Kompas, Sabtu, 11 Juni 2005

Kelaparan dan Kekenyangan

Oleh Jakob Sumardjo

TUHAN melimpahkan segala yang baik kepada mereka yang kelaparan, dan mengusir pergi mereka yang kekenyangan. Begitu kata sebuah kitab suci. Lapar dan kenyang memang soal badan, namun memiliki dimensi spiritual. Lapar dan kenyang juga berdimensi sosio-politik. Di negara yang mengaku religius, busung lapar yang merajalela di mana-mana merupakan tamparan telak bagi kita di mata dunia.

Ke mana wajah bangsa ini mau disembunyikan. Ketika banyak orang yang makan di saat tidak lapar sehingga perut mereka menjadi busung berkilau, sementara sebagian saudara-saudaranya tidak menemukan makanan di saat kelaparan sehingga perut mereka busung menyongsong maut. Ada bau tidak beres di negara dan bangsa ini.

INDONESIA sedang tidak beres-beres saja. Realitas empirisnya tidak sama dengan realitas kata-katanya. Iklan pariwisata memamerkan Indonesia sebagai bangsa yang ramah dan negerinya aman-damai. Kenyataannya bom meledak di hotel-hotel dan tempat wisata. Kita menolak keras dicap sebagai sarang teroris, kenyataannya pasar, pertokoan, dan hotel-hotel diledakkan. Kita menyatakan persediaan beras dan bahan pangan yang lain mencukupi, kenyataannya busung lapar mewabah di beberapa daerah.

Betapa susahnya berterus terang di negeri ini. Jawabannya hanya dua, kita ini baik atau jahat. Orang baik adalah dia yang mengaku salah ketika berbuat salah, karena menyadari kesalahannya. Orang jahat adalah dia yang sama sekali tidak menyadari melakukan kejahatan, dan tidak mau mengakui kejahatannya, meski jelas berbuat jahat. Kini kita dapat menilai, mereka yang menyatakan negeri ini berkecukupan persediaan makanannya bagi seluruh rakyat sebagai sebuah paradoks dengan munculnya busung lapar.

Bagaimana tikus bisa mati di lumbung padi? Kemungkinan jawabannya ada tiga. Pertama, tikus itu goblok. Kedua, tikus itu terlalu serakah sehingga mati kekenyangan. Ketiga, tikus itu mati karena tikus-tikus yang lain begitu serakah, tidak membiarkan tikus malang itu mendapatkan jatahnya. Kita bukan tikus goblok itu, karena sejak zaman primitif tidak ada satu suku sekecil apa pun yang menderita kelaparan di tengah alam yang kaya. Jadi jawabannya adalah kita ini tikus-tikus serakah yang mati kekenyangan atau membunuh tikus-tikus lain agar lumbung dapat dikuasai sepanjang tujuh turunan.

Kebenaran akan hal ini dinyatakan sejak zaman budaya wayang. Kitab Mahabarata yang telah dilupakan menyebutkan, semua perbuatan licik, semua kemunafikan, berakar pada keserakahan. "Keserakahan menimbulkan kemurkaan, keserakahan membawa kepada hawa nafsu. Penipuan, mementingkan diri sendiri, pamer, dan pikiran jahat adalah penjabaran keserakahan. Begitu juga dendam kesumat, tak kenal malu, bangga akan keturunan, bangga akan kepandaian, bangga akan kecantikan, bangga akan kekayaan, hilangnya belas kasihan, semua bersumber pada keserakahan. Kebohongan, kekerasan, bahkan perzinahan bersumber pada keserakahan. Keserakahan di mana-mana, dari seorang anak, pada remaja, pada orang dewasa. Keserakahan akan hidup terus meski kehidupan ini sudah berakhir. Keserakahan mendatangkan malapetaka bagi mereka yang baik. Keserakahan juga gemar menyamar dengan mengenakan jubah agama".

Sebuah teguran tua yang telak bagi zaman kita kini. Apakah yang menggerakkan orang untuk saling sikut memperebutkan jabatan? Apakah yang menggerakkan orang bermurah hati kepada rakyat guna memperoleh suara dalam pilkada? Apakah yang menggerakkan orang-orang mengerahkan demonstran untuk memprotes KPUD? Kelak, setelah mereka berhasil menduduki jabatan impiannya, masihkah mereka peduli pada pemilihnya? Berbelas kasihankah mereka? Bermurah hatikah mereka? Apakah seperti dikatakan Mahabarata, mereka tidak kenal malu, penuh kebohongan, pamer kekuasaan, dan mementingkan diri daripada rakyatnya yang kelaparan?

