Kompas, Senin, 13 Juni 2005

Ilmu Pengetahuan Makin Terpinggirkan

Jakarta, Kompas - Keberadaan ilmu pengetahuan di Tanah Air dewasa ini makin terpinggirkan dari ranah budaya. Hal ini ditandai oleh makin kuatnya pemujaan terhadap teknologi di lingkungan pendidikan. Akibatnya lembaga pendidikan cenderung menghasilkan tenaga siap pakai untuk memenuhi kebutuhan industri dan melupakan ilmu-ilmu humaniora yang menjadikan siswa sebagai manusia seutuhnya.

"Padahal, pendidikan seharusnya berorientasi pada pembentukan manusia ini," kata Prof Dr Toety Heraty Noerhadi Rooseno, mantan Direktur Program Pascasarjana Jurusan Filsafat Universitas Indonesia (UI), dalam acara bedah buku "Panorama Filsafat Ilmu, Landasan Perkembangan Ilmu Sepanjang Zaman" di Jakarta, Sabtu (11/6).

Guru Besar Ilmu Filsafat UI Prof Dr Fuad Hassan menambahkan, kebudayaan bukan sesuatu yang statis melainkan dinamis. Ada tarik-menarik antara kecenderungan untuk melestarikan dengan kehendak untuk maju. "Di antara kedua daya yang bertentangan itu, ilmu merupakan daya paling progresif dalam spektrum kebudayaan," ujarnya.

Ilmu merupakan penjelmaan kesanggupan transendensi manusia melalui berbagai fungsi yang dimilikinya, seperti berpikir, bernalar, berbahasa, bahkan berimajinasi. Ilmu juga membawa manusia mencapai berbagai keunggulan dan menentukan arah perkembangan manusia. Melalui penguasaan ilmu, manusia mengenal berbagai tatanan dan keteraturan di alam semesta.

Sebenarnya perkembangan ilmu tidak tersimpan sebagai pengetahuan ilmiah belaka, namun berlanjut dengan kemajuan teknologi. "Ilmu dan teknologi merupakan dua sisi dari keping yang sama," kata Fuad.

Namun, pemujaan terhadap teknologi yang terjadi di lingkungan pendidikan membuat posisi ilmu pengetahuan makin terpinggirkan. Padahal, seharusnya teknologi hanya jadi alat untuk mencapai tujuan.

Dampak pemujaan ini adalah orientasi penyelenggara pendidikan di Tanah Air menghasilkan tenaga siap pakai. "Karena pengembangan teknologi jadi tujuan, bukan sebagai sarana, maka perguruan tinggi hanya menghasilkan tukang- tukang," tegas Fuad.

Toety menambahkan, proses pendidikan yang hanya menitikberatkan pada rasionalitas dan berorientasi pada teknologi mengakibatkan ilmu sering menjadi perantara untuk memenuhi kebutuhan industri.

Oleh karena itu, banyak hasil penelitian yang tidak dipakai untuk kepentingan kemanusiaan melainkan justru mempercanggih teknologi persenjataan maupun industri yang merusak lingkungan.

Toety mengingatkan, sekolah seharusnya mendidik siswa menjadi manusia seutuhnya melalui pengajaran ilmu-ilmu humaniora. Oleh karena itu, pengetahuan tentang perkembangan ilmu dari masa ke masa penting untuk dipahami.

"Memang ada dilema, apakah mau mendidik manusia seutuhnya atau warga negara yang andal," tuturnya.

Masa belajar panjang

Menurut Guru Besar Universitas Negeri Jakarta Conny Semiawan dalam bukunya "Panorama Filsafat Ilmu Filsafat", manusia memiliki masa belajar yang panjang. Saat manusia mulai bisa menegakkan badan, menggerakkan tangan dan berbicara, maka seluruh bagian tubuhnya bisa belajar untuk kegiatan apa saja yang terus berlanjut sampai usia dewasa.

Lebih lanjut Conny memaparkan, dalam proses belajar perguruan tinggi seharusnya berfungsi juga sebagai tempat pendidikan, terutama untuk membentuk sikap kecendekiawanan, menumbuhsuburkan budaya riset dalam rangka eksplorasi dan pendalaman berbagai ilmu pengetahuan.

Dalam menghadapi pemerataan pendidikan-yakni praktik pendidikan secara makro- maka harus dipahami hubungan antara pluralisme untuk bisa menjadi masyarakat lintas budaya.

"Pemerataan dalam keragaman yang didominasi kebudayaan tertentu berisiko kehilangan kualitas perbedaan yang merupakan kontribusi dan perspektif unik individu dan kelompok khusus," tambahnya.

Semua pengetahuan dan keterampilan pada masa depan merupakan hasil riset yang diwarnai transdisipliner. Rekonfigurasi ilmu itu akan terjadi, karena produksi ilmu pengetahuan adalah proses sosial yang mengalami diseminasi secara global dan lokal.

"Jadi, tak cukup hanya berdasarkan kognisi semata, melainkan perlu orientasi transdisipliner melalui interpenetrasi antara rasio, emosi, intuisi, dan bakat," kata Conny. (EVY)


Discover Yahoo!
Find restaurants, movies, travel & more fun for the weekend. Check it out!

** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **




Yahoo! Groups Links

Kirim email ke