Aku diajak Tatmo Boddhidharma menonton pertandingan kungfu. Kami berangkat bersama seorang adik seniorku, yang baru join dua minggu lalu. Bertiga kami mencari tempat duduk yang enak di stadion yang ramai dipenuhi penonton buddhis yang antusias.
Pertandingan kungfu umat buddhis antar mazhab ini sungguh sangat seru. Ada yang membaca mantra Ada yang menggunakan chi kung Ada yang memancarkan metta, sehingga lawan menjadi ngga bernafsu Ada yang menggunakan tongkat Ada yang pakai makhluk dll Pokoknya seru banget. Mula-mula, aku sangat menikmati pertandingan itu. Namun lama kelamaan aku terusik juga oleh adik seniorku. Betapa tidak, ia bersorak dan bertepuk tangan setiap ada yang dikalahkan. Aku tersinggung! Karena, ketika umat awam yang bertanding itu dari mazhab yang kuanut dikalahkan oleh umat dari mazhab lain, adik seniorku tetap bersorak dan bertepuk tangan. Seharusnya ia mendukung mazhab kami. Geblek, kataku padanya. Guru, aku berseru pada Tatmo yang duduk tenang dan lembut diantara kami berdua, Lihat adik ini, seharusnya ia mendukung mazhab kita, tapi lihatlah! Si itu yang dikalahkan barusan khan dari mazhab kita, eh malah orang ini bertepuk tangan! Sungguh tidak sopan. Tatmo mulai mengangkat tongkatnya, Adik seniorku mengkirik ketakutan. Kami tahu kalo Tatmo mengajar juga dengan pukulan tongkat, dan itu suatu pukulan yang tidak main-main. Hei, jawab kamu, junior! Mengapa kamu bertepuk tangan, saat mazhab kamu dikalahkan? Tanya Tatmo kepada adik seniorku itu Sementara tongkat itu sudah terangkat tinggi dan siap mendarat....! Adik seniorku gemetaran. Wajahnya menjadi pucat. Dengan berkeringat dingin, ia menjawab tidak stabil, Maafkan aku guru, aku cuma menikmati pertandingannya saja.... Dan BRRUUUUKKKK! Tongkat itu mendarat di wajahku... Salam kasih, Khai Giri wrote: > > ----- Original Message ----- > From: Junarto M Ifah > To: [email protected] > All, > > Syukur topik ini berakhir dengan baik... > Aku mau nambahin bagian penutup saja... > Supaya melengkapi berbagai pandangan soal 'Thera-Maha-Vajra'. > > 1. Untuk praktisi Mayahana, aku pikir sudah saatnya kita melepaskan > diri dari kungkungan sebagian interpretasi doktrin Mahayana yang > digunakan untuk menyepelekan tradisi Buddhis yang lain atau bahkan > praktisi agama lain. Kita semua di sini cuma 'menginterpretasikan > dengan semangat ehipasiko' ajaran2 yang ditinggalkan oleh Sang Buddha > dan para pendahulu kita. Tidak disangkal lagi dan semestinya, kita > semua sebagai siswa Sang Buddha telah dan harus > berehipasiko 'mencari' pedoman spiritual yang paling 'kondusif' untuk > kita untuk tumbuh dan berkembang. Praktisi Mahayana bisa 'ngeyel' > dengan menunjukkan referensi2 yang meng-agungkan keunggulan ajaran > Mahayana, tetapi percayalah - dengan mudah akan bisa ditemukan bagian > yang lain yang menganjurkan interpretasi dari sisi yang lain. Soal > konsep 'Hinayana', seperti telah diterangkan, juga bisa 'dingeyelkan' > untuk merefer pada DIRI KITA sendiri. Dalam hal ini cobalah > menerapkan 'konsep' Hinayana ini pada 'Pikiran' dan 'Sikap' kita > sendiri. Estimasiku dari mereka yang mengaku Umat Mahayana - bahkan > meditator Zen barangkali - mungkin hanya sebagian porsi kecil > yang 'patut dan layak' dianggap praktisi Mahayana. Sebagai info, baik > dalam tradisi Zen sendiri (dan ini juga pernah dibahas dalam sebuah > naskah akademik), ada kelompok yang direferensikan sebagai 'Hinayana > Zen'. Terlepas apakah istilah dan 'term' akan Hinayana Zen yang > digunakan disini cuma bagian dari 'polemik' intelektual atau > spiritual-praktikal, ini semestinya menunjukkan garis batas yang > kabur antara Hinayana dan Mahayana. > Sudah saatnya pula, kita yang mengaku sebagai praktisi 'Mahayana' > semestinya menyadari bahwa secara Historis doktrin2 Mahayana yang > kita pelajari sekarang, PADA UMUMNYA tumbuh dan dikembangkan oleh > para Sesepuh-Siswa Sang Buddha. Kenyataan ini mestinya MENGGARISBWAHI > bahwa 'akar'nya mestinya terdapat pada Sang Buddha sendiri dan juga > pada ajaran2 yang disebut 'Early Teaching' dari Sang Buddha. Oleh > karenanya, adalah sangat krusial untuk menginterpretasikan semua > ajaran Mahayana dengan berbasis pada ajaran2 yang dikelompokkan > sebagai 'Early Teaching' ini. Dalam hal ini tauladan telah > ditunjukkan oleh Ven. Yin Shun dan beberapa Venerable yang lain. > Untuk melakukan pemilahan, koordinasi dan harmonisasi ini memang > tidak mudah. Ini dikarenakan memang materinya yang kompleks-luas > sehingga membutuhkan kesungguhan-ketekunan mempelajari sejarah dan > ajaran. Memang kebanyakan kita tidak memiliki 'luxury' untuk > melakukan ini semua. Tetapi, untuk menempatkan diri pada posisi yang > tepat-jelas dalam konteks yang luas, ini menjadi sesuatu yang tak > terhindarkan. Kalau tidak, kebanyakan kita selalu 'statis' dalam > kungkungan pemahaman yang dibatasi oleh budaya, lingkungan, waktu > atau bahkan kitab. Sudah menjadi hal umum bahwa praktisi Chinese > Mahayana kebanyakan 'terlokalisir' dalam kungkungan budaya dan > lingkungan 'Chinese'. Seorang praktisi Chinese Pureland > menjadi 'terkungkung' dalam Sukhavati-nya, seorang praktisi Chan > menjadi 'terkungkung' dalam meditasi, dan yang lebih parah seorang > seorang menjadi 'terkungkung' cuma dalam praktik tancap hio. > Di dalam praktik kita memang mesti fokus. Tetapi ini rasanya tidaklah > cukup. Mestinya kita, paling tidak, tahu dengan jelas, dimana posisi > kita sekarang dan kemana tujuan kita - di dalam konteks yang lebih > luas > > 2. Untuk kita semua sebagai siswa Sang Buddha semestinya kita > menyadari bahwa 'Perbedaan' interpretasi adalah buah dari ehipasiko - > buah dari ehipasiko relatif dari seorang manusia biasa. Ini bisa > terjadi pada kita-sekarang. Ini bisa berlaku pada sesepuh-dari > tradisi manapun-di masa lampau. Di dalam 'perbedaan' ini seorang bisa > saja menjadi bias. Dalam hal ini aku cuma berbicara dari sisi logika - > belum lagi dari sisi kekotoran bathin yang juga bermain di belakang > alur logika kita. > Sudah waktunya kita menyadari bahwa di dalam segala perbandingan, > relatifitas selalu berlaku. Kalau kita mencermati yang paling kentara > adalah membandingkan 'Yang terbaik dari A' dengan 'Yang terburuk dari > B', mencopot 'satu' atau sebagian defect dari A dan menempatkannya > bersama2 dengan 'satu' atau sebagian terbaik dari B. > Di balik semua perbedaan itu, menurutku, sebenarnya ada kesamaan > semangat. Paling tidak menurut beberapa orang, menurut beberapa > catatan sepihak. Salah satunya: coba baca biografi Ajahn Sumedho: > bagaimana pengalaman beliau di dalam perjalanan spiritual beliau - > aku tidak perlu lagi menulis di sini. > Hidup di masa sekarang, sebenarnya kita memiliki satu KEUNTUNGAN yang > sangat kontras berbeda dengan sesepuh kita di Masa lampau. Sekarang > ini kita memiliki AKSES INFORMASI yang luar biasa dahsyat - yang > tidak terbatas oleh waktu dan ruang. Jurnal2 penelitian sejarah > (Buddhisme) membuat kita mampu mengevaluasi sejarah. Jurnal2 > psikologi membuat kita mampu memahami kita dengan lebih baik - > memperkuat apa yang kita pelajari dari Buddhadharma. Jurnal2 > sosiologi membuat kita menyadari berbagai situasi sosial di berbagai > kondisi geografis yang berbeda. Coba bandingkan dengan sesepuh kita. > Mereka mungkin memiliki pengetahuan spiritual yang dalam. Tetapi > apakah 'pengetahuan' ini masih dicacatkan oleh keterbatasan > lingkungan, geografis dan ketidakmampuan mengevaluasi sejarah? Tidak > ada yang tahu - dan mungkin sulit dijawab. Dalam hal ini, menurutku, > bukan berarti pengetahuan intelektual jauh lebih penting dari > pengetahuan spiritual. Ini juga bukan kritik untuk para sesepuh kita. > Ini sebenarnya kritik untuk kita sendiri. > Akhir kata dengan menyadari perbedaan (doktrin) dan mudah2an juga > dengan mengakui kesamaan semangat - dengan dilengkapi oleh berbagai > fakta2 yang luas - bukan saja melulu pada kitab atau sumber sektarian > yang (mudah2an tidak buta) diturunkan - seharusnya kita bekerja > dengan berdasar pada pesan mendasar yang (disetujui bersama) sebagai > yang ingin dihantarkan oleh Sang Buddha. Dan apakan pesan mendasar > ini? Rasanya kita sudah tahu sama2. Dan mudah2an ini bisa disetujui > bersama :-). Kalau ini pun tidak bisa disetujui bersama, then gak > tahu lagi mau nulis apa. Ini menandakan kita sebagai umat Buddhist > itu 'ngeyelnya' luar biasa :-) > > In The Dharma, > Chang Ji > ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Would you Help a Child in need? It is easier than you think. Click Here to meet a Child you can help. http://us.click.yahoo.com/sTR6_D/I_qJAA/i1hLAA/UlWolB/TM --------------------------------------------------------------------~-> Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya. Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh. Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian. Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari, membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami. Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
