Dear all,

Sekuntum teratai untuk anda semua, para calon Buddha.

Karena keterbatasan waktu, saya tidak dapat mengikuti keseluruhan
detil thread ini. Tapi kurang lebih sependapat dengan tulisan Bro Jun
yang telah menyiratkan esensi thread ini. 

Saya tidak akan mengulas beberapa poin yang telah dipaparkan secara
indah sekali oleh Bro Jun melainkan ingin menambahkan yang 1 ini saja
yaitu:

Jun:

"Hidup di masa sekarang, sebenarnya kita memiliki satu KEUNTUNGAN yang 
sangat kontras berbeda dengan sesepuh kita di Masa lampau. Sekarang 
ini kita memiliki AKSES INFORMASI yang luar biasa dahsyat - yang 
tidak terbatas oleh waktu dan ruang. Jurnal2 penelitian sejarah 
(Buddhisme) membuat kita mampu mengevaluasi sejarah. Jurnal2 psikologi
membuat kita mampu memahami kita dengan lebih baik - memperkuat apa
yang kita pelajari dari Buddhadharma. Jurnal2 sosiologi membuat kita
menyadari berbagai situasi sosial di berbagai kondisi geografis yang
berbeda. Coba bandingkan dengan sesepuh kita. Mereka mungkin memiliki
pengetahuan spiritual yang dalam. Tetapi apakah 'pengetahuan' ini
masih dicacatkan oleh keterbatasan lingkungan, geografis dan
ketidakmampuan mengevaluasi sejarah? Tidak ada yang tahu - dan mungkin
sulit dijawab. Dalam hal ini, menurutku, bukan berarti pengetahuan
intelektual jauh lebih penting dari pengetahuan spiritual. Ini juga
bukan kritik untuk para sesepuh kita." 

Oleh karena itu jangan kaget untuk melihat munculnya Yana Ke4 dalam
beberapa tahun lagi. Sebuah yana yang lebih MENDEKATI ajaran asli Buddha.

Sungguh beruntung kita yang hidup di jaman ini karena berkesempatan
untuk bersentuhan dengan Dharma yang lebih mendekati ajaran orisinil
Buddha. 

Perjumpaan antartradisi Buddhis dalam lokasi geografis yang sama,
persentuhan antaragama/keyakinan,lintas kultural, dan pergulatan
dengan masalah2 kontemporer akan memunculkan AGAMA BUDDHA KONTEKSTUAL
karena kalau tidak Agama Buddha tradisional yang kini hampir
menyerupai fosil dinosaurus akan PUNAH! 

Mungkin informasi ini akan sangat-sangat mengganggu sementara orang yang:

1. Mensakralkan dan bahkan MEMUMIKAN agama Buddha atau bahkan sekte
yang dianutnya.
2. Sementara ini masih asyik berendam dalam kubangan dogma.
3. Yang secara NAIF menganggap bahwa ajaran Buddha MENGANDUNG segalanya. 

Kondisi masyarakat dan lingkungan hidup yang dijumpai Buddha historis
(Buddha Gotama/Sakyamuni)2500 tahun lalu (2549 juga merupakan sebuah
perhitungan yang meragukan)sangatlah berbeda dengan situasi dan
kondisi yang kita hadapi saat ini.
4. Asyik beristirahat dalam apa yang disebut-sebut sebagai "Ketenangan
Nibbanik." 
5. Memalingkan punggung dan muka dari masyarakat.

menurut hemat saya, umat Buddha Indonesia sangat berpeluang untuk
menghasilkan sebuah agama Buddha yang lebih MENDEKATI ajaran Buddha
jika mau terbuka dan siap untuk belajar dari sana-sini (Asia maupun
Barat) tanpa terbelenggu karena kita belum memiliki tradisi Buddhis
yang mengakar  kuat.   

Rugi besar jika kita hanya menelan mentah-mentah agama Buddha impor
dari Thailand, Sri Lanka, Myanmar, Tiongkok, Jepang, Taiwan, Tibet,
dan bahkan Barat.

Kita berpeluang untuk memunculkan Yana Ke4 yang lebih sesuai dengan
kondisi masyarakat dan budaya kita dalam konteks yang universal dengan
syarat:

1.  Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi saat ini di dalam
dan di luar diri kita.

2. Mengikuti perkembangan yang sedang terjadi di komunitas Buddhis
luar negeri.

3. Selalu belajar, berlatih, dan berbagi segala hal yang kondusif
untuk menghasilkan Transformasi Diri yang berdampak langsung maupun
tak langsung pada Transformasi Sosial dan Pelestarian lingkungan hidup.

