37.  Angulimala, atau Kalung Jari
         
        Demikian telah saya dengar pada suatu ketika: Buddha
sedang berdiam di Kota Sravasti di Biara Jetavana,
Taman Anathapindika. Pada saat itu, Raja Prasenajit
memiliki seorang menteri yang berasal dari kasta
tinggi dan bijaksana, cerdas dan sangat makmur. Ketika
istrinya mengandung dan bulan-bulan telah berlalu,
seorang putra yang sangat tampan, menarik dan sempurna
secara fisik dilahirkan. Seorang peramal dipanggil,
ketika dia mengamati anak kecil ini, berkata dengan
wajah berseri-seri: "Anak ini dengan sempurna
dianugrahi dengan tanda-tanda kebajikan. Dia akan
menjadi bijaksana dan cerdas dan melampaui yang
lainnya." Ketika ayahnya meminta peramal memberi
anaknya sebuah nama, peramal bertanya apakah ada
tanda-tanda yang tidak biasa pada saat kelahiran
anaknya. Dia diberitahu bahwa, meskipun ibunya
memiliki sifat alami yang lembut, segera setelah anak
itu masuk ke kandungan ibunya dia menjadi lebih lemah
lembut lagi. Dia berbahagia ketika mendengar kebajikan
dan kebaikan orang lain dan menjadi tidak senang
ketika dia mendengar kejahatan dan kesalahan, dan dia
memiliki welas asih yang besar kepada para pengemis
yang melarat. Peramal itu berkata: "Nama anak ini
haruslah nama seseorang yang telah melakukan
kebajikan. Namanya adalah Angulimala."
         Ketika anak ini dewasa dia sangat kuat -lebih
kuat dari gajah besar, dan mampu melawan 1000 orang.
Dia dapat melompat ke angkasa setinggi burung-burung
terbang, dan dapat berlari secepat seekor kuda. Dia
akan sangat dicintai oleh kedua orang tuannya. Pada
saat itu, ada seorang Brahmin di negeri itu yang
mengetahui ilmu pengetahuan dan memiliki 500 murid
yang belajar dari dia. Menteri itu menempatkan anaknya
dengan Brahmin itu, Angulimala dapat mempelajari dalam
satu hari yang murid-murid lain mempelajarinya dalam
satu tahun. Brahmin itu memuji anak itu, dan selalu
membawanya disisinya, dan menghormati dia lebih dari
muridnya yang lain. Istri Brahmin itu melihat bahwa
dia lebih tampan dan cerdas dibanding yang lainnya,
jatuh cinta padanya, tetapi karena dia selalu bersama
brahmin itu, tidak memiliki kesempatan mendekatinya.
         Pada suatu ketika, seorang tuan pemberi
hadiah mengundang brahmin dan murid-muridnya dan
menyediakan barang-barang kebutuhan selama waktu tiga
bulan. Brahmin itu menerimanya dan memberitahu
istrinya bahwa dia dan murid-muridnya akan pergi,
tetapi dia akan meninggalkan seorang di rumah untuk
menolongnya dalam pekerjaan. Dia bertanya kepada
istrinya siapa yang dia inginkan. Wanita itu senang
dan berkata karena Angulimala kuat dan cerdas, akan
lebih baik dia. Brahmin itu kemudian memberitahu
Angulimala untuk tetap tinggal dan menolong istrinya.
         Segera setelah brahmin dan murid-muridnya
berangkat, istrinya berdadan dan berbicara kepada
Angulimala dengan pikiran penuh nafsu. Dia berkata
bahwa Angulimala selalu ada dipikirannya, dan bahwa
sekarang gurunya telah pergi, mereka dapat
bersenang-senang bersama. 'Angulimala berkata: "Tapi
saya adalah anggota kasta Brahmin dan tidaklah pantas
bagi saya untuk bersama istri guruku. Jika saya
melakukan hal seperti itu saya tidak akan menjadi
seorang brahmin lagi, dan jika saya meninggal saya
akan kehilangan doa guruku." Ketika istri brahmin
melihat bahwa dia tidak bisa memenuhi keinginaannya,
dia menjadi marah dan berpikir bagaimana cara dia
membalas dendam. Ketika brahmin kembali dia merobek
pakaiannya, mencakar wajahnya, melumurkan debu
ditubuhnya, dan berbaring di lantai. Ketika brahmin
masuk ke rumah dan melihat keadaan istrinya, dia
bertanya kepadanya apa yang telah terjadi. Wanita itu
menangis dan berkata bahwa yang telah terjadi terlalu
memalukan untuk dikatakan. Ketika brahmin itu mendesak
istrinya, dia terisak dan berkata: "Ketika engkau
pergi, muridmu Angulimala, orang yang selalu engkau
puji, mencoba memaksaku dan saya menolaknya. Karena
saya menolaknya, dia menyobek pakaianku dan
membiarkanku dalam kondisi seperti ini. Saya pikir
engkau tidak membutuhkan murid jahat seperti itu."
Brahmin ini menjadi marah dan berkata kepada istrinya:
"Angulimala sangat kuat bahkan 1000 pria pun tidak
bisa melawannya. Di samping itu, dia adalah anak dari
seorang bangsawan dan berkasta tinggi. Saya akan
melakukan tipu muslihat untuk menghukumnya."
         Kemudian dia pergi ke Angulimala dan
berbicara kepadanya dengan bersahabat: "Angulimala,
ketika saya pergi engkau telah melakukan banyak
pekerjaan besar dan merawat segala sesuatu dengan
baik. Bukankah banyak masalah, benarkah?" Angulimala
berkata: "Guru, karena doamu, tidak ada masalah apapun
dan saya bahagia." Brahmin itu berkata: "Angulimala,
perawatanmu terhadap segala hal telah banyak
menolongku. Saya mempunyai sebuah ajaran rahasia yang
tidak pernah saya ajarkan kepada siapapun juga, dan
saya akan memberikannya kepadamu. Hal ini akan
menyebabkan sedikit penderitaan, tapi engkau akan
terlahir kembali sebagai seorang dewa Brahma."
Angulimala berlutut dan berkata: "Oh guru, saya mohon
kepadamu untuk memberikan ajaran itu kepadaku."
