Agama Buddha dan Kemiskinan

David Loy

Diterjemahkan oleh Suryandi Sadeli dan diedit oleh Jimmy Lominto

 

Adakah agama Buddha sesuatu yang spesial untuk disumbangkan pada pemahaman kita akan kemiskinan dan bagaimana cara menguranginya? Seperti agama-agama lain, agama Buddha kadang dikritik idealismenya: yang mendorong pola hidup non materialistis yang berlawanan dengan bulir-bulir hasrat dan motivasi utama kita. Jika kita ingin mengurangi kemiskinan, selain dirujukan pada ilmu pengetahuan ekonomi, yang telah menemukan hukum-hukum pertumbuhan ekonomi yang mempromosikan kesejahteraan duniawi, kita juga dirujukan pada badan-badan pembangunan internasional, yang menerapkan prinsip-prinsip tersebut untuk memperbaiki nasib masyarakat-masyarakat yang �belum berkembang�.                                 

Tulisan ini akan memperdebatkan bahwa justru kebalikannyalah yang benar. Sebenarnya, ilmu ekonomi kontemporer jauh lebih �idealistik� dalam pengertian ia menawarkan gambaran yang tidak realistis tentang sifat dasar manusia yang didasarkan pada sistim etika abad kedelapan belas, utilitarianisme, yang bukan berasal dari pengamatan empiris, melainkan buah olah pikir yang muncul dari studi seorang filsuf. Sebagai akibatnya, para ekonom saat ini cenderung hidup di dunia statistik dan persamaan (equation) yang bersifat satu dimensi dan yang diideal-idealkan, satu dunia yang tidak secara tepat mencerminkan nilai-nilai dan tujuan-tujuan manusia di dunia yang sesungguhnya kita huni.

Berbeda dengan individualisme penuh perhitungan yang dipraanggapkan oleh ekonomi neo-liberal, agama Buddha lebih membumi dalam pemahamannya tentang sumber ketidaksejahteraan (ill-being) dan kesejahteraan (well-being) manusia. Pendekatannya ternyata juga lebih mendekati cara yang dilakukan oleh kebanyakan komunitas pramodern dalam memahami kesejahteraan serta yang masih dilakukan oleh masyarakat-masyarakat �belum berkembang� masa kini. Tulisan ini bermaksud menjelajahi implikasi-implikasi ajaran Buddha terhadap masalah-masalah pembangunan ekonomi yang menghadang kita di penghujung abad kedua puluh. Dari sudut pandang Buddhis, sama sekali tidak mengejutkan bahwa upaya-upaya kelembagaan dalam lima puluh tahun terakhir ini sebenarnya malah memperburuk masalah-masalah sosial yang hendak mereka pecahkan. Jauh dari menyediakan solusi, pendekatan pembangunan yang hingga saat ini masih diterima begitu saja tanpa dipertanyakan itu, justru lebih baik dipahami sebagai masalah itu sendiri. Agama Buddha dapat membantu kita melihat hal itu dan membayangkan ke depan alternatif-alternatif yang lebih memungkinkan untuk dijalankan.

Buddha Shakyamuni sering meringkas ajarannya ke dalam �Empat Kebenaran Mulia�: Penderitaan (Dukkha), Penyebabnya, Akhir Penderitaan, dan  Penyembuhannya. Beliau kadang disebut dokter yang hebat, karena di dalam struktur ini terdapat logika yang konsisten dengan cara ilmu kedokteran menangani penyakit fisik. Logika yang sama rasanya juga cocok untuk masalah-masalah lain yang hendak kita selesaikan, kemiskinan misalnya, dan kala kita berusaha memahami �keterbelakangan pembangunan� ekonomi menurut model sederhana ini, ia membantu memperjelas aspek-aspek persoalan yang seringkali disepelekan atau diabaikan.

Apakah kemiskinan itu ?

�Secara paradoks, mungkin, hambatan-hambatan aktual untuk memecahkan masalah-masalah dunia yang paling akut lebih sedikit disebabkan oleh tradisi-tradisi kultural yang dimiliki banyak orang ketimbang kepercayaan mendasar kita sendiri bahwa kemajuan tanpa batas yang dihasilkan dari teknologi dan pasar bagaimana pun juga dapat membebaskan kita dari alam dan masyarakat� (Berthoud, 74)

Hingga baru-baru ini agama belum banyak berperan dalam perdebatan mengenai  pembangunan karena ajarannya biasanya telah dicerap sebagai keasyikan dengan �dunia yang lebih tinggi� atau setidaknya dimensi lain dari kehidupan. Benar atau tidak hal itu pada agama-agama lain, yang jelas bukan demikian kasusnya pada agama Buddha. Jauh dari mengabaikan atau mengecilkan kemiskinan, agama Buddha sensitif terhadapnya, menawarkan diagnosis maupun penyembuhan. Namun yang paling penting justru adalah agama Buddha menantang pemahaman kita tentang kemiskinan dengan mengkontekstualkan masalah itu dalam cara yang berbeda, yaitu dalam cara yang mempertanyakan asumsi-asumsi yang masih mendominasi pemikiran kita tentang masyarakat-masyarakat yang �belum berkembang�.

