Sdr Fery yth,
 
Dalam perumpamaan saya, dianggap buku itu dibaca dan mendapat point penuh 100. Kalau seperti yang anda kemukakan "point karmanya" dianggap kurang dari 100 x 1000. Hitung-hitungan itu kan untuk mempermudah saja, kalau segala kemungkinan dimasukan bisa ruwet hitung-hitungannya (sedangkan hitung-hitungan ini juga belum tentu benar, ini hanya salah satu cara mendekati persoalan). Sebetulnya point saya: berbakti tanpa pamrih sampai habis-habisan bisa saja dilakukan tapi bisa jadi hanya sekali, hasilnya mungkin seperti yang saya gambarkan 100x1000 itu. Kalau bisa berbakti tanpa pamrih terus-terusan tentunya lebih bagus, barangkali hanya kongglomerat yang bisa begitu (mengambil perumpamaan salah seorang miliing ini). Berbakti sedikit-sedikit gak masalah asal banyak kali, lama-lama banyak juga hasilnya, jangan kendor saja. Mana yang akan dipilih silahkan tiap orang memlihnya sendiri-sendiri.
 
Terima kasih atas komentarnya
 
Kreshna A
 
 
fery xie <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Sdr. Kreshna,

Menurut yang saya ketahui, jika buku yang di gratiskan itu belum tentu
membuat orang tertarik untuk membacanya.

Contoh: - Sepuluh orang mencetak buku kebaktian 1.000 buah
masing-masing. Memang, hal tersebut adalah perbuatan baik. Tetapi,
jika buku tersebut tidak terpakai dan akhirnya menumpuk di Vihara -
Vihara, lama kelamaan jadinya rusak & dimakan rayap.
Bukkankah lebih bagus jika melakukan suatu kebajikan dengan kebijaksanaan?

Mungkin, si penulis buku dapat mencetak buku2 Dharma yang lain,
setelah mendapatkan dana dari hasil penjualan buku2nya. Bukankah ini
bagus untuk perkembangan Agama Buddha?

Jika, penulis menjual buku tersebut, dan memberikan separuh/ sebagian
dari keuntungan dari hasil penjualan bukunya untuk didanakan ke
Vihara, bagaimana point karmanya?

Saya rasa hal tersebut tidak dapat didefinisikan... (Tergantung dari
seberapa besar ketulusan hati seseorang yang melakukan kebajikan
tersebut)

Mohon maaf bila salah memberikan pendapat,
Karena saya masih belajar...

Regards,

Fery




On 5/22/05, kreshna amurwabumi <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Rekan-rekan Dharmajala,
>
> Saya ingin membuat perumpamaan, mudah-mudahan
> perumpamaan ini benar:
> 1.Ada orang yang membuat buku Dharma dari
> menterjemahkan sendiri sampai mencetak dikerjakan
> sendiri dan dibiayai sendiri. Dia sanggup membuat 1000
> buku. Kemudian buku ini disebarkan kemana-mana secara
> gratis. Akibat dari perbuatan baiknya ini dia mendapat
> "point karma baik" 100 unit per buku. Jadi dia
> mendapat total point karma 100.0000 unit. Setelah itu
> dia gak sanggup membuat lagi karena kehabisan dana.
> 2. Ada orang yang mau menjual buku Dharma, memang dia
> mengambil untung untuk macam-macam ongkos, dari ongkos
> menterjemahkan, produksi sampai penjualan di toko
> bukunya. Orang ini masih agak ideal, pengambilan
> untung dari penjualan ini ada, cukup untuk biaya hidup
> dia dan keluarganya. Akibat perbutannya ini dia
> mendapat "poit karma" 1 unit per buku, cukup kecilkan.
> Tiap hari dia sanggup menjual rata-rata 25 buku
> perbuku per hari, jadi per hari dia mendapat poit
> karma hanya 25 buah. Kalau dia terus bisa membuka toko
> buku ini maka per tahun dia dapat mengumpulkan poit
> karma 360 x 25=9000 unit. Setelah 10 tahun dia
> mendapat 90.000 dan setelah 15 tahun mendapat 135.000
> unit.
> 3. Barangkali begitulah gambaran perolehan karma baik
> dari 2 keputusan yang berlainan itu, mana yang dipilih
> terserah masing-masing orang untuk memilih, hidup ini
> di tangan anda bukan di tangan orang lain.
> 4. Perumpamaan harga sesungguhnya dari poit karma itu
> hanya kayalan saya saja, harga yang sesungguhnya saya
> gak tahu, tapi itulah bayangan saya akan dampak 2
> putusan yang berbeda itu.
>
> Semoga bermanfaat.
>
> Kreshna A
>
> ________________________________________________________________________
> Yahoo! Messenger - Communicate instantly..."Ping"
> your friends today! Download Messenger Now
> http://uk.messenger.yahoo.com/download/index.html
>
>
>
>
>
> Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya.
>
> Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan;
> tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan;
> serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh.
> Kami mengikuti jalur perhatian penuh,
> latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam
> agar mampu melihat hakikat segala sesuatu,
> sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian.
> Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami.
>
> Yahoo! Groups Links
>
>
>
>
>
>
>


Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya.

Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan;
tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan;
serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh.
Kami mengikuti jalur perhatian penuh,
latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam
agar mampu melihat hakikat segala sesuatu,
sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian.
Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami.



Yahoo! Messenger - Communicate instantly..."Ping" your friends today! Download Messenger Now

Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya.

Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan;
tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan;
serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh.
Kami mengikuti jalur perhatian penuh,
latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam
agar mampu melihat hakikat segala sesuatu,
sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian.
Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami.




Yahoo! Groups Links

Kirim email ke