Brahmin itu berkata: "Engkau harus berpuasa selama
tujuh hari tujuh malam. Kemudian engkau akan memotong
kepala 1000 orang, mengambil salah satu jari dari tiap
orang, membuat sebuah kalung dengan jari-jari itu,
kemudian gatungkan kalung itu di lehermu. Segera
setelah engkau meninggal engkau akan terlahir kembali
sebagai dewa Brahma." Angulimala meragukan apa yang
dikatakan oleh brahmin itu dan bertanya: "Tapi guru,
apakah dengan menghancurkan hidup adalah jalan untuk
menjadi seorang Brahma?" Brahmin itu berkata: "Jika
engkau benar-benar muridku, bagaimana engkau tidak
mempercayai apa yang kukatakan? Jika engkau meragukan
kata-kataku engkau tidak dapat tinggal lebih lama lagi
disini denganku dan harus pergi ke tempat yang lain."
Mengambil sebuah pedang, dia membacakan sebuah mantra
dan menancapkannya ke tanah. Dengan kekuatan mantera
itu, kemarahan muncul dalam diri Angulimala. Ketika
brahmin ini melihat bahwa dia telah menjadi marah, dia
memberikan pedang itu ditangannya. Angulimala
mengambil pedang itu, berlari keluar, dan dalam waktu
yang singkat telah membunuh 90 orang, membuat sebuah
kalung dengan jari-jari mereka, dan menggantungnya
dilehernya.
         Di akhir hari ketujuh dia telah membunuh 999
orang dan kekurangan satu orang lagi. Tapi semua orang
di negeri itu mengetahui yang terjadi dan
menyembungikan diri mereka sendiri. Angulimala terus
mencari dan tidak dapat menemukan orang yang keseribu.
Ibu Angulimala, mengetahui bahwa dia belum memakan
apapun selama tujuh hari, mencoba mengirimkan makanan
untuknya tapi semua orang ketakutan dan menolak untuk
mengantarkan makan kepada Angulimala, kemudian Ibu nya
menyiapkan makanan dan pergi untuk mencarinya.
         Ketika dia melihat ibunya datang, Angulimala
menghunus pedangnya dan pergi untuk membunuh ibunya.
Ibu itu berkata: "Anakku, mengapa engkau melakukan
kejahatan membunuh yang mengerikan ini?" Anak itu
menjawab: "Guruku memberitahukanku bahwa jika saya
membunuh 1000 orang dalam waktu tujuh hari dan
mengantungkan jari-jari mereka di leherku, saya akan
terlahir kembali sebagai dewa Brahma. Saya telah
mengikuti instruksi guruku dan membunuh 999 dan
kekurangan satu orang. Sekarang saya harus
membunuhmu." Ibu itu berkata: "Engkau tidak akan
membunuhku ataupun mengambil jari-jariku."
         Ketika mereka sedang berbicara, Buddha,
melihat dari kejauhan bahwa inilah waktunya untuk
menjinakkan Angulimala, mengubah penampilannya menjadi
seorang bhiksu dan mendekat. Ketika dia melihat bhiksu
itu mendekat, Angulimala memutuskan untuk membunuhnya
sebagai ganti ibunya dan berlari ke arah bhiksu itu.
Ketika Buddha melihat dia mendekat, Buddha terus
berjalan dengan perlahan dan tiba-tiba kekuatan
Angulimala yang besar terkuras dan dia tidak dapat
berlari lagi. Dia berteriak: "Bhiksu, duduklah
sebentar!" Buddha berkata: "Saya selalu duduk, tapi
engkau tidak, karena engkau telah tersesat dalam
kejahatan yang mengerikan." Angulimala bertanya:
"Bagaimana Engkau bisa selalu duduk dan saya tidak
pernah? Apa alasan untuk ini?" Buddha berkata: "Saya
selalu duduk karena semua perasaanku telah tenang dan
saya telah mencapai kekuatan samadhi. Tapi engkau,
karena telah mempelajari ajaran yang salah dari
seorang guru yang jahat, mengantungkan diri pada
perbuatan jahat. Karena pikiranmu telah dihipnotis,
engkau melakukan kejahatan yang tak terhitung siang
dan malam."
         Kemudian Angulimala datang kepada dirinya
sendiri, menunduk, dan berteriak: "Yang Suci,
kasihanilah saya!" Buddha kemudian menunjukkan tubuh
aslinya, bersinar dengan cahaya dan dianugrahi dengan
32 tanda dan ketika Angulimala melihat ini dia merasa
menyesal, menjatuhkan diri ke tanah dan mengakui
kesalahannya kepada Bhagava. Ketika Buddha
mengajarkannya Dharma, Angulimala memperoleh mata
Dharma, dianugrahi dengan keyakinan, dan berkata:
"Bhagava, saya ingin menjadi seorang bhiksu." Ketika
Buddha berkata: "Selamat Datang", rambutnya rontok dan
dia menjadi seorang bhiksu. Ketika Buddha
mengajarkannya Dharma, batinnya dibersihkan dari
kekotoran batin dan dia menjadi seorang arahat.
Bhagava kemudian membawanya ke Taman Anathapindika.
         Pada saat itu, semua orang di negeri itu
tidak berani berpergian karena ketakutan ketika mereka
mendengar nama Angulimala. Para wanita hamil dan
bahkan binatang, jika mereka mendengar nama itu, tidak
dapat melahirkan karena ketakutan. Ketika seekor sapi
tidak dapat melahirkan anak sapi, Buddha berkata
kepada Angulimala: "Angulimala, pergilah ke ibu gajah
itu dan berkatalah kata-kata kebenaran ini: 'Tidak
dilahirkan dari paling awal, saya tidak membunuh
manusia.'" Angulimala menjawab: "Tapi Bhagava,
bagaimana saya dapat mengatakan hal semacam itu
padahal saya telah, benar-benar membunuh banyak
orang?" Buddha berkata: "Angulimala, engkau telah
dilahirkan baru di dalam Dharma Yang Suci dan engkau
boleh mengatakan hal ini. "Kemudian bhiksu Angulimala
mengangkat jubahnya, pergi ke sapi dan gajah dan
berkata kepadanya apa yang Bhagava beritahukan padanya
untuk dikatakan.