4. Tidak menabukan keanekaragaman dan perbedaan.

5. Tidak menabukan perdebatan.

6. Membiasakan diri untuk mengekspresikan pendapat pribadi dan
menghargai pendapat orang lain.

 
Semoga bermanfaat.

Anumodana
Let us try to be mindful
salam Perjuangan

JL  





--- In [email protected], "Junarto M Ifah" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Dear All,
> 
> Syukur topik ini berakhir dengan baik...
> Aku mau nambahin bagian penutup saja...
> Supaya melengkapi berbagai pandangan soal 'Thera-Maha-Vajra'.
> 
> 1. Untuk praktisi Mayahana, aku pikir sudah saatnya kita melepaskan 
> diri dari kungkungan sebagian interpretasi doktrin Mahayana yang 
> digunakan untuk menyepelekan tradisi Buddhis yang lain atau bahkan 
> praktisi agama lain. Kita semua di sini cuma 'menginterpretasikan 
> dengan semangat ehipasiko' ajaran2 yang ditinggalkan oleh Sang Buddha 
> dan para pendahulu kita. Tidak disangkal lagi dan semestinya, kita 
> semua sebagai siswa Sang Buddha telah dan harus 
> berehipasiko 'mencari' pedoman spiritual yang paling 'kondusif' untuk 
> kita untuk tumbuh dan berkembang. Praktisi Mahayana bisa 'ngeyel' 
> dengan menunjukkan referensi2 yang meng-agungkan keunggulan ajaran 
> Mahayana, tetapi percayalah - dengan mudah akan bisa ditemukan bagian 
> yang lain yang menganjurkan interpretasi dari sisi yang lain. Soal 
> konsep 'Hinayana', seperti telah diterangkan, juga bisa 'dingeyelkan' 
> untuk merefer pada DIRI KITA sendiri. Dalam hal ini cobalah 
> menerapkan 'konsep' Hinayana ini pada 'Pikiran' dan 'Sikap' kita 
> sendiri. Estimasiku dari mereka yang mengaku Umat Mahayana - bahkan 
> meditator Zen barangkali - mungkin hanya sebagian porsi kecil 
> yang 'patut dan layak' dianggap praktisi Mahayana. Sebagai info, baik 
> dalam tradisi Zen sendiri (dan ini juga pernah dibahas dalam sebuah 
> naskah akademik), ada kelompok yang direferensikan sebagai 'Hinayana 
> Zen'. Terlepas apakah istilah dan 'term' akan Hinayana Zen yang 
> digunakan disini cuma bagian dari 'polemik' intelektual atau 
> spiritual-praktikal, ini semestinya menunjukkan garis batas yang 
> kabur antara Hinayana dan Mahayana. 
> Sudah saatnya pula, kita yang mengaku sebagai praktisi 'Mahayana' 
> semestinya menyadari bahwa secara Historis doktrin2 Mahayana yang 
> kita pelajari sekarang, PADA UMUMNYA tumbuh dan dikembangkan oleh 
> para Sesepuh-Siswa Sang Buddha. Kenyataan ini mestinya MENGGARISBWAHI 
> bahwa 'akar'nya mestinya terdapat pada Sang Buddha sendiri dan juga 
> pada ajaran2 yang disebut 'Early Teaching' dari Sang Buddha. Oleh 
> karenanya, adalah sangat krusial untuk menginterpretasikan semua 
> ajaran Mahayana dengan berbasis pada ajaran2 yang dikelompokkan 
> sebagai 'Early Teaching' ini. Dalam hal ini tauladan telah 
> ditunjukkan oleh Ven. Yin Shun dan beberapa Venerable yang lain. 
> Untuk melakukan pemilahan, koordinasi dan harmonisasi ini memang 
> tidak mudah. Ini dikarenakan memang materinya yang kompleks-luas 
> sehingga membutuhkan kesungguhan-ketekunan mempelajari sejarah dan 
> ajaran. Memang kebanyakan kita tidak memiliki 'luxury' untuk 
> melakukan ini semua. Tetapi, untuk menempatkan diri pada posisi yang 
> tepat-jelas dalam konteks yang luas, ini menjadi sesuatu yang tak 
> terhindarkan. Kalau tidak, kebanyakan kita selalu 'statis' dalam 
> kungkungan pemahaman yang dibatasi oleh budaya, lingkungan, waktu 
> atau bahkan kitab. Sudah menjadi hal umum bahwa praktisi Chinese 
> Mahayana kebanyakan 'terlokalisir' dalam kungkungan budaya dan 
> lingkungan 'Chinese'. Seorang praktisi Chinese Pureland 
> menjadi 'terkungkung' dalam Sukhavati-nya, seorang praktisi Chan 
> menjadi 'terkungkung' dalam meditasi, dan yang lebih parah seorang 
> seorang menjadi 'terkungkung' cuma dalam praktik tancap hio. 
> Di dalam praktik kita memang mesti fokus. Tetapi ini rasanya tidaklah 
> cukup. Mestinya kita, paling tidak, tahu dengan jelas, dimana posisi 
> kita sekarang dan kemana tujuan kita - di dalam konteks yang lebih 
