begitu pentingnye waisak di borobudur ?

Borobudur mah dah jadi museum ame tempat pariwisata

Biarin aje itu org mo ngadain waisak di borobudur nurut versinye.

Ngapain pusing seh ?

Lagian jg kalu candi laen gak ada ?

Mo Waisak ? DI SENAYAN sono
Tempat gede , akses bagus , en bangunan kokoh.

Mo bernostalgia Waisak di BOROBUDUR ?
Ya semua mesti angkat tangan en bikin PETISI buat DPR ataw PEMERINTAH

Lagian katanye seh ada satu bhikku nyang takut kalu ada pihak laen 
mo ngelanggar JKB alias janji kesepakatan bersama.
Nah gimane kalu pada bikin petisi buat ngukuhin getu.

Lagian jg kalu ada nyang namanye MUSUH BERSAMA seh bisa pada saling 
ngerangkul hehehehehehehehehehehehehe
Untung aje ada musuh bersama getu jadi pade bisa ngegrup

--- In [email protected], san san <[EMAIL PROTECTED]> 
wrote:
> 
> 
> Note: forwarded message attached.
> 
>               
> ---------------------------------
> Yahoo! Mail
>  Stay connected, organized, and protected. Take the tour
> Saya pikir kemelut yang sudah lama terjadi tidak perlu
> mengecilkan hati kita bila ingin berziarah atau
> melakukan puja di Borobudur. Kalau memang kita ingin
> sekali melakukan puja bakti waisak di Borobudur,
> silakan datang saja. Kita bisa melakukan puja dengan
> cara yang seragam yang sudah diatur panitia waisak di
> sana, atau cukup lakukan dengan cara kita sendiri. 
> 
> Sebagai sharing, suatu saat, ada seseorang yang sedang
> dalam keadaan koma dan harapan hidupnya hanya ada
> sekian persen. Lalu atas anjuran teman, saya bergabung
> dengan beberapa teman melakukan suatu puja bhakti dan
> pelepasan hewan untuk didedikasikan bagi sang teman
> yang sedang sekarat. Lalu saat kembali ke rumah sakit
> setelah acara selesai, ybs yang sudah 2 minggu koma
> sudah sadar. Saat itu saya sempat berbincang dengan
> teman2. Vihara dimana kami melakukan puja bakti adalah
> vihara yang banyak dikatakan orang sebagai salah satu
> aliran Buddha yang sudah sesat, tidak murni lagi. Tapi
> itulah vihara terdekat dengan rumah sakit dan kami
> pikir yang penting ada Buddha rupangnya, dan bukan
> siapa pemilik vihara itu. 
> 
> Saya rasa dalam pandangan hidup kita yang serba
> relatif, kita cenderung melihat yang salah dan yang
> benar, padahal tidak selamanya yang benar bisa benar
> tanpa salah, dan yang salah akan selamanya salah tanpa
> benar. Bagi Buddha, yang penting adalah niat dan
> ketulusan hati kita. Memang ideal sekali bila kondisi2
> di borobudur menjadi baik. Namun bila tidak, kita
> jalankan saja apa yang bisa kita lakukan. Jalan
> pencerahan bukanlah jalan yang selalu menyenangkan
> atau memuaskan hati kita, tapi yang pasti, akan
> membawa kita menuju tahapan pencerahan yang
> memungkinkan kita lepas dari belenggu pikiran yang
> membedakan baik dan buruk, benar maupun salah.
> 
> salam,
> yy
> 
> --- san san <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> 
> > bener gak sich..? so... kita kudu gimana yach..??? 
> > 
> > Note: forwarded message attached.
> > 
> >             
> > ---------------------------------
> > Do You Yahoo!?
> >  Yahoo! Small Business - Try our new Resources
> site!> To: [email protected]
> > From: "yunike_sisilia" <[EMAIL PROTECTED]>
> > Date: Thu, 26 May 2005 10:02:16 -0000
> > Subject: [Dharmajala] Re: waisak di borobudur
> > 
> > Salam dalam Dharma
> > 
> > Kerinduan akan Waisak di Borobudur memang merupakan
> > suatu hal yang 
> > sangat sulit untuk dijelaskan. hanya kesedihan yang
> > ada apabila 
> > mengingat kembali keinginan akan hal tsb.
> > 
> > konflik KASI dan Walubi memang sangat membuat umat
> > Buddha yang 
