Apakah Anda Hadir di Sini? (2/4)

 

A. H. Almaas

 

Kita telah kehilangan identitas, kehilangan keberadaan kita sebagai manusia. Kita hanya hidup di batas pinggir kenyataan. Kita tidak cukup menghargai keberadaan kita, dan sebaliknya kita mengagung-agungkan apa yang ingin  kita capai atau apa yang ingin kita miliki. Ini adalah kesalahan terbesar yang pernah kita buat.

 

Kita selalu mencari kenikmatan  dan kesenangan hidup dengan segala cara, dan secara tolol telah kehilangan kebahagiaan yang paling mendasar, yang sesungguhnya merupakan kebahagiaan terbesar: hidup saat ini.  Berada dalam kepenuhan hidup sungguh merupakan suatu berkah yang sangat membahagiakan.

 

Kebiasaan-kebiasaan dan kondisi-kondisi yang ada mendorong kita untuk melupakan milik kita yang paling berharga �keberadaan kita. Kita mengira akan mendapat kebahagiaan bila telah memenuhi rencana-rencana ini dan itu, bila mimpi-mimpi kita menjadi kenyataan, bila orang yang kita sayangi juga menyukai kita, bila kita sudah berkeliling dunia, dan sebagainya, dan sebagainya.

 

Sikap batin yang seperti itu sesungguhnya menunjukkan siapa kita. Kita dengan demikian  adalah  kesenangan, kita tidak lebih dari kenikmatan duniawi, kita adalah sesuatu yang bukan diri kita, sesuatu yang telah salah kita anggap sebagai berarti dan berharga.  Dengan memaklumi hal ini, akan terlihat betapa selama ini kita mencari kebahagiaan dari hal-hal duniawi �pada hasil yang kita capai atau pada pengakuan dan cintakasih orang lain. Kita akan melihat bahwa selama ini kita telah menanam pohon di ladang tetangga.

 

Kebahagiaan, arti, dan harga sebuah kehidupan tidak bergantung pada apa pun di luar diri sendiri. Kualitas-kualitas itu merupakan bagian yang menyatu dalam hakikat diri kita. Jika kita dapat semata-mata mengada, maka kita akan  menjumpai suatu pengalaman yang hakiki. Diri anda sendiri merupakan benda  paling berharga di seluruh semesta alam, namun anda telah memperlakukannya seakan-akan sesuatu yang sangat tak berarti. 

 

Sebenarnya bukan hal yang terlalu sulit untuk menyadari hal ini. Anda hanya perlu berhenti sejenak, undur diri, dan mengada di tempat anda berada saat ini. Anda dapat melakukannya di manapun anda berada. Anda tidak perlu berada di Pulau Dewata untuk bisa merasa bahagia. Anda tidak perlu berada di samping kekasih anda untuk bisa merasa bahagia.

 

Sumber : �Cuci Piringmu Sehabis Makan�, Penerbit Karaniya



Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya.

Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan;
tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan;
serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh.
Kami mengikuti jalur perhatian penuh,
latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam
agar mampu melihat hakikat segala sesuatu,
sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian.
Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami.




Yahoo! Groups Links

Kirim email ke