Dari artikel Economics in Buddhism yang diposting oleh Bro Yamin Prabudy : Quote : The money hardly earned must be utilized well and the householder must know how to keep money for future use and how to improve it for the benefit of him and others. With regard to it, Buddha advises to layman to divide his income into four quarters and invest two quarters for the growth of income while depositing one quarter for the future and utilizing the other quarter for daily expenditure. This advice of Buddha is very suitable even for modern society for their safety, happiness, protection and prosperity. They may not have to borrow money from moneylenders and pay high interests which may be a big burden and very stressful for life. ( Sigalovada Sutta ) End of Quote
Dari artikel Konsep Ekonomi Buddhis, Milis Buddha Edisi Kamis, 17 April 2003 : Quote : Digha Nikaya III, 188 mengajarkan penggunaan materi yang seimbang dilakukan dengan membagi penghasilan atau keuntungan yang didapat dalam beberapa bagian : 50% : dipakai untuk menambah modal usaha ( bagi pengusaha ) atau tabungan / deposito ( bagi karyawan ). 25% : digunakan untuk membiayai hidup sehari-hari. 25% : disimpan sebagai cadangan di saat darurat, jaminan keamanan keuangan premi asuransi - jiwa, kesehatan, kecelakaan, kerugian ), untuk berdana dan kegiatan sosial lainnya. Hidup sesuai dengan pendapatan, tidak boros dan juga tidak kikir. Materi dalam Buddha Dharma bukanlah musuh yang harus dihindari, namun ia juga bukan pula majikan yang harus kita puja. Hendaknya kita bersikap netral terhadap materi serta mampu mempergunakannya sewajarnya sesuai dengan kebutuhan kita masing-masing. Dengan menggunakan rumus di atas, kemewahan dan kekikiran menjadi relatif sifatnya. Kita tidak akan gampang mengatakan seseorang hidup bermewah-mewah ataupun sebaliknya kikir dengan hanya melihat sepintas pengeluarannya. Semua pengeluaran hendaknya disesuaikan dengan pendapatan sehingga dengan demikian pastilah kemajuan ekonomi tercapai. Salah satu kesalahan yang dilakukan kebanyakan dari kita ialah kurang mengendalikan pengeluaran. End of Quote Dari Kiyosakinomics : Uruslah urusan kita sendiri dan bayarlah diri kita sendiri terlebih dahulu. - Belilah asset. - Kita bekerja untuk belajar. - Teruslah belajar. Jangan sibuk mengurus urusan orang lain. - Kendalikan konsumsi, itu 'kan urusannya pemilik toko, pemilik mall, pemilik dept store, pemilik supermarket. - Hindari kredit konsumtif, itu 'kan urusannya pemilik bank, pemilik leasing company, pemilik credit card company. What is the difference between Asset and Liability ? Kita harus mengetahui perbedaan antara asset dan liability ; jangan hanya melihat definisi asset dan liability di buku-buku Akuntansi Keuangan :) Asset adalah segala sesuatu yang menghasilkan net cash flow masuk ; jadi, bukan macam "benda" nya yang penting, melainkan apakah "benda" itu akan menghasilkan duit untuk kita atau tidak. Liability adalah segala sesuatu yang menyebabkan net cash flow keluar ; maksudnya, seperti "benda-benda" milik kita yang justru membebani keuangan kita, "benda-benda" milik kita yang justru menimbulkan biaya yang harus kita bayar. Belilah asset ; maksudnya kita membelanjakan uang pada segala sesuatu yang akan membuat uang kita bertambah, bukannya malah berkurang :) ... --> Kita bisa lakukan cara sederhana dengan "membeli" tabungan, deposito dan pendidikan. Jangan hanya mempunyai pengeluaran ; maksudnya jangan hanya belanja "benda-benda" yang hanya akan jadi sampah dan kotoran pada akhirnya ... :) --> Kita harus kendalikan hobi belanja junk goods, secukupnya saja, hanya yang benar-benar perlu. --> Kita harus cermat, konsumsi seperlunya, jangan terpancing diskon. Jangan membeli liability yang kita pikir adalah asset ; maksudnya jangan belanja "benda-benda yang tampaknya seperti asset" dengan berhutang, seperti kredit ini, kredit itu, kredit anu, dst ... lama-lama kita bisa menjadi setan kredit :) --> Kita harus hindari pinjam uang kepada siapa pun hanya untuk memiliki "benda-benda yang tampaknya seperti asset" , apalagi kalau dibebani dengan bunga. --> Kita harus hindari kredit konsumsi, jangan terpancing rayuan "bebas bunga" atau bujukan "bunga 0 %" padahal ada hidden interest. --> Apabila kita harus berhutang, hendaknya hutang tersebut adalah hutang produktif, yaitu hutang yang digunakan untuk membeli asset yang menghasilkan net cash flow masuk lebih besar daripada biaya bunganya. Just sharing. Thanks anyway. Best Regards, ( Gunawan Kurnia ( -----Original Message----- From: Yamin Prabudy Sent: Tuesday, May 10, 2005 10:22 PM To: [email protected] Subject: [Dharmajala] Re: Sumbangan Mulu !!! ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Has someone you know been affected by illness or disease? Network for Good is THE place to support health awareness efforts! http://us.click.yahoo.com/UwRTUD/UOnJAA/i1hLAA/UlWolB/TM --------------------------------------------------------------------~-> Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya. Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh. Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian. Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari, membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami. Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
