--- In [email protected], King Hian <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > KH: > Vihara yang Anda katakan banyak huruf Mandarinnya, kebaktian dalam bhs. Mandarin, patung2nya seperti orang Cina, memang kemungkinan besar adalah vihara Mahayana. Tetapi Mahayana tidak identik dengan Buddhisme Cina. > Buddhisme di Cina, Jepang, Korea, Mongolia, Tibet, India (sebelum dinasti Moghul), Asia Tengah (Afganistan sampai Turkistan, sebelum Islam masuk), Indonesia (Srivijaya dan Jawa Kuno) adalah Mahayana. > Anda mengatakan "bukan Kuan Yim" dan Anda mempunyai pandangan sendiri mengenai Kuan Yim. Apakah maksud Anda patung Kuan Yim Cina berbeda dengan Kuan Yim menurut pandangan Anda? Ataukah ada patung 'dewi' lain yang bukan Kuan Yim. Apakah itu Dewi Dashizhi, Wenshushili, Puxian?
Kuan Yim yang Anda sebutkan di atas tidak berbeda dengan Kuan Yim dalam pandangan pribadi saya. Ketika kita membicarakan berdoa secara buddhis, saya mengexclude-kan Kuan Yim dalam masalah ini untuk satu dan lain hal. > > KH: > Anda mengakui bahwa Anda masih belum jelas tentang berdoa dalam Tibetan Buddhism, karena itu Anda tidak membahasnya. Sebaliknya Anda sudah membicarakan tentang berdoa dalam Buddhisme Cina, berarti Anda cukup mengerti/memahami berdoa menurut Buddhisme Cina. > Saya ingin tahu, apa nama dewa-dewi dalam vihara yang penuh tulisan Cina, yang Anda maksud. Terakhir kali saya pergi ke vihara Mahayana, saya masih SD. Ada 8 patung yang berdiri berderetan. Mungkin itu 8 dewa dalam legenda 8 dewa. Tapi saya tidak yakin. > KH: > Walaupun Anda sering melihat umat Theravada bersembahyang kepada Patung Buddha dengan dupa, Anda tidak menyebutkan penganut Theravada bersembahyang kepada patung Buddha karena Anda juga sering melihat penganut Theravada yang tidak melakukan hal tsb. > Dari logika di atas, berarti Anda tidak pernah pelihat penganut Buddhisme Cina yang tidak melakukan permohonan ke patung dewa-dewi. Semua umat Buddhisme Cina yang Anda lihat adalah orang2 yang memohon ke patung dewa dewi Cina. Apakah betul demikian? Saya pergi ke vihara Theravada ( yang dicemari kebudayaan Thai/India ) itu pun tidak sampai satu tahun. Mungkin baru setengah tahun. Jadi berdoa kepada pihak eksternal dalam Theravada ( yang dicemari kebudayaan Thai/India ) masih dalam penyelidikan saya. Sedangkan saya pergi ke vihara Mahayana itu 2-3 tahun. Seingat saya, semua penganut Mahayana di vihara itu semuanya bersembahyang ke patung dewa-dewi ( including me ). Jadi kesan penganut Mahayana berdoa kepada pihak eksternal tertancap lebih kuat di benak saya daripada penganut Theravada/Tibetan berdoa kepada pihak eksternal. Permohonan ke patung dewa-dewi??? Tidak tahu, saya tidak bisa membaca isi hati orang waktu sembahyang kepada dewa-dewi. Mungkin saja mereka tidak melakukan permohonan. "Semua umat Buddhisme Cina yang Anda lihat adalah orang2 yang memohon ke patung dewa dewi Cina. Apakah betul demikian?" Tidak. Apakah penganut sekte/mazhab/aliran harus setuju dengan semua praktik dari sekte/mazhab/aliran itu???? Dalam Theravada ( yang dicemari kebudayaan India/Thai ), bikkhu tidak boleh berada dalam lingkup privasi dengan cewek doank. Ada cerita bikkhu kebetulan dapat tempat duduk di samping cewek. Dia minta dipindahkan tempat duduk yang membuat repot pramugari karena umumnya semua orang duduk di samping keluarga. Nah, apa yang menjamin bikkhu itu tidak berpikir tentang seks ketika duduk TIDAK dengan cewek DAN apa yang menjamin seorang bikkhu pasti berpikir tentang seks jika duduk dengan cewek???? Betul ( menurut pemahaman saya ) Siddharta memberi aturan ( vinaya ) bahwa bikkhu tidak boleh dalam lingkup privasi dengan cewek doank. Tapi kan itu ( menurut pemahaman saya ) dibuat karena Siddharta tahu pikiran seseorang itu licik mencari celah dari suatu aturan. Dengan aturan yang TEGAS seperti itu, pikiran juga susah mencari celah untuk berduaan dengan cewek. Yah seharusnya aturan itu diubah menjadi bikkhu harus menjaga kemurnian pikiran dari seks ( n things like that ) dan seyogyanya menghindari kontak "langsung" dengan cewek karena cewek itu walaupun netral tapi berpotensial sekali menimbukan rasa atau pikiran tentang seks ( seks sebenarnya juga netral tapi seks adalah salah satu hal yang sangat berpotensial menimbulkan kemelekatan ). Tapi jika aturannya seperti itu, banyak bikkhu yang akan mencari celah atau pembenaran berduaan dengan cewek. Tidak masalah bikkhu itu menghindari cewek tapi seharusnya praktik spiritual tidak boleh merepotkan orang lain. Dan ada beberapa praktik Theravada yang saya tidak setujui karena cukup patriakis. > KH: > Berdasarkan jawaban Anda, berarti Buddhisme murni bisa dipelajari dari aliran apapun, asalkan sesuai dengan kehidupan Buddha Gotama (Siddharta adalah pangeran Sakya, bukan Buddha). > Apakah Anda bermaksud mengatakan bahwa Buddhisme Cina tidak sesuai dengan kehidupan Buddha Gotama (karena berada pada posisi yang berbeda dengan Buddhisme murni)? Rinto Jiang sudah mengkritik saya atas kenaifan menyebutkan kata murni itu. Jadi masalah ini sudah beres. Sedangkan mengenai masalah Siddharta vs Gotama, yah memang pada saat Siddharta sudah mencapai pencerahan, orang-orang menyebutnya petapa Gotama bukan petapa Siddharta. Tapi saya lebih suka menyebutnya Siddharta. Ini hanya preferensi pribadi. Semoga ini meluruskan banyak hal. Terima kasih. ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Would you Help a Child in need? It is easier than you think. Click Here to meet a Child you can help. http://us.click.yahoo.com/sTR6_D/I_qJAA/i1hLAA/UlWolB/TM --------------------------------------------------------------------~-> Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya. Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh. Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian. Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari, membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami. Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
