|
Sekuntum teratai buat rekan Rinto Jiang,
Trims atas artikel : Belajar Agama Buddha Belajar Diri Sendiri
Artikel yang bagus, terima kasih.
Saya akan coba lebih mengamati pikiran, emosi gejolak bathin dan niat
saya saat merespon di milis.
APA YANG DI KRITIK.
Rekan Rinto:
Tapi kalau persepsi murni dijadikan sebagai satu senjata buat
me"nidak-murni"kan orang lain ini yang saya tidak suka. Saya tidak suka itu
urusan saya sendiri bro. Anda gak usah mencak2 di sana, kalo kena stroke, kan
saya tambah karma buruk.
[....]
semua yang berbau tradisi cut cut cut. Eh, eh, malah terikat sama ritual
dan tradisi baru.
Wijaya:
O.... tentang TRADISI rupanya.
Situasi dan pengalaman kita soal tradisi rupanya berbeda, sehingga respon
saya yang lalu kurang pas.
Rekan Rinto,
Mereka yang Anda kritik mesti tahu dengan jelas, apa sesungguhnya yang Anda
kritik itu:
=Klaim MURNI?
=Sikap MENIDAK MURNIKAN --pendapat, cara sembahyang, berdoa, tradisi--orang
lain atau kelompoknya sendiri? atau
=Pemaksaan membuang tradisi? atau
=Soal Pelestarian Tradisi lama dan pengadopsian Tradisi baru? atau
=(silahkan di isi apa kritik Anda )?
Kalau menurut artikel terjemahan Anda, mestinya pengamatan pada pikiran
PRIBADI sendiri. Bukan pengamatan pada pendapat, pikiran rekan kita. Tapi ok
lah, kalau diperluas menjadi pengamatan pada kelompok sendiri dan
melahirkan otokritik. Otokritik itu mesti bisa dipahami oleh kelompok itu
sendiri. Kalau kritikan itu kurang jelas apalagi tidak to the
point, yang dikritik tentu butuh waktu mencerna apa sesungguhnya yang
ingin Anda perbaiki. Syukur2 ngga salah tangkap. Salah paham.
Karena seperti yang sudah saya tulis di milis, soal Klaim KECAPKU NOMOR
SATU, adalah klaim yang hampir dilakukan semua sekte dan agama. Nomor satu dalam
ke-Murnian-kah, ke-ces pleng-an kah, dari yang paling berkuasalah, paling
mudahlah, paling tidak egoislah, dlsb. jadi, kritik pada klaim Murni, menurut
saya terlalu berlebihan. Maksud saya, bila yang mengklaim murni tidak
menyangkutpautkan dengan soal tradisi, kemungkinan Anda juga tidak akan
mengkritik klaim murni itu. Kalau dugaan saya ini keliru, mohon
diluruskan.
ALERGI
Rekan Rinto:
Nah, Bro Wijaya itu mulai ngeracau lagi, yang saya simpulkan itu siapa bro?
Anda yah? Anda berani menjamin gak ada umat Buddhis yang fanatik, fundamental?
Masalah murni saya itu alergi banget, mungkin karena pengalaman yang kurang
menyenangkan yah. Sekte yang mengaku murni dan tidak murni itu relatif dong,
murni terhadap apa dulu? Tapi kalau persepsi murni dijadikan sebagai satu
senjata buat me"nidak-murni"kan orang lain ini yang saya tidak suka. Saya tidak
suka itu urusan saya sendiri bro. Anda gak usah mencak2 di sana, kalo kena
stroke, kan saya tambah karma buruk.
Wijaya:
Membaca pengalaman Anda di atas, saya mulai bisa
memahami Anda.
Menyadari alergi tersebut tentu karena pengamalan dari artikel Anda
tersebut. Karena nggak gampang orang menyadari pikirannya. Cuma, maaf
rekan Rinto, kalau boleh saya duga, alergi Anda MUNGKIN sebenernya bukan pada
klaim murninya, tapi pada persoalan TRADISI.
Untuk memperbaiki sesuatu, Anda mesti tahu APA yg jadi masalah. Kalo
Anda keliru mendiagnosa(baca: mengkritik), bagaimana orang lain bisa
menjadi baik menurut keinginan Anda? Kalau memang AKARNYA soal TRADISI,
pembahasan tentu bisa fokus kemana mestinya. Memang ADA KAITAN dengan klaim
Murni, tapi sepertinya itu cuma efek sampingan aja.
Rinto:
Saya berbahagia karena lepas dari kemelekatan pada pengkotakan dan dikotomi
murni tidak murni.
Wijaya:
Maaf, saya belum bisa menangkap maksud Anda. Apakah Anda bermaksud
menyatakan diri Anda sudah bebas dari pengkotakan sekte Buddhisme? Atau masih
dalam satu sekte, tapi bebas dari soal Murni tidak murni?
Bisa ceritakan, BAGAIMANA caranya lepas dari kemelekatan tersebut?
Berbagilah. Kita jadi Buddhis untuk belajar TIDAK MELEKAT, jadi bila Anda, saya,
kita semua sudah mampu melepaskan diri dari satu kemelekatan,
berbagilah.
Kalau pengkotakan TRADISI LAMA dengan TRADISI BARU, Pengkotakan
TRADISI 'MURNI' dengan TRADISI ADOPSIAN Apa Anda sudah lepas juga atau
bagaimana? Bahagia atau menderita karena pengkotakan yang ini?
Anda bilang merasa bahagia karena sudah bebas dari satu pengkotakan.
Mungkin Nirvana adalah kebebasan tertinggi karena sudah bebas dari segala
konsep, dan pengkotakan. Mungkin.
Kalau tulisan saya membuat Anda emosi, tidak senang, maka saya mohon maaf
dan akan mundur dari topik ini.
Salam metta,
Wijaya
Saling mengingatkan, bagus.
Saling menuntut, jangan.
Kalau kita ALERGI pada sikap orang lain, apakah ORANG ITU yang
HARUS BERUBAH SIKAP, atau DIRI KITA SENDIRI yang mesti mengubah cara berpikir
kita?
----- Original Message -----
Sent: Wednesday, May 18, 2005 8:48
PM
Subject: Re: [Dharmajala] Murni →
Fundamentalisme → Radikalisme (Re: Thera_Maha_Vajra)
Wijaya wrote:
Rinto Jiang :
Ah, bro Wijaya, jangan
tulis yang seperti di atas lar.
Saya pikir pikiran2 cemerlang anda
itu bisa membawa komunikasi yang baik dan usaha pembenahan lebih lanjut bagi
aliran ataupun segelintir umat yang masih suka punya pikiran dikotomi murni
tidak murni. Eh, malah dimunculkan penumbuhan ego-aliran-sentris yang lebih
besar dengan menulis kalimat di atas.
Kritik klaim murni ini harus
menjadi satu macam motivasi buat melakukan otokritik terhadap diri sendiri,
apakah masih terjebak pemikiran sempit seperti ini? Dan, saya tidak setuju
kalau ada anggapan bahwa yang suka mengkritik aliran ini pasti adalah dari
aliran itu. Akh, kapan sih kita bisa belajar mengerti apa itu otokritik?
Otokritik itu penting, saya lebih suka cepat2 melakukan instropeksi dengan
otokritik sebelum menunggu kritik dari orang lain.
Wijaya:
'Ego-aliran sentris' apa tuch? Saya cuma bermaksud, proporsionallah.
Yang segelintir itu aja silahkan diserang. Tapi sebelum nyerang,
menurut saya, perlu DICECAR dengan pertanyaan menyelidik dulu, apa maksud si
penulis, penanya. Mau nyerang atau memang ingin tahu, bertanya. Kalau
ia memang tidak tahu--bahkan walau jelas2 ia menyerang--, mestinya ini
kesempatan baik buat menunjukkan keindahan sekte kita. Lihat tuch rekan
Surya. Ada jalan buat memposting Lamrin. ^_^ Kalau ngga ada mendung, ngga
ada petir, tentu ia sungkan mempostingnya. he he he (ini guyon, rekan
Surya)
Juga, saya sekarang berpikir,"Apa saya MESTI sakit hati dengan klaim2
orang lain, sekte lain, agama lain?" Apa CUMAN itu PROGRAM yang ada?
Apa tidak ada PROGRAM lainnya? Apa tindakan Sang BUddha bila jelas2 dicaci,
diserang? Lalu, siapa yang akan kita jadikan teladan? Sang Buddha atau
siapa?
Dulu memang saya sakit hati kalau dikatakan dari Hinayana. Tapi lama2
merenung, dan dapat jamu. Umat lain juga banyak menyatakan kita sebagai
penyembah berhalalah, ateislah, HANYA ajaran manusialah, dlsb. toh akhirnya
bisa saya cuekkan, jadi kalau saudara sendiri menambah sedikit menyebut
hinayana-lah, fundamental-lah, saya pikir saya mesti berusaha menyamankan
diri dengan klaim, tuduhan demikian, dan bahwa itu memang hak asasi orang
lain berpendapat. Dan mengganti PROGRAM pikiran saya.
Kalau saudara sendiri dilawan, tuduhan umat agama lain, dibiarkan,
rasanya kurang afdol,,,, gitu.
Dengan renung ini itu, minum jamu program baru, sekarang rasanya hati
saya lebih sejuk.
Rinto Jiang :
Akh, kita
bilang otokritik anda tarik2 agama lain ke sini. Agama lain bilang apa,
langsung kamu kena stroke gitu? Bagi saya, agama orang lain itu punya mereka,
gak usah kita pikirin. Yang perlu dipikirin itu kita sendiri, itu gunanya
otokritik. Lalu anda sendiri juga non-Theravada-fobia yah? Dikritik gitu saja
langsung mencak2 gak karuan. Nyerang apa? Saya itu juga skeptis dengan
pernyataan orang yang ingin saya tanggapi pernyataannya, itu makanya saya
sertakan banyak pertanyaan untuk dia jawab. Lihat saja posting2 saya
sebelumnya.
Apa tindakan Sang Buddha bila dicaci, diserang? Ini
pertanyaan yang harus anda jawab sendiri toh, soalnya yang berusaha
"proporsional" di sini itu siapa? Yang merasa diserang itu siapa? Koq tiba2
muncul kontradiksi karakter di sini. Justru anda itu yang merasa diserang,
baru berusaha "proporsional". Bukan begitu?
Rinto Jiang:
Kritik klaim murni ini harus menjadi satu
macam motivasi buat melakukan otokritik terhadap diri sendiri, apakah masih
terjebak pemikiran sempit seperti ini?
Wijaya:
Baru mengklaim murni aja Anda bersikap demikian. GImana kalau klaimnya:
TERLENGKAP-TERMURNI-TERKILAT? HE HE HE HE Apa langsung kena strok?
Otokritik sih bagus, tapi cepat menyimpulkan orang lain fanatik,
menyerang--ajaran, sekte-- kita, juga kurang baik. Kejar dulu, selidiki
dengan pertanyaan, kalau memang ia fanatik, melarang ini itu, Anda masih
punya banyak waktu buat mengeluarkan seluruh unek2 Anda.
Sepertinya Anda sangat alergi dengan klaim murni. Memangnya adakah
sekte yang mengaku ajarannya nggak murni? Bahwa ajaran itu bukan dari Sang
Buddha, bagi Buddhis? Bukan dari Tuhan Pencipta, bagi Agama Samawi?
Adakah? Rasanya, itu klaim mayoritas umat beragama.