> luas 
> 
> 2. Untuk kita semua sebagai siswa Sang Buddha semestinya kita 
> menyadari bahwa 'Perbedaan' interpretasi adalah buah dari ehipasiko - 
> buah dari ehipasiko relatif dari seorang manusia biasa. Ini bisa 
> terjadi pada kita-sekarang. Ini bisa berlaku pada sesepuh-dari 
> tradisi manapun-di masa lampau. Di dalam 'perbedaan' ini seorang bisa 
> saja menjadi bias. Dalam hal ini aku cuma berbicara dari sisi logika -
> belum lagi dari sisi kekotoran bathin yang juga bermain di belakang 
> alur logika kita. 
> Sudah waktunya kita menyadari bahwa di dalam segala perbandingan, 
> relatifitas selalu berlaku. Kalau kita mencermati yang paling kentara 
> adalah membandingkan 'Yang terbaik dari A' dengan 'Yang terburuk dari 
> B', mencopot 'satu' atau sebagian defect dari A dan menempatkannya 
> bersama2 dengan 'satu' atau sebagian terbaik dari B. 
> Di balik semua perbedaan itu, menurutku, sebenarnya ada kesamaan 
> semangat. Paling tidak menurut beberapa orang, menurut beberapa 
> catatan sepihak. Salah satunya: coba baca biografi Ajahn Sumedho: 
> bagaimana pengalaman beliau di dalam perjalanan spiritual beliau - 
> aku tidak perlu lagi menulis di sini.  
> Hidup di masa sekarang, sebenarnya kita memiliki satu KEUNTUNGAN yang 
> sangat kontras berbeda dengan sesepuh kita di Masa lampau. Sekarang 
> ini kita memiliki AKSES INFORMASI yang luar biasa dahsyat - yang 
> tidak terbatas oleh waktu dan ruang. Jurnal2 penelitian sejarah 
> (Buddhisme) membuat kita mampu mengevaluasi sejarah. Jurnal2 
> psikologi membuat kita mampu memahami kita dengan lebih baik - 
> memperkuat apa yang kita pelajari dari Buddhadharma. Jurnal2 
> sosiologi membuat kita menyadari berbagai situasi sosial di berbagai 
> kondisi geografis yang berbeda. Coba bandingkan dengan sesepuh kita. 
> Mereka mungkin memiliki pengetahuan spiritual yang dalam. Tetapi 
> apakah 'pengetahuan' ini masih dicacatkan oleh keterbatasan 
> lingkungan, geografis dan ketidakmampuan mengevaluasi sejarah? Tidak 
> ada yang tahu - dan mungkin sulit dijawab. Dalam hal ini, menurutku, 
> bukan berarti pengetahuan intelektual jauh lebih penting dari 
> pengetahuan spiritual. Ini juga bukan kritik untuk para sesepuh kita. 
> Ini sebenarnya kritik untuk kita sendiri.
> Akhir kata dengan menyadari perbedaan (doktrin) dan mudah2an juga 
> dengan mengakui kesamaan semangat - dengan dilengkapi oleh berbagai 
> fakta2 yang luas - bukan saja melulu pada kitab atau sumber sektarian 
> yang (mudah2an tidak buta) diturunkan - seharusnya kita bekerja 
> dengan berdasar pada pesan mendasar yang (disetujui bersama) sebagai 
> yang ingin dihantarkan oleh Sang Buddha. Dan apakan pesan mendasar 
> ini? Rasanya kita sudah tahu sama2. Dan mudah2an ini bisa disetujui 
> bersama :-). Kalau ini pun tidak bisa disetujui bersama, then gak 
> tahu lagi mau nulis apa. Ini menandakan kita sebagai umat Buddhist 
> itu 'ngeyelnya' luar biasa :-)
> 
> In The Dharma,
> Chang Ji




------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Would you Help a Child in need?
It is easier than you think.
Click Here to meet a Child you can help.
http://us.click.yahoo.com/sTR6_D/I_qJAA/i1hLAA/UlWolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya 
maupun di luar diri saya. 

Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan;
tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan;
serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh.
Kami mengikuti jalur perhatian penuh, 
latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam
agar mampu melihat hakikat segala sesuatu,
sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian.
Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, 
menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  membawa 
akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan 
tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta 
sahabat-sahabat kami.
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke