G. LIMA DASAR MORAL UMAT BUDDHA

1. Agama lain menerima gagasan tentang hal yang benar dan yang salah dari perintah �Tuhan�. Anda umat Buddha, tidak percaya akan Tuhan sebagai suatu pribadi, jadi bagaimana Anda tahu mana yang benar dan mana yang salah?

Semua pikiran, ucapan, atau perbuatan yang dilandasi keserakahan, kebencian, dan itikad buruk yang menjauhkan dari pencapaian kesucian � Nibbana, adalah hal yang salah. Sedangkan pikiran, ucapan, atau perbuatan yang dilandasi cinta kasih, welas asih, dan kebijaksanaan, yang mendukung pensucian jalan ke Nibbana adalah hal yang baik.

 

Dalam agama theosentris, benar salahnya suatu perbuatan biasanya dinilai dari kesesuaiannya dengan perintah Tuhan (yang termaktub dalam kitab suci). Namun dalam agama humanosentris seperti agama Buddha, untuk mengetahui yang baik dan yang buruk, Anda harus mengembangkan pengertian dan kesadaran diri secara mendalam. Tata susila yang didasarkan pada pengertian dan kebijaksanaan senantiasa lebih unggul dibanding berdasarkan ketaatan pada perintah semata. Untuk membedakan hal yang baik dan yang buruk, umat Buddha berpedoman pada tiga hal: tujuan, akibat yang menimpa diri sendiri, dan akibat yang akan menimpa orang lain. Apabila suatu tindakan bertujuan baik (dilandasi cinta kasih, welas asih, dan kebijaksanaan); apabila berguna bagi diri sendiri dan orang lain untuk mengembangkan cinta kasih, welas asih, dan kebijaksanaan, maka tindakan tersebut adalah bermanfaat, baik, dan patut ditelandani. Tentu saja ada berbagai pertimbangan. Kadang kita bermaksud melakukan suatu tujuan mulia, tetapi bisa jadi tindakan tersebut tidak bermanfaat bagi diri sendiri maupun bagi orang lain. Kadang tujuan kita jauh dari kebaikan, namun tindakan kita justru menguntungkan orang lain. Di kesempatan lain, tindakan kita sama sekali tak bertujuan baik, hanya menguntungkan diri sendiri, namun menyebabkan penderitaan pihak lain. Dalam hal ini, tindakan kita merupakan campuran antara hal yang baik dan yang buruk. Apabila kita bertujuan buruk, tak berguna bagi diri sendiri, tak bermanfaat bagi orang lain, hal seperti ini adalah buruk. Sedangkan bila tujuan kita baik, dan tindakan kita bermanfaat baik bagi diri sendiri maupun bagi orang lain, hal ini sungguh baik.

 

2. Jadi agama Buddha memiliki aturan moralitas?

Benar! Umat Buddha memiliki lima dasar moralitas umat Buddha yang disebut sebagai Panca Sila (dari bahasa Pali : lima dasar moralitas), sila pertama adalah menghindari pembunuhan atau menyakiti segala bentuk kehidupan, sila kedua adalah menghindari pencurian atau  mengambil yang tidak diberikan; sila ketiga adalah menghindari tindakan asusila (penyelewengan seksual); sila keempat menghindari diri dari berbohong dan berkata yang tidak benar (berkata kasar, fitnah, dan lain-lain); sila kelima, menghindari diri dari penggunaan bahan-bahan yang dapat menyebabkan melemahnya atau berkurangnya kesadaran.

 

3. Tentu saja suatu ketika kita perlu membunuh. Misalnya memberantas serangga pembawa wabah penyakit, atau membunuh demi mempertahankan diri.

Mungkin hal itu baik bagi Anda. Tetapi bagaimana dengan makhluk yang Anda bunuh? Seperti halnya Anda, mereka juga berharap untuk tetap hidup. Tindakan membunuh mungkin bermanfaat bagi diri sendiri (baik), namun tak pelak lagi merugikan makhluk lain (buruk). Jadi suatu ketika mungkin perlu membunuh, namun sekali lagi hal ini tidaklah benar-benar baik. Umat Buddha berusaha menghargai semua bentuk kehidupan, dan melatih diri sebisa mungkin tidak menyakiti makhluk apapun.

 

4. Umat Buddha juga memperhatikan semut dan kutu?

Umat Buddha berusaha mengembangkan sikap welas asih yang tidak membeda-bedakan, melingkupi seluruh bentuk kehidupan. Kami melihat dunia sebagai suatu kesatuan di mana

setiap makhluk dan segala sesuatu menempati fungsinya masing-masing. Kami sangat berhati-hati untuk tidak merusak atau mengganggu keseimbangan alam. Lihatlah budaya mengeksploitasi alam yang disertai perusakan, manusia mengambil semuanya, tak bersisa, manusia berusaha menguasai dan menundukkan alam. Keseimbangan alam terganggu. Udara segar, tanah, sungai, dan laut tercemari; hewan dan tumbuhan mendekati kepunahan; bahkan iklim pun berubah. Seandainya saja manusia tidak terlalu serakah, situasi yang mencemaskan ini mungkin tidak akan terjadi. Kita semua seharusnya berusaha lebih menghargai kehidupan. Inilah yang dikatakan sila pertama.