         Sementara itu, Raja Prasenajit dan pasukannya
sedang mencari Angulimala dan datang ke Taman
Anathapindika. Mendengar seorang bhiksu yang pendek
dan buruk rupa membaca tulisan suci di biara dengan
suara yang indah dan merdu, pasukan itu berhenti untuk
mendengarkan dan bahkan kuda-kuda dan gajah-gajah
berhenti dan memasang telinga mereka. Raja takjub dan
bertanya: "Mengapa kuda-kuda dan gajah-gajah ini
berhenti?" Rombongannya berkata: "Karena pasukan dan
kuda-kuda serta gajah-gajah ini telah terlalu senang
dalam mendengarkan Kata Baik." Raja berkata: "Bahkan
binatang pun senang mendengarkan Dharma, mengapa kita
manusia tidak menemukan kesenangan didalamnya juga?"
Kemudian raja memasuki taman, turun dari gajahnya,
menaruh senjatanya dan pergi menghadap Buddha. Dia
menundukkan kepalanya, beranjali dan berkata:
"Bhagava, siapakah bhiksu yang memiliki suara indah
itu? Saya akan membuat persembahan untuknya sebanyak
400 koin emas." Buddha berkata: "Yang Mulia, pertama
buatlah persembahan itu, kemudian saya akan
memberitahukan siapa dia, karena jika engkau bertemu
dengannya terlebih dahulu, engkau tidak akan
memberikan satu koin pun." Ketika raja telah membuat
hadiahnya, bhiksu itu dibawa dan raja melihat betapa
pendek dan buruk rupanya dia, benar-benar menyesal
telah memberikan uang itu. Dia berlutut kepada Buddha
dan berkata: "Bhagava, tubuh bhiksu ini terlalu pendek
dan dia benar-benar buruk rupa. Karena perbuatan baik
apakah yang telah dilakukan sehingga dia memiliki
suara yang begitu indah?"
         Buddha berkata: "Dengarkanlah baik-baik, Yang
Mulia dan simpanlah dalam pikiranmu, dan saya akan
menjelaskan kepadamu. Di masa lampau, ketika Buddha
Kasyapa turun ke dunia untuk membantu makhluk hidup
dan telah melewati Nirvana Akhir, ada seorang raja
yang bernama Kalibsi yang mengumpulkan relik Buddha.
Ketika stupa sedang dibangun untuk mereka, empat raja
naga datang kepada raja dalam bentuk manusia dan
berkata: "Yang Mulia, stupa relik Buddha tidak dapat
dibangun dari tanah, tapi dari permata." Raja
menjawab: "Tapi saya akan mendirikan sebuah stupa yang
tingginya 25 yojana, dengan bentuk persegi yang
lebarnya 5 yojana di setiap penjurunya. Bagaimana saya
dapat mendirikan sebuah stupa yang besar seperti ini
dari permata? Tidak, itu akan dibuat dari tanah."
Empat pria berkata: "Kami adalah empat raja naga. Jika
engkau setuju untuk membangun stupa dari permata, kami
akan menyediakan permatanya." Mendengar hal ini, raja
sangat bahagia dan berkata: "Oh, Para Raja Naga, jika
kalian bersedia memberikan permatanya, itu akan sangat
sempurna." Raja naga berkata: "Di luar kota ini engkau
akan menemukan empat sumber mata air besar,
masing-masing di empat penjuru. Jika engkau mengambil
air dari mata air sebelah timur dan membuat batu bata,
batu bata itu akan berubah menjadi lapis-lazuli
berwarna biru. Jika engkau membuat batu bata dari air
dari mata air sebelah selatan, mereka akan menjadi
emas. Dari mata air sebelah barat -perak, dan dari
mata air utara -kristal." Raja mempercayai hal itu.
Dia kemudian menunjuk empat orang pengawas,
masing-masing di setiap penjuru, dan mulai mengerjakan
stupa. Tiga pengawas itu berkerja dengan baik dan
melaksanakan pekerjaan mereka, tapi pengawas keempat
malas dan tidak melakukannya. Ketika raja datang untuk
memeriksa stupa itu dan menemukan pekerjaan itu belum
selesai, dia berkata kepada pengawas yang malas itu:
"Engkau tidak melakukan usaha, tidak melakukan
pekerjaanmu, dan engkau akan dihukum." Hal ini membuat
pria itu marah, menjawab dengan pedas: "Saya tidak
memiliki karma secukupnya untuk membangun stupa yang
tanpa akhir ini." Raja berkata: "Sangat baik,
cepatlah, berkerja keras, dan selesaikanlah ini."
Kemudian pria ini berkerja siang dan malam dan
akhirnya menyelesaikan pekerjaan ini. Ketika stupa
telah selesai dan permata itu bersinar, seniman yang
malas itu melihat keindahannya, dia mengakui
kesalahannya, menggantungkan sebuah bel emas di puncak
stupa, dan membuat sebuah sumpah: "Di alam manapun
saya dilahirkan, semoga saya memiliki suara yang merdu
dan semoga semua makhluk berbahagia ketika mereka
mendengarnya. Di waktu akan datang, semoga saya juga
bertemu dengan Buddha Sakyamuni."
         "Yang Mulia, bhiksu ini adalah seniman yang
pada saat itu membangun salah satu sisi stupa
tersebut. Karena dia tidak berharap untuk membangunnya
dengan tinggi dan karena dia marah, dia selalu
dilahirkan pendek dan buruk rupa. Tetapi karena
kemudian dia menyelesaikan pekerjaannya dengan pikiran
bahagia, menggantungkan sebuah lonceng emas di atas
stupa, dan membuat sebuah sumpah, dia selalu terlahir
dengan suara merdu selama 500 kehidupan dan sekarang
telah bertemu dengan saya dan menjadi seorang arahat."
         Ketika raja mendengar kata-kata Buddha dan
berharap untuk beristirahat, Buddha bertanya padanya
ke mana dia ingin pergi. Raja berkata: "Bhagava, hal
ini telah menjadi perhatian kami bahwa ada seorang
kriminal yang sangat buruk di negeri kami yang bernama
Angulimala. Dia melakukan perbuatan jahat dan akan
membunuh orang. Kami sedang ingin menangkapnya."
Buddha berkata: "Yang Mulia, Angulimala sekarang tidak
akan melukai seekor lalat pun, apalagi membunuh
manusia." Raja bertanya kepada dirinya sendiri:
"Apakah Buddha telah menjinakkan Angulimala?" Buddha,
membaca pikirannya, berkata: "Ya, Yang Mulia,
Angulimala sekarang adalah seorang bhiksu.