Agama-agama memperingatkan mereka yang kekenyangan. Orang-orang kenyang selalu berkumpul dengan orang kenyang. Julius Caesar dalam lakon Shakespeare berucap, saya lebih suka dikitari orang-orang gemuk. Orang kurus seperti Cassius itu berbahaya. Orang-orang gemuk yang kenyang memusuhi orang- orang kurus yang berpikir.

Celakalah mereka yang kekenyangan, karena ketika menikmati makanannya mereka tidak peduli saudara-saudaranya yang kelaparan, bahkan mengambil jatah makanan saudara-saudaranya itu. Enyahlah engkau dari hadapan-Ku, hai orang-orang kenyang, karena pada waktu saudara-saudaramu busung lapar, engkau tetap sibuk mengumpulkan harta kekayaan. Pada waktu saudara-saudaramu dilanda malapetaka, engkau sibuk menggelapkan bala bantuan. Pada waktu saudara-saudaramu membutuhkan jembatan, jalan-jalan, gedung-gedung sekolahan, engkau kirimkan dananya ke rekening bankmu. Celakalah kalian yang kini kekenyangan, karena keserakahanmu tidak musnah saat tubuhmu musnah.

Seperti orang bodoh memerlukan pendidikan, orang lapar membutuhkan makanan. Dan mereka yang bertanggung jawab hanya menyodorkan realitas kata-kata yang tidak dapat dimakan.

WABAH busung lapar amat populer di zaman Jepang, dan beberapa di zaman Belanda. Kita dapat memahami hubungan busung lapar dengan keserakahan penjajah. Namun setelah 60 tahun merdeka, busung lapar masih muncul. Lantas, siapa menjajah siapa? Kekayaan alam dan hasil kerja manusia Indonesia selama ini besarannya sama, hanya pembagiannya tidak sama. Dulu, pada zaman kolonial, sebagian besar dikapalkan ke negeri penjajah. Kini dikapalkan ke mana?

Zaman apa yang kita alami kini? Zaman edan kok terus-menerus. Apakah kita memang bangsa edan? Yang edan adalah para kolonial baru. Semboyan hidup mereka menjiplak film Hollywood, Wall Street, bahwa serakah itu baik, serakah itu benar. Keserakahanlah yang membuat hidup tetap ada. Lho, itu kan semboyan kapitalis? Bukankah kita ini negeri Pancasila? Dalam Pancasila seharusnya tidak terjadi busung lapar karena kebebasan individu yang kapitalistik itu diimbangi keterikatan kesejahteraan kolektif.

Prinsip dasar Pancasila itu keseimbangan, harmoni antara kebebasan dan keterikatan, baik individu-kolektif maupun nasional-global. Kalau keserakahan individual ini merajalela di kalangan petinggi kita, harus dimaklumi karena kita tidak menjalankan prinsip Pancasila seperti negara-negara lain itu.

Adanya busung lapar akibat busung kenyang. Jika tidak ada busung kenyang tentu tidak ada busung lapar. Mereka yang menderita busung kenyang sampai muntah-muntah. Dan mereka yang menderita busung lapar tidak melihat dan tidak mendengar muntahan mereka yang kekenyangan, lantaran orang kelaparan tidak lagi bisa melihat dan mendengar.

Jika kondisi dualistik antagonistik antara lapar-kenyang ini terus merajalela di Indonesia, sehingga yang superkenyang kian mengecil dan yang superlapar makin membesar, maka ingat ucapan Corita Kent dalam buku Enriched Bread (1965), bahwa kalau jumlah orang kelaparan sudah begitu banyak, Tuhan tidak tampak bagi mereka kecuali dalam wujud roti. Dan orang-orang lapar ini akan menyerbu meja-meja makan orang kaya raya meski dengan cara membunuh. Tuhan, hindarkan kami dari bencana seperti itu.

Jakob Sumardjo Budayawan


Discover Yahoo!
Have fun online with music videos, cool games, IM & more. Check it out!

** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **




Yahoo! Groups Links

Kirim email ke