|
Setuju sekali dengan saudara2
sekalian yang menyatakan bahwa tidaklah benar mengungkapkan kesaksian dengan menjatuhkan atau menjelek-jelekkan sesuatu entah itu agama yang lama maupun pandangan yang lama. Senang sekali bahwa ada teman2 yang memahami banyak pengetahuan mengenai hal ini
sangat banyak. Namun aku sedikit merasa
sedih saat melihat cara-cara penyampaian yang kurang bijak. Buddha tidak pernah memperbaiki kesalahan pandangan orang lain dengan
menertawakan lebar2 pandangan
salah orang tersebut. Buddha juga
tidak menyalahkan orang tersebut karena berpandangan salah. Buddha selalu dengan bijak dan
lembut menyampaikan kebenaran kepada orang lain. Salah satu contoh adalah dalam sigalovada
sutta, kepada pemuda Sigala, Buddha mendukung pemuda itu untuk melakukan
penyembahan puja ke enam arah
tanpa menertawakan pemuda tsb yang melakukannya tanpa mengerti makna. Pemuda itu hanya mengikuti
anjuran orang tuanya, dan Buddha memberikan pujian dan dukungan kepada
pemuda tsb, dengan kemudian memberikan penjelasan secara bijak kepada
pemuda tsb tanpa mencela apapun
juga, seperti misalnya mencela orang tua pemuda
tsb yang tidak menjelaskan maknanya. Begitu juga dalam kalama sutta, kepada masyarakat suku kalama, Buddha tidak mentertawakan kebodohan mereka dan mencela guru2 ajaran lainnya. Dengan bijak Buddha menjelaskan apa
yang menjadi dasar untuk meyakini suatu kebenaran. Bahagia sekali jika kita
umat Buddha yang memiliki pengetahuan lebih baik daripada rekan2 yang lain juga memiliki
kebijaksanaan dalam penyampaian. Aku sering sekali menjumpai rekan2 dengan pengetahuan tinggi namun tidak memiliki
kebijaksanaan dalam penyampaian. Seringkali aku mengajak
rekan2 tsb untuk membagikan pengetahuan mereka kepada umat
secara langsung melalui sharing dharma pada kebaktian2
di vihara, namun mereka belum
berani menerima ajakanku. Sayang sekali jika pengetahuan yang baik tidak dibagikan kepada mereka yang belum mengetahuinya. Buddha tidak pernah
gentar dan malu menyatakan kebenaran dengan tidak menunjukkan
dirinya. Buddha tidak pernah menyatakan
kebenaran dengan menyembunyikan jati dirinya. Seringkali mereka yang aku
jumpai berani menyampaikan dan berbagi pengetahuan dengan menyembunyikan jati dirinya melalui forum2 dan milis2
saja. Mengapa mereka malu menyatakan kebenaran? Entahlah, mungkin mereka bukan malu tuk
menyatakan kebenaran, namun malu karena
belum bisa menyampaikannya secara bijak seperti yang dilakukan
oleh Buddha. Mereka yang pernah
mencoba secara berani menyampaikan dalam sharing dharma di kebaktian sebuah vihara dengan penyampaian
yang kurang bijaksana mendapatkan penolakan dari umat dan masyarakat Buddhis. Umat selalu berpikir
bahwa jika penyampaian tidak mencerminkan perilaku seorang Buddha, apakah yang disampaikannya
tersebut bisa dipercaya? Atau umat dapat menerima
pandangan kebenaran tsb, namun karena
penyampaian yang kurang bijak, umat
terlanjur membuat benteng pertahanan dalam dirinya. Mari kita bersama mencoba mengajarkan kepada umat Buddha untuk
mengerti kesaksian yang benar dengan
bijak. Bahwa kesaksian itu merupakan
berbagi kepada orang lain mengenai
masalah yang dihadapi dan solusinya yang ditemukan melalui ajaran dharma, baik melalui pemahaman
sutta, sutra, dharmapada, paritta suci maupun dharma
yang diberikan oleh Bhikkhu Sangha,
Pandita, dharmaduta, maupun
rekan2 sedharma. Bukan berdasarkan keajaiban dan lain sebagainya. Semoga kita semua
mendapatkan kebahagiaan kita masing2, Yeherdian Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya. Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh. Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian. Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari, membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami. Yahoo! Groups Links
|