Kesalahannya telah dibersihkan, dia telah menjadi
seorang arahat, dan sekarang tinggal bersamaku. Jika
engkau ingin bertemu dengannya, Yang Mulia, saya akan
mengenalkannya kepadamu." Raja pergi ke tempat
Angulimala tinggal dan pada saat dia mencapai pintu,
Angulimala batuk dengan keras. Tiba-tiba raja
mengingat semua orang yang telah dibunuh oleh
Angulimala dan jatuh ke tanah tidak sadarkan diri.
Ketika dia sadar, dia bangun dan pergi kepada Buddha
dan memberitahu apa yang telah terjadi.
         Buddha berkata: "Raja, dengarkanlah dengan
baik. Di waktu lampau, di tanah Benares, ada seekor
burung yang sangat beracun yang memakan serangga
beracun. Tubuh burung itu sangat beracun sehingga
ketika ada yang mendekatinya tidak ada yang dapat
bertahan. Bahkan bayangannya pun ketika melewati
sebuah pohon maka pohon itu akan layu. Pada suatu
ketika, burung ini terbang ke dalam hutan dan
bertengger di puncak sebuah pohon dan menggoak. Itu
terjadi ketika raja dari sekelompok gajah sedang duduk
di bawah pohon itu, dan ketika dia mendengar suara
burung itu dia pingsan. Yang Mulia, Angulimala adalah
burung itu dan engkau adalah gajah itu." Raja itu
berkata: "Kemudian engkau, Bhagava telah merubah
Angulimala yang dalam kegilaannya membunuh banyak
orang, menjadi bajik." Buddha berkata: "Ini bukanlah
yang pertama kali saya telah menjinakkan bhiksu itu.
Di waktu lampau, saya juga menjinakkannya dan mengubah
dia menjadi bajik." Ketika raja memohon kepada Buddha
untuk memberitahunya hal ini, Bhagava berkata:
         "Di masa lampau, Yang Mulia, berkalpa-kalpa
yang lalu, tak terhitung lagi, hiduplah di Jambudvipa,
di tanah Benares, seorang raja yang bernama Balamatar.
Raja ini dan empat resimen tentara pergi ke hutan
untuk bersenang-senang. Melihat seekor kijang, mereka
mengejar dan raja menjadi terpisah dengan
rombongannya, karena lelah raja masuk ke semak-semak
dan duduk. Di dalam semak-semak ada seekor singa
betina yang belum mengatasi nafsunya. Melihat raja
duduk sendirian, nafsunya timbul dalam dirinya dan
mendekati raja, dia mengangkat ekornya dan
mengibaskannya. Raja, mengerti apa yang dia inginkan,
berpikir: 'Jika saya tidak memuaskan singa betina ini,
sebagai seekor binatang buas liar, dia akan
membunuhku.' Dalam ketakutan yang besar, dia
bersetubuh dengan singa betina itu. Ketika singa
betina itu telah pergi, rombongan raja tiba dan
membawanya kembali ke istana. Singa betina ini hamil
dan ketika berbulan-bulan telah berlalu melahirkan
seorang anak laki-laki yang tubuhnya meskipun manusia
namun memiliki kaki belang seperti seekor singa. Singa
betina ini mengetahui bahwa ini adalah anak raja dan
membawanya kepada raja, karena ini adalah anaknya
sendiri, raja membesarkannya. Karena kakinya belang,
dia memberinya nama 'Kaki Belang'
         "Ketika anak itu dewasa dia menjadi seorang
pahlawan yang gagah berani. Ketika ayahnya meninggal
dia menaikki tahta dan menikahi dua orang istri, yang
pertama dari kasta kerajaan, yang lainnya dari kasta
brahmin. Pada suatu ketika, ketika Raja Kaki Belang
sedang berjalan di taman dengan istri-istrinya, dia
berkata kepada mereka: 'Kalian berdua kejarlah saya.
Siapapun salah satu dari kalian yang berhasil
menangkapku saya akan menghabiskan hari itu dengan
berolahraga dan bermain,' dan berlari bersamanya.
Kedua ratu bersiap-siap kemudian mengejar raja.
Sepanjang tepi jalan ada sebuah kuil batu seorang
dewa. Ketika wanita dari kasta brahmin melihatnya dia
berhenti dan menunduk, ratu yang lain berlari
mendahuluinya, menangkap raja, dan ketika ratu kedua
mendekat dia tidak membiarkan ratu dari kasta brahmin
itu mendekat. Hal ini membuat istri dari kasta brahmin
marah dan dia memberitahukan dewa kuil itu: 'Dewa,
ketika saya sedang menunduk padamu ratu yang lain
telah memenangkan permainan. Jika engkau benar-benar
dewa yang kuat, mengapa engkau tidak menolongku?'
Ketika tidak terjadi apapun, ratu mengumpulkan banyak
orang, menendang kuil itu, dan membuangnya ke tanah.
Dewa di kuil itu, marah dan bingung, memutuskan untuk
melukai raja. Dia pergi ke istana, tapi dewa penjaga
di istana menolak untuk mengizinkannya masuk.
         "Pada saat itu hiduplah seorang rshi di
Gunung Banyak Rshi yang setiap harinya terbang melalui
langit ke istana, di mana Raja Kaki Belang memberikan
persembahan untuknya. Suatu hari ketika dia tidak
datang untuk makan, dewa kuil, mengetahui bahwa dia
tidak datang, mengubah dirinya menjadi rshi dan datang
ke istana. Dewa penjaga itu segera mengenalinya dan
menolak untuk membiarkannya masuk. Dewa kuil kemudian
memanggil dari luar dan ketika raja mendengar suaranya
dia memerintahkan agar dia diizinkan masuk. Dia masuk,
duduk di tempat duduk rshi, dan ketika raja telah
mempersiapkan makanan dan mempersembahkan padanya,
rshi palsu menolak untuk menyentuhnya dan berkata:
'Saya tidak memakan makanan seperti ni, saya makan
daging dan ikan.' Raja berkata: 'Tapi rshi besar,
sebelumnya engaku memakan makanan yang sama dengan
para pelayan; bagaimana sekarang ingin makan daging?'
Rshi itu berkata: 'Di waktu akan datang saya akan
memakan hanya daging dan ikan,' dan pergi. Berdasarkan
perkataan rshi yang tidak benar itu, raja
mempersiapkan daging dan ikan dan hari berikutnya
ketika rshi yang asli muncul, mempersembahkan itu
kepada rshi, hal ini membuat rshi marah, dan raja
melihat kemarahannya, berkata: 'Tapi rshi yang besar,
apakah engkau sudah lupa bahwa ketika engkau kemarin
datang engkau memberitahukan saya untuk mempersiapkan
makanan seperti ini?' Rshi itu berkata: 'Saya tidak
datang kemarin, dan engkau menghina saya. Karena
penghinaan ini biarlah engkau tidak memakan apapun
selain daging manusia selama 12 tahun!' Kemudian dia
pergi.
         "Beberapa waktu kemudian juru masak raja,
melihat tidak ada daging untuk dimakan raja, pergi ke
luar mencari beberapa tetapi tidak menemukan apapun.
Sepanjang jalan dia mengamati tubuh anak kecil yang
meninggal dan berpikir: 'Ini bisa,' memotong kepala,
tangan dan kaki, mencuci daging sisanya, membumbuinya,
memasaknya, dan menghidangkannya untuk raja. Raja
berpikir bahwa ini adalah daging yang terlezat yang
pernah dia dicicipi dan memberitahu juru masak: 'Ini
adalah daging terbaik yang pernah engkau persiapkan.
Apa ini?' Ketakutan, juru masak itu tak berdaya dan
berkata: 'Yang Mulia, jika engkau berjanji tidak akan
menghukumku, saya akan memberitahumu.' Ketika raja
telah berjanji bahwa tidak akan ada hukuman, juru
masak itu memberitahunya apa yang terjadi. Raja
berkata: 'Tetap, daging itu sempurna. Di waktu
mendatang siapkan hanya daging ini saja. 'Juru masak
ini memprotes: 'Tapi raja, daging itu berasal dari
seorang anak kecil yang telah mati. Di mana saya akan
menemukan daging seperti itu?' Raja kemudian
memerintahkannya untuk menculik anak kecil, dan sesuai
dengan perintah raja, juru masak itu menculik
anak-anak kecil pada malam hari, membunuh mereka, dan
menghidangkan mereka untuk raja di hari selanjutnya.
         "Segera di kota muncullah teriakan dan
tangisan karena semua anak-anak menghilang dan semua
menteri datang bersama-sama dan berdiskusi dan
memasang penjagaan di seberang jalan. Penjaga ini
menangkap juru masak menculik seorang anak dan
membawanya kepada raja, berkata: 'Yang Mulia, banyak
anak-anak kita yang menghilang. Ini adalah pria yang
telah membunuh mereka. Kami memohon agar dia dihukum.'
Raja tetap diam. Ketika hal ini terjadi tiga kali dan
raja tidak melakukan apapun, para menteri
memberitahunya: 'Yang Mulia, kami telah menangkap
seorang kriminal dan membawanya kepadamu, engkau belum
melakukan apapun. Apa alasan untuk hal ini?' Raja itu
berkata: 'Pria itu tidak bersalah. Apa yang dia
lakukan adalah perintahku.' Hal ini membuat para
menteri marah dan pergi untuk saling berdiskusi,
berkata: 'Raja ini yang telah memakan anak-anak kita
adalah monster. Mendukung raja yang memakan daging
manusia adalah tidak benar. Hal yang benar adalah
membuangnya,' dan semuanya setuju bahwa raja harus
dihukum.
         "Di luar kota, ada sebuah kolam air bersih
yang mana raja pergi kesana setiap hari untuk mandi.
Suatu hari ketika dia sedang mandi, para menteri dan
tentara mengelilingi kolam itu dan menangkapnya.
Ketakutan, dia bertanya kepada para tentara mengapa
dia menangkapnya dan diberitahu: 'Bawahanmu tidak akan
mendukung seorang raja yang memakan anak-anak mereka.
Karena perbuatan jahatmu, engkau harus mati.' Raja
berkata: 'Benar bahwa saya telah melakukan kesalahan,
tapi saya tidak akan melakukan perbuatan jahat ini di
waktu akan datang. Bebaskanlah nyawaku!'
          Menteri itu menjawab: 'Jika turun hujan
darah hitam dan seekor ular hitam besar datang dan
membelit di kepalamu, kami akan melepaskan nyawamu.'
Raja Kaki Belang mengetahui bahwa dia akan dibunuh
sekarang berkata: 'Para menteri, kalian pasti akan
membunuhku. Berilah saya waktu sebentar untuk
berpikir, kemudian bunuhlah saya.' Ketika para menteri
menunggu raja membuat doa sebagai berikut: 'Dengan
kekuatan kebajikan yang telah saya lakukan di masa
lalu, telah memerintah sesuai Dharma, dan telah
menghormati para rshi dan orang-orang suci, semoga
saya sekarang menjadi seekor naga dan terbang ke
cakrawala. Tiba-tiba Raja berubah menjadi seekor naga
dan terbang ke atas, naga melihat para menteri yang di
bawah sambil berkata: 'Kalian akan membunuhku, tapi
saya telah diselamatkan dengan kekuatan kebajikan. Di
masa datang, biarlah engkau yang dibunuh dan saya akan
memakan istri dan anak-anak tercintamu.'
         "Naga itu kemudian terbang ke sebuah gunung
dan tinggal di sana. Dari waktu ke waktu naga turun ke
negeri dan memakan manusia dan orang-orang tinggal 
disana sangat ketakutan. Setelah itu, banyak naga yang
lain datang kepadanya, menjadi pengikutnya dan pada
suatu kejadian, mereka semua datang menghadapnya dan
berkata: 'Kami telah menjadi pengikutmu dan sekarang
kami ingin engkau mempersiapkan pesta makan untuk
kami.' Raja Kaki Belang setuju dan memberitahu mereka:
'Sangat baik, kita akan menangkap 1000 pangeran,
membunuh mereka, dan memakan mereka.' Setiap naga
kemudian menangkap seorang pangeran dan membawanya ke
sarang, tapi ketika mereka menghitungnya hanya ada
999.
         "Para pangeran ketakutan dan saling berkata:
'Tidak ada harapan bagi kita. Hanya jika
Sutasomaputra, dia yang pintar bermain tipu muslihat
datang, dia dapat menyelamatkan kita. Jika hanya
Sutasomaputra juga tertangkap!' Kemudian mereka
berkata kepada raja naga: 'Yang Mulia karena engkau
menginginkan makan besar, engkau juga harus menangkap
Sutasomaputra. Itu akan membuat pesta makan ini
sempurna.' Raja naga menyetujui hal ini dan terbang
melalui angkasa untuk menemukan Sutasomaputra. 
         Pada saat itu Sutasomaputra telah pergi ke
hutan dengan sebuah rombongan yang terdiri dari banyak
anak laki-laki dan perempuan dan tentara. Ketika
seorang guru brahmin muncul, pangeran itu
menyambutnya, bertanya kepadanya dari mana dia datang,
dan memohon padanya untuk mengajarkan Dharma. Ketika
brahmin itu sedang mengajar, terdapat suara yang
mengerikan dan semuanya berlari dan meninggalkan
pangeran seorang diri. Kemudian Kaki Belang, raja para
naga muncul, merenggut pangeran, menaruhnya di
belakangnya, dan terbang jauh. Ketika mereka tiba
disarangnya dan Sutasomaputra sedih dan menangis. Kaki
Belang berkata kepadanya: "Yang Suci, saya telah
mendengar kebajikanmu yang begitu besar. Engkau
seharusnya tidak takut pada siapapun. Mengapa engkau
menangis seperti seorang bayi. Apakah engkau takut
terhadapku?" Sutasomaputra berkata: 'Raja naga, saya
tidak takut kepadamu. Saya menangis karena saya
tergila-gila pada tubuh milikku ini. Seketika  saya
dilahirkan saya tidak pernah mengucapkan sebuah
kebohongan pun. Saat ketika engkau muncul, seorang
brahmin datang kepadaku dan, ketika dia sedang
mengajarkanku Dharma, engkau datang membawaku pergi
dan permintaanku akan Dharma tidak bisa terpenuhi. Hal
ini yang menyebabkan saya menangis. Raja Naga, dengan
baik mengizinkannya kembali kepada brahmin dan
membiarkannya mendengarkan Dharma. Dalam tujuh hari,
saya akan kembali kepadamu.' Kaki Belang berkata: 'Apa
yang engkau katakan tidak benar. Jika saya membiarkan
engkau pergi sekarang, engkau akan melarikan diri dan
tidak pernah kembali. Siapa yang akan mempercayaimu?'
Sutasomaputra berkata: 'Engkau telah mengatakan bahwa
saya tidak bisa melarikan diri darimu. Jika saya tidak
kembali, maka tidak sulit untuk menangkapku kembali.'
Ketika Kaki Belang mendengar hal ini, dia setuju dan
membiarkan pangeran itu pergi. Sutasomaputra kembali
ke istana dan berbahagia menemukan brahmin itu. Dia
membuat persembahan besar kepadanya dan semua orang
bermudita.
         Ketika brahmin mengetahui bahwa pangeran akan
kembali lagi kepada raja naga yang tidak akan
melepaskan hidupnya, dia melantunkan sajak berikut: 
         
         'Pada saat akhir kalpa telah mendekat
         Langit dan sungai-sungai akan meledak menjadi
api
         Hanya gunung Semeru, laut, dan semuanya yang
tersisa.
         Semuanya akan mati seperti debu.
         Para dewa, naga, dan asura,
         Akan dihancurkan dan hilang.
         Jika langit dan bumi kemudian menjadi tidak
berguna, 
         Bagaimana sebuah kerajaan dapat abadi?
         Tidak pernah lelah di Lingkaran10
         Kelahiran, sakit, usia tua, dan kematian.
         Ketika keinginan seseorang tidak terpenuhi,
         Mengalami penderitaan pahit.
         Kejahatan muncul dari keinginan.
         Tidak muncul dari sumber lain.
         Karena tiga dunia ini penuh penderitaan,
         Bagaimana mungkin keinginan untuk kesenangan
dapat abadi?
         Apa yang muncul akan hilang.
         Akibat muncul dari sebuah sebab.
         Ketika itu berkembang, terdapat rasa sakit.
         Yang benar dan pasti menjadi salah.
         Manusia, benda, tiga dunia, 
         Melalui ketidaktahuan batin, muncul.
         Tetapi semuanya seperti pertunjukkan sulap.
         Bagaimana sebuah kerajaan dapat abadi?
         Pikiranmu tidak memiliki realitas, 
         Meskipun muncul dari ketidaktahuan, 
         Dan tinggal dengan empat ular,
         Itu merenggut hal-hal menyenangkan.
         Karena bentuk tidaklah kekal,
         Bagaimana keabadian ada dalam pikiran? 
         Karena tubuh dan pikiran terpisah,
         Bagaimana engkau terpisah dari kerajaan?'

        'Ketika brahmin itu telah berkata demikian, pangeran
itu berpikir tentang kata-kata ini dan sangat
berbahagia. Dia menempatkan adiknya di tahta,
membebaskan para menterinya dan menjelaskan bahwa dia
akan kembali ke raja naga. Semua menteri berkata
kepadanya: 'Janganlah berpikir untuk kembali kepada
naga itu. Bangunlah sebuah istana besi dan tinggalnya
didalamnya dan selamatkan nyawamu. Sehingga Kaki
Belang tidak bisa menemukanmu.' Pangeran itu berkata
kepada para menterinya dan orang-orang: 'Setelah
memperoleh kelahiran yang sangat baik ini adalah hal
salah jika berkata suatu kebohongan? Akan lebih baik
mati daripada berbohong. Saya telah berjanji kepada
Kaki Belang dan dia telah mengizinkan saya kembali.
Apakah benar jika saya tidak kembali sekarang? Kalian
tidak boleh menghalangiku.'
         "Semua orang dengan sangat sedih tetap diam.
Ketika itu waktunya bagi pangeran untuk pergi, mereka
menemaninya, merengek. Sementara itu, Kaki Belang
sedang berpikir bahwa inilah waktunya bagi pangeran
untuk kembali dan pergi ke puncak gunung, mengawasi,
dan melihat dia datang dari kejauhan. Ketika pangeran
mendekat naga itu tidak pernah sebahagia ini dan
berkata kepadanya: 'Engkau tidak mencintai hidupmu
sendiri dan suatu hal yang baik untuk kembali lagi
kepadaku. Tapi apa yang telah engkau lakukan selama
tujuh hari ini yang membuatmu sangat bahagia? Beritahu
saya.'
