Keluarga Miskin Berobat Gratis, tetapi Mengurusnya Setengah Mati...
Berurusan dengan dokter atau rumah sakit, bagi sebagian orang sangatlah menakutkan. Yang terbayang dibenak hanyalah uang jutaan rupiah, sementara uang di kantong hanya cukup untuk makan. Meski sudah ada kebijakan pemerintah untuk "menyantuni" biaya pengobatan bagi keluarga miskin, kenyataannya akses untuk mendapatkan pengobatan gratis ini tidak mudah. Bahkan, ada yang menunggu sampai satu tahun.
MESKI sudah berjalan sejak tahun 2003, Program Jaminan Pemeliharaan Kesehatan bagi Keluarga Miskin (JPK Gakin) masih belum banyak diketahui masyarakat. Banyak warga yang belum mengetahui bagaimana cara mendapatkan biaya pengobatan gratis dari pemerintah.
Inah (42), warga Kampung Gedong, Jakarta Timur, mengaku takut jika harus berobat ke rumah sakit. Inah yang hidup sebagai buruh mencuci ini selalu takut memeriksakan diri atau memeriksakan anaknya yang sakit.
Inah bukan takut dengan dokter. Tetapi, ia lebih takut jika tak bisa membayar tagihan pengobatan yang semakin hari semakin mahal. Inah pernah trauma dengan rumah sakit.
Tiga tahun lalu, setelah melahirkan anak bungsunya di RS Pasar Rebo, Jakarta Timur, Inah terpaksa pergi begitu saja dari rumah sakit sambil membawa anaknya.
Pasalnya, Inah diharuskan menebus obat dengan harga Rp 51.000. "Karena sama sekali tak punya uang, saya pergi begitu saja tanpa nebus obat-obatan," tutur Inah.
Sampai sekarang Inah masih takut berobat. Penyakit gondok yang dideritanya selama beberapa tahun juga tak pernah diperiksakan ke rumah sakit.
Menurut dokter yang pernah memeriksa Inah, operasi gondok membutuhkan biaya Rp 10 juta. "Habis itu saya tak berani bertanya-tanya lagi," papar Inah sambil memencet-mencet leher kirinya yang membengkak.
Inah hanyalah buruh cuci dengan upah Rp 150.000 per bulan. Setelah suaminya pergi, Inah harus membiayai tujuh anaknya sendirian. Upah dari mencuci pakaian ia gunakan untuk mengontrak rumah.
Sedangkan untuk makan sehari-hari Inah harus mengupas bawang di Pasar Kramat Jati. Suatu ketika anak bungsu Inah sakit diare. Ia hendak memeriksakan anaknya ke RS Pasar Rebo. Tetapi setelah rumah sakit itu diprivatisasi, biaya pendaftaran rumah sakit tersebut naik dari Rp 2.000 menjadi Rp 5.000. Biaya pendaftaran itu sama dengan upahnya mengupas bawang seharian.
"Kalau upah mengupas bawang untuk ke rumah sakit, anak-anak saya makan apa," cetusnya.
SELAMA hidup di Jakarta, Inah belum pernah merasakan mendapat santunan kesehatan dari pemerintah. Soal program JPK Gakin saja Inah tak mengerti. Inah juga mengaku tidak pernah didatangi oleh pejabat RT/RW setempat untuk diusulkan mendapat jaminan kesehatan melalui JPK Gakin.
Seperti dituturkan Inah, dia sudah tinggal di Jakarta sejak kecil. Dia juga sudah memiliki kartu tanda penduduk (KTP) dan kartu keluarga di Kampung Gedong. Namun, hingga sekarang tidak satu pun kartu pengobatan gratis ada di tangannya. "Kalau sakit, ya nunggu di-obatin sama majikan," tuturnya.
Pengobatan gratis dan keringanan biaya berobat banyak diharapkan oleh warga miskin di Jakarta. Atik (36), misalnya, sudah dua tahun menggunakan layanan pengobatan gratis di RSUD Tarakan karena suaminya, Agus Stradiono, sudah dua tahun menderita penyakit kulit yang sulit disembuhkan.
"Saya hanya berbekal surat keterangan tidak mampu dari RT/RW. Terus saya pergi ke dinas sosial untuk mendapat surat pengantar. Surat pengantar itu saya bawa ke rumah sakit," kata Atik, warga Kemanggisan, Jakarta Barat.
Berbekal surat keterangan tidak mampu dan surat pengantar itulah, Atik bisa mengobatkan suaminya. Namun, perjuangan Atik untuk mendapatkan pengobatan gratis tidaklah mudah. Sudah berulang kali Atik mengajukan permintaan kartu JPK Gakin, tetapi baru satu tahun "kartu sakti" itu bisa diperolehnya.
Sambil menunggu kartu Gakin, Atik berupaya mengobati suaminya dengan obat-obatan tradisional. Tetapi akhirnya ia kehabisan uang karena semenjak sakit, suaminya tidak bekerja lagi. "Sehari-hari kehidupan kami ditopang mertua," papar Atik, ibu dua anak itu.
TAHUN 2005 Pemprov DKI menganggarkan Rp 98 miliar untuk program JPK Gakin. Dana sebesar itu digunakan untuk mencakup sekitar 500.000 penduduk miskin di seluruh Jakarta. "Dana itu hanya diperuntukkan bagi pemilik kartu JPK Gakin saja. Sedangkan warga yang tidak memiliki kartu bisa mengajukan surat keterangan tidak mampu," kata Zelvino, Kepala Seksi Promosi Kesehatan Dinkes DKI.
Mulai tahun 2006, Dinkes DKI benar-benar akan membatasi pemberian JPK Gakin. Menurut Zelvino, masyarakat di luar Jakarta dan yang tidak memiliki KTP DKI tidak akan dicakup oleh JPK Gakin. Alasannya, Departemen Kesehatan RI sudah membuat program jaminan kesehatan melalui Asuransi Kesehatan (Askes).
"Bagi warga di luar DKI dan yang tidak memiliki KTP DKI bisa dicakup oleh Askes. Depkes akan membayarkan premi ke PT Askes sebesar Rp 5.000 per orang," tutur Zelvino.
Jadi intinya, kalau tidak ber-KTP DKI, tidak akan mendapat pengobatan gratis. Padahal di ibu kota negara ini, mengurus KTP bukanlah soal yang mudah. Apalagi kalau tak memiliki uang banyak.
Kepala Subdinas Perencanaan dan Pembiayaan, Dinkes DKI, Salimar Salim, mengatakan, untuk mengurus kartu JPK Gakin, warga bisa mengajukan diri ke puskesmas setempat. Caranya, cukup dengan membawa KTP dan surat keterangan tidak mampu (SKTM) dari RT/RW setempat.
Sedangkan masyarakat yang berobat dengan SKTM nantinya bisa ditingkatkan kepesertaannya menjadi kartu JPK Gakin setelah diverifikasi oleh puskesmas setempat.
Dana kompensasi bahan bakar minyak tahun 2004 dari Depkes untuk DKI Jakarta di bidang kesehatan menyisakan piutang sekitar Rp 34 miliar. Penyebabnya, warga miskin non-KTP DKI ikut menikmati dana itu. (LUSIANA INDRIASARI)
Discover Yahoo!
Get on-the-go sports scores, stock quotes, news & more. Check it out!
** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **
** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **
** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **
** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari, membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **
Yahoo! Groups Links
- To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.
