|
==Doa bisa berbahaya==
Inilah cerita yang sangat disukai oleh Guru Sufi Sa'di dari Shiraz:
Moral of the story:
Meminta kepada Tuhan dengan tekun apa yang kita inginkan merupakan
perbuatan yang patut dipuji.
Tetapi doa seperti itu juga amat berbahaya.
==BERDOA MOHON HUJAN==
Seorang yang sudah tua tidak pernah melewatkan pipanya sehabis makan. Pada
suatu malam istrinya ,emcium bau hangus. Maka iapun berteriak,"Demi Tuhan, Pak,
engkau membakar jambangmu!"
'Aku tahu," jawab orang tua itu dengan marah. "Tidakkah kau lihat bahwa aku
sedang berdoa mohon hujan?"
(Sumber: Burung berkicau, Anthony de Mello SJ)
Wijaya:
Yang menyelesaikan masalah adalah PERBUATAN, Karma. oooOooo
==LULU==
Moral of the story:
Hanya ada dua penderitaan dalam hidup:
=Tidak memperoleh hal yang mengikatmu
=Dan memperoleh hal yang mengikatmu.
(Sumber: Doa Sang Katak 2, Anthony de Mello SJ)
Wijaya:
Bingung, kan? Mana BERKAH, mana PETAKA.
Yang satu--anggap doanya tak terkabul--, tidak terpenuhi keinginannya
menikahi Lulu.
Yang satu--anggap doanya terkabul--, terpenuhi keinginannya menikahi
Lulu.
Keduanya sama-sama mendapat dukkha.
Kalau yang ada HANYA DUKKHA, maka doa keinginan kita mestinya disesuaikan
dengan ajaran Sang Buddha.
oooOooo
Wijaya:
Ingat juga kisah petani pemilik kuda--yang hilang, kemudian malah kudanya
pulang membawa banyak kuda-- yang tidak tahu antara BERKAH dan
PETAKA.
Sebagai orang yang belum mampu membedakan mana BERKAH, mana PETAKA, doa
permohonan bisa beresiko. Apa yang kita semula minta dengan sangat karena kita
ANGGAP sebagai BERKAH, ternyata justru bisa mendatangkan bencana. Bila memang
ada dewa, atau Tuhan Pencipta yang mampu mengabulkan permintaan kita,
biarlah Beliau sendiri yang memilihkan apa yang terbaik buat kita. Dengan
sudut pandang ini, doa kita menjadi DIAM. Pasrah, Yakin Dewa, Tuhan pencipta
akan memberikan yang terbaik buat kita. TERSERAH PEMBERIAN TUHAN SENDIRI. Tidak
meminta. Ya, doa begini jadinya ya MEDITASI. Nggak minta atau mohon
sesuatu.
Sebagai Buddhis yang Non Teistik dan meyakini Hukum Karma:
Sesuai yang diajarkan Sang Buddha, Dukkha disebabkan oleh nafsu keinginan.
Kebahagiaan adalah bila penyebabnya, nafsu keinginan bisa dipadamkan. Bahwa
kebahagiaan kita tergantung besar kecilnya nafsu keinginan atau ego kita. Makin
kecil ego kita, makin bahagialah kita. Akhirnya, MUNGKIN, Nibbana adalah
kebahagiaan karena terkikis habisnya ego kita.
Bila kita merasa perlu, punya keyakinan doa permohonan bisa
dikabulkan, maka isi permohonan itu mestinya diselaraskan dengan Ajaran Sang
Buddha. Mampukah kita menilai isi doa permintaan kita bukanlah
memperbesar nafsu keinginan atau ego sendiri? Bahwa yang kita minta betul2
adalah BERKAH, bukannya malah menjadi PETAKA, pada akhirnya nanti?
Kalau kita belum mampu membedakan, kita bisa mengisi doa kita dengan:
"Semoga semua makhluk berbahagia. Semoga saya bisa mengurangi
keserakahan, kebencian, kebodohan bathin saya."
Dengan demikian, kita TIDAK AKAN PERNAH KECEWA dan SAKIT
HATI bila keinginan (yg entah berkah atau petaka) tak terkabulkan.
Baca paritta, melakukan atthasila, meditasi adalah termasuk karma baik.