 

5. Sila ketiga mengatakan kita sebaiknya menghindari perilaku seksual yang tidak wajar. Seperti apakah itu?

Jika kita pakai tipu muslihat, pemerasan, atau paksaan kepada seseorang untuk melakukan hubungan intim dengan kita, ini namanya perilaku seksual yang tidak wajar. Perzinahan juga suatu bentuk perilaku seksual yang tidak wajar karena saat kita menikah kita berjanji setia kepada pasangan kita. Ketika kita berzinah, kita melanggar janji itu dan mengkhianati kepercayaan mereka. Seks seharusnya menjadi ungkapan cinta dan keintiman di antara dua orang secara wajar sehingga meningkatkan kesejahteraan mental kita.

 

6. Mengenai berdusta, mungkinkah hidup tanpa berdusta?

Jika benar-benar tidak mungkin hidup dalam masyarakat atau berbisnis tanpa berdusta, hendaknya kita tidak merugikan orang lain. Umat Buddha berupaya melatih diri untuk hidup lebih jujur dan berterus terang. Sekali lagi, Panca Sila Buddhis bukan merupakan suatu dogma semata, melainkan lebih sebagai tuntunan sikap terhadap diri sendiri, sesama, dan alam semesta.

 

7. Baiklah, bagaimana dengan alkohol? Saya kira minum sedikit saja tidak akan memabukkan.

Orang minum alkohol dengan banyak tujuan. Ada yang minum untuk mencari pelarian dari tekanan hidup, ada juga yang minum untuk pergaulan. Sedikit saja alkohol bisa mempengaruhi atau mengganggu kesadaran diri, apalagi dalam jumlah besar, alcohol sangat merusak tubuh dan pikiran.

 

8. Apakah minum alkohol sedikit saja dikatakan melanggar sila? Bukankah itu hal yang sepele?

Memang sepele. Tetapi bila untuk hal-hal yang sepele saja Anda tidak bisa, berarti tanggung jawab dan tekad Anda tidak cukup kuat; bagaimana mungkin Anda bisa melatih diri untuk hal-hal yang lebih besar?

 

9. Panca Sila Buddhis bersifat negatif. Panca Sila memuat hal-hal yang hendaknya tidak dilakukan, tetapi tidak mengatakan hal-hal yang hendaknya dilakukan.

Panca Sila merupakan dasar moralitas umat Buddha, jadi belum mencakup semuanya. Kita mulai belajar mengenali kebiasaan buruk alamiah  kita dan berusaha untuk menghentikannya. Itulah fungsi Panca Sila sebagai dasar.  Setelah kita berhenti berbuat buruk, kemudian kita mulai berbuat baik. Sebagai contoh, berbicara. Sang Buddha menganjurkan agar mulai dengan menahan diri untuk tidak berbicara tidak benar.

 

Selanjutnya, kita berbicara dengan benar, halus, sopan, dan pada saat yang tepat. Beliau bersabda:

�Meninggalkan pembicaraan yang tidak benar, dia menjadi pembicara kebenaran, dapat diandalkan, dapat dipercaya, dia tidak memperdayai dunia. Meninggalkan pembicaraan yang jahat, dia tidak mengulang di sana apa yang dia dengar di sini, tidak mengulang di sini apa yang dia dengar di sana. dalam upaya memecah belah masyarakat. Dia mendamaikan yang bermusuhan dan mengakrabkan kembali yang berseteru. Keharmonisan adalah kegembiraannya, keharmonisan adalah kebahagiaannya, keharmonisan adalah kasih sayangnya, inilah yang mendorong dia berbicara. Meninggalkan pembicaraan yang kasar, dia berbicara tanpa cela, nyaman didengar, ramah tamah, menggembirakan hati, halus tutur katanya, disukai banyak orang. Meninggalkan obrolan kosong, dia berbicara pada saat yang tepat, apa yang sebenarnya, tidak bertele-tele, mengenal Dhamma dan kedisiplinan. Dia membicarakan hal yang bermanfaat dan berharga, sesuai dengan keadaannya, pantas untuk diungkapkan, dirumuskan dengan baik, dan tepat pada sasarannya.� (MI 179)

 

 

Dikutip dari buku �Good Questions Good Answer� oleh Ven. S. Dhammika

Dapat juga dibaca di buku �Anda Bertanya Kami Menjawab� Ehipassiko Collection; Yayasan Penerbit Karaniya


Discover Yahoo!
Have fun online with music videos, cool games, IM & more. Check it out!

Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya.

Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan;
tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan;
serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh.
Kami mengikuti jalur perhatian penuh,
latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam
agar mampu melihat hakikat segala sesuatu,
sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian.
Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami.




Yahoo! Groups Links

Kirim email ke