Apa yang salah dengan ajaran Dao?
Membaca kesaksian Eddy Tatimu, membuat saya bertanya, seperti apakah ajaran Dao itu? Mengajarkan kanibalisme? Menyantet orang? Membunuh orang? Ajaran iblis kah itu? Saya terdiam dan merenung, telah hampir setahun ini saya ingin sekali mengenal ajaran dao. Satu satunya kitab Dao yang ada ditanganku adalah Dao De Jing (DDJ). Saya membuka dan membacanya. Dalam kesaksian Eddy Tatimu, Dalam kitab Tao Te King, tujuan orang bermeditasi adalah mengosongkan diri. Maksudnya, tidak ada beban yang memberatkan hati dan pikiran. Bila pengosongan diri telah terjadi, kekuatan itu akan datang. Dalam kekosongan itu kita kuat. Kekosongan itu sebenarnya inti dari meditasi. Dalam kitab Tao Te King, kita juga dilarang untuk makan daging,berhubungan seks atau hura-hura. Kita hanya boleh makan nasi, sayur atau buah. Bahkan saat-saat tertentu harus bertapa/puasa. Kita DDJ begitu sederhana dan mendalam filsafatnya. Walaupun saya berusaha memahami tiap kata yg tercantum di situ, satu hal yang pasti. Dari bab awal sampai akhir kitab tersebut tidak menceritakan tentang Surga dan Neraka serta hukuman mengerikan yang menanti bila tidak menaati Dao. Tak ada teknik meditasi di dalamnya, apalagi mengosongkan diri utk dirasuki "kekuatan". Yang ada hanyalah membicarakan tentang Dao dan sifat Dao, bagaimana hidup selaras dengan alam dalam kesederhaan, belajar dari alam, memahami sifat alamiahnya alam ini. Bagaimana mungkin Kitab yang begitu indah ini bisa menginspirasikan seorang Tatimu untuk menjadi sosok seorang tukang santet? Sungguh kontradiksi dengan tulisan Tatimu, seorang yang pantang makan daging tetapi mengoleksi tengkorak manusia dan menjadi kanibal. Melihat ini, saya bertanya dalam diriku, Apa yang salah dengan Dao? Saya terdiam dan membaca lebih jauh serta berusaha untuk memahami kitab tersebut. Dalam arogansi seorang manusia, saya melihat kerendahan hati seorang Lao Tze yang menulis kitab tersebut. Yang berusaha menyentil manusia untuk kembali kepada alam dan belajar dari alam, hidup dalam keseimbangan dengan alam, dan untuk tidak menentang alam. Dao mengajarkan untuk kembali ke jati diri tidak dengan menggunakan "kekerasan" ataupun "ancaman" dan "hukuman" yang keras serta "penyiksaan yang abadi" apabila tidak menurutinya. Yang dipentingkan adalah kehidupan yang sedang di jalani sekarang ini dan bagaimana hidup selaras dengan alam. The great master Dao is the nature itself. Belajar dari alam karena alam tidak pernah pilih kasih, alam tidak pernah menghakimi dan alam selalu menyediakan segala sesuatu untuk manusia. Bila keseimbangan alam terganggu, maka akan timbul bencana, dan kalau bencana datang menghampiri, alam/bencana pun tidak memilih kasih dalam melanda bumi ini. Seperti layaknya gelombang tsunami, tidak memilih orang jahat atau orang baik yang akan disapu oleh gelombang tersebut, siapapun yang berada di sana terlepas dari SARA, akan terkena akibatnya. Sama seperti matahari, bersinar menyinari bumi tanpa melihat mana yang jahat dan baik, mana binatang dan mana yg manusia atau tumbuhan. Alam tidak pilih kasih. Bila di dunia modern saat ini, banyak yang mengatakan bahwa dalam hidup ini kitu harus seimbang (balance). Ajaran Dao sudah menekankan akan hal itu berabad-abad yang lampau bahwa keseimbangan adalah sangat penting. Segala sesuatu yang berlebihan adalah tidak baik. Bagaimana mungkin ajaran yang begitu