Menurut agama Buddha kemiskinan adalah sesuatu yang buruk karena melibatkan dukkha. Istilah bahasa Pali, dukkha, sebagaimana dapat ditunjukkan melalui argumentasi merupakan konsep agama Buddha yang paling fundamental, tapi sering disalahpahami. Biasanya terjemahan bahasa Inggrisnya adalah �penderitaan, frustasi, ketidakpuasan� , namun, �ill-being (suatu kondisi kurang kesehatan, kebahagiaan, atau kesejahteraan)� barangkali merupakan terjemahan terbaik dalam konteks ini. Tujuan jalur Buddhis adalah mengakhiri dukkha kita dan itu tidak melibatkan membuat perbedaan yang menyolok antara dukkha duniawi dan yang transendental. Sebagai sebuah filsafat dan jalan hidup yang mengusung pelenyapan dukkha, agama Buddha tidak dan tidak boleh menghargai (value) kemiskinan yang merupakan sumber dukkha. Dalam Anguttara Nikaya, misalnya, Buddha mengatakan bahwa bagi orang yang menikmati kesenangan indriya, kemiskinan (Pali, daliddiya) merupakan kesengsaraan karena akan membawa pada peminjaman dan peningkatan hutang, dan dengan demikian, penderitaan pun bertambah.

Agama Buddha menghargai ketidakmelekatan terhadap barang-barang materi serta mempromosikan kebajikan dari mempunyai sedikit keinginan, tapi ini tidak sama dengan mendorong kemiskinan. Kemiskinan, sebagaimana umumnya dipahami dalam agama Buddha awal, terdiri dari kurangnya syarat materi dasar untuk menjalani kehidupan yang layak, sebuah kehidupan yang bebas dari kelaparan, paparan [karena tidak punya tempat bernaung], dan penyakit. Agama Buddha mengakui pentingnya kebutuhan-kebutuhan materi minimum tersebut bahkan dalam kasus orang-orang yang ingin mencapai tujuan spiritualnya, dan sebenarnya kebutuhan mendasar seorang biku atau bikuni menyediakan tolok ukur yang berguna untuk mengukur suatu tingkat di mana manusia dapat bertahan hidup dan tidak boleh dibiarkan jatuh lebih rendah dari tingkat itu. Empat kebutuhan pokok seorang pelepas keduniawian Buddhis adalah cukup pangan untuk mengurangi rasa lapar dan mempertahankan kesehatannya, cukup sandang untuk kesantunan sosial dan melindungi tubuh, tempat bernaung yang memadai untuk mengolah batin secara serius, dan perawatan kesehatan yang memadai untuk menyembuhkan dan mencegah penyakit. Agama Buddha menganggap orang yang dengan suka rela melepaskan harta benda dan kesenangan duniawi demi kehidupan dengan kebutuhan minimum tersebut sebagai bagian dari komunitas �insan-insan mulia� (ariyapuggala).  

Kendati kekurangan empat kebutuhan pokok ini tampaknya merupakan definisi yang baik untuk kemelaratan manusia, namun keempat hal ini saja tidak memadai untuk menilai situasi dari orang-orang yang tidak memilih mengikuti jalur spiritual melepaskan harta benda dan kesenangan duniawi. Sebagai contoh, pendidikan dan mata pencaharian tidak disebutkan, pertama karena melek huruf dan sudah sedikit belajar biasanya menjadi sesuatu yang biasa-biasa saja, sesuatu yang diterima begitu saja tanpa dipikirkan lebih lanjut, kedua, para pelepas keduniawian Buddhis di Asia Selatan adalah para pengelana yang hidup dari sedekah yang mengabdikan diri mereka bukan untuk produksi melainkan untuk kontemplasi atau perenungan. Agama Buddha di jaman Shakyamuni juga menggunakan budaya teknologi rendah yang secara komparatif berdampak kecil terhadap lingkungannya dan juga relatif bebas dari kekuatan ekonomi luar (meskipun bukan politis) yang menghancurkan banyak masyarakat indigenos atau pribumi saat ini. Karena situasi kita dalam banyak hal adalah unik [berbeda dengan jaman Buddha], situasi ini membutuhkan tanggapan kreatif yang tidak bisa ditemukan dalam ajaran-ajaran Buddhis awal, tapi tanggapan kreatif itu harus berdasarkan pemahaman akan ajaran-ajaran tersebut. Pertanyaan pentingnya adalah: siapa yang seharusnya memutuskan apa yang akan menjadi tanggapan tersebut?     (bersambung)

==============================================================

Bagi saudara-saudari seDharma yang tertarik untuk Belajar, Berlatih, dan Berbagi Hidup Berkesadaran serta mengembangkan Socially Engaged Buddhism* (SEB) di Indonesia silahkan bergabung dengan kami di Milis Dharmajala. 

*Agama Buddha yang terjun aktif ke dalam segala aspek kehidupan manusia  seperti urusan sosial kemasyarakatan, budaya, ekonomi, politik,  perlindungan lingkungan hidup�dsbnya tapi yang dilakukan secara PENUH KESADARAN atau dengan PERHATIAN PENUH.

Silahkan kunjungi:
http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/
 

Untuk bergabung, kirimkan email ke:
[EMAIL PROTECTED]
 

 


Discover Yahoo!
Find restaurants, movies, travel & more fun for the weekend. Check it out!

** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **




Yahoo! Groups Links

Kirim email ke