 
Morpheus:
Well, buddha sering mengumpamakan seperti gajah yg berlari sekuatnya
dari hutan yg kebakaran. kalo sang gajah merasa hutannya damai dan
tentram atau tidak tahu kalo hutannya terbakar, ya wajar saja kalo
sang gajah tenang2 saja... motivasi tidak bisa dibuat2, harus datang
dari dalam dan pengertian yg bener... ada waktunya...

 
Wijaya:
ya, mungkin motivasi itu muncul karena dibuat2. Karena saya belajar Buddhisme, maka
saya merasa perlu ikut Vipassana.  Sang Buddha menyatakan ada kebakaran hutan, tapi saya belum melihat kebakaran itu secara nyata. Secara intelektual, memang bisa
saya simpulkan, ADA KEBAKARAN HUTAN. Memahami ada kebakaran, tapi belum betul-betul melihat api tersebut.
 
Karena tidak melihat API nya, saya berusaha keluar dari hutan, tapi TIDAK LARI SEKUATNYA, tapi cuman jalan dengan santai-santai aja. Masih suka menikmati pemandangan, makanan, malas lari, dlsb. ^_^
 
Ada waktunya, dan waktu tersebut belum masak pada diri saya. OK-lah.
 
Tapi Anda menyatakan,"motivasi tidak bisa dibuat2, harus datang
dari dalam dan pengertian yg bener"
 
Yang ingin saya tahu, apakah saya HANYA BISA MENUNGGU SAJA WAKTU TERSEBUT? Atau ada USAHA yang bisa saya lakukan buat membangkitkan motivasi tersebut? Misalnya, ada yang menjelaskan, SILA itu mesti bersih dulu, katanya.
=====================
 
Morpheus:
kayaknya ada benernya kata2 jk...
seperti yg saya tulis di artikel, saat anda mendapatkan menfaat dari
sebuah ajaran (selain manfaat pada ego dan intelek), berarti anda
sudah walking the path...kalo tidak bisa mendapatkan manfaat, gak
perlu mencari derita tambahan...

namun pendapat pribadi saya, semua orang mampu bermeditasi dan
mendapatkan manfaatnya...

Wijaya:
Saya ulang tulisan Anda,"kalo tidak bisa mendapatkan manfaat, gak
perlu mencari derita tambahan..."
 
Waktu vipassana, pembimbing tanya,"Sudah dapat apa?"
Saya kaget dapat pertanyaan begini. Karena dari rumah sudah berprinsip,"Lepas keinginan dapat ini itu. Jalani saja. Bahwa tugas saya adalah menjalankan petunjuk Pembimbing, apa hasilnya, mau dapat apa, itu bukan tugas ataupun dibawah kontrol saya. Jangan bebani pikiran." Di samping itu, sebagai pemula bagaimana tahu apa yang saya dapat. Seperti seorang awam dapat batu bening di jalan. Apakah itu pecahan botol atau intan, mana saya tahu? Jadi saya jawab,"Wah... saya belum tahu." Peserta lain hampir semua bilang dapat sesuatu. jadi jawaban kaget saya, mungkin juga mengagetkan Pembimbing dan peserta lain. Ha ha ha
 
Seorang teman vihara, mulai aktif di vihara lain. Sas sus, ia mulai pindah karena di vihara kami cuman ribut terus, tapi di vihara satunya, ada nyanyi-nyanyi-nya, pengurusnya ramah, ga ada beda pendapat, sehingga merasa tenang. Dapat ketenangan.
 
Teman saya tersebut MERASA DAPAT MANFAAT di Vihara lain tersebut. Karena dapat ketenangan. Tapi menurut saya tidak. Ke vihara bukan cari tenang, tapi belajar, berlatih, berbagi CARA MEMPERBAIKI DIRI.  Ingat dengan besi yang dipanaskan, dipalu, dikikir, dicat, dlsb., sehingga menjadi patung yang indah. Kalau mau tenang, hepi2, yah... ke karaoke ajalah. Nonton lawak, bioskop, sinetron. Kalau itu mau dianggap sebagai manfaat.
 
Nah, menurut pendapat saya, bermanfaat atau tidak adalah relatif bagi kita yang masih awam. Tidak bisa dijadikan pegangan. Jadi kalau sesuatu itu kita nilai belum bermanfaat, tapi secara intelektual kita yakini, percayai itu bermanfaat, apakah Anda bermaksud menyatakan, kita tak usah pusing berusaha melakukan meditasi tersebut? Dalam pengertian, belum waktunya.
 
Demikian rekan Morpheus.
Terima kasih dan Anumodana.
 
 
Salam metta,
Wijaya
 
 




 


Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya.

Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan;
tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan;
serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh.
Kami mengikuti jalur perhatian penuh,
latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam
agar mampu melihat hakikat segala sesuatu,
sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian.
Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami.




Yahoo! Groups Links

Kirim email ke