Sesuai Hukum Karma, ini PASTI membuahkan kebahagiaan. Kalau kita melakukan
itu disertai mohon ini dan itu. Apakah ada yang tahu dengan PASTI, bahwa
keinginan, permintaan kita itu terwujud karena DIKABULKAN oleh satu dewa, tuhan,
ataukah karena ADA KARMA BAIK kita sendiri yang sedang matang? Siapa yang bisa
memverifikasi?
Petapa Gotama, ingin mencari obat mengatasi sakit tua dan mati manusia,
beliau seorang Boddhisatva yang paramitanya HAMPIIIIIIIIIIR sempurna,
bagaimana cara beliau memperoleh obat tersebut? Apakah selaku Boddhisatva yang
begitu sempurna mampu mengabulkan keinginan muliaNya sendiri? Rasanya tidak
mampu, bila kita baca kisahnya. Kalau keinginan yang jauh dari sikap egois dan
nafsu keinginan Nya sendiri saja seorang boddhisatva yang hampir sempurna
paramitaNya tidak terkabulkan, apalagi boddhisatva yang kesempurnaannya masih
dibawah kesempurnaan paramitta petapa Boddhisatva Gotama? Apalagi keinginan
--karena nafsu, ego-- orang lain? Bagaimana kisah Kisa Gotami? Apakah Sang
BUddha yang MASIH HIDUP mampu mengabulkan permohonan seorang ibu yg demikian
tulus? Lalu APA yang DIBERIKAN Sang Buddha pada Kisa Gotami?
Itu HISTORIS nya Sang Buddha. Lalu kita akan lebih yakin pada kisah itu
atau kisah yang mana? Ini patut kita renungkan. Buddha hidup aja, nggak
mengabulkan permohonan Kisa Gotami, gimana kita punya keyakinan Buddha yang
sudah parinibbana malah lebih bisa mengabulkan permohonan kita?
Menurut saya, pengabulan doa permohonan TIDAK SELARAS DENGAN HUKUM
KARMA. Kalau kita yakin satu doa permintaan akan bisa dikabulkan oleh
dewa, maha dewa tertentu, maka Hukum Karma tidak memiliki arti lagi. Dalam agama
Teistik, tidak mengenal Hukum Karma, yang ada TERGANTUNG KEHENDAK TUHAN sendiri.
Surga bukan tergantung dari karma, perbuatan manusia, tapi dari KETAATAN manusia
pada perintah Tuhan.
Jadi, konsep Hukum karma dan Pengabulan
Doa adalah dua konsep yang bertolak belakang. Tidak bisa dicampur
adukkan. Kita mesti memilih salah satunya. Kecuali, kita juga meyakini,
pengabulan doa ditentukan juga oleh karma sendiri. Bahwa yang pegang peranan
utama adalah Karma dan Hukum karma. Sedang doa kepada dewa tertentu hanyalah
memperkuat tekad dan semangat semata. Sekedar bohong putih, demi bantuan
psikologis, bahwa ADA YG BISA BANTU kesusahan kita. Agar jangan putus asa. Tapi
akhirnya, syarat utamanya MENANAM KARMA BAIK, juga.
Silahkan dikritisi.
Silahkan juga baca: "Mukjizat Penyembuhan melalui Iman", di bagian
artikel, Buddhis menjawab:
Akhir kata, menjawab doa rekan Widiawati,"Sepertinya diskusinya jadi mengarah ke Theravada("yang merasa lebih
murni") dengan Mahayana,jadi "seperti"Kristen dan Katolik,yang menurut kesan
saya pribadi walaupun sama2 Nasrani tapi merasa berbeda,walaupun Nabi dan hal
mendasar lainnya sama."
Beda pendapat yang bagaimana sengitnyapun, tidak berarti
musuh. Lagi sekali, positive thinkinglah pada sesama Buddhis. Apakah kita Umat
Buddha tidak mampu membicarakan perbedaan pendapat? kalaupun jawabannya "YA",
kita tetap butuh--diskusi, tukar pendapat dan informasi--sebagai latihan.
Proses.
Info saya pas2an. Kemungkinan penilaian LEBIH MURNI itu muncul
dari Sejarahwan. Klaim kecapku nomor satu, bukan sesuatu yang wah atau
berlebihan. Itu biasa, wajar. Mayoritas sekte, agama yang ada memiliki
klaim-klaimnya tersendiri. Kalau mau protes, mestinya ditujukan pada sejarahwan
itu.
Salam metta,
Wijaya
----- Original Message -----
Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya. Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh. Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian. Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari, membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami. Yahoo! Groups Links
|