> > minoritas ini makin menjadi minoritas, bingung,
> > resah, dsb.
> > 
> > Sebenarnya siapa yang benar dan siapa yang salah?
> > dan apakah itu 
> > penting? mungkin iya, dan mungkin tidak.
> > dalam hal ini saya mencoba memandang dari sisi
> > paling awam. dimana 
> > saya mendapati keadaan:
> > dari pihak Walubi mengatakan para Bhiksu mau terjun
> > ke dunia politik 
> > yang seharusnya bukan merupakan dunianya lagi, 
> > sedang dari KASI mengatakan tidaklah mungkin para
> > ulama dan seluruh 
> > umat Buddha diatur oleh seorang pengusaha wanita
> > 
> > saya berpikir lagi memang tidaklah etis jika Bhiksu
> > ber"politik", 
> > namun sulit juga menjawab karena pada beberapa
> > negara Buddhis 
> > lainnya, misl: Thailand, Sri Langka, Myanmar, dsb.,
> > peranan Sangha 
> > dalam mengawasi kinerja pemerintahan negaranya
> > sangat penting. 
> > kemudian saya mendapatkan kesimpulan pribadi sendiri
> > bahwa segala 
> > sesuatu yang berhubungan dengan agama dan umat
> > penganutnya sebaiknya 
> > diserahkan kepada ulamanya. hal ini pun berlaku bagi
> > Agama lain di 
> > Indonesia. NU dan Muhamadiyah dipimpin oleh para
> > Kyai, Kristen 
> > dipimpin oleh Pendeta, Katolik dipimpin oleh Pastor,
> > dsb. mengapa 
> > Buddhis hrs dipimpin oleh umat Awam?
> > Nampaknya sangat sulit untuk mencari solusi untuk
> > meredakan konflik 
> > ini.
> > 
> > kembali ke topik waisak:
> > beberapa hari yang lalu saya mendapatkan sms yang
> > berisikan komplain 
> > kepada menteri agama: isinya kurang lebih adalah
> > keberpihakan 
> > Menteri Agama terhadap Walubi, karena didapati info
> > bhw Menteri 
> > Agamalah yang meyakinkan kepada Presiden SBY (utk
> > hadir di Borobudur)
> > bahwa tahun depan KASI dan Walubi akan mengadakan
> > Waisak Bersama 
> > maupun bergiliran soal Waisak di Borobudur. 
> > Sedangkan saya mendapat info dari teman saya dipihak
> > KASI mengatakan 
> > bahwa mereka (Bhikkhu Sangha KASI) tidak pernah
> > menjawab maupun 
> > membahas apapun mengenai hal ini. 
> > pertanyaannya adalah jika benar KASI tidak pernah
> > diajak membahas 
> > mengenai masalah ini maupun memberikan jawaban
> > apapun ttg ini, maka 
> > apakah Menteri Agama sudah pikun atau "keceplosan"
> > ketika 
> > menyampaikan ke Presiden? karena ini bisa
> > memperuncing konflik 
> > dikedua belah pihak
> > 
> > Apakah SBY dalam hal ini sebagai presiden tidak bisa
> > memahami dan 
> > menghargai perasaan ribuan umat Buddha KASI di
> > Indonesia dengan 
> > hanya mendatangi salah satu Perayaan Waisak? kalau
> > saya sih memilih 
> > seperti Ibu Mega dengan tidak mendatangi perayaan
> > manapun sebelum 
> > ada jalan tengah diantara kedua belah pihak; atau
> > mendatangi kedua-
> > duanya karena waktu perayaannya berbeda. 
> > 
> > hal ini penting karena akan membuat bermacam-macam
> > opini / versi di 
> > masyarakat:
> > 1. Sayalah pemenangnya..... 
> > 2. sayalah yang sah di Indonesia....
> > 3. Presiden merestui kami bukan Anda...
> > 4. Sayalah yang benar dan Anda yang salah...
> > dsb.
> > 
> > so mgk temen2 bisa membantu saya dengan memberikan
> > sedikit masukan 
> > dan gambaran. karena saya sendiri sdh sangat ingin
> > waisak-an di 
> > Borobudur, namun saya benar2 bingung, karena
> > sebenarnya saya lebih 
> > cenderung ke KASI dilihat dari sudut paling awam,
> > karena saya tidak 
> > mau menjalankan misi dalam keagamaan yang diatur
> > oleh seorang 
> > pengusaha, dan bukan ulama.
> > 
> > Saya yang bingung.....
> > 
> > --- In [email protected], sutar soemithra 
> > <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> > > Amitofo,
> > >  
> > > Rasanya sudah sekitar 8 tahunan saya tidak
> > mengikuti Waisak di 
> > Borobudur. Rasa kangen itu begitu besar sehingga
> > Waisak barusan saya 
> > pergi kesana. Sendiri, tanpa ikut rombongan manapun.
> > Sementara teman-
> > teman hampir semuanya merayakan di Jakarta. Bahwa
> > panitianya adalah 
> > Walubi, saya sudah tak ambil pusing meski sebelumnya
> > saya sangat 
> > condong ke KASI. Dipikir-pikir, kalau berlama-lama
> > ikut larut dalam 
> > konflik cuma bikin pusing sendiri.
> > >  
> > > Ketika melihat banyaknya umat yang hadir di sana,
> > saya berpikir 
> > mereka mungkin memiliki kerinduan yang sama dengan
> > saya sehingga tak 
> > lagi mempedulikan konflik itu. Bahkan teman-teman
> > dari sebuah KMB 
> > dan sebuah senat sekolah tinggi aja ikut datang
> > kesana, padahal kita 
> > tahu orang-orang muda inilah yang biasanya paling
> > anti Walubi.
> > >  
> > > Segala sesuatunya sepertinya akan berjalan bagus.
> > Tapi sayang, 
> > ketika SBY pergi, semua orang ikut-ikutan pergi
> > meninggalkan tempat 
> > perayaan dan kesemrawutan pun mulai timbul. Anehnya
> > panitia 
> > sepertinya tidak berinisiatif untuk meredakannya.
> > Alhasil, ketika 
> > perayaan detik-detik Waisak, umat yang tersisa tidak
> > sampai 
> > sepertiganya dibandingkan ketika detik-detik
> > kedatangan SBY. Dengan 
> > jumlah peserta yang sesedikit itupun, jalannya
> > upacara tak pernah 
> > ketemu dengan sebuah kata yang bernama sakral.
> > Sungguh amat sayang!
> > >  
> > > Rasanya setiap umat Buddha saat ini memiliki
> > kerinduan yang sama 
> > dengan saya: merayakan Waisak di Candi Borobudur!
> > Tapi kalau 
> > peryaannya seperti barusan, saya kasih masukan:
> > mending merayakan di 
> > vihara masing-masing aja. Jauh lebih khusyuk dan
> > lebih irit so pasti.
> > >  
> > > Denger-denger mulai tahun depan, perayaan di
> > Borobudur digilir 
> > Walubi dan KASI. Moga-moga ini menjadi jalan pembuka
> > perdamaian 
> > kedua kubu. Sayang sekali aset seberharga perayaan
> > Waisak di 
> > Borobudur tidak ditangani dengan serius. Sebagai
> > umat awam yang tak 
> > tahu apa-apa, saya tak berharap apapun selain
> > perdamaian kedua kubu. 
> > >  
> > > PEACE!!
> > > BUDDHA MEMBERKATI KALIAN BERDUA!!
> > > 
> > >           
> > > ---------------------------------
> > > Do You Yahoo!?
> > >  Yahoo! Small Business - Try our new Resources
> > site!
> > 
> > 
> > 
> > 
> > 
> 
> 
> __________________________________________________
> Do You Yahoo!?
> Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
> http://mail.yahoo.com




------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Would you Help a Child in need?
It is easier than you think.
Click Here to meet a Child you can help.
http://us.click.yahoo.com/sTR6_D/I_qJAA/i1hLAA/UlWolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya 
maupun di luar diri saya. 

Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan;
tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan;
serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh.
Kami mengikuti jalur perhatian penuh, 
latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam
agar mampu melihat hakikat segala sesuatu,
sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian.
Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, 
menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  membawa 
akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan 
tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta 
sahabat-sahabat kami.
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke