|
Namo Buddhaya,
---------------
Wijaya:
Kenapa ya, KITA mayoritas menganggap sekte lain, agama lain sebagai
saingan, musuh?
Pernah saya baca ada UMAT BUDDHA yang BERSYUKUR (di MUBI) karena seorang
bhikkhu(STI) LEPAS JUBAH, karena saking bencinya atas tulisan2nya yang dianggap
menyerang sektenya.
Ada yang menyerang mengolok-olok kondisi Thailand, karena tulisan seorang
bhikkhu yang tulisannya keras. Padahal kondisi mereka mestinya lebih patut
membangkitkan rasa prihatin kita, tapi karena tulisan seorang bhikkhu, apa yang
mestinya kita prihatinkan, malah kita jadikan bahan olok-olokan. Padahal
sama-sama Buddhisnya dengan kita.
Yang --DIANGGAP--bersalah oknumnya, tapi kita sering
menghukum SELURUH KELOMPOKNYA.
Apakah itu sikap yang wajar dan normal?
Padahal, kalau diteliti, semuanya--sekte, agama besar--punya tujuan yang
sama. NIATNYA SEMUA BAIK. Mengajak orang lain untuk ikut bahagia
juga. Mencapai sorgakah, Nirvanakah, menyatu dengan Tuhankah, dlsb.
Tapi niat yang sama2 mulia itu kok berakhir menjadi PERSAINGAN dan
KEBENCIAN.
Andaikata TIDAK ADA SAINGAN--sekte, agama lain--, lalu kita fokus
meningkatkan kualitas diri kita, seumur hidup mungkin juga belum mencapai
kesempurnaan. Tapi dengan adanya sekte, agama lain, perhatian dan usaha kita
sebagian tercurah menghadapinya. Baik mempertahankan diri, atau
menyerangnya. Ini jelas mengkorupsi diri kita sendiri dan semua
pihak.
Apakah ada sesuatu yang ganjilkah?
Instink untuk hidup, program pikiran terkondisi?
Yang jadi pertanyaan, "Mungkinkah kita bisa menganggap sekte lain, agama
lain sebagai bukan saingan?"
Kalau bisa, apa manfaat dan kerugiannya? Bagaimana caranya?
Kalau menurut Buddha Dhamma, kita mesti MENGIKIS KEBENCIAN diri kita
sendiri. Jadi apa-apa yang menambah kebencian, itu sesungguhnya tidak
sesuai dengan ajaran Sang Buddha.
Lalu bagaimana caranya mengikis kebencian kita pada sekte, agama
lain?
Ini saya coba forward dari http://groups.yahoo.com/group/4W4RENESS/ ==================forward===================
Anthony
De Mello, SJ
"Dipanggil
Untuk Mencinta" =
= = = = = = = = = = = = = = = MENJADI
MURID "Jikalau
seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya,
anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya
sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku." Luk 14:26 Pandanglah
dunia dan lihatlah ketidakbahagiaan di sekitar anda dan di dalam diri anda.
Tahukah anda apa yang menyebabkan ketidakbahagiaan ini? Mungkin menurut anda,
penyebabnya adalah kesepian, penindasan, perang, kebencian, atau
ketidakpercayaan manusia kepada Tuhan. Anda salah. Hanya ada satu sebab
ketidakbahagiaan, yaitu keyakinan palsu yang ada dalam pikiran anda. Keyakinan
itu dipegang begitu banyak orang dan tampak begitu lumrah sehingga tidak pernah
anda persoalkan sama sekali. Karena keyakinan palsu ini anda melihat dunia dan
diri anda sendiri dengan cara yang rancu. Pemrograman anda begitu kuat dan
tekanan dari masyarakat begitu hebat sehingga anda benar-benar terjebak dan
terbiasa memandang dunia dengan cara yang rancu itu. Celakanya,
tidak ada jalan keluar, sebab anda tidak menyangka bahwa persepsi anda rancu,
bahwa pemikiran anda keliru, dan bahwa keyakinan anda palsu. Cari dan lihatlah
di sekitar anda, adakah orang yang sungguh sungguh bahagia, yang bebas dari
ketakutan, kegelisahan, kecemasan, ketegangan, dan kekhawatiran. Anda beruntung
bila dapat menemukan satu saja dari seratus ribu orang. Kenyataan ini seharusnya
membantu anda untuk waspada terhadap pemrograman dan keyakinan-keyakinan yang
selama ini anda pegang. Akan tetapi, ternyata anda telah diprogram untuk tidak
mencurigai atau meragukan asumsi-asumsi yang dimasukkan ke dalam diri anda oleh
tradisi, budaya, masyarakat, dan agama anda. Anda telah diprogram untuk
mempercayainya. Bila akhirnya anda tidak bahagia, anda telah dilatih untuk
menyalahkan diri sendiri, bukannya pemrograman atau gagasan dan keyakinan yang
diwariskan kebudayaan kepada anda. Yang
lebih buruk lagi adalah sebagian besar orang sedemikian terindoktrinasi sehingga
tidak menyadari betapa tidak bahagianya mereka - seperti orang yang sedang
bermimpi tidak menyadari bahwa ia sedang bermimpi. Keyakinan-keyakinan
palsu manakah yang menghalangi kebahagiaan anda?
Pertama,
keyakinan bahwa anda tidak dapat bahagia tanpa hal-hal yang anda pandang
bernilai dan yang membuat anda terikat. Keyakinan ini salah. Tak pernah sedetik
pun berlalu tanpa sesuatu yang anda perlukan untuk berbahagia. Setiap saat anda
memilikinya. Renungkan itu sejenak. Anda tidak bahagia karena anda lebih
memusatkan diri pada segala sesuatu yang tidak anda miliki dan bukannya pada apa
yang anda miliki sekarang ini. Kedua,
anda percaya bahwa kebahagiaan ada di masa depan. Tidak benar. Di sini dan
sekarang ini anda bahagia. Hanya saja, anda tidak mengetahuinya. Keyakinan palsu
dan persepsi yang rancu itu telah menjerat diri anda dalam ketakutan, kecemasan,
kelekatan, konflik, rasa salah, dan sejumlah "permainan" lain yang telah
diprogramkan untuk anda. Bila mau melihat semua ini, anda akan menyadari bahwa
anda bahagia tetapi tidak mengetahuinya. Ketiga,
anda percaya bahwa kebahagiaan akan datang apabila anda berhasil mengubah
situasi dan orang-orang di sekitar anda. Ini tidak benar. Anda hanya akan
menyia-nyiakan energi bila mencoba mengubah kembali dunia ini. Seandainya anda
terpanggil untuk mengubah dunia, teruskanlah dan ubahlah dunia. Tetapi, jangan
berpikir bahwa itu akan membahagiakan anda. Yang membuat anda bahagia atau tidak
bukanlah dunia dan orang-orang di sekitar anda, melainkan pemikiran di kepala
anda. Seperti halnya mencari sarang burung elang di tengah samudera, demikianlah
mencari kebahagiaan di luar diri anda. Kalau memang kebahagiaan yang anda cari
berhentilah menyia-nyiakan energi untuk mengatasi kebotakan atau membentuk otot
tubuh atau mengubah tempat tinggal, pekerjaan, komunitas,
Keempat,
keyakinan bahwa anda akan bahagia bila semua keinginan anda terpenuhi. Juga
tidak benar. Sesungguhnya, keinginan dan kelekatanlah yang membuat anda tegang,
frustrasi, cemas, gelisah, dan takut. Buatlah daftar semua kelekatan dan
keinginan anda. Kepada tiap kelekatan dan keinginan itu katakanlah, "Dalam lubuk
hatiku aku tahu bahwa, meskipun telah mendapatkan kamu, aku tidak akan
mendapatkan kebahagiaan." Renungkan kebenaran kata kata itu. Terpenuhinya
keinginan paling-paling hanya membawa kesenangan dan kegembiraan sesaat. Jangan
samakan itu dengan kebahagiaan. Lalu, apakah kebahagiaan itu? Tidak banyak orang
yang mengetahuinya dan tidak seorang pun dapat mengatakannya kepada anda, sebab
kebahagiaan tidak dapat digambarkan. Dapatkah anda menggambarkan cahaya kepada
mereka yang tinggal dalam kegelapan selama hidupnya? Dapatkah anda menggambarkan
realitas kepada orang yang sedang bermimpi? Pahamilah kegelapan anda, maka
kegelapan itu akan sirna dan anda akan mengenali cahaya. Pahamilah mimpi buruk
anda, pahamilah keberadaannya, maka mimpi itu akan berakhir dan anda menjadi
sadar akan realitas. Pahamilah keyakinan-keyakinan palsu anda, maka
keyakinan-keyakinan palsu itu akan lenyap dan anda akan tahu cita rasa
kebahagiaan. Kalau
orang sangat menginginkan kebahagiaan, mengapa mereka tidak mencoba memahami
keyakinan palsu mereka? Pertama,
karena mereka tidak pernah melihatnya sebagai sesuatu yang salah. Mereka
melihatnya bukan sebagai keyakinan palsu, melainkan justru sebagai fakta dan
realitas. Mereka telah terprogram sedemikian dalam. Kedua,
mereka takut kehilangan satu-satunya dunia yang mereka kenal, yaitu dunia
keinginan, kelekatan, ketakutan, tekanan sosial, ketegangan, ambisi,
kekhawatiran, rasa bersalah, yang disertai dengan percikan kesenangan, kelegaan,
dan kegembiraan sesaat. Bayangkan
orang yang takut membiarkan mimpi buruknya berlalu karena hanya itu satu-satunya
dunia yang ia ketahui. Itulah gambaran mengenai diri anda dan orang-orang di
sekitar anda. Untuk sampai pada kebahagiaan abadi, anda harus siap untuk
membenci ayah, ibu, bahkan hidup anda sendiri, dan meninggalkan seluruh milik
anda. Bagaimana caranya? Tidak dengan meninggalkan atau menyingkirkan mereka,
sebab apa yang anda singkirkan dengan terpaksa justru akan mengikat anda
selamanya. Anda hendaknya melihat mereka sebagai mimpi buruk, karena memang
demikianlah adanya. Selanjutnya, kendati mereka tetap bersama anda, mereka akan
kehilangan cengkeraman dan kemampuannya untuk menyakiti anda. Pada akhirnya,
anda akan keluar dan mimpi, kegelapan, ketakutan, dan ketidakbahagiaan.
Luangkan
waktu untuk melihat segala sesuatu yang mengikat anda sebagaimana aslinya, yakni
sebagai mimpi buruk yang membuat anda gembira dan senang di satu pihak, tetapi
menyebabkan anda khawatir, gelisah, tegang, cemas, takut, dan tidak bahagia di
pihak lain. Bapak dan ibu adalah mimpi buruk. Isteri dan anak-anak, saudara
laki-laki dan perempuan adalah mimpi buruk. Seluruh milik anda adalah mimpi
buruk. Hidup anda sebagaimana adanya sekarang adalah mimpi buruk. Setiap hal
yang mengikat anda dan yang anda yakini sebagai syarat kebahagiaan adalah mimpi
buruk. Dengan demikian, anda akan membenci ayah dan ibu, isteri dan anak-anak,
saudara laki-laki dan perempuan, bahkan hidup anda sendiri. Anda akan begitu
mudah meninggalkan semua milik anda. Anda akan menghentikan segala kelekatan
anda dan menghancurkan kemampuan mereka un tuk melukai anda. Pada
akhirnya, anda akan mengalami keadaan misterius yang sulit digambarkan, yakni
kebahagiaan dan kedamaian abadi. Anda akan memahami kebenaran bahwa setiap orang
yang menghentikan kelekatannya terhadap saudara laki-laki atau perempuan, ayah,
ibu atau anak-anak, tanah atau rumahnya, akan dibayar kembali seratus kali lipat
dan mendapatkan hidup abadi. oooOooo
=================akhir forward================== Membaca ulasan De Mello di atas, rasanya bisa menyadarkan kita untuk
mengurangi dan menahan diri menilai ayat atau ajaran sekte, agama lain. Karena
dari satu ayat, bisa ditarik berbagai macam makna. Bisa dimaknai dan dipakai
mengasihi sesama sampai dipakai pembenaran untuk menyakiti sesama. Tergantung
bathin kita masing-masing dalam menangkap makna yang ada di dalam satu ayat atau
ajaran. Kalau yang kita cari kotorannya, maka kita juga akan memperoleh kotoran
(menambah lobha, dosa moha). Tapi kalau kita cari telurnya, MUNGKIN kita juga
bisa mendapat telurnya (mempertebal alobha, adosa dan amoha).
Kembali ke topik ini.
Kita tetap bahas, cari jalan keluarnya, tapi dengan hati dan kepala yang
lebih dingin. Memahami, bahwa motif mereka sesungguhnya juga mulia.
Soal cara, kalau kita bisa menerima dan memaklumi 'bohong putih', maka
kalau orang lain memakainya, atau bahkan menggunakan BERBAGAI CARA, kita
mesti bisa memaklumi juga. Bagaimana lagi. Fair.
Salam metta
Wijaya
Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya. Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh. Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian. Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari, membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami. Yahoo! Groups Links
|
- Re: [Dharmajala] TANTANGAN BUAT PENDETA + kita semua Wijaya