indah dan membumi tersebut dikatakan sesat ? Bagaimana mungkin ajaran DAO mengajarkan umatnya untuk berlatih ilmu sesat dengan mengoleksi tengkorak anak kecil seperti yang diteriakkan oleh Eddy Tatimu? Saya bertanya lagi, Apa yang salah dengan Dao? Tiba-tiba timbul ketidakrelaan dalam hatiku melihat ajaran sebagus itu dijadikan scapegoat bagi kegagalan seorang Tatimu dalam menjalani hidup ini dan memberitakan keimanannya. Apa yang salah��� Kenapa saya harus merasa tidak rela? Saya bertanya pada diriku lagi, tak ubahnya saya melihat ke dalam diriku di waktu yang lampau, saat ketidakmengertian saya akan Daoism dan kebodohan menutupi diriku, membuatku mencap ajaran Daoism sebagai sesat, sebagai ajaran yg tak mungkin kulihat dan kupelajari. Saya mencoba memahami ajaran Dao lagi, dan tiba-tiba saya tersenyum. Kenapa saya harus merasa tidak rela? Dao tidak akan peduli terhadap kesaksian seperti itu, Dao pun tidak membenci orang seperti itu, hukum alam tetap akan berjalan dengan semestinya mengikuti ritme alam. Dao pun tidak akan peduli dengan ku apakah aku mencaci maki Dao ataupun memuji Dao. Kenapa Dao tidak peduli? Karena Dao tak bisa dimengerti oleh manusia, Dao yang bisa dibicarakan bukanlah Dao yang sebenarnya. Dan Dao bukanlah Personal yang mempunyai kepribadian dan emosi. Dao adalah Dao. Melihat tentang Dao, adalah melihat tentang alam, manusia adalah bagian dari alam, hidup bersama alam. Alam memelihara manusia, alam tidak mengajarkan kebencian, alam tidak membalas manusia, bencana terjadi karena ketidakseimbangan alam. Saya teringat lambang Dao, dan saya teringat akan kesaksian Eddy Tatimu: Im Yang Inilah ilmu terakhir yang saya pelajari, bahkan saya "ciptakan" sendiri, yaitu Im Yang. Ilmu ini dapat dikatakan sangat berbahaya, kalau kita sengaja memanfaatkannya secara keliru. Im Yang bisa menolong orang, bisa juga membunuh orang. Untuk menguasai Im Yang, saya harus mengumpulkan 12 tengkorak kepalaanak kecil, 6 laki-laki dan 6 perempuan. Dan itu artinya saya harusmenyantet 12 anak-anak, untuk memperoleh tengkorak mereka. Tetapibelum lagi ilmu itu terwujud, saya mengalami sesuatu yang mengubah seluruh sisa hidupku. Ying Yang��..kenapa Eddy Tatimu harus menggunakan nama itu sebagai nama jurus ciptaannya. Pantaskah falsafah Im Yang dijadikan nama jurus sesat yang dilatih dengan pengorbanan anak kecil tak berdosa? Lambang Daoism, gabungan yang membentuk lingkaran, ada Yang (warna gelap) dimana terdapat setitik Ying (terang), dan ada Ying (warna terang) dimana terdapat setitik Yang (gelap). Lambang yang sederhana ini�.tiba-tiba saya tersenyum, di dalam taman firdaus yang sempurna dan indah, juga terdapat seekor ular sebagai iblis. Dalam kesaksian Eddy Tatimu: Dalam buku meditasi itu ternyata ada nama Yesus. Yesus disana ditulis sebagai dewanya agama Kristen. Tidak banyak yang ditulis tentang Yesus, itu sebabnya saya menganggap Yesus itu tidak lebih hebat dari Dewi Kwan Im atau dewa-dewa lain tersebut diatas. Bahkan ketika saya membaca Alkitab, saya menjadi sangat benci dengan nama Yesus itu. Tak ada kebencian di dalam ajaran Dao, kebencian Eddy Tatimu, saya yakin tidak berasal dari ajaran Dao karena saya tidak menemukan sebentuk kalimat kebencian dan peperangan di dalam kitab DDJ. Tidak ada kesombongan dalam ajaran Dao apalagi memandang rendah ajaran agama lain. Tak ada caci maki dan kalimat penuh dendam dan kemarahan yang ada