         "Sutasomaputra berkata: 'Ketika saya kembali
ke rumah, saya mendengar seorang guru brahmin mengajar
Dharma yang menanamkan kebajikan sangat besar, dan
batinku sekarang tenang. Sekarang lebih baik bagiku
untuk mati daripada hidup dan saya berbahagia.' Kaki
Belang bertanya: 'Ajaran apa yang telah engkau
dengar?' Pangeran itu mengulang kembali sajak yang
telah diajarkan oleh brahmin kepadanya. Dia
menambahkan bahwa ketika seseorang menjauhkan diri
dari pembunuhan maka buah karma baik yang akan
diterima akan sangat besar, membunuh adalah hal yang
menyedihkan dan hal itu menciptakan karma buruk yang
besar. Kaki Belang mempercayai hal ini, bersukacita,
bangun, dan menunduk. Ketika pangeran berkata: 'Raja,
buanglah kesalahan besar ini dan janganlah melakukan
pembunuhan,' Kaki Belang menjawab: 'Ya, Sutasomaputra,
akan kulakukan sesuai dengan nasihatmu.' Kemudian
pangeran berkata: 'Raja, engkau harus membebaskan
semua pangeran yang telah dikurung disini di dalam
sarang gunungmu.' Raja naga itu melakukan hal ini dan
mengirim semua pangeran kembali ke negeri mereka
masing-masing.
         "Kemudian Sutasomaputra telah menjinakkan
Raja Kaki Belang, mengajarkan dia Dharma, kemudian
kembali kerumahnya, mengumpulkan pasukannya, membawa
Raja Kaki Belang, dan mengembalikan tahta dia kembali
dimana dia memerintah dengan adil, tidak memakan
daging manusia lagi karena kutukan 12 tahun rshi itu
telah lewat."
         Buddha melanjutkan: "Yang Mulia, pada saat
itu saya adalah Sutasomaputra. Angulimala adalah Kaki
Belang. Orang-orang yang ingin membunuh Angulimala
adalah mereka yang ingin membunuh Kaki Belang dan
selama semua kelahiran, mereka selalu melakukan hal
ini. Saya mengubah mereka dari perbuatan jahat dan
membawa mereka ke Kebahagiaan Sempurna. Sekarang saya
telah menghilangkan semua rintangan, telah
menyempurnakan semua kebajikan dan mencapai
Kebuddhaan, saya adalah penjinak manusia."
         Raja menunduk kepada Buddha dan berkata:
"Bhagava karena kejahatan masa lampau apa yang membuat
semua pembunuhan ini?'
         Buddha berkata: "Dengarkan dengan baik, Yang
Mulia, dan saya akan memberitahukan kepadamu
alasannya. Berkalpa-kalpa lalu yang tak terhitung, ada
seorang raja besar di Benares yang bernama Baladara
yang memiliki dua orang putra yang sangat kuat dan
tampan. Pada suatu kejadian putra yang lebih muda
berpikir: 'Ketika ayahku meninggal, kakakku akan naik
tahta dan kerajaan ini akan jadi miliknya. Ketika
seseorang terlahir dalam garis kerajaan tidak mungkin
bagi dia untuk hidup menjadi rakyat biasa, oleh karena
itu saya harus pergi ke sebuah tempat terpencil dan
hidup sebagai seorang pertapa. 'Putra muda Pergi
menghadap ayahnya, dia memberitahu ayahnya tentang
keinginannya, tetapi raja tidak menyetujuinya.
Pangeran itu bersikeras, akhirnya raja mengizinkan,
dan putra itu pergi ke gunung.
         "Bertahun-tahun telah berlalu, raja tua itu
meninggal dan anak pertamanya menggantikannya. Tetapi
dia juga meninggal kemudian dan sekarang tidak ada
pewaris, para menteri berdiskusi. Mereka berkata:
'Putra termuda raja sekarang hidup sebagai seorang
pertapa di gunung. Apakah baik jika membawa dia
kembali dan mengangkatnya menjadi raja?' Para menteri
setuju bahwa ini cara tepat untuk melakukan hal
tersebut. Mereka pergi ke gunung, menemukan putra
muda, dan melaporkan bahwa ayah dan kakaknya telah
meninggal dan memohon kepadanya untuk kembali dan
memerintah. Pertapa itu menolak dan berkata dengan
penuh ketakutan: 'Hidup di sebuah pertapaan seperti
ini saya tidak mengalami penderitaan. Haruskah saya
meninggalkannya dan kembali untuk naik tahta, hal
keduniawian, yang belum dizinakkan, pastilah akan
membunuhku.' Para menteri itu memprotes: 'Tapi
pangeran, garis kerajaan telah sampai pada suatu akhir
dan engkaulah satu-satunya pewaris. Sekarang tidak ada
yang melindungi orang-orang dan kami memohon kepadamu
untuk berwelas asih kepada semua makhluk hidup,
kembalilah dan menjadi raja.' Dengan ragu-ragu,
pertapa itu menyetujuinya, kembali dan menjadi raja.
         "Pertapa itu belum memotong kemelekatannya
dan setelah dia menjadi raja, nafsu terhadap wanita
tumbuh dalam dirinya. Tanpa memperdulikannnya hawa
nafsu menguasainya. Pada suatu ketika dia membuat
pengumuman: 'Semua gadis perawan yang ada dikerajaanku
harus datang dan bersetubuh denganku sebelum mereka
menikah. Setelah mereka melakukan hal ini mereka boleh
kembali kerumahnya.' Kemudian semua gadis cantik di
kerajaan itu datang untuk bercinta dengan raja.
         "Pada suatu kejadian ketika banyak orang
berkumpul bersama, seorang wanita membawa air ke depan
semua orang. Semuanya tertawa terbahak-bahak. Wanita
itu menoleh kepada mereka dan berkata: 'perbuatan
salah apakah yang terjadi jika seroang wanita
mengangkat air diantara wanita yang lainnya? Ketika
saya melakukannya diantara mereka tetapi apa penyebab
kesenangan ini?' Ketika orang-orang bertanya
kepadanya: 'Wanita, pembicaraan apa ini?' Wanita itu
menjawab: 'Di negeri in hanya raja itu yang merupakan
pria. Semua sisanya adalah kalian wanita. Jika kalian
benar-benar pria, engkau akan melakukan apapun
sendiri. 'Orang-orang itu menjadi malu dan setuju
bahwa raja telah semakin jauh dari perbuatan benar,
dan mereka berdiskusi untuk menghancurkannya. Kemudian
mereka setuju untuk menculik dia ketika dia pergi ke
taman untuk mandi.