Rinto Jiang :
Nah, Bro Wijaya
itu mulai ngeracau lagi, yang saya simpulkan itu siapa bro? Anda yah? Anda
berani menjamin gak ada umat Buddhis yang fanatik, fundamental? Masalah murni
saya itu alergi banget, mungkin karena pengalaman yang kurang menyenangkan
yah. Sekte yang mengaku murni dan tidak murni itu relatif dong, murni terhadap
apa dulu? Tapi kalau persepsi murni dijadikan sebagai satu senjata buat
me"nidak-murni"kan orang lain ini yang saya tidak suka. Saya tidak suka itu
urusan saya sendiri bro. Anda gak usah mencak2 di sana, kalo kena stroke, kan
saya tambah karma buruk.
Rinto:
Kalau sudah teringat2, pasti ada kata lain
yang saya tidak tahu mengapa kata itu bisa muncul begitu saja di benak saya,
kata itu adalah "fundamentalisme". Terus terang saya sangat alergi dengan
sikap beragama yang seperti ini.
Wijaya:
Selama Anda MEMEGANG sikap demikian, selama hidup Anda tidak akan
pernah bahagia.
Bagaimana perasaan Anda pada Klaim Umat agama Samawi?
Rinto Jiang
:
Lagi2 agama lain ditarik kemari? Apa hubungannya urusan internal ini
sama agama lain? Itu urusan mereka, kalau saya itu umat mereka, saya baru
merasa berkompeten dan terpanggil untuk melakukan kritik. Anda itu koq selalu
tertarik buat ngurusin urusan tetangga? Janganlah.
Saya berbahagia
karena lepas dari kemelekatan pada pengkotakan dan dikotomi murni tidak
murni.
Rinto:
Keterkejutan saya muncul saat mulai bertukar
pikiran dengan teman2 yang mengaku penganut salah satu aliran, yang
mengklaim ini dan itu, lalu mulai suka melarang ini dan itu baik ritual,
tradisi maupun pemikiran yang dianggap berbau aliran lain dengan alasan
tidak sesuai dengan ajaran Sang Buddha yang "murni".
Wijaya:
Kan Anda bisa bantah dengan argumentasi? Misalnya, Dimana Sang Buddha
pernah MELARANG TRADISI? Apa cara sembahyang pemuda Sigala dari Sang Buddha?
Itu tradisi, Sang Buddha tidak melarang, cumaaaaaa ISInya diisi dengan
DHAMMA.
Jadi, bila lain kali kalo ada yang nyerang, protes, suruh buang satu
tradisi atau apa, CARA TERBAIK menghadapinya adalah, menunjukkan bahwa
ISI tradisi yang disuruh buang itu adalah Dhamma.
Untuk menghakimi seseorang, biasanya saya berusaha meneliti MOTIFnya.
Kalau motifnya bermaksud baik, demi kebaikan kita --walau caranya jelek--,
saya lebih mudah memahami dan memaafkan. Kalau MOTIFNYA demi kebaikan saya,
saya lebih mudah untuk berusaha tidak balas
nyerang.
Rinto Jiang :
Yah,
waktu itu belum banyak yang saya tahu. Gak sepinter anda Bro. Apalagi kalau
yang sudah fanatik bro, ngeyel banget, gak masuk2 saya bilangin apa saja. Yah
cuma bisa menghela nafas mengapa kemampuan ngeyel saya tidak sepintar orang
lain.
Cuma memang sering terpikir, kalau memang banyak umat awam yang
munafik dan naif, Sang Buddha gak nuntut banyak2, untuk umat awam cukup
Pancasila Buddhis. Sebagai umat awam, yang tidak bersesuaian dengan Pancasila
Buddhis memang seharusnya ditinggalkan, namun banyak yang kebablasan, semua
yang berbau tradisi cut cut cut. Eh, eh, malah terikat sama ritual dan tradisi
baru. Gak usah pusing2 inilah, mulai dulu dari berusaha gak melenyapkan itu
nyamuk, kecoa (membunuh) dan gak memakai software bajakan
(mencuri).
Rinto Jiang
Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya.
Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan;
tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan;
serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh.
Kami mengikuti jalur perhatian penuh,
latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam
agar mampu melihat hakikat segala sesuatu,
sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian.
Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari, membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami.
Yahoo! Groups Links
|