di sana, entah apa yang mendasari kebencian Eddy Tatimu? Bahkan sekarang, setelah berpindah keyakinan, kebencian yang sama dituangkan dalam bentuk tulisan terhadap ajaran Dao. Eddy Tatimu bersaksi: Saya menangis. Saya kecewa, untuk apa 20 tahun saya menghabiskan banyak waktu di Klenteng untuk bersemedi, bertapa dan belajar bermacam-macam ilmu sakti? Bukankah dalam buku Bersemedi, kita boleh memanggil dewa yang sesuai dengan agama kita bila membutuhkan pertolongan? Rasanya saya ingin memanggil nama Yesus, tapi Dia bukan dewa saya. Dia dewanya orang Kristen, lagi pula Yesus adalah dewa yang paling ku benci. Tidak mungkin aku memanggilNya, selain itu Yesus belum tentu lebih hebat dari Dewi Kwan Im. Papa tergeletak bagaikan mayat. Apa lagi yang harus ku lakukan? Segala upaya telah dilakukan? Segala upaya telah dilakukan. Tapi angka 172 tak juga mau beranjak turun. "Yesus", kataku tiba-tiba, "kalau Engkau mau menyembuhkan Papaku, aku mau menjadi pengikutMu" lanjutku. Aku terkejut membaca tulisan ini, sebagai seorang yang mengenal ajaran Kristiani, saya sungguh terkejut. Dia sanggup memanggil Tuhan Yesus dan memerintahkan Tuhan Yesus melakukan kehendaknya. Sungguh sangat arogan sekali, tak ada kerendahan hati dalam kesaksiannya, bahkan saat beralih keyakinan sekalipun. Saya sedih dan trenyuh serta bertanya dalam hati saya: "Tuhan, betulkah hati nya bersaksi demikian ataukah nama Mu telah dicatut sedemikian rupa? Bagaimana mungkin dia bisa berdagang dengan Engkau. Dan begitu taatkah Tuhan padanya sehingga mau dipanggil untuk berdagang dengannya?" Setelah dia gagal memanggil Dewa dan Dewa tidak menuruti kehendaknya, kini dia memanggil Tuhan dan barter dengan Engkau, dan Engkau menurutinya? Aku sungguh tak mau percaya itu���.. Sekali lagi saya bertanya, apa yang salah dengan ajaran Dao? Apa yang salah dengan Eddy Tatimu, ataukah dia benar? Akhirnya, saya menyadari bahwa sayalah yang harus intropeksi diri dengan pertanyaan tersebut? Seharusnya saya bertanya, apa yang salah dengan pikiranku? Apa yang salah dengan manusia? Dan apa yang salah dengan PIKIRAN manusia? Siapakah manusia itu? Pada akhirnya, saya menyelami, manusia adalah manusia, Dao adalah Dao, dan manusia adalah bagian dari alam. Dan alam menghidupi manusia. Dulu ketika saya membaca buku yg ditulis Samuel Wang & Ethel Nelson tentang peradaban tiongkok dan asal mula leluhur bangsa tionghua yg ternyata tidak berasal dari tiongkok, telah mendorong saya ingin mencari "akar" ku yang sebenarnya. Dan sekarang saat saya sedang membaca kesaksian Eddy Tatimu, telah membuat saya merasa haus, semakin haus, dan sangat haus sekali��.akan ajaran Dao. Dan saya semakin tenggelam dan tak bisa menahan diri untuk mencari lebih jauh�� Karang Terjal In a process of seeking my root� ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Would you Help a Child in need? It is easier than you think. Click Here to meet a Child you can help. http://us.click.yahoo.com/sTR6_D/I_qJAA/i1hLAA/UlWolB/TM --------------------------------------------------------------------~-> Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya. Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh. Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian. Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari, membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami. Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