         "Kemudian para tentara menyembunyikan diri
mereka di taman, dan ketika raja datang untuk mandi
dan masuk ke dalam air, para tentara keluar dan
menculiknya. Raja itu ketakutan dan bertanya apa yang
terjadi. Para menteri memberitahunya: 'Yang Mulia,
engkau tidak mengikuti Dharma dan telah ternodai oleh
nafsu. Engkau telah menghina semua rakyatmu dan
melakukan perbuatan yang tidak pantas. Kami akan
membunuhmu dan mencari seorang raja yang bijaksana dan
cerdas. 'Dalam ketakutan, raja itu berkata kepada para
menterinya: 'Sungguh-sungguh benar saya telah
mengikuti ajaran sesat dan melakukan perbuatan yang
tidak pantas, tapi saya tidak akan melakukannya lagi.
Lepaskanlah saya!' Para menteri berkata: 'Jika salju
hitam turun di negeri ini dan seekor ular berbisa
melilitkan tubuhnya ke lehermu, kami akan
melepaskanmu.' Raja, yakin bahwa dia akan dibunuh,
menjadi marah dan berkata: 'Pada waktu dulu, ketika
saya menolak hal-hal duniawi dan beristirahat di
gunung, kalian memaksaku untuk kembali dan naik tahta.
Oleh karena itu saya akan berjanji bahwa jika kalian
membunuhku sekarang, di kehidupan akan datang, saya
akan bertemu dan membunuh kalian.' Yang Mulia, karena
sumpah inilah sehingga semua pembunuhan ini terjadi.
Angulimala adalah raja itu, dan orang yang dibunuh
olehnya adalah mereka yang bersengkokol melawannya.
Dia telah membunuh mereka di setiap kehidupan."
         Raja kemudian berlutut, beranjali, dan
berkata: "Bhagava, karena Angulimala telah membunuh
begitu banyak orang, apakah ada balasannya?"
         Buddha berkata: "Yang Mulia, ketika kejahatan
telah dilakukan, balasannya tidak terelakan. Meskipun
sekarang Angulimala duduk di tempat tinggalnya, api
neraka membakar dari rambut hingga tubuhnya."
Kemudian, untuk menunjukkan balasan untuk perbuatan
jahat itu, Buddha berkata kepada seorang bhiksu:
"Bhiksu, ambillah kunci dan bukalah pintu Angulimala
sedikit dan lihatlah kedalamnya." Ketika bhiksu itu
melakukan hal ini, kunci itu meleleh. Bhiksu itu
ketakutan, bergegas kembali kepada Buddha, dan
memberitahu apa yang telah terjadi. Ketika Buddha
memberitahu kumpulan besar: "Ini adalah buah dari
melakukan kejahatan," dan raja serta kumpulan besar
percaya.
         Kemudian Yang Mulia Ananda berkata kepada
Buddha: "Bhagava, saya mohon kepadamu unukt
menjelaskan kepada kumpulan besar perbuatan baik apa
yang telah dilakukan bhiksu Angulimala sehingga
terlahir sekuat gajah yang gagah, secepat burung, dan
sekarang bertemu dengan Bhagava dan terbebaskan dari
Lingkaran Samsara."
         Buddha berkata: "Dengarkan dengan baik,
Ananda. Pada waktu lalu, pada masa Buddha Kasyapa, ada
seorang bhiksu yang mengurusi masalah Sangha. Suatu
hari ketika dia pergi untuk menyiangi ladang, hujan
berbadai turun dan, ketika dia mencoba untuk
mendapatkan sesuatu untuk melindungi tanaman, dia
tidak bisa menghadang badai itu dan tidak menemukan
apapun. Dia kemudian membuat sumpah: 'Di kehidupan
mendatang semoga kekutatanku sebesar 1000 pria dan
semoga saya dapat berpindah berkali lipat sepert
seekor burung terbang. Di kehidupan mendatang semoga
saya bertemu dengan Buddha Sakyamuni ketika dia turun
ke dunia ini dan semoga saya dibebaskan dari Lingkaran
Samsara.' Ananda, bhiksu yang telah membuat sumpah itu
adalah bhiksu Angulimala. Dengan membuat sumpah itu,
dengan menjadi bhiksu dan menjaga Sila, dan dengan
berkerja demi Sangha, dia selalu terlahir tampan dan
dengan kekuatan besar. Sekarang bertemu denganKu, dia
telah dibebaskan dari Lingkaran kelahiran dan
kematian."
         Kemudian Ananda, para bhiksu, raja, dan
kumpulan besar, setelah mendengar penjelasan Buddha
tentang Hukum sebab akibat, menumbuhkan niat dalam
diri mereka sendiri dan merenung pada Empat Kebenaran.
Beberapa menjadi Pemenang Arus, beberapa menjadi
Kembali Satu Kali, beberapa menjadi Tidak Pernah
Kembali, dan beberapa menjadi arahat. Beberapa
memperoleh batin awal pencerahan sempurna. Beberapa
memasuki alam tidak kembali. Beberapa mengarahkan
tubuh, badan jasmani, dan pikirannya kepada kebajikan
dan berkeyakinan terhadap perkataan Buddha, bermudita cita.

J u n a i d i
Dept. of Information Technology

PT. Tiara Gaya Arga Kencana
Paint, Road Marking, & Epoxy Manufacturer
Jl. Cimareme No. 185 A Padalarang, West Java - Indonesia

Phone:� +62 22 665 1515 [ hunting ]
Fax.:�� +62 22 665 6555
Mobile: +62 911 80 855 / +62 856 219 8835 / +62 707 87 555 
--------------------------------------------------
http://joened.blogspot.com
Beli Buku Online di http://www.bearbookstore.com
UserID : zugheliang
Nama : Junaidi


                
Yahoo! Mail
Stay connected, organized, and protected. Take the tour:
http://tour.mail.yahoo.com/mailtour.html



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Would you Help a Child in need?
It is easier than you think.
Click Here to meet a Child you can help.
http://us.click.yahoo.com/sTR6_D/I_qJAA/i1hLAA/UlWolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya 
maupun di luar diri saya. 

Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan;
tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan;
serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh.
Kami mengikuti jalur perhatian penuh, 
latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam
agar mampu melihat hakikat segala sesuatu,
sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian.
Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, 
menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  membawa 
akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan 
tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta 
sahabat-sahabat kami.
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke