Mungkin berlu dibedakan antara bedebat dengan berdiskusi. Seharusnya kita berdiskusi dan tidaj berdebat.
Berdiskusi kita mencoba untuk saling bertukar pikiran dan informasi. Masign2 pihak tidak berkeinginan untuk saling menjelekan, menjatuhkan atau membuat seseorang sejutu dengan idenya. Bila berdebat, kita ingin menyatakan bahwa ide saya yang paling benar dan anda salah. Dan juga mulai menjurus pada usaha saling menjelekka. Bila saya perhatikan sekarang sudah mengarah pada perdebatan dan bukan diskusi. Bila berdiskusi, saya sangat suka sekali. Tapi bila sudah berdebat, ini yang saya tidak suka. Sekarang ini tidak ada aliran yang benar2 murni sperti pada jaman Sang Buddha. Buktinya baik dalam Tipitaka maupun Tripitaka banyak sutta / sutra tambahan. Bila dianalogikan Theravada sebagai daging ayam dan Mahayana sebagai daging sapi, seseorang yang menyukai daging ayam tidak bisa memaksa orang yang tidak suka daging ayam (tetapi suka daging sapi) untuk memakan ayam dan menyatakan ayam yang paling enak. Dan begitu juga sebaliknya. Daripada saling memaksa, lebih baik saling berbagi pengalaman mulai dari cerita tentang kelezatan daging ayam dan kelezatan daging sapi. Semoga saja dengan saling mendengar kelezatan masing2, kita memiliki keinginan untuk mencicipinya. Marilah kita berdiskusi dan menghindari perdebatan. erdebatan pada umumnya memiliki aura permusuhan yang tidak baik untuk perkembangan agama Buddha --- Chen Kuang <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Sdr. Predy > > Kita disini dalam rangka belajar, berdebat itu biasa > agar bisa mendapatkan > secercah pengetahuan kita mengenai Buddha Dharmma, > memang tidak baik rasanya > kalo kita membanggakan masing2 sekte lebih unggul > atau mengklaim sekte lain > lebih jelek atau hina. > > Tapi terlepas tidaknya masing2 sekte, bisa kah anda > mengklaim bahwa > Theravada > lebih murni atau Mahayana lebih mulia, Tapi kita > disini bisa memberikan > pendapat > antara perbedaan kedua aliran dan opini para peserta > milis mana saja ajaran > dari > kedua sekte yang dirasakan janggal dan tidak murni > tentunya dengan kepala > dingin dan niat yang mulia dalam belajar dharmma. > Sejalan dengan ehipasiko > yaitu datang, lihatlah dan buktikan ajaran Sang > Buddha. > > Sejujurnya saya bisa mengambil banyak manfaat dari > perdebatan dan akan > menambah > pengetahuan kita tentang Aliran Agama buddha. > > Chen Kuang > > -----Original Message----- > From: Predy Hamdani [mailto:[EMAIL PROTECTED] > Sent: Monday, May 16, 2005 8:36 AM > To: [email protected] > Subject: Re: [Dharmajala] Thera_Maha_Vajra > > > Saya melihat sebuah fenomena yagn lucu pad umat > Buddha > di Indonesia (terutama yagn banyak belajar dan yang > banyak baca). Umat Buddha mengklaim bahwa agama > Buddha > adalah agama yang toleran terhadap agama yang lain > dan > disuguhkan banyak bukti yang mendukung pernyataan > tersebut. > > Memang benar umat Buddha toleran terhadap umat yang > lain, tapi ternyata tidak toleran dengan sesama umat > Buddha yang lain aliran. Hali ini terungkap oleh > ramainya perdebatan tentang agama Buddha yang murni > dan saling menjelekkan antar sekte. > > Apa ini yang disebut sebagai umat yang toleran ? > > Yang lebih lucunya lagi, mereka yang memperdebatkan > sebagian besar adaalh Umat Buddha yang terpelajar, > banyak membaca, banyak berdiskusi. Sedangkan pada > umat > awam yang biasa2 saja, mereka tidak terlalau > mempersoalkan mana yang murni. Bagi mereka yang > penting mereka meada cocok. Dan saya pikir mereka > leih > bijaksana & toleran daripada yagn sering baca buka > (notabene lebih banayak pengetahuannya) > --- Wijaya <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > > > > Yahoo! Mail Stay connected, organized, and protected. Take the tour: http://tour.mail.yahoo.com/mailtour.html ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Would you Help a Child in need? It is easier than you think. Click Here to meet a Child you can help. http://us.click.yahoo.com/sTR6_D/I_qJAA/i1hLAA/UlWolB/TM --------------------------------------------------------------------~-> Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya. Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh. Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian. Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari, membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami. Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
